Ibuku bukan Ibumu

(Maret 2010)

Relasiku dengan ibuku begitu menarik –ya, ya, ya paling tidak untukku-. Ditinggal Bapak di usia 13 tahun, membuat masa-masa setelahnya praktis diwarnai dengan peran ibuku yang signifikan. Bukan dominan. Aku rasa kata signifikan menjadi paling pas.

Tidak dominan karena ibu memang tidak pernah mendominasi. Lagipula, walaupun menjadi pencari nafkah satu-satunya di rumah setelah bapak meninggal, tidak menjadikannya berkekuatan penuh mengatur tiga anak laki-lakinya. Kebalikannya, ketiga anaknya mampu liar dengan caranya masing-masing.

Tidak dominan juga karena sedikitnya waktu ibu diluangkan untuk anak-anaknya. Ya, ibuku bekerja keras mengurus warungnya demi mensupport Bapak, dan akhirnya sampai warung menjadi sumber penghasilan utama rumah kami.

Ibuku Cerdas, Efisien, dan Profesional. Aku pernah bercanda ke temanku, jika saja ibuku berkesempatan kuliah, mungkin beliau sekarang Jadi Menteri Keuangan, atau paling tidak bekerja di Barclays (atau Slumberger).

Cerdas. Ibuku sampai sekarang selalu berhitung cepat tanpa kalkulator. Aku masih takjub melihat kecepatannya berhitung tanpa alat bantu.
Efisien. Kapabilitasnya mengatur keuangan dengan semua keterbatasan patut diacungi jempol. Dan ini tentu saja berhubungan dengan kebesaran hatinya tidak mensegerakan kepentingannnya. How to keep running this family: sepertinya itu yang ada di kepala ibuku.
Profesional. Ibuku aktif berorganisasi. PKK Kecamatan – Kelurahan, Posyandu, Arisan RW, dan bahkan ibu menjadi satu-satunya pengurus RT yang berjenis kelamin wanita. Satu lagi, Ibuku laris dimintai bantuan menjadi among tamu di banyak hajatan orang di sekeliling kami. Kata professional ini mampu digaris bawahi dengan kemampuan ibu untuk komit ke pekerjaannya. Jangan coba-coba telpon ibuku di jam krusial (07.00-11.00) -itu adalah peak hour warung ibu- dimana ibuku akan mampu menjawab telepon masuk: “nanti saja teleponnya, ibu masih rame pembeli”. See?

Apakah ibuku sedahyat itu. Iya. Tapi nggak dahsyat-dahsyat amat juga… Ibuku satu paket dengan tidak-biasaan keluargaku untuk menverbalkan perasaan dan isi kepala. Un-affectionate. Cautious. Not a Risk Taker. Sound familiar to me huh?

Ini tradisi ratusan tahun. Aku yakin puluhan juta keluarga timur lain juga bertradisi sama.
Dengan kesadaran penuh aku tidak pernah menuntut hal ini. (Did I?).

Sayang- dalam kamus ibu adalah bagaimana menafkahi kami dan membesarkan kami menjadi manusia mandiri. Dan hal itu -yang dilakukan ibu sendirian- menurutku cukup. Thanks Mom.
Pernah suatu ketika aku menganggur selama enam bulan selepas masa ABN AMRO. Untuk mengurangi pengeluaran, aku tinggal di rumah kakakku di Cileungsi dan meninggalkan kost nyamanku di Bendungan Hilir. Untuk mengurangi pengeluaran itulah pula, aku super mengirit uang makan, dengan salah satunya memasak sendiri. Aku memasak nasi, dan sebagai lauknya cukup membuat perkedel daun ketela. Yang resepnya aku peroleh dari ibu. Rebus daun ketela sampai matang, cacah-cacah. Campur dengan tahu yang dihaluskan dan telur. Diberi bumbu putih. Kemudian digoreng.

Bagaimana aku mengirit hidup ini suatu ketika aku ceritakan ke ibuku melalui telepon. Aku memetik daun ketela di samping rumah. Dan aku tidak mencampurnya dengan tahu. Cukup satu telur saja. Aku tidak menghaluskan bawang putih, cukup dengan garam dan penyedap rasa saja. Digoreng, dan aku gunakan sebagai lauk untuk makan sehari.

Sepertinya sesi telepon itu baik-baik saja. Maksudku, ibu menanggapinya biasa saja.
Tak disangka. di lain hari, ketika aku bertelepon dengan bulikku, dia bilang bahwa ibu menangis menceritakan ulang kisahku memakan daun ketela di samping rumah. Sudah. Aku pikir itu cukup menggambarkan carefulness ibu kepadaku.

Maka ibu, aku harap ibu juga paham bahwa aku sayang ibu sepanjang tahun, walaupun kata TERIMAKASIH, MAAF dan FAJAR SAYANG IBU hanya aku ucapkan setahun sekali pada waktu sungkem lebaran.

I love you mom, and I always be.

Advertisements

Semenanjung Mata Pikir Hati

PROLOG

 

Urasa, Desember 2012 

Setelah sedemikian paham bahwa tawa adalah bayang tangis umpat,

Kemudian mengapa masih mudah dibebani ragu dan marah?

Apa yang engkau takutkan, kau ributkan sebetulnya?

 

Aku mengingat-ingat setahun yang lalu, saat sedemikian tak sabar ingin pulang ke Indonesia.

Mencari-cari apa yang harus kuselesaikan untuk bisa meninggalkan rumah dengan tenang.

Untuk bisa legowo dengan keputusan pergi. Sebuah keputusan mencari pemberhentian berikutnya.

 

Kali ini kepulanganku tampak seperti perjalanan dari kampusku ke kota sebelah: tidak banyak persiapan.

 

Terbuktikan, ini hanya masalah waktu. Butuh waktu tertentu untuk membuatku merasa bagian dari kampus ini.

Butuh waktu untukku teryakinkan bahwa aku bukan asal datang dan diam.

Butuh waktu untukku teryakinkan bahwa aku dibutuhkan.

 

Aku tidak menyederhanakan masalah.

Sama seperti Fajar di setiap tempat baru: kebingungan mengidentifikasi diri.

 

Pulangku kali ini lebih seperti batu loncatan ku untuk terbang lebih tinggi.

Atau mudah saja, kepulanganku kali ini hanya tentang aku yang tidak bisa diam.

 

Aku susah diam. Tidak juga di tengah malam.

Aku mengeluh. Atas setiap ketidakmampuanku menguasai mulut besarku.

Padahal malam sempurna menjelaskan keheningan.

Aku harus percaya. Bahwa mungkin ada yang bisa terselesaikan dengan diam.

 

Bagian 1

 

Urasa, 12 Desember 2012 

Kali ini Gede dan Grace juga pulang ke Indonesia. Malah, kebalikan dari tahun kemarin, mereka berdua meninggalkan kampus lebih dulu. Jadilah pagi ini, aku mengantar mereka ke stasiun: memberangkatkan shinkanzen dari Urasa.

Kami bersama beberapa mahasiswa lain asal Asia Tengah dan keluarga Professor Li saat bus dari kampus menembus jalan dengan timbunan salju di kanan-kiri kami. Musim dingin memang datang lebih cepat tahun ini. Tapi aku dengan lantang bisa bilang: kulitku sudah bebal atas udara dingin nan kering. Aku sudah tidak gatal-gatal lagi! Sebuah keyakinan kecil bahwa mungkin bukan mentalitas saja yang sudah terbangun, bahkan fisikku sudah bisa berdaptasi dengan negeri ini. Ahhh, bangganya… 

“Let’s have a kiki, I wanna have a kiki

Lock the doors, tight!”

Aku menyanyikan sepenggal lagu Scissor Sister yang dicover Glee di episode terakhirnya.

“Apaan sih Jar?” tanya Grace heran.

“Scissor Sister! Lagunya muter di kepalaku” jawabku cepat.

“Aneh banget, nggak ada apa-apa nyanyi sendiri” ucap Grace sambil menoleh ke Gede di belakangnya.

“Nggak usah heran, kalo kenal Fajar harusnya nggak kaget“ respon Gede kalem.

See? Gede sudah resmi ada di deretan Mehdi dan Dedi soal ini: Ring I. Tak perlu lah kaget melihat polah kadang tak wajar ala Fajar.

Yang Grace tak tahu adalah, tadi merupakan mekanismeku menawarkan pikiran setelah berbincang dengan Professor Li -supervisor thesisku . Aku harus mengupdate kabar terakhirku yang tidak begitu mengenakkan. Kantor Pusat Mitsubishi might not issue research permit, although Jakarta Office easily granted months before.

Huggghhhh… Dan perjalananku ke Tokyo besok bertemu dua orang mantan seniorku jelas adalah untuk mencari tahu soal ini. Mengapa penelitianku dipertanyakan?

= = =

 

Bus sekolah akhirnya sampai ke stasiun dari arah belakang, hanya tersisa waktu sepuluh menit sebelum shinkansen melaju. Aku memeluk Gede dan Grace sebelum mereka masuk ke ruang tunggu di lantai dua stasiun Urasa. Sampai ketemu lagi sobat!

= = =

Harus diakui, berbeda dari tahun lalu, kali ini sangat enteng bagiku berlepas dengan mereka. Seperti kepercayaan diri Hannibal mengalahkan pasukan Romawi -jauh berbeda dengan dua trimester awal di tahun pertama- kali ini aku sudah bisa menikmati ritme belajar dan hidup di kampus sejak trimester tiga.

Kalaupun Gede dan Grace pergi nih, sepertinya sudah banyak back-up plan dikumpulkan.

Hahahahaha, tertawaku ala Sinchan berbangga diri.

= = =

Siapa sih yang tak butuh waktu?

Butuh beberapa lama sebelum akhirnya aku bisa melebur diri di lingkungan baru ini.

Penggalan cerita berikut adalah sebagian pembenaranku atas pilihan kata melebur.

Suatu saat, Bobo dengan pipinya yang sudah kemerahan -menandakan sebagian alkohol sudah menguasainya- mendekati kami: Aku, Thida dan Hamidah yang sedang berbincang di pojok remang CNP.

“Kenalin nih si Fajar” katanya sambil menepuk bahuku.

Ya, ya, ya, tentu saja dia sedang mengeluarkan jurus sarkas-nya. Satu dari sekian jurus maut yang sudah dilemparnya.

“Dia suka talk-talk-talk di kelas” katanya sambil membuka-tutup tangannya.

“Too much” lanjutnya.

Kampret!

Ini tentang aku sudah bisa merayakan hidup. Gampang saja tandanya: sepanjang aku sudah bisa berteriak dan bercanda dengan enteng seperti biasa.  Sama seperti orang lain menemukan lapangan bermainnya di X2 atau Stadium, dan mungkin yang lain yang menemukannya di lapangan futsal.

Ini tentang aku yang selalu butuh waktu. Setelah sudah yakin bahwa memang dunia baik-baik saja, maka aku akan mudah menemukan bentuk “seharusnya”. Dan ditinggal Grace dan Gede kali ini, sungguh tak masalah.

*evil smirk*

= = =

Tokyo, 14 Desember 2013

Marunouchi dingin sekali. Mal dan perkantoran  Jepang sudah bersolek luar biasa untuk libur natal dan akhir tahun. Aku yakin, tidak mudah menemukan restoran yang buka di Jumat malam seperti sekarang. Ini Marunouchi man!

Aku menunggu Yoneda san di luar kantor, Mitsubishi Corporation Marunouchi Chiyoda-ku , alamat yang kuhapal diluar kepala karena tiga setengah tahun bersama Mitsubishi, aku selalu mengirim dokumen ke alamat ini.

Hanya butuh 60 detik untukku menunggu mantan managerku keluar dari pintu utama gedung kantor. Ini yang selalu aku bilang tentang kenyamananku bekerja bersama mereka.

Untuk pribadi sepertiku, aku selalu merasa terjamin. Kami punya nilai yang sama atas waktu, atas komitmen.

“Fajar san mau makan apa?”

“Ehmm… terserah Yoneda san saja.”

“Italia?”

“Hai”

Aku tiba-tiba teringat Bu Yon yang selalu bertanya: “Kali ini merepotkan siapa di Tokyo?” setiap kali melihat foto Tokyo-ku. Hahahaha. Enak saja. Emang aku benalu Bu? Tapi Bu Yon tak sepenuhnya salah. Misalnya nih setelah ini, besok siang aku janji makan dengan Kei san-Arita san dan dilanjut makan malam dengan Hatta san dan istri.

Benar saja. Restoran yang dimaksud Yoneda san sudah penuh, begitupun beberapa restoran lain di sekitarnya. Kami akhirnya berjalan beberapa lama ke arah Yurakucho station sampai akhirnya menemukan Restoran Perancis yang masih menyisakan beberapa bangku kosong.

Aku memilih meja di sebelah dinding kaca untuk meleluasakan pandanganku ke arah jalanan sekitar yang sibuk lalang dengan urusannya: manusia-manusia Tokyo yang bersiap menyambut libur akhir tahunnya. Meriahnya lampu-lampu Marunouchi tampak sama bersinarnya dengan beberapa wajah yang kutemui di jalanan. Aku yakin bonus akhir tahun sudah dibagikan.

“Fajar san boleh pesan apa saja, saya sedang kaya” begitu kata Yoneda san.

See?

Makan malam dengan Yoneda san diisi dengan penjelasanku menerangkan thesisku. Ahhh… ini penting sekali. Keberhasilanku mendapatkan interview dengan Tokyo office akan menaikkan derajat skripsi ini.

Tapi obrolan kami jelas tidak lebih penting dari pemahaman baruku atas mantan managerku. Untuk pertama kalinya aku melihat Yoneda san berjalan-jalan sambil bernyanyi senang. Aku tertawa-tawa di belakangnya saat kami meninggalkan restoran dan menuju Shinjuku. Yep. Kami lanjut nongkrong di Shinjuku.

Pemahaman paling cetar membahana tentu saja saat kami selesai gaul dan harus mengejar kereta terakhir dari Shinjuku station. Kami berlari-lari bersama ratusan orang lain, berdesak-desakan dalam kereta yang sama.

Gambaran manager seketika hilang.

Para expatriat Jepang di Indonesia laiknya menemukan surga: mobil, supir, apartemen besar didapatkan mereka. Sedikit banyak berbeda dengan kenyataan hidup di Tokyo. Yoneda san membahasakan pengalaman dia balik ke Jepang seperti Taro san yang kembali ke dunia nyata setelah tinggal nyaman di dasar samudera.

Mohon baca legenda Urashima Taro bagi yang belum mengetahuinya ya.

Aku tak akan pernah lelah mengatakan ini, bahwa syukur terbesarku atas hidup akan selalu diwarnai dari banyaknya persona yang hadir membawa berkahnya.

Sama seperti terdiamnya aku, saat Hatta san berkata:

“Fajar san, jangan ragu bilang kalau butuh sesuatu!”

= = =

Cerita-cerita manis di atas sebenarnya tidak mampu membuatku mengatakan: aku paham (orang) Jepang. Sampai saat ini aku masih bertanya tentang Nishikawa san yang tidak membalas emailku. Tentang aku yang bertanya-tanya ada apa.

Manusia Jepang dituntut untuk selalu tahu diri. Manusia Jepang menggaris batas dengan halus, sekaligus terasakan jelas bagi manusia Jawa sepertiku.

Sini tak kasih tahu. Anak-anak Jepang pra-SD sama saja dengan anak-anak Indonesia: lari kesana-kemari, tertawa-tawa dengan volume tinggi. Tapi, settttt! Mereka berubah setelah masuk SD. Antengnya manusia Jepang dewasa beresonansi dengan anak-anak Jepang usia 6 tahun ke atas. Aku (dengan perspektifku) bertanya-tanya: mereka beneran anak-anak nih? Kenapa anteng banget yak?

Jun san mengatakan, sudah sejak SD anak-anak Jepang diharuskan mandiri. Suatu ketika, terjadi kekacauan saat makan siang bersama di sekolahnya. Jun san dan kawan-kawannya diharuskan membersihkan ruang makan tanpa bantuan orang tua ataupun petugas sekolah. Pengalaman di umur 8 tahun yang masih diingatnya sampai sekarang.

Prosesku mencari tahu manusia Jepang ini membuatku masih bertanya-tanya tentang bagaimana membawa diri terbaik ketika bergaul bersama mereka. Berasanya nih, aku kadang seperti sedang berbicara dengan kromo alus dengan mereka. Japanese… Javanese… mungkin ada makna dibalik mirip kata ini.

Ini tentang cross cultural communication. Ambilah contoh gampang saja, orang Jepang punya personal space yang lebih lebar dari orang Indonesia. Mereka tidak terbiasa bersentuhan. Lha aku? Mudah sekali tangan ini melayang, memegang dan memeluk.

Akhir-akhir ini, aku sudah menggunakan tanganku ketika berkomunikasi. Dan ini sama sekali tidak masalah untuk teman-teman Asia Tenggara (dan Asia Tengah?) yang kurang lebih sama jarak personal space nya. Kebalikannya, aku masih selalu merasa bersalah ketika tangan ngeplak ke Yasu san, misalnya. Waduh, sopan nggak nih? Sopan nggak nih? Nyaman tak dia dengan moda komunikasiku?

Kampus ini mengajarkan banyak hal tentang ini. Tentang aku yang ditempanya dengan beberapa sangka, salah paham. Beberapa salah laku. Beberapa salah ucap. Dan aku yakin, belajarku lebih lengkap dengan beberapa salah yang tak sengaja terbuat tadi.

= = =

Narita, 16 Desember 2012

Aku bangun pagi untuk mengejar Garuda yang sudah menunggu menerbangkanku pulang.

Pemilik ryokan di Asakusa dengan ramah menyapaku selamat jalan.

Jakarta, aku akan datang mencinta semua angkuh lembutmu. Semua dingin hangatmu. 

 

Bagian 2

Jakarta, 16 Desember 2012

Garuda mendarat dengan sempurna di Soekarno-Hatta. Layanan “imigration on-board” sangat mempercepat proses imigrasi. Petugas Imigrasi terbang bersama kami dari Tokyo dan men-cap paspor para penumpang sebelum pesawat mendarat. Pasangan petugas laki-laki dan perempuan tersebut kebetulan duduk sebarisan denganku selama di pesawat. Jadilah, kami para penumpang melenggang kangkung di check point imigrasi seturunnya di bandara Cengkareng, kami hanya tinggal menyerahkan tanda “immigration passed” kepada petugas darat.

Terimakasih Garuda. Usahamu untuk memperbaiki diri memang tampak nyata sekali.

Tapi… tidak juga langsung bisa keluar bandara ya. Aku harus menunggu bagasi datang di terminal kedatangan internasional yang tampak semakin kusam dan sempit ini. Aku lalu membayangkan diriku sebagai wisatawan asing yang turun pesawat dan langsung membangun stigma tersendiri tentang Indonesia dengan melihat antrian imigrasi panjang (karena terbatasnya checkpoint) dan ban berjalan yang sudah tua bin rusak di beberapa bagiannya. Dengan pemahaman ini, aku sangat menunggu renovasi Soekarno-Hatta dan pembangunan MRT menuju airport yang sedang dalam proses.

= = =

Sambil melewatkan waktu menunggu koper datang, aku menelepon Ibuku, Gede dan Kristin bergantian, mengabarkan sudah mendarat dengan selamat. Tiga orang ini dalam konteks kekinian adalah penting. Ya, aku biasanya tahu siapa yang harus ditelpon segera setelah mendarat.

Tapi sebentar, siapa yang lebih penting dari mereka bertiga dalam konteks kepulangan aku kali ini? Tidak lain tidak bukan: Ito san -Department Head di kantor lama- tempat aku akan mengambil data untuk keperluan thesis; tujuan utama kepulangan kali ini.

Jadilah aku meng-sms beliau meminta ijin besok akan datang ke kantor telat jam satu siang. Mbak Rini –sekretarisnya-, yang juga aku kabari bilang: “loe udah resign, masih takut aja ama Ito san!”. Maksudnya mungkin kalau mau telat, ya telat saja. Kan sudah nggak kerja ama dia lagi?  

Hahahaha. Mbak Rini gila. Ya iyalah mbaaaaakkkk!!!! Masih butuuuuuhhhh… jadi masih attttuuuuutttt…

Berikutnya, Blue Bird segera membawaku keluar dari bandara menuju Kampung Melayu. Siapa lagi kalau bukan ke kediaman Bu Sita yang akan kutuju? Aku akan merepotkan beliau selama seminggu ini magang kembali ke kantor lama di Jakarta.

= = =

 

Dalam telepon, aku diminta Bu Sita menyusulnya ke Tebet terlebih dahulu, ke rumah orang-tua Bu Sita yang unik.

Unik bagaimana? Pasangan orangtua Bu Sita sudah berusia lebih dari 80 tahun dan melewatkan usia perkawinan ke 63 tahun bersama. Hebat ya? Unik juga, karena dua-duanya masih aktif merokok di usia senjanya. Hah, kalau soal ini aku menyerah mengingatkan Bu Sita atas bahaya rokok: “Tuh, Papap sama Mamam masih sehat-sehat aja” katanya membela diri.

Sigh… Lalu aku bengong tidak bisa menjawab.

Rumah Besar Tebet seperti rumah yang ada dalam bayanganku, bertaman luas di dalam, kolam dan bungalow untuk leyeh-leyeh. Dengan rumah seperti ini sepertinya aku akan throwing party setiap akhir pekan untuk sepupu dan sahabat dekat. Ehmmmm, Rumah Sleman akan dibangun sekonsep dengan ini InsyaAllah.

= = =

Jakarta, 17 Desember 2012

Kepulangan kali ini memang beragenda utama penelitian untuk thesisku. Tapi bukan Fajar kalau tidak optimalisasi. Aku akan kembali ke Tokyo via Seoul. Melewatkan empat hari musim dingin di awal tahun 2013 nanti. Jadi sudah wajib hukumnya untuk mengurus visa turis terlebih dahulu di Kedutaan Besar Korea.

Aku sebenernya ketar-ketir berangkat ke kedutaan tanpa foto-kopi kartu keluarga seperti yang diwajibkan untuk pengurusan visa. Haduuuuhhh, kenapa bisa lupa bawa yak???? Diterima nggak ya permintaan visa berkunjung ini? Mati gue kalo ditolak, tiket pulang kan sudah confirmed.

Dari seberang ruangan yang berbatas kaca bening, mbak langsing berambut panjang petugas Visa menerima permohonan aplikasi Visaku dan mengecheck satu-persatu dokumen yang aku lampirkan.

“Mbak, dia nggak pake kartu keluarga, tapi sekolah di Jepang dia…” begitu aku dengar dia berbisik ke teman sebelahnya yang sepertinya lebih senior.

“Udah terima saja” jawab sang senior.

Hahahaha. Aku tertawa pongah. Benar kata temanku bahwa visa Jepang memang ampuh. Mbah Google membantuku mencari penjelasan, mengatakan bahwa memang visa Negara-negara OECD diakui keampuhannya sebagai referensi sahih identitas dan kapasitas financial seseorang.

= = =

Aku sampai kantor di bilangan Senayan jam sebelas siang dan menemukan meja yang disediakan untukku sudah bersih dan siap ditempati. Hahahaha, gue tahu dibalik teriakan Mbak Rini : “Beresin meja loe sendiri yak!” tersimpan kepercayaan bahwa dia tidak mungkin menelantarkanku. Aku ditempatkan di sebelah Kanjo san, tepat di seberang Burhan –my replacement-.

Tenang, tidak ada cat fight antara aku dan Burhan. Kami pernah bertemu sebelum ini, dan sepertinya Mitsubishi mencari pengganti dengan default sama seperti aku: prengas-prenges, mesam-mesem. Kami berdua cooooolll…

Aku menghabiskan setengah jam pertama berkeliling bertegur sapa ke seluruh isi kantor di dua lantai Gedung Sentral Senayan ini. Suasana tampak sama. Semua masih menyambut hangat. Perusahaan dengan isi yang tidak terlalu banyak selalu berhasil mendekatkan personelnya, aku rasa.

Pertanyaan mereka berpola sama: “Ngapain kesini? Sudah selesai? Mau balik bekerja disini?” Aku senyam senyum sambil menjelaskan bahwa aku sedang mengerjakan thesisku.

Kembali ke bangku, aku langsung memastikan jadwal interview dengan tiga manager yang aku butuhkan. Deal! Pak Mauren kuinterview hari Selasa. Pak Medi hari Rabu dan Kanjo san hari Kamis.

Pilihan topik thesis yang melibatkan Mitsubishi memang didasarkan keyakinan bahwa aku akan dipermudah mendapatkan akses data. Aku tidak mau asal menulis thesis dengan referensi data ketiga saja. Lagipula ini taktis manis untuk tetap menjaga hubungan baik dengan perusahaan dagang terbesar di dunia ini bukan?

Ingatan lalu melayang atas skripsi S1 yang penelitian etnografinya berupa magang 3 bulan di Pelita Air Service dengan segala kemudahannya. Darimana bisa dapat ijin magang dan akses interview dengan semua Direksinya? Hahahahahahaha. Fajar gitu lho. Aku meminta bantuan Eby dan Detty –teman SMA- yang kebetulan sang ayah sedang ditugaskan memimpin anak perusahaan Pertamina tersebut. Merasa di atas angin saat itu, aku menulis jujur semua hasil penelitian tentang budaya organisasi di insitusi milik Negara tersebut.

Berani dong, backingan aku orang nomor satu, cing!

= = =

Alhamdulillah, makan siang hari pertama disponsori Pak Medi. Kami makan di “Seroeni” berempat bersama Burhan dan Thea -karyawan baru lainnya di departemenku- yang lulusan Jepang. Jadi setelah aku keluar dan disusul Bu Pinky tidak berapa lama setelahnya, kantor mengganti dengan darah-darah muda seperti mereka.

Hemh, bener banget tebakanku. Thea pun sama seperti Burhan, relative sopan dan tidak menyediakan ruang orang lain berfikir mereka offensive. Ini sepertinya memang karakteristik untuk bekerja di tempat kami, sebuah pekerjaan yang membuat kami harus bertemu dan membina hubungan baik dengan banyak orang.

Ngomong-ngomong soal membina hubungan baik, siapa lagi yang harus ditemui selama seminggu di Jakarta ini? Berikut jadwal sosial yang sudah dipersiapkan dengan sempurna.

Hari, Tanggal/Makan Siang/Makan Malam

Senin, 17 Desember/Pak Medi, Burhan, Thea/Kristin, Tasya, Ika

Selasa, 18 Desember/Ika, Indah, Winta/Mbak Vicki, Dedi, Indah-Jerry

Rabu, 19 Desember/Susi, Thea, Tika, Redy/Hesty, Gede, Guntur

Kamis, 20 Desember/Mbak Rini, Mbak Maria/Bu Sita, Bu Hartini

Jangan kaget ya, ingat kata Mas Dedy –kakak pertamaku-, jadwal pup saja ditulis sama Fajar. Apalagi jadwal meeting dengan teman.

Jakarta, 18 Desember 2012

Pak Mauren memanggil Burhan dan Thea ke meeting room untuk ikut interview kami. Pak Mauren –just like Pak Mauren- sesekali menyuruh Burhan dan Thea mengambil dan atau mencetak dokumen yang aku butuhkan. Dukungan penuh mantan managerku yang juga jago MC dan nyanyi ini dibuktikan dengan misalnya bilang:

“Fajar, kamu pakai telepon semaksimal mungkin untuk tanya juga kantor Singapore. Kan lumayan daripada kamu telepon dari Jepang”

Thankyou Pak!

= = =

Aku berkeliling dengan sesuka hati di kantor mencari bahan-bahan yang aku butuhkan. Menarik kursi untuk mengambil dokumen yang ditaruh di almari bagian atas, ke gudang departemen mengambil box tidak terpakai, atau membuka laci disebelah meja Pak Sammy. Semua kulakukan sendiri karena aku yang lebih paham dimana dokumen-dokumen yang kubutuhkan diletakkan. Dan yak. Tidak ada posisi yang diubah semenjak kantor ini kutinggalkan. Bahkan sticker namaku masih tertempel tak dilepas di salah satu laci almari.

Aku masih mengingat memberi label nama-nama di setiap almari agar Bapak-Bapak Manager tidak saling tertukar menempatkan dokumennya. Maklum, sebagai personel termuda di departemen, Bapak-Bapak manager dan senior Manager menyerahkan menial jobs nya kepadaku.

Di waktu lain, Saka san, Manager tercinta yang muncul ke kantor agak siang menegurku tanpa ba-bi-bu:

Saka: “Kamu sudah menikah belum?”

Belum, Saka san.

Saka: “Kenapa ya?”

Kan sekolah dulu, jawabku sekenanya.

Saka: “Berapa umurnya?”

“30 tahun”

Saka: “Heh, tua yaaaa…. Kalau kaya sih tidak apa-apa. Kan tidak kaya”

Hahahahaha. Kudengar Pak Sammy tertawa di belakang kami.

Arrrggghhh… Nih orang ditinggal juga masih sama saja. Celetukannya dalam bahasa Indonesia selalu saja jatuhnya sembarangan. Jadi teringat bagaimana riuhnya Mbak Rini bertransaksi dengannya –satu-satunya lawan bicara yang sebanding-, dan aku senyam-senyum di pojokan mejaku. Sepertinya hanya dia orang Jepang yang bisa saingan volume suara denganku dan mbak Rini di departemen ini. Bedanya kalo aku tidak kuasa melawan Saka san, Mbak Rini mah enteng saja menghadapinya.

Ini nih hebatnya mbak Rini, dari banyak ekspatriat Jepang yang datang dan pergi (durasi penugasan di Indonesia biasanya berkisar antara 3-5 tahun), Mbak Rini selalu berhasil mempertahankan kendali kontrol. Mungkin dialah secara de facto Department Head di di bagian ini.

Sore hari, aku yang bertahan di kantor untuk menunggu janji makan malam dengan teman lainnya didatangi sekali lagi oleh Saka san yang sudah bersiap pulang.

Saka san: “Tidak pulang ya?”

Lembur Saka san. Saya masih dibayar kan? Jawabku tak kalah sembarangan.

Saka san: “Tidak yaaaa…. Bukan pegawai lagi!!!”

Hahahaha. Aku selalu tertawa dengan cara orang Jepang berbahasa Indonesia.

Saka san : “Silahkan ambil data. Boleh apa saja. Tidak ada yang rahasia di kantor Jakarta.”

Yayayaya, nada bicara khas Saka san tadi setengah berisi dukungan setengahnya lagi terasa mengecilkan kantor Jakarta. Grrrrrr gemes gue…

Satu hal lagi, Saka san mengajakku makan siang hari Kamis nanti. Bertiga dengan Ito san atas perintahnya. Mati gue! Ada apa ini? 

= = =

19 Desember 2013

Jadwal utama hari ini adalah makan malam dengan Hesty di Burger King Thamrin. Ya, jadwal kepulanganku kali ini tak hanya mengambil data di kantor Jakarta, tapi juga menjadi MC di kawinan Hesty di Bandung Sabtu nanti. Yihaaaa!

Saling berbalas email sudah dilakukan antara kami berdua sebelumnya, jadi materi obrolan kami malam ini sebetulnya hanya final checking. Untuk pertama kalinya aku akan dipasrahi juga menggawangi acara akad nikah.

Berani Jar? Yaaaa… gitu deh, kalo tidak pernah dimulai ya nggak akan berani.

Hesty yang datang terlebih dahulu dari calon suaminya dengan hati-hati bertanya sebelum kita ngobrol panjang:

“Jar, kamu nggak papa kan kalau akadnya dipegang MC lain?”

Lho?

“Nggak papalah Hesty. Aku juga belum ngerti nih sebetulnya siap tidak dengan acara seformal itu”. Jawabku jujur, karena boleh dibilang aku siap-tidak siap untuk akad nanti.

Hesty mengaku lega, karena takut perubahan agenda ini akan mengecewakanku. Ehhmmm, mungkin belum rejekinya untuk memulai MC yang super formal kali ya?

Seterusnya, dengan pengalaman terbatasku, aku mencheck-chack-check beberapa hal ke calon penganten ini. Aku sangat yakin orang bisa karena biasa, dan dengan jumlah tamu undangan Hesty, aku mampu membayangkan ritme acara nanti.

Oh iya, ada Gede yang dengan anteng mendengarkan kami berdua berdiskusi, dan tetep anteng ketika kuajak ikut ke Seoul walaupun sudah kuiming-iming hotel gratis semalam. Nope, katanya. Tidak tertarik berdingin-dingin nggak jelas. Yeeeee!!!

20 Desember 2013

Aku meminta maaf ke mbak Rini yang dengan terpaksa kubatalkan janji makan siangnya karena dipanggil ENE-1 (maksudku Ito san) makan siang. Dan sejak pagi sudah deg-degan tuh atas materi apa nanti yang akan dibicarakan pada waktu makan siang.

“Nggak ada waktu lain Jar?” Tanya Mbak Rini.

“Hehehehe. Udah penuh jadwal gue mbak” Jawabku setengah pongah. Mbak Rini nggak tahu jadwalku sebelas-duabelas sama SBY soal beginian.

= = =

Ito san memilih Taichan Ramen di Plaza Senayan sebagai tempat makan siang kami. Aku berjalan di belakang mereka berdua menuju tempat makan tanpa banyak bicara. Berbeda dengan Yoneda san yang tidak mempatron, ini bawaannya memang horor jika bersama petinggi yang satu ini.

Resign Agustus tahun lalu masih membawa tanya sejauh mana kampiun bisnis ini mendukungku. Ito san masih menaikkan gaji dengan angka signifikan di bulan-bulan terakhirku, dan juga menjawab responsive atas permintaan ijin penelitian kali ini. Jadi tidak ada pilihan selain masih hormat kepadanya.

Ito san ternyata hanya bertanya apa rencanaku setelah lulus nanti. Aku menjawab jujur dengan meminta bantuannya menempatkanku di kantor anak perusahaan di Singapura. Jawaban Ito san cukup menenangkan, dengan memintaku juga belajar trading dan tidak hanya operasional. Saka san tidak banyak menanggapi selama kami berbagi bicara.

Di perjalanan pulang saat Ito san meninggalkan kami berdua terlebih dahulu, tidak disangka, Saka san berbicara topic yang serius dan humanis. Aku terperanjat dia mampu juga berartikulasi menyentuh seperti ini. Salah satunya adalah dia mengaku diwejangi oleh Tsurusaki san –bos di Tokyo- agar menjaga dan membantuku selama di Jepang.

Wow, Tsurusaki san menitip pesan ke Saka san?

Hah. Hari yang aneh. Sungguh.

21 Desember 2013

Ini hari terakhirku penelitian. Aku tidak melakukan apa-apa selain menuliskan email terimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu. Aku berjanji untuk mengabarkan update yang diperlukan serta mengirim satu copy thesis jika nanti sudah selesai.

Terimakasih Mitsubishi,aku mendokumentasikan sesuatu yang benar-benar nyata, untuk paling tidak menjadi panduan bagi para new entrant di departemen ini.

Secepatnya aku meninggalkan kantor setelah shalat Jumat, makan siang siomay di depan Plaza Indonesia, dan mengambil visa yang sudah siap. Wait… makan siomay pinggiran? Hahahaha. Lucu ya, gaya sih gede: ambil visa Korea di The Plaza, tapi makan siang di depan gedung pinggiran jalan Thamrin.

Ini Jakarta Bung, penuh kontradiksi!

Alhamdulillah, ternyata kepercayaan diri kemarin memang benar adanya. Visa Korea sudah menempel sempurna di passport dan siap untuk diperlihatkan ke petugas imigrasi Bandara Incheon.

Kamsa Hamida!!!

= = =

Bergegas aku menuju Sarinah Thamrin dan menuju travel yang akan membawaku ke Bandung. Hujan deras Desember mengiringi keberangkatanku ke Bandung kali ini. Mari ke kota yang selalu memberiku kenangan manis ini untuk menjemput tulisan takdir berikutnya.

 

Bagian 3

Jumat, 21 Desember 2012

Hujan mulai turun tepat setelah aku sampai di Halte Sarinah. Dengan berlari cepat aku berjuang mencapai pool travel yang berlokasi di deretan toko di belakang gedung tua Plaza Sarinah Thamrin.

Kulihat sudah beberapa orang mengantri disana; mbak-mbak berpakaian kerja, pasangan muda-mudi pacaran, dan bapak-bapak. Jumat sore sepertinya pilihan banyak orang menuju Bandung. Dari gaya bepergian mereka, aku memastikan kebanyakan dari mereka adalah orang asli Bandung yang ingin menghabiskan akhir pekan di rumah tercinta.

Semakin sore, semakin banyak orang yang mengantri, semakin lebat juga hujan mengguyur kota ini. Untung saja aku sudah booking seat sebelumnya, jadi ketika namaku dipanggil untuk berangkat, legalah hati terpastikan untuk segera mencapai Bandung menunaikan amanah MC.

= = =

Hujan yang harusnya berkah selalu menjadi musuh ibukota. Mobil travel kami baru bisa masuk ke dalam tol setelah satu jam berjuang dalam kemacetan dari Sarinah menuju Pancoran. Begini masalahnya, aku bisa menikmati perjalanan panjang ini karena tidak diburu-buru sesuatu dan hanya sesekali saja mengalaminya. Bayangkan rutinitas para boro Tangerang dan Bekasi yang harus mengalaminya setiap hari. Rutinitas menguras energi  yang pada akhirnya diamini kewajarannya.

Dalam perjalanan menuju Bandung, aku rajin berbagi kabar dengan Hesty soal perkiraan waktu tibaku di kota kembang. Hesty yang sedang disibukkan oleh banyak hal tidak bisa menjemputku di BTC, tempat turun travelku nanti. Tenang Hes… Nih aku kasih tahu, aku sangat paham kesibukan penganten menjelang hari H. Jika tidak ada bala-bantuan yang bisa mengantar-jemput, aku akan melakukannya sendiri.

Aku mengistilahkan diriku sebagai MC Jelangkung dalam hal ini: datang tak dijemput, pulang tak diantar.

= = =

Siapa Hesty?

Hesty adalah calon pengantin wanita  yang akan kuhandle acaranya esok siang. Dia adalah teman kuliah di Jepang yang dikirim institusinya (BKF – Badan Kebujakan Fiskal Departemen Keuangan-) untuk belajar di sekolah yang sama denganku. Ya. Indonesia selalu menjadi komunitas terbesar di sekolahku. Kebanyakan dari kami adalah para PNS yang menempuh linkage program: setahun sekolah di universitas-universitas di Indonesia dan menyelesaikan tahun keduanya di Jepang.

Hesty yang sejak awal menarik perhatian ternyata sudah dipinang orang. Aku masih ingat Mas Slamet, seniorku di MBA Program yang kutanya:

“Mas, siapa dia?” sambil menunjuk ke-arah Hesty.

Mas Slamet –yang memang terbiasa nyepet Jawa Timuran- menjawab enteng:

“Ah, telat Jar! Sudah mau kawin!”

Yeeee… nanya apa-dijawab apa. Belum lagi tambahan informasi yang selalu diinduksi:

“Anak dokter lho Jar, anak dokter lho Jar!” Jiahhhh!!!

Singkat cerita deal MC antara saya dan Hesty terjadi di apartemen Mbak Sari di suatu ketika di bulan Mei lalu . Aku kadang suka heran dengan kepercayaan teman yang main tunjuk saja untuk acara sebesar kawinan. Aku yakin main percayanya Hesty karena sudah melihatku tampil di depan orang di acara-acara kampus.

Aku waktu itu tertawa sendiri. Jika insyaAllah dilancarkan nanti acara di Bandung, maka predikatku akan bertambah. Tidak hanya MC Jelangkung, gelarku akan bertambah menjadi MC AKAP: “Antar Kota Antar Propinsi”. Bandung akan melengkapi portofolioku sebelumnya handle acara di Jogja, Jakarta, Menado, dan Depok.

= = =

Aku menyebrang jalan di depan BTC setelah selesai numpang pipis dan membeli minum sekedarnya di mal gerbang kota ini. Aku langsung menghampiri taksi yang nongkrong di pinggir jalan. Kutelpon Hesty dan memberikan handphone ku ke Pak Sopir untuk menerangkan jalan menuju Kologdam, dan segeralah kami meluncur menembus jalanan Bandung Jumat malam yang juga padat tak ubahnya Jakarta.

Untuk pertama kalinya aku akan bekerja-sama dengan Event Organizer secara langsung. Di pernikahan Winta sebelum ini, memang pihak keluarga menyewa EO tapi mereka menyerahkan sepenuhnya rangkaian acara kepadaku.

Kali ini lain, Hesty datang membawa format acara si EO dan aku tinggal menurut  saja. Nah agar lebih lancar, malam ini aku akan meeting dengan perwakilan EO yang akan menjadi Personal Assistantku besok.

Hahahaha. Gaya ya pakai PA?

Aku bertemu Allen –nama perwakilan Kirana Wedding Organizer- di Masjid Kologdam Bandung, tempat akan dilangsungkannya akad nikah besok. Cewek kuliahan ini berhijab sederhana saat datang menemuiku malam itu. Aku yang masih menyimpan Kit Kat Green Tea, menyisakan satu bungkus untuknya. Kan ada break, ada Kit Kat.

Kami berdiskusi singkat tentang acara esok siang, selebihnya aku bertanya-tanya tentang siapa pemilik EO ini. Mudah tertebak, sang pemilik usaha adalah wanita muda seusiaku yang menjalankan bisnis kecil-kecilan dengan banyak tenaga mahasiswa cabutan seperti Allen. Hemmhhh… aku selalu menyimpan salut kepada orang-orang yang percaya untuk berwiraswasta seperti ini.

= = =

Tak berapa lama, Hesty datang menjemput bersama dengan sang Budhe yang funky. Budhe tidak canggung untuk ikut mengobrol di sepanjang perjalanan dari Kologdam menuju wisma tempat kami menginap. Keluarga Hesty menyewa banyak kamar untuk keluarga yang datang dari luar kota di wisma yang terletak tak jauh dari venue resepsi. Aku mesam-mesem sendirian saat menemukan kamarku di lantai dua tertulis “Fajar Arie” dengan besar. Hahahahaha. Macam MC sekelas Tantowi Yahya lah ya, disediakan kamar ditandai tulisan.

Sabtu, 22 Desember 2012

Aku bangun pagi dan menyiapkan semua properti standarku; pembersih muka dan lip-balm Body Shop. Aku menunggu giliranku diantar menuju venue resepsi dengan menelepon Mona untuk mengabarkan update terakhir Mitsubishi-ku.

Mona –teman di anak perusahaan Mitsubishi- selalu menjadi partner yang pas jika topiknya kantor. Dia mengetahui semua personil yang kuceritakan. Aku mengabarkan dengan lega bahwa sudah ada skenario  penempatanku ke Singapura. Ini semacam membenarkan pilihanku untuk tidak pernah mengirim aplikasi apapun ke perusahaan lainnya selama kuliah. Termasuk mengeyampingkan tawaran perusahaan pemberi beasiswaku untuk bergabung dengan mereka. Mona –yang yatim piatu- dan terbiasa berjuang dengan sepenuh kemampuannya sendiri selalu menjadi teman bicara yang pas soal bertahan hidup dan menikmatinya dengan sederhana.

= = =

Acara akad nikah berlangsung dalam adat Jawa yang kental. Ibu-Ibu sepuh bersasak tinggi membawakan acara seperti laiknya. Standard. Maksudku begini, aku selalu menawarkan “semangat” kepada para kolega yang memberiku kepercayaan menghandle acaranya. Aku menjanjikan “sense of belonging” kepada acara yang aku pegang. Anda tidak sedang meng-hire robot. Tenaga Mekanis.

Lho? Kenapa gue jadi iklan begini?

= = =

Segera aku bergegas ke venue resepsi setelah akad nikah selesai. Aku ke belakang panggung mencoba menemui panitia yang mengurus bajuku. Ya, aku tidak perlu ke Omotesando untuk membeli jas seperti yang sudah kurencanakan. Hesty sudah menyiapkan pakaian adat Jawa untuk kukenakan.

Kulihat segerombolan muda-mudi Bandung yang sudah berganti pakaian seragam berhaha-hihi sambil berfoto sana-sini. Ahhh… mereka pasti penerima tamu. Langsung kutemui dua mbak-mbak di tengah ruangan yang aku yakin berurusan dengan wardrobe asyik bercengkrama karena tugas mereka telah selesai.

“Mbak, maaf saya MC untuk resepsi, pakaian untuk saya mana ya?”

Mbak yang tampak terganggu obrolannya terpotong, menengokku dengan sadis dan menjawab:

“Sorry ya Mas, saya hanya ngurusi penerima tamu”

Duar!!!

Sabar… Sabar… MC Besar tak boleh hilang mood gara-gara kejadian kecil menjengkelkan seperti ini. Mungkin saja adik mbaknya sedang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB dan sedang ditugaskan ke Afghanistan, jadi sensitiflah dia.

Acara kawinan kadang memakai tak hanya satu vendor, jadi wajar jika memang pakaian keluarga dan MC dihandle vendor yang lain. Lalu kucoba mencari mbak-mbak yang lain sampai kutemukan orang yang kucari.

Tweet yang langsung kuudarakan tentang kejadian barusan disambut Dedi:

“Wah kurang ajar mbaknya Jar, nggak tau MC Kondang Fajar Arie dia!”

Hahahaha. Teman yang satu ini selalu berhasil menampar ego besarku.

Siapa eloh?

= = =

Cucuk Lampah –bagian pembuka acara dimana iring-iringan pengantin masuk ke pelaminan- digawangi aku dan Bapak-Bapak yang membawakannya dalam bahasa kromo inggil dan aku menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia.

Nice! Pengalaman pertama nih.

Tidak ketinggalan aku membuka acara –menarik perhatian undangan- dengan menggunakan bahasa Jepang. Kudengar bisik-bisik keluarga: “MC nya diimpor dari Jepang”. Hihihi.

Allen, yang setia menemani di sebelahku, semangat mengingatkanku beberapa poin –terutama di akhir acara- seperti ucapan terimakasih ke vendor dan penyebutan apabila ada tamu VIP yang hadir.

Aku bersyukur bahwa acara hari ini bisa berjalan lancar, satu hal yang aku sebalkan hanya vokalis band yang tetap menyanyi dengan suara full ketika aku bicara, padahal aku sudah mengingatkan di belakang panggung dan meminta Allen untuk mengingatkan mereka sekali lagi di tengah acara.

Ini sangat dimungkinkan karena personel bandnya adalah anak muda yang masih sangat semangat mengisi acara dengan suara pol dan tidak mau berbagi dengan MC. Kesannya kemarin aku merasa berebutan teriak dengan sang vokalis.

Hemmhhh… Catatan penting untuk acaraku berikutnya. Aku harus menghubungi sound engeenernya.

= = =

Alam semesta memberikan dukungannya pada pasangan Hesty dan Guntur dengan menurunkan hujan hanya setelah acara resepsi berakhir sekitar pukul dua siang. Seperti biasa aku tidak bisa makan banyak pra dan pasca acara, mungkin adrenalin terlalu banyak keluar dan mengokupasi selera makanku.

Aku hanya makan sedikit dan kemudian langsung berganti pakaian untuk kemudian bergegas ikut rombongan keluarga kembali ke wisma. Aku menolak tawaran Hesty untuk menginap semalam lagi di wisma dan menikmati Bandung. Hemmhhh… tanpa teman seperti ini mungkin Bandung tidak senyaman biasanya.

Tapi Sabtu sore dan hujan lebat seperti sekarang membuat tidak ada taksi yang bisa kugunakan untuk kembali ke pool Cipaganti. Jadilah aku melompong sementara di wisma, berkumpul dengan budhe dan kakak Hesty di salah satu kamar menunggu hujan reda.

Nah ini dia, selalu ada cerita di balik perhelatan besar seperti kawinan. Mbak Widya -Kakak Hesty- bercerita tentang repotnya ganti EO dan budhe nya yang bercerita tentang keluarganya. Hemmmhhh… sepertinya saya dibekali telinga yang besar untuk menampung segala macam cerita, bahkan dari kerabat yang baru dikenal.

Cerita Bandung berakhir ketika akhirnya mbak Wid dan suami membawuku ke pool Cipaganti yang mengantarku kembali ke Jakarta.

Barakallahu fiikum Guntur-Hesty!!!


 

Bagian 4

Minggu, 23 Desember 2012

Seminggu ini aku kembali merepotkan Bu Sita menginap di Kampung Melayu. Walaupun nih, Bu Sita sudah wanti-wanti, Ijah –asisten rumah tangganya- sudah resign pulang kampung karena hamil. Artinya? Artinya aku harus mensetrika sendiri baju-baju kerjaku yang akan kugunakan untuk magang di kantor lama.

Stttt… aku kasih tau ya. Ijah itu gelar yang diberikan Bu Sita ke ARTnya. Nama aslinya sih bukan Ijah. Nah ini dia, Bu Sita nih klik banget kalo soal “sense of humor” dan “nggaya”. Ini aku yakin yang bikin betah setiap kali bertandang ke rumahnya.

Kenapa nggak menumpang di Rumah Mehdi di Rawamangun?

Ah, walaupun ada layanan cuci-setrika, tapi berarti aku akan kerepotan setiap berangkat dan pulang kerja. Ingat, Rawamangun-Senayan itu sesuatu! Nggak mau gue macet-macetan. Jadi walaupun harus setrika sendiri, fasilitas mobil Bu Sita dengan sopirnya masih lebih menguntungkan.

Betul kan hitung-hitungannya?

Tulisan barusan pasti akan tambah menjengkelkan Indra dan Bayu, yang semata mengukurku dari kemampuanku memanfaatkan teman. Ih, siapa juga yang memanfaatkan! Mengoptimalkan tau!

= = =

Seperti yang direncanakan, aku menonton Habibi-Ainun di kepulanganku kali ini. Pas lah, Bu Sita sudah beragenda sosial sendiri hari ini. Jadilah aku meluncur ke Plaza Semanggi sendirian untuk menyempatkan diri menontonnya.

Aku memang sudah tertarik atas film ini sejak melihat trailernya di youtube.

Mengapa ya kita masih sering terkejut bahwa manusia itu multi dimensional. Begini maksudku: aku tidak mengenal Habibie, jadi ketika membaca tulisan seseorang tentang Habibie –lewat email berantai- yang selalu menangis bahkan hampir gila jika mengenang Ainun: aku terkejut. Atau ketika mengetahui perancang muda yang sliwar sliwer di majalah high-end society yang aku baca adalah anak Prabowo: aku terkejut. Atau ketika melihat SBY berapi-api jika bicara (his) character-assasination: aku…. Ehmmm nggak terkejut-terkejut banget sih…

Manusia itu multi dimensi Jar. Tidak bijak menggambar karakter seseorang hanya dari satu perspektif saja. Seseorang adalah anak dari seseorang, suami dari seseorang, bekerja di suatu tempat, lulusan dari sekolah tertentu, dan sebagainya dan sebagainya. Haruslah utuh mengkontruksi pribadi. Dan itu memang tidak mudah. Itu dia alasan ku selalu sebisa mungkin datang ke rumah teman. Aku harus paham siapa keluarganya, dan merekontruksi di sirkumstansi seperti apa dia dibesarkan. Hanya untuk memastikan satu dimensi lain, dimensi yang tidak kulihat darinya di sekolah atau di tempat kerja.

Dan benar. Sesuai judulnya, film ini adalah film drama yang mengurut jalan cinta pasangan Ainun dan Habibi. Adegan yang paling trenyuh buatku adalah ketika Habibie tua kembali ke hanggar PTDI dan melihat pesawat yang tak kalah tua menganggur di dalamnya, mengelusnya dengan kesedihan, menyayangkan kenapa bangsa ini tidak mampu melihat visinya untuk menyatukan kepualauan besar ini dengan pesawat terbang.

Pak Habibie, aku bersamamu kok Pak!

= = =

Nih, makna dari “ati-ati kalo ngomong!”. Maksudku nih soal mengoptimalkan teman tadi. Sepertinya ada yang salah sama konsep ini. Mehdi protes karena jadwal ketemuannya di kepulanganku kali ini dihapus. Ya iyalah, tanpa ada konfirmasi balik secepatnya, ya aku harus segera mengganti agenda dengan teman lain yang bersedia. Ahhh, dimananya sih logika sederhana ini yang salah?

Aku yakin kepongahan seperti ini akan diganjar semesta dengan caranya.

Seperti barusan. Niat baikku membeli Trika –karena melihat Trika di rumah Bu Sita hampir habis- berujung sesal. Aku yang tidak mengecheck cairan pelican pakaian itu ternyata lepas tutupnya dan membasahi Blackberry dengan sukses sepanjang perjalanan pulang Plaza Semanggi-Kampung Melayu.

Jadilah mati total deh itu handphone warisan Mitsubishi.

Arrrggggghhh!!!

Harus ke Ambassador nih? Ahh! Males Ahh! Masih ada I-phone ini!

Senin, 24 Desember 2012

Bu Sita sejak pagi sudah siaga. Banjir sudah hampir menyergap Kampung Melayu. Bu Sita memerintahkan Adek -putra keduanya- untuk mengechek ke depan rumah melihat apakah orang-orang sudah berkumpul di jalanan.

Hah? Apa hubungannya Bu Sit?

Bu Sita menjelaskan, jika orang-orang sudah tampak sibuk di depan rumah memindahkan barang, artinya air akan segera menggenang wilayahnya.

Ah, ngeri sekali Jakarta ini.

Untung Garudaku akan meninggalkan Jakarta jam 11.35 siang ini. Jadilah aku tak perlu menyaksikan air bah menggenang. Aku meninggalkan rumah Bu Sita jam 08.30 untuk memastikan tidak tertinggal pesawat. Dengan koper besar coklatku –aku mencicil barang untuk dibawa pulang kembali ke Indonesia- aku melintas jalan dan memang melihat orang-orang sudah berkumpul di depan jalan raya. Ahhhh … macam Siaga 3 saja kota ini.

Aku melongak-longok melihat taksi nihil melintas di pinggir jalan yang sudah mulai tergenang air. Pak Polisi yang melihatku setengah berteriak bertanya:

“Mau kemana Pak?”

“Nunggu Taksi, Pak!”

“Nunggu di tengah saja. Nggak ada taksi yang mau lewat pinggir!” katanya sambil mendekat dan membantuku menyetop arus lalu lintas, membuatku melenggang mudah ke tengah jalan.

Blue Bird melintas sesaat setelahnya. Tak lupa aku berterimakasih ke Pak Polisi yang membantuku menyelesaikan masalah saat menutup pintu taksi.

Nah, gini nih Polisi. Kan harus inisiatif membantu masyarakat yang celingak-celinguk bukan?

= = =

Mengapa pulang bolak-balik Indonesia setiap liburan Jar?

Ah banyak alasannya. Pertama nih soal uang yang juga akan dihamburkan di Jepang selama liburan. Tidak mungkin mengurung diri tiga minggu di kampus yang terletak di kota terpencil di Prefektur Niigata tersebut. Dan bicara soal bepergian di Jepang, ya sama saja, mending namabah sedikit buat pulang ke Indonesia.

Kedua pastilah soal Bunda yang masih terbaring sakit di rumah. Walaupun nih, ada shifting understanding dari kepulanganku summer break July-September lalu di rumah. Pertamanya, kepergian ke Jepang meresahkanku atas ketakutan besar jika ibu meninggalkanku sewaktu-waktu. Tapi kali itu lain, diberikan kesempatan 2,5 bulan menjaga dan merawat ibu aku menjadi berubah pikir, bahwa aku harus siap menghadapi kondisi ibu yang tak kunjung membaik. Aku harus siap merawat ibu sampai waktu yang tak siapapun tahu.

Jadi disinilah aku, di Lounge yang sama dengan Didik Nini Thowok yang juga akan meluncur ke Jogjakarta, mencoba mencari pemahaman selanjutnya atas sesuatu bernama rumah, bernama keluarga.

= = =

Aku sampai magelang sekitar jam tiga sore dan menemukan rumah masih dalam proyek renovasinya. Aku yang kesulitan masuk rumah dengan acara loncat-loncat material bangunan menemukan ibuku kembali menggemuk. Wajahnya bulat.*

Aku yang sudah kehilangan mood menemukan rumah berantakan menjadi bertambah kesal menemukan ibu yang sepertinya tidak menuruti anjuran makanku.

“Ibu kok gendut lagi!!!” Kira-kira begitulah kata pertama yang keluar dari mulut kekanakanku. Aku merasa 2,5 bulanku menjaga makan ibu selama summer break kemarin berantakan kembali.

“Ibu makannya banyak ya!”

“Nggak le, makan selalu sedikit kok” Begitu jawab ibu yang tidak langsung aku percayai.

Menjadi bertambah kesal karena berita bahwa mekanisme penempatanku di Singapura yang sudah selesai dibahas di Jakarta kemarin tidak menghadirkan senyum bahagia di wajah ibu.

Ibu nih mau apa lagi sih?

Penjelasanku bahwa Singapura hanya selemparan batu dari Jogja tidak pernah masuk di pengertiannya. Aku menjelaskan bahwa sudah ada penerbangan langsung Jogja-Singapura setiap hari dimana aku hanya memerlukan waktu kurang dari 5 jam untuk kembali ke Rumah Magelang jika diperlukan. Singapura bukan London, Mammmmmmmmm!!!!

Capek, rasa-rasanya menjelaskan bunda soal mimpi anaknya. Capek rasanya menyadarkan bahwa determinasi tinggi ini adalah warisan yang kupunya darinya. Capek rasanya memahamkan bahwa tiap anak adalah anak dari takdir yang dituliskan semesta untuknya.

Bu, apakah kita berdua belum belajar dari rangkaian panjang perbedaan pendapat soal ini ya?

Masih ingatkah Bunda, Fajar kecil 15 tahun meninggalkanmu menangis sendirian di lorong SMA Negeri 1 Magelang setelah perdebatan panjang tentang keenggananmu melepaskanku pindah ke Al Azhar?

Ibu, anakmu bukanlah anakmu. Anakmu adalah anak dari garisan takdir yang dituliskan semesta kepadanya.

Ahhhhh!!! Tidak akan pernah selesai jika membahas sesuatu yang memang tidak pernah disepakati.  Ya ya ya, aku tidak pernah melukiskan diriku sebagai anak manis buah hati Bunda. Teman dekat tahu pasti Fajar kecil yang rajin bersilang pendapat dengan indungnya.

= = =

Aku menyalahkan renovasi rumah yang belum selesai sebagai perusak moodku di kepulangan kali ini. Sebetulnya rumah sudah 90% selesai, tinggal touching up disana-sini. Tapi tetap saja, sliwar-sliwer tukang dan suara-suara gedebag-gedebug perkakas tidak menyamankan siapapun yang mendengarnya.

Aku yang protes ke Bunda, ditanggapi enteng olehnya:

“Ah, kamu baru tiga hari. Ibu sudah tiga bulan menndengarnya. Apalagi waktu proses penghancuran dinding ruang tamu ke ruang tengah. Rasa-rasanya hati ibu ikut dipukul. Bug-Bug-Bug!”

Aku mencoba mencari tahu apa makna dibalik pernyataan ibu barusan. Apakah ibu sebetulnya tidak ikhlas rumah direnovasi? Aku ada di belakang mas Dedy untuk urusan ini. Maksudku aku setuju dengan proyek renovasi rumah untuk menjadikannnya lebih bersih. Walaupun yang dimaksud bersih adalah: melenyapkan warung kesayangan Bunda menjadi dapur dan kamar mandi, membelah ranjang Bapak-Ibu menjadi dua ranjang kecil, menggempur dinding pembatas ruang tamu dan ruang tengah, menjual dan menghibahkan almari-almari tengah ke kerabat dan tetangga.

Bunda, apakah kami menghancurkan kenanganmu sejalan dengan hilangnya memorabiliamu tersebut? Bunda apakah kami terlihat seperti tidak menghargai perjuanganmu dan almarhum Bapak membeli barang-barang tua tersebut? Bunda apakah kami mengecilkanmu dengan memaksamu ridho merombak rumah yang engkau bangun bersama Bapak?

= = =

Dengan terbatasnya ruang gerak kami saat ini, aku tidak bisa misalnya menggunting kuku ibu di ruang tamu, atau berlama-lama menemani ibu di kamar karena suara-suara tukan yang mengganggu. Aku memilih untuk menginci kamar rapat-rapat atau seperti sekarang, berkunjung ke rumah teman SMP.

Aku pergi ke rumah Upik siang ini tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Aku paham kemungkinan bahwa Upik ada di tempat kerjanya di Temanggung. Tak masalah, rumahnya pasti dipenuhi Mamah dan saudara-saudaranya.

Dan memang benar, aku menemukan Mamah dan adik iparnya menunggu rumah siang tersebut. Mudah untukku dengan segera menenggelamkan diri dalam obrolan bersama mereka. Mamah bercerita soal Upik dan suami yang sedang (juga) merenovasi rumah mereka. Mamah bercerita tentang kunjungannya kesana, walaupun rumah belum sepenuhnya jadi, aku mampu menangkap kebanggaan Mamah Upik tentang anaknya yang sudah sepenuhnya mandiri.

Ah, aku tidak pernah meragukan Upik soal ini. Soal bekerja keras. Soal mengatur diri.

Tak cukup hanya ke rumah Upik, aku melipir ke belakang rumah ke Rumah Eni. Aku menemukannya bersama anak dan emaknya menunggu rumah. Eni sudah beberapa lama meninggalkan pekerjaannya karena kerepotan mengurus anak.

Rumah yang masih tampak sama semenjak aku bermain ke tempat ini bertahun lalu memerangkapku dalam satu dimensi pemikiran tertentu. Tentang aku yang selalu ingin terbang jauh dan membuat sarang di tempat asing. Tentang berfikir apa salahnya membangun sarang di tanah kelahiran?

Apa yang engkau cari sebetulnya Jar?

Aku kemudian menyitir jawaban Upik ketika ditanya adik iparnya.

“Mbak, Mas Fajar kae saiki neng ndi?”

“Ah mboh. Durung arep leren nek during dadi Menteri!” Jawab Upik.

= = =

Agenda rutin untuk selalu menggelar gathering bersama para sepupu kali ini juga terancam batal. Pertama, rumah yang masih berantakan… kedua acara Mas Dedy yang akan menggelar akekahan Dero. Keponakanku yang baru berumur sebulan.

Ya, rumah ini kedatangan jagoan baru. Maestro Dero namanya. Aku sudah mampu menebak bawaan charming yang dipunya bayi ini. Dia memang secara fisik lucu dan menggemaskan, semua orang tampak jatuh cinta kepadanya. Kualitas yang sama dimiliki Bapaknya.

Akhirnya aku mengalah menggelar gathering siang hari satu hari setelah akekahan Dero. Satu dua kerabat Sleman juga datang memenuhi rumah kami. Tapi aku benar-benar bingung atas aura rumah “baru” ini. Kepulanganku kali ini tampak tidak nyaman. Tampak kebingungan. Aku tidak tahu apa yang salah. Ada perasaan ingin segera pulang ke Jepang.

= = =

Rabu, 02 January 2013

Sesuai rencana, aku akan ke Seoul via Kuala Lumpur. Tanpa adanya Blackberry di tangan, aku menghubungi Lisa via twitter untuk janji bertemu di Lounge Adisucipto. Aku sebetulnya ketar-ketir nih tanpa alat komunikasi, bagaimana nanti memastikan Lisa sudah datang atau belum?

 Aku langsung ke Blue Sky Lounge dan menemukan Kartu Kredit BRI ku tidak lagi bisa mendapatkan akses gratis masuk kedalamnya. What? Mbak petugasnya bilang bahwa mulai 2013, free access hanya bisa didapatkan melalui point redemption. What?

Arrrggghhhh!!! Sial!!!

Bawaan kesal juga ditambah kenyataan bahwa International Terminal tidak bisa diakses dari Lounge. Jadi aku hanya bisa mengobrol dengan Lisa selama 20 menit saja sebelum aku harus masuk ke immigration point di dalam bandara.

Ya Allah, mengapa episode manis Jakarta dan Bandung kali ini harus ditutup seies of unfortunate events di Magelang?

Aku melenggang lunglai meninggalkan Lisa, mengharapkannya mendoakanku setelah serangkaian cerita dramatisku yang kubagi dengannya.

Sayonara!


Bagian 5

Rabu, 02 Januari 2013

Arrrrggghhh, untuk fasilitas wifi yang seyogyanya terpasang gratis di setiap bandara mengapa masih belum juga ada disini? Aku takut Lisa sudah nyampe duluan dan kebingungan mencariku yang tidak beralat komunikasi.

Aku mondar mandir di depan gerbang masuk terminal keberangkatan, nggak masalah toh bandara ini kecil sekali. Kalaupun Lisa berdiri menunggu di sekitar area ini, aku pasti mudah menemukannya.

Tapi ternyata tidak. Aku tidak menemukannya.

Ya sudah, aku memutuskan masuk ke Blue Sky Lounge untuk menunggu dan mencari wifi bekal menghubungi Lisa. Ahhh… untunglah, setelah kusapa via Twitter, dia ternyata masih di dalam taksi dari kostnya menuju bandara.

Lisa memang menjadi partner tetap setiap kepulanganku ke kampung halaman. Dia setia menetap di Jogja dan menjalankan usaha pemandu wisatanya secara mandiri. Ingat yang aku tulis tetang para wiraswasta, sehormat itulah aku pada daya tahan Lisa menjalankan usahanya.

= = =

Lisa masuk ke Lounge dengan dandanan seperti biasa: rambut pendek, kaos kasual dan wajah bersih tanpa riasan. Aku yang sudah deg-degan menunggunya tersenyum kecut, karena aku harus segera masuk ke terminal keberangkatan internasional yang sayangnya tidak tersambung dengan lounge ini.

Dengan waktu tersisa hanya 20 menit, tidaklah banyak yang kami bagi siang tersebut. Seperti konferensi pers satu arah, aku bicara ke Lisa dengan formal dan tertata tentang pemaknaan kepulanganku seminggu ini ke Magelang. Tentang persiapan diri jika ibu dianugerahi sakit yang tidak segera sembuh. Tentang romansa-problematika bernama keluarga.

Aku merasa egoois tak enak hati Lisa tidak sempat berbagi ceritanya. Kita ketemu enam bulan lagi ya Lisa, besok gantian!

= = =

Aku pulang menggunakan Air Asia untuk kembali ke sarang baru: Jepang via Korea Selatan. Maskapai langganan ini akan menerbangkanku dari Jogjakarta ke Kuala Lumpur, dan dari Kuala Lumpur ke Incheon. Seperti biasa, dengan memanfaatkan early booking, aku hanya menghabiskan total sekitar 1.550.000 Rupiah saja dari Adisucipto ke Incheon sudah termasuk bagasi. Subhanallah kan?

Mendarat di LCCT Kuala Lumpur hampir jam enam sore waktu setempat, aku harus pintar-pintar menghabiskan waktu tunggu selama tujuh jam. Sebagai informasi nih, wifi di LCCT hanya bertahan 3 jam di setiap perangkat komunikasi. Jika anda berniat menghabiskan lebih dari waktu tersebut di bandara, pastikan membawa gadget lebih dari satu seperti saya. Jadi ketika jatah wifi di I-phoneku sudah habis, aku menyalakan I-pod ku untuk terus berinternet ria menunggu pesawat yang akan membawaku ke Korea. Para pelancong juga penting untuk punya powerbank sendiri. Walaupun LCCT menyediakan charger station, tapi fasilitas stop kontak ini selalu saja terpakai orang. Maklum, jumlahnya tidak terlalu banyak.

= = =

Aku naik pesawat lewat tengah malam, dan duduk di aisle deretan tengah bersama pemuda yang akhirnya kuketahui berasal dari Korea. Dengan dandanan ala-ala bintang K-Pop memang membuatku berfikir tergesa bahwa “ohhhh fenomena ini diamini oleh semua warga mudanya”.

Loe nggak K-Pop = Loe Gak Gaul!

Mas berumur kisaran 20 tahun ini ramah mengajak ngobrol dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih. Diketahui ternyata dia sudah beberapa bulan di Sydney untuk menempuh program magang. Program yang cukup menarik karena katanya merupakan bagian dari kuliah S1nya.

Melihatnya membuat saya merasa tua. Bukan karena dia masih S1, lebih karena saya merasa nggak K-Pop.  Kepo iya. K-Pop Nggak. Mengobrol panjang dengannya juga memmbuatku berkesimpulan tergesa bahwa orang Korea ramah-ramah.

 = = =

Sama seperti aku melihat Jepang dan China, excitement ku ke Korea Selatan juga biasa saja. Kegiranganku sebatas bahwa aku akan menjelajahi daerah asing dengan sejarah yang berbeda, dengan suhu udara yang lebih dingin daripada desaku di Jepang, katanya.

Ya ya ya, aku ikut memutar “Gangnam Style” sewaktu heboh Psy mewabah muncul. Ya ya ya, aku kadang bernyanyi “Bonamana” bersama Dedi di Inul Vista. Ya ya ya, ada 2NE1 di playlist handphone saya. Ya ya ya, saya menonton episode “Full House” sampai habis. Ya ya ya… pesawat TV di rumah bermerk Samsung. Nah loh??? Tanpa disadari aku (kita?) punya banyak persinggungan dengan negara ini kan? Menggambarkan kurang lebih pentingnya Korea sebagai kekuatan kultural-ekonomi baru dunia.

Selagi menyelam minum air, aku mempelajari sejarah perjuangan Korea dari mata kuliah “Asia and Japan in Pre War Period” di trimester musim gugur kemarin. Benar, mata kuliah ini adalah mata kuliah lintas departemen yang ditawarkan oleh Jurusan Hubungan Internasional di kampusku.

Sama seperti S1 ku yang berselingkuh ke Jurusan Ilmu Politik di semester akhir, aku mengambil mata kuliah berpersepektif sejarah di HI. Ya kaleeeeee aku ambil “Investment”? Hahahaha. Lebih cucok ini lah. MBA dengan rasa HI, aku menyebutnya.

Beberapa teman dari kelas MBA mempertanyakan pilihanku mengambil mata kuliah ini. Yasu san termasuk di dalamnya. What? What is that? Tanyanya sambil berekspresi aneh mendengar judul kuliahnya. Hahahaha. Ini nih… sudah dibilang manusia itu multi dimensi. Dan selalu tersimpan dimensi Fajar yang mencintai sejarah (dan politik) dan menjadikannya alat analisis untuk mencerna dunianya sekarang dan masa depan.

= = =

Mata kuliah dua kredit ini diasuh oleh Professor Welfield yang merupakan pinisepuh kampus. Beliau termasuk dosen yang bekerja sejak kampus ini berdiri di tahun 1982. Terbilang fit untuk senior seusia beliau, Professor Welfield mengajar dengan metode Kak Seto: mendongeng.

Ulugbeg (Tajikistan), teman dari jurusan HI senyum penuh arti ketika aku mengatakan aku ikut kelas ini. Dia mengatakan dengan sopan kurang lebihnya: “Iya, enak sekali ngajarnya, sampai seringkali saya tertidur”. Hahahaha, dia benar. Kita bisa tidur di kelas –walau kelasku hanya berisi 10 anak- dengan tenang, karena Professor Welfield sungguh text book membaca catatannya. Hanya sesekali saja beliau  berdiri dan membagi gambar foto-foto relevan, atau menjelaskan peta dunia sebagai alat bantu peraga.

Selebihnya perhatian beliau ada pada catatan tulisan tangannya yang sangat rapi seperti dokumen-dokumen kerajaan Skandinavia jaman baheula.

Tetap, aku tidak kehilangan hormatku ke beliau yang sudah banyak makan asam garam dunia. Berangkat dari Australia dengan beasiswa untuk belajar di Jepang, Professor tentulah menjelma menjadi Kaukasian yang fasih berbahasa Jepang. Cerita pengalaman hidupnya sesekali mewarnai kelas. Pernah suatu ketika professor bercerita tentang pengalamannya bagpacking trans-Rusia semasa jaman mudanya.

Mengelilingi Rusia dari pojok timur melalui perbatasan dengan Jepang sampai ke pojok barat di Moskow dengan berantai menggunakan alat transportasi seadanya. Seadanya disini maksudnya kereta dan bukan pesawat terbang.

Tuuuuhhhh siapa yang mau ikutan bercerita ke cucu nanti dengan cerita menggugah hati seperti beliau?

= = =

Tugas akhir yang diberikan Professor Welfield adalah essay dengan 15 topik pilihan. Aku memilih topik “Korea di Masa Imperialisme Jepang (1910-1945)”. Ini yang aku bilang tadi selagi menyelam minum air. Aku ingin membekali diri sebelum berangkat ke Korea dengan sedikit pemahaman atas negeri ini.

Di IUJ, rerata dosen berdedikasi tinggi membaca esai muridnya dengan teliti. Kami acapkali menerima kembali esai di loker dengan komentar-komentar tanggapan, bahkan kadang di setiap paragraph. Di deretan Professor rajin ini ada Profesor Yamazaki, Professor Li dan Professor Welfield. Rajin sekali mereka bikin corat-coret di kertas kita.

Cuma nih sekarang ada yang geli-geli nih soal Professor Welfield. Sesuai tanggapannya atas draft pertama proposal essay, Professor meminta aku menyajikan alasan imperialisme Jepang atas Korea. Aku menutup esai dengan bilang bahwa paling tidak ada dua pemahaman: pertama bahwa Jepang membutuhkan komoditas yang harus diimpor dari Korea. Ini dengan alasan sederhana bahwa hanyalah beras Korea yang paling mirip rasanya dengan beras Jepang. Tentu tidak saja beras, ada komoditas lain yang dibuktikan dengan data ekspor Korea ke Jepang semasa pendudukan mereka.

Kedua, Korea menjadi simbol perlawanan Jepang atas China dan Rusia: dua kekuatan lain di Asia Pasifik yang konstan beradu pengaruh pada saat itu. Jepang yang secara filosofis merasa sebagai bangsa terpilih merasa penting untuk memenangkan dominasi di semenanjung Korea. Tentu ini bukan uraian Professor Fajar, ada beberapa sumber buku yang aku inti-sarikan menjadi rangkaian isi esaiku.

Coretan tangan Professor Welfield banyak menghiasi paper yang aku terima dengan mark “B+” di depannya. Professor bilang di akhir coretan bahwa ada satu alasan lagi tentang pentingnya pendudukan Korea bagi Jepang. Menurutnya, Korea adalah batu loncatan (springboard) penting bagi Jepang untuk kemudian mengokupasi Formosa, dan kemudian Asia Tenggara. Secara sederhana, Jepang harus menduduki tetangga terdekat terlebih dahulu untuk meluaskan sayap –membangun pangkalan militer misalnya- ke negara-negara yang terletak di sebelah selatannya.

Professor Welfield, sungguh, saya tidak protes dengan nilai “B+” tadi. Sumprit. Cuma tulisan manis di depan cover terasa tidak manis lagi. Professor yang akan pensiun tahun ini (YA, kuliah ini menjadi kuliah terakhir setelah 30 tahun pengabdiannya bagi IUJ), menulis:

“Fajar, terimakasih sekali atas diskusi-diskusi kita yang menarik di kelas dan di Gym”

WAIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTT… Di kelas? Yak, betul! Aku rajin bertanya –paling tidak sekali dalam setiap pertemuan- ke Professor selama pelajaran di Ruang 102. Tapi di Gym? Profffff!!! Saya nggak pernah ke Gym!!! Fajar siapa yang dimaksud? Huaaaaa…

Aku mengingat kami juga mengobrol di luar kelas: di bus sekolah kalau kami kebetulan naik di jadwal yang sama, atau ngobrol-ngobrol cantik sore hari di sebelah gedung sekolah. Bukan kenapa-kenapa sih, aku pastikan siapapun sulit menyetop Professor jika sudah mulai cerita. Tapi Prof, kita berdua nggak pernah ngobrol di Gym!!!

= = =

Kamis. 3 Januari 2014

Renee Zelweger terkaget-kaget saat di satu meeting, direksi memerintahkannya untuk pindah ke Minnesota mereformasi perusahaan yang mis-managed hampir bangkrut. Renee yang tak paham angin keras dan cuaca dingin daerah tersebut dengan PD keluar bandara tanpa curiga. Dia mengumpat cepat saat pintu otomatis terbuka dan angin menamparnya dengan dingin dan sensasi perih. Segeralah dia putar balik dan melengkapi diri dulu dengan semua perlengkapan musim dingin.

Aku segera mengingat adegan lucu film “New in Town” tersebut ketika aku mengalami hal yang kurang lebih sama. Aku memang sudah memakai jaket bulu warisan Mas Pram –senior di kampus Jepang- yang sangat tebal membalut badan. Tapi kaos tangan dan jumper copotan masih aku simpan dalam ransel.

Jadilah ketika aku keluar dari pintu otomatis setelah mengklaim bagasi, disertai dengan umpatan “kampret”, aku masuk lagi kedalam gedung berdominasi kaca transparan ini. Huh? Dingin banget. Aku mengecheck suhu di I-phone ku dan menemukan jika kota yang dulu bernama Hanyang ini mencatat -18 derajat celcius. Rekor terdinginku sampai dengan saat ini. Ya pantes lah. Kulkas aja nggak sedingin ini.

Aku kemudian memasang kaos tangan dan jamper bulu di kepalaku, berjalan aman karena tidak ada makelar taksi yang rewel menawarkan angkutan. Perlahan aku mencari booth bus yang dicatat di panduan perjalananku. Menemui mbak-mbak di loket dan menyatakan tujuanku, membayar tanpa kutanya. Kuserahkan saja uang kertas dan dia mengembalikan berupa pecahan yang lebih kecil.

Hemmmhhh… Fajar banget. Pokoknya cepat. Lha sudah yakin juga kami tidak bisa bercakap-cakap mesra dengan bahasa Korea.

Aku kemudian menuju bus stop yang berderet bertanda nomor-nomor yang berbeda, menandakan jurusan-jurusan ke seantero Seoul. Busku bernomor 6101, dengan tujuan pertamaku adalah hotel tempat aku menginap. Hotel Vision, adalah hotel bintang tiga di dalam kota yang lebih mudah diakses bus. Dalam panduan hotel tertulis, hotel ini hanya terletak 50 meter dari bus stop.

Nice. Aku yakin nggak perlu susah-susah mencarinya.

= = =

Agar lebih yakin, aku menemui Bapak-Bapak tua petugas bus, menyebutkan nama tujuanku:

“Seong dong gu?”

Dan kemudian dia menjawab: “Yes, Yes, Yes…”

Tuh kan apa aku bilang, yang penting common sense saja. Bahasa kalbu.

Mendapatkan predikat Bandara terbaik sedunia versi Skytrax tiga tahun berturut-turut, aku kesulitan menemukan alasannya. Ya, memang, bandara luas dan bersih, tapi dimana ya lebihnya dari Changi? Hemmmhhh…

Perjalanan dari Incheon ke Seoul ditempuh lumayan jauh. Kurang lebih satu jam setengah menurut buku petunjuk. Tidak banyak yang bisa diceritakan, bus kami melintasi jalan tol yang sepertinya sama saja dengan jalan tol di Indonesia, China ataupun Jepang: hampa.

Pagi yang berkabut baru tampak sedikit berwarna ketika kami memasuki kota, jalan yang melingkar silang, dengan sungai lebar dan gedung-gedung tinggi meneguhkan Seoul sebagai metropolitan sejajar dengan Tokyo, Hongkong dan Beijing.

= = =

Bus berlayar monitor dalam bahasa Inggris, menerangkan masing-masing tempat persinggahannya, membuatku sigap bahwa sebentar lagi aku akan turun di halte tujuan. Petugas membantu mengambil bagasi di samping kiri bus, dan kemudian meninggalkanku celingukan sendiri di tepi jalan.

Hemmmhhh… Pernah takut sendirian?

Aku yakin banyak traveler yang setuju bahwa jalan-jalan sendiri adalah alat terapi yang tepat untuk mengatasi ketakutan atas “sendiri” tadi. Terdampar seperti anak hilang seperti saya seperti sekarang, lebih mirip orang stress syuting “Cast Away” daripada “The Holiday”.

Tapi Alhamdulillah, Hotel Vision adalah hotel bertingkat tinggi dengan Petunjuk Nama yang sangat besar dan terpampang di lantai tertingginya. Hanya membutuhkan waktu kurang dari dua menit sepertinya untukku segera menemukan Hotel yang akan kutinggali semalam tersebut.

What? Semalam saja?

Hehehehehe. Iya. Hotel ini kuperoleh gratis dengan voucher Agoda.com karena sering booking hotel via layanan online ini. Jadilah, aku mampu menginap di hotel bintang tiga deh. Dua malam selanjutnya, aku akan menginap di hostel yang terletak tak jauh dari hotel pertama ini.

Seperti Hotel lainnya, aku baru bisa check-in jam 12 siang nanti. Jadilah aku mengeksekusi rencana pertamaku: mencari hostel yang akan kutinggali dua malam berikutnya. Aku menitip koper besar di lobby dan kembali menyusuri jalan menuju halte yang tadi kusinggahi.

Aku menuruti anjuran resepsionis hotel untuk keluar kearah kanan untuk menemukan stasiun Wang-Sim-Ni. Nah ini dia tricky partnya. Mati gaya kalau wifi tidak nyala. Tak mungkinlah aku pakai Google Map. Jadilah aku berjalan menuruti kata hati. Jelas-jelas Mbak Resepsionis bilang lurus saja, aku ngeyel, karena tidak segera menemukan penanda stasion, aku belok kanan menuju deretan toko-toko berhuruf Han-geul yang sungguh tak aku paham.

Semakin jauh aku membelah jalan, semakin asing rasa-rasanya daerah ini. Entah karena masih pagi, entah karena memang ini daerah sepi, aku tidak menemukan banyak orang berkeliaran. Cukup membantuku sebetulnya, karena aku menjadi tidak terlalu malu saat terpeleset jatuh di jalanan berlapis es yang sangat licin.

Hehehe. Kudengar orang berteriak kecil menggunakan bahasanya. Mungkin dia bilang “hati-hati!” I don’t know. Aku melihat dua orang ibu2 lain juga berjalan sangat pelan sepertinya takut mengikuti jejakku terpeleset manis di tengah jalan.

= = =

Setelah beberapa lama tak juga menemukan tanda-tanda station, aku kembali ke jalan besar dan dengan percaya diri menyebrang jalan. Tidak… tidak ada feeling atau alasan logis apapun. Menurutku tetap bergerak adalah solusi setiap persoalan.

Jadilah kuikuti kata hati berjalan tak tentu arah. Beruntunglah aku ketika menemukan gedung tinggi yang aku identifikasi sebagai mall. Maklum, banyak merek internasional di displaynya. Dan benar saja, station terletak bergandendengan dengan mall yang setelahnya kuketahui bernama: Blitz-plex.

Di jaman secanggih ini, kita tak perlu membeli buku panduan wisata. Aku sudah menyiapkan diri mendownload berbagai aplikasi panduan wisata Seoul dari I-Tunes secara gratis. Dan darisanalah pula kuketahui bahwa mall ini adalah rumah bagi bioskop dengan layar terbesar di Korea Selatan. Mantab. Nanti aku check apakah mereka punya English Speaking Movie.

Aku sudah dibekali Hamidah dengan semacam Suica Cardnya Jepang. Kartu debit untuk berbagai macam pembayaran. Jadilah aku masuk station menempelkan kartu diatas sensor magnetik, berputar-putar didalam station mencari exit door yang dimaksud oleh laman hostel yang akan aku inapi.

Hihihi. Ya, aku tidak akan naik kereta, aku cuma masuk untuk mencari exit door yang dimaksud hostel. Jadilah ketika aku menemukan pintu keluar yang aku maksud, kartu tidak bisa membaca karena aku tidak berpindah tempat. Petugas membantu mengembalikan kondisi kartu dan aku melenggang kangkung seperti tidak melakukan kesalahan.

Nah, PR lagi ini. Walaupun aku sudah berjalan sesuai petunjuk peta hostel  yang sudah aku cetak, aku tak juga menemukan hostel yang dimaksud. Aku malah sepertinya jalan terlalu jauh, sampai bertemu deretan apartemen yang semakin lama semakin sepi. Kaki yang kecapekan menyumbang rasa putus asa.

Aku masih kekeuh nih, belum mau bertransaksi dengan orang. Belum mau tanya-tanya dulu. Baiklah, aku menyerah dan kembali dulu ke mall untuk beristirahat sebentar.

= = =

 Dengan cepat aku melihat plang warna-warni seven eleven di bagian depan mall. Aku langsung menuju convenience-store langganan ini dan mencari paket makan siang. Aku memilih bulgogi-bento dan jus buah yang tak kutahu mereknya sebagai padanan makan siang.

Ijinkan aku kembali mengenang Boarding lewat makanan. Sebagai anak yang lahir dan besar di Magelang, tentulah aku asing dengan makan-makanan luar daerah ataupun luar negeri. Setakjub diriku pertama kali memakan buah pear yang diberi oleh Om Harsono waktu itu, setakjub pulalah ketika nama-nama teman boarding bisa kuasosiasikan dengan makanan tertentu.

Bayu mengingatkanku atas D’Crepes yang dibelikan keluarganya di Plasa Senayan, Indra berkorelasi dengan Wendy’s (fast food pertama yang aku kenal) di perjalanan kami dari asrama menuju rumahnya di bilangan Gandul, dan atau Ewink yang mengenalkanku dengan sate Padang.

Nah, siapa yang bertanggung jawab membuatku cinta kimchi dan bulgogi? Tersebutlah nama (alm) Hafez Agung Baskoro, teman sekamar pertamaku di Boarding yang setia dikirimi Korean-Bento setiap kali mamanya datang menjenguk. Dan sangat menyenangkan, karena Tante selalu membawa bento tak hanya untuk anak tercinta tetapi juga teman sekamarnya ini. Jadilah cita rasa kimchi yang mungkin aneh buat lidah Jawa semakin lama semakin akrab saja.

Nah, kalo siang ini makan bulgogi dan kimchi langsung di negaranya apa kemudian masih bisa menyangsikan nikmat Allah? Hayo!!! Ah Boarding, tak hanya pola pikir yang diobrak-abrik. Lidah saya pun diobrak-abrik di usia penting pencarian jati diri.

= = =

Aku menemukan kamar hotel lengkap dengan bath-tub, ahhhh pucuk dicinta ulam tiba. Udah hampir kering ini badan kedinginan. Dengan segera aku meletakkan koper dan mengalirkan air ke dalam bath tub, mengatur temperaturnya. Sembari menunggu, sembari aku mengeluarkan pakaian memadu padan pakaian yang akan kupakai untuk malam ini dan hari-hari berikutnya.

Ahhhhh…. Mantab bener deh berendem-berendeman gini. Lupain deh itu jadwal perjalanan. Nggak mungkin juga menikmati jalan-jalan dengan badan remuk redam. Entah berapa lama aku menghabiskan waktu untuk mandi dan beristirahat, yang jelas aku pastikan dulu foto hotel yang kuambil tadi terupload sempurna di instagram.

Bukan, bukan hanya untuk eksis saja. Dengan meninggalkan jejak di instagram, orang mampu mentrack jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ini cuma beda format saja dengan kiriman foto Mr. Singh (sopir selama perjalanan Delhi-Agra) via email ke Indah karena takut atas penampakan Bapak tua bersorban Sikh tersebut, esensinya sih sama: mengirim kabar. Pan lagi ada di negeri asingggg…

Destinasi selanjutnya adalah: manalagi kalau bukan Gangnam area. Woooo… Oppa Gangnam Style! Nggak, aku nggak segitunya tertarik ikutan heboh Gangnam. Yang kurasa penting adalah terus mengupdate pop-culture terkini, memahami perilaku manusia dan transaksinya dengan budaya. Gangnam adala area anak muda yang ngehips di Seoul saat ini. Yah, kalo di Indonesia, berarti mungkin dulu Melawai-Blok M lah ya? Atau kalau sekarang Sekitaran Senayan.

Sejak dari subway, aku sudah melotot mencoba men-scan anak muda Seoul. Wait… apa istilah kata kalau Jakarta  aku ada di daerah Rawamangun apa ya? Kok nggak ada yang gaya kayak mas kemarin? Mana itu jaket-jaket asimetris? Mana profil-profil tinggi atletis semacam 2NE1 atau Suju? Kok minus-minus juga yak?

Hemmmhhhh… Kutahan diri sampai ke daerah Gangnam dulu lah ya. Mungkin mereka ngumpul semua di mall.

Aku tiba di Co-Ex Mall tanpa terperangah. Yahhhh… gitu deh. Maksudku begini, menurutku kalau hanya ingin bersensasi pengalaman belanja yang menyenangkan aku bilang Grand Indonesia sangat bisa diadu dengan mall-mall yang kudatangi di Hongkong-Singapore-Tokyo, dan Seoul. Masalahnya sih Cuma bawa duit atau nggak, itu saja.

Nah, radar mataku kembali diaktifkan mencoba mencari profil Rain dan Song Hye-kyo. Ehm, menurutku Tokyo  menyajikan rerata kecantikan yang lebih tinggi. Maksudku proporsi manusia-manusia cantiknya  (baik laki-laki maupun perempuan) lebih banyak di Tokyo. Hihihihi, aku jadi teringat Nishikawa san –kolega di kantor Tokyo- yang bilang kurang lebih: “Cantikan kami, mereka cuma menang tinggi saja” begitu dia membandingkan cewek Jepang versus Korea.

Seoul, menjadi surga belanja bagi cewek-cewek Jepang karena nilai tukar yen yang menguntungkan. Nishikawa san bilang bahwa lebih murah membeli kosmetik di kota ini daripada Tokyo. Begitu juga biaya operasi plastik. Sama seperti bebrapa orang Amerika terbang ke Argentina untuk mendapat fasilitas yang lebih murah tapi bagus, begitu pula orang Jepang terbang ke Korea untuk mereparasi muka. Nishikawa san pernah bercerita tentang orang yang tertahan di bandara karena hasil operasi begitu berbeda dengan foto sebelumnya di paspor. Hahahahaha. Nggak tau deh beneran atau tidak itu cerita.

Tapi mendengar massive dan permissive nya operasi plastic di negeri ini, sepertinya aku harus bilang: ya jangan digeneralisir juga. Lah ini, saya di Co-ex Mall dengan merasa biasa saja, belum merasa ada di surge ketujuh dengan bidadari sliwar sliwer.

Langsung kutelepon Viber Hamidah menyampaikan protes:

“Hamidah mana ini K-Pop Star nya? Biasa aja?”

Hamidah menjawab aku masih di pojokan Gangnam area. Belum di Gangnam. Harusnya turun satu station lagi dan menyusuri pertokoannya. Hahahahaha. Niat banget, memangnya aku mau cari prototype buat operasi? Aku menutup kunjungan Co-ex Mall dengan menelpon “2c Guest House” yang gagal kucari lokasinya tadi pagi.

Bapak di seberang telepon kemudian menerangkan dengan terbata-bata bahwa aku sudah menempuh arah jalan yang benar, hanya saja mungkin terlewatkan karena nggak ngeh dengan papan nama hostel tersebut. Masak sih? Kayaknya aku sudah baca setiap papan disana?

= = =

Tulisan tidak akan dilanjutkan dengan pembahasan fenomena K-Pop ya! Kalau masih kurang, tonton aja tuh Arirang TV. Scanning muka adalah satu hal. Scanning perilaku lebih penting. Dari yang aku temui setengah hari ini, aku mendapatkan persepsi awal bahwa orang Seoul bermuka datar. Kurang senyum. Aura orang Jepang secara general “lebih manis” daripada orang Seoul. Mas-mas kemarin di pesawat tidak boleh menjadi pembenar generalisasi.

Itu persepsi awal setengah hari ya. Tidak boleh kusimpulkan. Masih ada sisa dua hari sebelum hasil scanning akan diendapkan ke otak dan hatiku setelahnya.

Beruntunglah Indonesia hanya dikekang Jepang selama 3.5 tahun saja. Lihatlah Korea dan China yang terus menerus berada dalam bayang-bayang sentiment negative terhadap negeri Sakura karena sebuah alasan yang sangat bisa diterima.

Selama masa pendudukan Jepang di Korea, misalnya. Sistem pendidikan diubah. Wanita dipekerjakan sebagai pekerja seksual. Identitas Nasional Korea dieradikasi sepenuhnya dengan melumpuhkan otoritas Raja Korea.

Jika penjajahan Belanda yang membuat kita merasa inferior atas bangsa Barat (dan juga menganggap pegawai adalah profesi setengah dewa. Huh!!!!), sepertinya okupasi China dan Korea oleh Jepang yang brutal lebih menyisakan dendam daripada inferioritas.

Jangan-jangan masalah perbatasan China-Jepang dan Korea-Jepang sengaja dijaga untuk terus menjaga semangat “dendam” ini. Mengapa dijaga? Ya, karena bisa menjadi motor yang efektif untuk menggerakkan massa. Untuk urusan politis pemilu misalnya. Orang bisa menjadi kalap mata jika sudah bicara soal leluhur, nasionalisme dan agama.

Nah, bicara soal nasionalisme dan patriotisme Korea, tempat yang aku kunjungi berikutnya akan sangat relevan. Gwanghamun Square –alun-alun kota Seoul- adalah titik nol Seoul yang bisa kita ibaratkan sebagai lapangan Monas dan Istana Negaranya. Satu lagi kesamaannya, Kedutaan AS ada di sekitarnya. See?

Berbeda dengan Lapangan Monas yang menyimpan ruang hijau di dalamnya, Gwanghamun Square ini lebih ke ruang public terbuka, pavement memanjang yang diapit dua jalan besar. Keluar dari subway Gwanghamun station, aku disambut oleh patung maha besar Kaisar yang sedang duduk di singgasananya, dengan tangan sebelah kanan terangkat dan kanan kiri memegang buku seperti sedang menjelaskan sesuatu. Di pojokan lain, patung yang tidak kalah besar menyapa mata. Dari jarak sejauh ini terlihat tidak begitu jelas, semacam prajurit gagah berdiri dengan senjatanya menghadang sesuatu.

Siapakah dua orang ini?

Nah seperti Monas yang mempunyai museum dibawahnya, seperti inilah Gwanghamun Square. Di bawah patung Kaisar ternyata terletak Exhibition Hall “The Story of King Sejong” dan “The Story of Admiral Yi Sunshin”.

Dua figur ini sangat pas menjadi representasi kebesaran Korea sebagai sebuah peradaban. King Sejong (1397-1450) adalah Kaisar Korea keempat dinasti Joseon (yang menguasai semenanjung Korea, jadi bayangkan Korea sebelum dipisah menjadi dua negara seperti sekarang), yang besar dengan tak hanya kebijakannya memimpin Negara, tapi juga kemampuan akademis dan artistiknya. Nah, terjawab sudah mengapa patung sang Kaisar tadi memangku buku. Karena beliaulah akademisi sang penemu huruf Korea: Hangeul.

Lalu siapa prajurit gagah yang berdiri di pojokan alun-alun? Namanya Admiral Yi Sunshin. Seorang simbol perlawanan bangsa Korea. Siapa yang dilawan? Siapa lagi kalau bukan Jepang. Komandan marinir inilah yang memimpin pasukan Korea menghalau mundur pasukan laut kiriman Jepang di masa invasi Jepang tahun 1500-an.

Sama seperti Soekarno yang selalu mengingatkan bangsa kita atas perjuangan pahlawan bangsa, samalah usaha pemerintah Korea membangun dua wahana baru ini. Sebagai catatan, dua ruang pameran ini baru selesai tahun 2010 sekurun waktu saat Korea semakin mencengkeram dunia.

= = =

Apakah nasionalisme masih perlu di era global seperti sekarang?

Ya iyalah masih perlu. Dunia belumlah tempat dengan satu pemerintahan, satu aturan, satu mata uang. Dunia masih selayak wilayah RW dengan ratusan KK yang berbeda kekuatan ekonomi dan aturan keluarganya. Ada KK yang suka menghasut, ada KK yang suka mendominasi, ada KK yang miskin.

Korea, dengan lembar sejarah terdominasi kekuatan Jepang (dan China) ingin membangun identitasnya sendiri. Aku Korea! Aku bukan China! Aku bukan Jepang, seperti itulah teriakan yang aku “dengar” di alun-alun ini.

Dan bukannya mereka sudah berhasil? Korea balik mengekspor Samsung ke China dan Jepang, tak hanya itu mereka ekspor pula sinetron dan penyanyi ke dunia. Mengirim Ban Ki Moon  memimpin PBB. Korea, di titik ini harusnya menjadi contoh bagi Negara kita yang baru mampu menjadi pasar untuk Negara-negara besar lainnya.

= = =

Isi ruang pameran mengesankanku betapa mahal membuat fasilitas gratis ini. Ruangan berkesan formal dengan design modern dan minimalis berisi berbagai alat multi media yang aku pastikan mahal: mulai dari alat kecil headphone sampai dengan theater 4 dimensi. Di bioskop mini ini, aku kegirangan sendiri menyaksikan film pendek tentang keberhasilan Admiral Yi Shunshin menghalau pasukan Jepang. Kita dibawa seperti naik kapal kura-kuranya, kursi bergoyang-goyang laksana kita naik kapalnya, dengan efek cipratan air yangng keluar dari alat di depan kita.

Menarik bahwa admiral yang gagah berani ini menunjukkan sisi melankolisnya dengan rajin menulis diary. Diary perang ya! Dia menyatakan diarynya sebagai “My personal history that contains all of my precious moments and feelings”.

Sedeeep…

Quotenya yang harus diamini setiap orang dalam diary tersebut adalah:

“If you are prepared to fight to the death, you will live. If you avoid battles to preserve your life, you will die”

Asyeeeeeeekkk…

= = =

Aku sudah kembali ke kamar hotel jam 9 malam. Cukup. Malam ini harus tidur nyenyak untuk perjalanan selanjutnya. Aku terpikir untuk menelepon Gede sebelum tidur. Aku rasa mungkin dia menghubungi BBM ku yang sudah koit kemarin.

Dan benar, pernyataan pertamanya adalah : “BBM gue nggak dibales”.

Tenang bro. BB Modar bro. Aku bertanya tentang jadwal kepulangannya kembali ke asrama. Aku harus mensinergikan jadwal dan pikiran bersamanya, teman Indonesia satu-satunya di MBA. Kami masih menyisakan dua trimester di Jepang. Harus rukun sentosa.

Seperti sudah kuprediksi, kami tidak akan banyak mengambil mata kuliah yang sama di tahun kedua. Maklum, minat kami berbeda. Gede akan banyak mengambil mata kuliah “entrepreneurship” dan aku dengan “management/marketing” dan “Hubungan Internasional’.

Tak apalah. Kami punya jadwal makan siang dan makan malam yang masih teratur. Aku mulai memasak di tahun kedua dengan bantuan peninggalan perabot senior yang sudah lulus duluan. Dan terbukti, memasak sendiri memang lebih menghemat uang saku kami. Buatku, tahun kedua ini memang harus lebih berhati-hati soal pengeluaran. Semakin pas-pasan.

Apa bukti lain Gede sudah berada di Ring 1? Kami mampu bertahan bicara lebih dari satu jam di telepon. Gede resmi ada di deretan Dedi, Rais, Mehdi, Indra, Bayu, Ewink, Anhar, Coni, Wahyu di periode masing-masing. Memang, Gede tidak perlu se-desperate Ewink yang melakukan adegan “putar puting” saat Skype bersama.

Orang gila! Aku masih mengingat tertawa terbahak terjengkang dari kursi di Ruang Tamu sebelah Laboratorium Komputer kampus saat video-call dengannya live dari Air Molek, Riau. Kuakui usahanya menghiburku maksimal saat aku mengeluh pengen pulang ke rumah saat itu.

Loe pulang balik ke Riau buat usaha bener kan Wink? Bukan jadi stripper?

Jumat, 04 Januari 2013

Aku menyerahkan itenarary hari ini pada itenarary panduan aplikasi Seoul Tour yang kuunduh dari I-tunes. Aku akan melewatkan siang dan sore di Gyeong Bok Gung Palace dan malam harinya di N Seoul Tower.

Mengapa tak dari pagi? Aku pillih jadwal guided tour mengelilingi istana yang siang saja. Ini bagian dari pengen tidur nyenyak tadi. Tak perlulah menyetel alarm untuk bangun jam tertentu. Ini liburan kan, bukan studi banding?

Lagipula aku masih punya PR mencari 2c Guest House, hostel 300.000-an yang sudah kubooking dua malam. Dengan menyeret koperku, aku melewati kembali Wangsimni Station, tapi kali ini lebih awas melihat sekeliling. Mungkin saking konsentrasinya, sekali lagi aku terpeleset dengan cantik di jalanan berlapis es ini.

Yah, nggak papalah ya, kepelesetnya di Seoul kan tetep itungannya gaya.

Singkat cerita, aku menemukan hostel dengan review bagus di agoda.com ini setelah lebih cermat melihat setiap papan nama. Aku disambut Bapak-Bapak pemilik hostel yang langsung menerangkan beberapa hal seperti ganti handuk, password gerbang, dan kondisi check out.

Pagi itu, olahraga diteruskan dengan mengangkat koper ke lantai tiga lewat tangga. Hostel tanpa lift ini memang harus kuakui bersih dan tidak terlalu jauh dari station dan dipenuhi dengan deretan rumah makan, karaoke bar, dan minimarket 24 jam.

Pantas para bagpacker merekomendasikan tempat ini.

= = =

Setelah puas menaruh barang dan men-set wifi, aku naik subway yang sama dengan rute kemarin menuju istana Gyeong Bok Gung. Maklum, istana ini terletak di pojokan Gwanghamun Square yang aku ceritakan kemarin. Sepanjang perjalanan, aku melanjutkan scanning sosialku kemarin. Aku menemukan beberapa kali orang-orang berpakaian militer lalu lalang di kereta ataupun subway. Lalu-lalangnya mereka mengingatkanku kalu Negara ini sedang ada dalam situasi perang.

Jangan kaget. Korea Utara selalu mendeklarasikan perang kepada saudaranya ini. Ahhh, walau pemimpin barunya provokatif meluncurkan uji coba rudal, kok aku biasa saja ya. Lha wong daerah perbatasan saja dijadikan paket wisata. Mana serem-seremnya coba?

Aku malah melihatnya lain. Lihat nama resmi kedua Negara: Korea Utara menyebut dirinya “Democratic People’s Republic of Korea” dan Korea Selatan menyebut dirinya “Republic of Korea”. Aku melihat dua Negara ini masih menyimpan romantisme untuk bersatu. Yah, yang Utara sih mainnya main kasar. Maksa gitu mau mau kawin lagi.

= = =

 Aku berkumpul di depan Kantor Informasi di dalam kompleks istana. Disana, sudah berkumpul puluhan turis Kaukasian yang tidak tertebak berasal dari mana. Kalau dari gaya bicara sih seharusnya Amerika Serikat ya. Profil-profil anak muda yang banyak bicara dan percaya diri.

Nahhhhhh… di kantor penerangan inilah aku menemukan Song Hye-kyo. Versi lebih tua. Cuman, tante Song Hye-kyo ini ada di dalam kantor. Bukan pemandu wisata yang akan menemani kami berkeliling istana.

Mbak pemandu wisata membuka sesi kami dengan menerangkan bahwa ada tiga istana di Kota Seoul. Dan istana inilah istana terbesar di Korea. Sayangnya, istana yang pernah dihancurkan di masa perang dunia kedua ini tidak diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Sangat masuk akal. Istana -yang di beberapa bagian masih direstorasi ini- bukan lagi asli peninggalan masa silam. Banyak bangunan adalah replica restorasi intensif yang sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu.

Nih saya kasih tau bocoran dari mbaknya, dulu di Gwanghamun Square  pernah dibangun Gedung Militer Jepang di masa pendudukannya. Jepang mendirikan bangunan tinggi sengaja menghadap istana. Sebuah pengejawantahan keberanian Jepang mengawasi istana dan sekaligus menutup pandangan istana ke wilayah kekuasaannya. Sebaliknya, menutup pandangan masyarakat ke istana rajanya.

Tuuuuuhhhh, bagaimana nggak dendam ya orang Korea? Kini bangunan sisa-sisa Jepang tersebut kembali dirobohkan dan menjadi alun-alun Gwanghamun.

Apa yang lebih oke dari istana ini daripada Istana kekaisaran yang aku lihat di India dan China? Aku terkesan dengan atraksi pergantian pasukan siang dan sore yang diperankan oleh para pemain sesuai dengan pakaian pada jamannya. Ada tiupan terompet, ada puluhan orang berbaris dengan pakaian tentara Korea jaman dahulu yang berwarna cerah: merah, kuning, biru.

Aku rasa, mau umur berapapun kita. Kita akan selalu ternganga dengan adegan kolosal semacam ini.

Gini nih, sebetulnya ada keinginan untuk mengkompletkan pengalaman dengan masuk ke Imperial Palace Tokyo. Sayangnya, masuk ke istana ini harus pake reservasi. Jadilah aku hanya menatap dari kejauhan ngopi di café yang terletak di depan pintu gerbang.

Ya, ini pasti karena istana Tokyo masih dihuni sama yang punya: Kaisar Akihito. Sama dengan Keraton Jogja yang juga punya batas pengunjung, ya sama saja dengan rumah Kaisar Akihito yang tidak bisa sembarangan dimasuki.

= = =

Aplikasi Seoul Tour yang aku ceritakan berisi juga panduan moda transport yang harus dinaiki dari satu tempat ke tempat berikutnya. Aku yang PD bahwa public transport sudah terjamin di kota ini dengan santai meninggalkan Istana Gyeong Bok Gung menuju N Seoul Tower.

Yang tidak aku sangka ternyata dari station terakhir menuju bukit tempat tower berada harus ditempuh dengan bus (loop line) yang tidak terintegrasi. Maksudku ketengan. Jadilah ketika aku keluar stasiun aku lumayan plonga-plongo mencari bus yang tidak terlalu jelas penandanya.

Setelah meradar siapa korban yang akan aku tanya-tanya, aku menemukan pasangan muda-mudi pacaran ini sedang gandengan senyam senyum bahagia. Mendekatlah aku ke mereka dan bertanya bus mana yang harus kutempuh untuk ke N tower.

Mbaknya menoleh ke masnya. Entahlah, antara takut atau tak bisa bahasa Inggris. Yang jelas, masnyalah yang menjelaskan, dan disertai keterangan bahwa mereka pun bertujuan sama. Aku tidak salah memilih orang. Masnya dengan baik hati memberikan anggukan kepala saat dia turun bus, seakan mengatakan ‘Ayo turun disini!”.

Jiaaaahhhhhhh… benarlah itu panduan wisata yang menerangkan soal N Tower sebagai tempat pacaran. Aku tak hanya menemukan Mas-Mbak tadi tapi juga banyak pasangan lainnya termasuk pasangan mas dan mas yang tak segan gandengan. Ohhhh, lebih berani daripada di Tokyo ya?

N Tower ini popular saat ditasbihkan oleh “Boys Over Flower” menjadi lokasi syuting. Wait, ini aku bisa teriak aku nggak nonton sinetron ini ya! Hahahaha. Aku tahu fakta ini dari Dita, sepupu ababilku yang memasang poster BOF di pintu kamarnya.

= = =

Perjuangan melawan angin -18 derajat di puncak bukit dimulai ketika bus berhenti bukan di depan Tower. Ya iyalah, kalau mau yang sampai langsung ke sana ya naik cable car. Yang murah mah selalu ada catatannya.

Kami naik jalan kaki bersama-sama pengunjung yang lain sekitar 150 meter? Entahlah. Jarak yang pendek jadi lumayan juga di kedinginan seperti sekarang. Aku tidak salah tebak, Jumat malam Namsang Tower dipenuhi pengunjung beraneka rupa: orang tua, anak-anak, dan muda-mudi.

Tidak terlalu suka dengan riuh dan dingin udara malam itu, aku memilih restoran yang sepi pengunjung. Aku melihat banyak tempat makan yang hips dengan pengunjung anak muda, tapi pasti aku akan nelangsa jika makan sendirian disana.

Jadilah aku masuk ke restoran yang terletak di pojokan bangunan, membuatnya mendapatkan view bagus atas Seoul yang berkelap-kelip di bawahnya. Jumat malam Seoul dan Jumat Malam Jakarta aku bilang sama. Sama-sama macet.

Aku membuka buku tulisku, memesan sup asparagus panas, dan menulis apa yang akhirnya menjadi tulisan ini.

= = =

Aku pulang kembali ke penginapan sekitar jam 10 malam, dan menemukan dua orang tamu lain, dua gadis Jepang sudah bersolek pol untuk clubbing. Salah satu dari mereka menyapaku selamat malam, sambil mengunci kamar keluar hostel.

Sabtu, 05 Januari 2013

Jadwal wajib setiap mengunjungi sebuah Negara selain istana adalah: museum. Museum menjadi panduan singkat memahami perjalanan sejarah dan budaya sebuah bangsa dalam satu tempat. Sama dengan kunjungan ke istana kemarin, aku juga menyesuaikan jadwalku dengan guided tour museum.

Perjalanan pagi ini mengesankan. Aku naik subway yang berbeda arah dengan destinasi kemarin dan menemukan pemandangan Seoul yang mengesankan. Ahhhh… seperti orang kaya baru, kota ini mempercantik dirinya di setiap sisi. Istilah kata, nggak mau kalah ikutan operasi plastic.

Ingat ya, operasi plastic. Karena kita masih menemukan wajah asli Korea di fasilitas umumnya. Seperti nih misalnya aku menemukan Bapak-Bapak tua menawarkan kaos tangan musim dingin di subway. Jualan di dalam subway adalah hal yang belum pernah aku temukan di MRT Singapura dan Jepang. Maksud loe? Ya, kemungkinan bahwa ada perbedaan tunjungan hari tua antara ketiga Negara tersebut. You tell me lah!

= = =

“Atraksi”, jika boleh aku mengatakannya seperti itu, sudah dimulai sejak keluar station. Terdapat Aisle yang yang gemerlap oleh lampu terang sepanjang jalan, berkelap kelip membentuk gambar keramik dan koleksi museum.

Wow! Cara yang cerdas mempesonakan orang yang baru pertama mengunjungi fasilitas ini. Aku yang terperangah ternyata terkelabui, merasa bahwa kita sudah memasuki komplek museum. Salah! Aisle tadi adalah bagian station dan kita masih harus keluar.

Keluar dari station, kita akan melewati taman super luas sebelum mencapai bangunan induk. Tidak banyak yang bisa kupandang dari taman di kala musim dingin, tapi aku yakin tempat ini pasti cantik sekali di musim semi dan gugur nanti. Bangunan museum memang tampak menakjukan dari luar. Semacam gedung konser. Besar  sekali.

Ini aku yakin bagian dari pembangunan karakter bangsa. Bravo!

Berbeda dengan kemarin, hari ini aku bersama rombongan orang-orang tua di jadwal guided tour siang ini. Profil Ibu pemandu wisatanya mengingatkanku pada ibu-ibu khas sinetron Korea. Sasakan dan kalem.

Museum menyimpan koleksi beragam dari tiap era kekaisaran Korea. Mereka menghighlight patung “Pensive Bodhisatva” peninggalan abad ke tujuh yang ada di lantai tiga. Ibu pemandu memancing kami dari pertanyaan “apa yang menarik dari patung ini?”. Bapak-Bapak menjawab posisi duduknya yang berbeda dengan patung Budha kebanyakan. Aku mengiyakan dalam hati. Tapi Ibu itu menjawab lain: Lihatlah garis senyum di wajah Budha. Ini jarang, katanya, penggambaran Budha dengan garis senyum.

Ehmmm…. Mengapa orang Korea tidak bergaris senyum sama ya? Susah senyum.

Ada satu koleksi lain yang menarik perhatianku. Budha adalah agama dengan penganut besar di Negara ini selain Confucianisme. Nah, ini lagi-lagi pembangunan karakter bangsa, dalam satu ruang pamer, dipajang perbedaan lonceng kuil Budha yang ada di Jepang, China dan Korea. Aku sekali lagi merasa Korea sedang berteriak: Aku bukan Jepang, aku bukan Korea.

Aku sih setuju-setuju saja, asal jangan kenceng-kenceng teriaknya. Biasa saja. Sama halnya Indonesia dan Malaysia yang berbagi budaya, ya kita tidak mampu membohongi diri bahwa (beberapa) dari kita segaris-keturunan. Seperti halnya pendapat bahwa asal mula orang-orang Jepang adalah manusia purba hasil migrasi dari Semenanjung Korea, dan DNA orang Jepang mirip dengan DNA orang Mongolia. Wallahu alam.

= = =

Aku merengkuh malam di Dongdaemun Market. Setelah puas dengan Mall aku harus menambah referensiku dengan pasar tradisional Korea. Hujan rintik sempat menahanku di pintu keluar menuju pasar yang sangat panjang ini. Jadilah aku melongo sebentar menunggu sampai hujan sedikit reda.

Deretan toko pakaian di kanan kiri bertambah meriah dengan deretan warung makan tradisional di tengah jalan. Aku memilih penjual gorengan yang diantri beberapa orang. Bapak penjual tampak sibuk melayani dengan ditemani wanita paruh baya yang aku tebak sebagai istrinya.

Sedikit mengejutkan karena Bapak-bapak menyapaku “Indonesia? Malaysia?”

Indonesia, jawabku sambil tersenyum senang.

Aku bilang sedikit tersenyum, karena pasti dia dapat gambaran “Indonesia-Malaysia” dari mbak-mbak berjilbab yang mengantri sebelumku. Ngomong soal ini, aku lebih terkejut di Pasar Ueno, Tokyo, saat penjual kebab menyapa keras; “Selamat Malam” dalam bahasa Indonesia mengajakku mampir ke warungnya.

Hahahaha. Sudahlah selesai. Profilku memang mentog profil Melayu/Asia Tenggara. Walaupun sempat dipikir orang India selama berkunjung di India dua tahun lalu, tapi aku yakin hidung saya ini khas hidung Melayu. Titik.

Dalam perjalanan pulang, kusempatkan lagi ke Blitz-plex yang katanya merupakan bioskop dengan layar terbesar di Seoul. Sayang sekali aku tidak menemukan keterangan dubbing atau non-dubbing dari film Hollywood yang diputar. Enggan bertanya ke petugas, jadilah aku balik kanan ke seven eleven dan disambut mbak yang sama dengan yang kemarin. Kali ini dia sudah bisa tersenyum menyambutku.

= = =

Minggu, 06 januari 2013.

Aku harus bangun pagi. Pesawatku berangkat jam 08.40 pagi ini. Dengan perkiraan waktu 1,5 jam perjalanan menuju Incheon, aku harus berangkat dengan bus paling lambat jam 5.30 am.

Aku menemukan diriku sebagai orang pertama yang mengantri bus. Tak berapa lama kemudian muncul Mas-mas yang merokok dan dua orang mbak-mbak yang aku yakin juga turis dari mancanegara, judging dari dua koper besar mereka. Ahhh, mereka pasti belanja kosmetik sama seperti Nishikawa san.

Sopir taksi yang beberapa kali lewat selalu menawarkan jasa mereka. Tapi berbeda dengan Indonesia, bapak-bapak ini tidak menambah-nambahi kebohongan bahwa : “busnya nggak ada, ayo ikut saya”. Kami berempat bergeming menunggu bus yang memang akhirnya muncul.

Easy Jetstar , nama maskapai low cost yang kupilih datang dan berangkat tepat waktu. Nah baru deh melihat 2NE1 di profil mbak-mbak pramugari yang melayani kami. Yah, mungkin memang begitu, para manusia cantik hanya ada di tempat-tempat tertntu. Mohon hapus bayangan anda bahwa mereka bergelimpangan ada di jalanan Seoul.

Masuk ke Terminal keberangkatan Incheon, barulah aku mengamini Incheon sebagai bandara terbaik di dunia. Aku merasa masuk ke Mall daripada bandara. Bukan hanya deretan toko, bandara ini dilengkapi degan art gallery dan museum. What? Ya. Anda dijamin bisa leha-leha santai delosoran menunggu pesawat anda datang.

Pun pesawat meluncur tanpa antri. Ingat, pesawat datang tepat waktu itu OK. Tapi apa gunanya jika landasan terbatas dan membuat pesawat harus antri terbang macam di Beijing kemarin?

= = =

Dengan lurus anteng, aku langsung meneruskan perjalanan ke Tokyo station setibanya di Narita. Memilih shinkanshen dengan jadwal terdekat, menaikinya, dan menemukan diriku di Stasiun Urasa dengan sensasi seperti biasa: perasaan meloncati peradaban. Dari hingar bingar  kembali menyepi raga dan pikir. Cobalah suatu kali nanti dicoba, merasakan pemandangan yang berbeda ketika memasuki Echigo Yuzawa di bulan Januari. Semua putih tertutup salju laksana Narnia.

Sssssssttttttt…. Begitulah desaku tanpa bunyi-bunyi.

Masuk kamar, aku segera mengangkat telepon berkirim kabar:

“Ibu, aku sudah sampai kampus. Saljune wes nutup setengah jendelo. Dongake Fajar ya Bu.”

Sebuah ritual untuk merayu semesta memanjakanku dengan perantara doa Ibu.

= = =

SELESAI.

Catatan Calon Master

Daftar Isi

A. Essay
– Ijinkan Aku Terbang, Bunda
– Thankyou Note
– Jepang: Lihat Isi dari Kulitnya
– The World is (Not) Enough
– Ayo Sekolah
– Antara Astariani dan Harper
– Menjadi Indonesia
– Karachi, Auschwitz dan Rawagede
– Life is a Broadway Show
– Ada Apa Dengan Sinta
– Aku, Guru, dan SMPku
– Balada Sepeda
– Guru dan Ruang Bermain Bernama Sekolah
– Kyoto dan Jablay Lanang
– Atur Harapan
– Mari, Aku Temani Selesaikan Thesis Malam Ini
– Aku dan Tabrizi
– Bantu Aku Membacamu
– Kalem, 45 Hari Lagi
– Fanaa: Logika Memilih
– Little Star on Earth: Sebuah Refleksi
– Kerja Kelompok: Hayuk!
– Romantika Salon Jepang
– Catatan Akhir Sekolah

B. Cerita Pendek
– Sloka Untuk Laras
– 1.52 Huh
– Remedi
– Cara Kamila

C. Kumpulan Puisi
– Autumn 1.0
– Winter 1.0
– Spring 1.0
– Autumn 2.0
– Winter 2.0
– Spring 2.0
– Poetry Project

1. Ijinkan Aku Terbang, Bunda
(06 September 2011)
Suatu ketika di masa kuliah, aku pulang ke rumah Magelang dan mendapati hiasan baru di almari hitam ruang tengah. Beberapa pecah belah berbagai figur diletakkan ibu berderetan.
Ada guci di tengah-tengah, diapit beruang yang sedang memeluk anaknya, ayam jago warna coklat dan burung yang bersiap terbang. Aku menanyakan ibu.
“Bu beli dimana?”
“Beli di pasar” kata beliau.
Tanpa ditanya lebih lanjut, ibuku menjelaskan benda-benda mati itu menyimpan arti. Guci di tengah adalah ibuku, yang dijaga oleh tiga anaknya: beruang, ayam jago, dan burung terbang. Beruang adalah personifikasi kakakku nomor satu yang diharapkannya (pada waktu itu) bisa kembali pulang ke rumah Magelang dan menemani beliau, ayam jago adalah pesonifikasi kakakku nomor dua, dan aku adalah burung yang diletakkannya paling pinggir.
“Kenapa aku burung Bu?”
“Karena kamu akan terbang jauh” jawabnya.
= = =
Setiap anak tumbuh dengan mitos yang didengarnya masing-masing. Dan pahlawan mitosku bernama Sari Jagger. Entahlah tokoh itu betul nyata atau tidak, tapi mendengar beritanya menonton Michael Jackson di Singapore waktu itu, jelas mengkultivasi mimpiku akan negeri seberang.
Dan untuk membuat angan itu bertambah mengakar, mari tambahkan masa SMA ku. Ini bukan mitos lagi. Aku tinggal satu atap dengan anak-anak yang pernah menginjak Frisco, Paris, Hongkong. Kemudian anak kampung ini membangun sendiri kondisi idealnya.
= = =
Ya. Aku selalu bilang ke ibuku soal keinginanku untuk terbang kesana-kemari. Personifikasi burung memang tepat, tetapi apakah kemudian aku bisa bilang bahwa ibuku sangat paham keinginanku sejak belasan tahun lalu?
Tidak sesederhana itu. Ibuku mungkin sudah kebal pada akhirnya dengan pilihan jalan-jalanku kesana-kemari. Tapi ketika bicara soal bersekolah dan bekerja di luar negeri?
Belum.
Ketika aku bercerita soal keinginan yang satu ini, maka yang ada adalah tanggapannya soal biaya hidup yang tinggi,
“Jadi gaji tinggi ya sama saja kan?”
“Nanti kamu pulangnya bagaimana? Jauh sekali… ”
“Disini kan pekerjaannya sudah enak?”
Ternyata aku sama sekali clueless. Naïf. Percayalah, baru-baru ini saja aku mampu memaknai dengan benar keengganan ibuku. Terlepas dari kepahamannya akan “nafsu terbangku”, yang ingin Ibu katakan hanyalah: “Jangan jauh-jauh dari Ibu le”. Itu saja. Sama dengan kejadian 13 tahun lalu ketika Ibu begitu berat melepasku bersekolah ke Jakarta, begitu juga kuliah ini.
Sampai suatu ketika di tahun 2010 saat ibuku meneleponku malam hari, tanpa disangka beliau bilang:
“Le, ibu sudah ikhlas kalau kamu mau sekolah lagi”.
Aku yang waktu itu masih lembur kaget mendengarnya. Ada apakah ini? Mari tidak usah berlebihan soal sering gagalnya aplikasi beasiswaku dengan belum datangnya restu ibu. Jujur diakui aku memang bukan profil yang diinginkan lembaga donor pada umumnya. Accept that! Yang aku percaya bahwa kali ini memang saat yang paling tepat menurutNya. Dan bertambah indah dengan datangnya restu Ibuku.
= = =
Seingatku, selalu ada drama dalam episode penting kehidupanku. Termasuk yang satu ini. Jalan yang berkelok pada akhirnya tidak penting lagi untuk dikeluhkan, ketika perjalanannya membawa manfaat yang sangat besar: membangun pemahaman yang sama antar aku dan ibuku. Sebulan terakhir rasa-rasanya memberiku pelajaran lebih banyak daripada sekian tahun sebelumnya.
Bunda, rumahku tidak pernah berpindah. Percayalah. Aku akan pulang, cepat sembuh ya …
PS: Ini tentu saja bukan hanya soal ibuku. Ada puluhan nama yang harus aku apresiasi atas kuliahku ini. Terimakasih. Terimakasih.

2. Thankyou Note
(13 September 2011)
Dengan sadar aku menyiapkan banyak pertemuan jauh-jauh hari sebelum petualanganku dilanjutkan. Ini disandarkan pada kenyataan bahwa kami tak akan lagi bisa bertemu sesering kemarin. Aku merasa harus mengucapkan terimakasih kepada mereka-mereka yang berperan besar dalam prosesku berjibaku dengan dinamika sebelum pengumuman, dan apalagi, the meetings were not necessarily on my expenses (hihihi):
1. Energy Dept Mitsubishi Corp– Sunyard –MCX Asia; Din Tai Fung Plaza Arcadia
2. Indah Agustina Suwandani – Dedi Setiawan – Kiki Larasati; Piscator Emporium, Pizza Hut Bendhil, Takemori Grand Indonesia, Food Court Senayan City.
3. Kartika Winta dan Prima Laksmita – Yoshinoya, Grand Indonesia
4. Mona Raya; Taichan Ramen Plaza Senayan
5. Energy Dept Mitsubishi Corp; Dharmawangsa Hotel and Canton Bay Plaza Senayan
6. Kristina Ria; Private Residence
7. Rais Ahmad – Ayu Lidy – Aray Banyu Bening; Private Residence
8. Ratna Koswati; Private Residence
9. Diana Puspitasari – Misharati Israkhmellia: Din Tai Fung Plaza Arcadia
10. Al Azhar Boarding School 98; Ketjil Kitchen, Pizza Hut and Rumah Air
11. Sita Widodo -Mona Raya- Hartini Wasisto; Private Residence
12. The Sunaryo’s; Private Residence
13. The Edma’s; Private Residence
14. Energy Dept – Risa Ang; Monologue Plaza Senayan
15. The Hatta’s – The Nishikawa’s; Idabashi Restaurant
16. Ryoko Oka -Machiko Nishikawa -Tomoko Takishima; Barbacue Grill Omotesando
17. Vicki Dewi – Prima Laksmita: The Manhattan Fish Market, Grand Indonesia
18. Maudini Virtriana – Kartika Winta; Coffee Bean and Tea Leaf Senayan City
19. Ika Krismantari – Kelik Wicaksono – Senyum Pagi; Monologue Plaza Senayan
20. Lisa Aulia Utami: Dunkin Donat Adisucipto Jogjakarta
Terimakasih secara khusus untuk semua rekomendator saya: Mr. Hideo Yoneda, Mr. Kurniawan KY, Mr. Wahyu Hidayat, Ms. Rahayu. Ada Dani yang sangat supportive, tapi sayang tidak sempat merayakan secara khusus. Tim Magelang: Heni Retnaningsih, Upik dan Ika Marini. Last but not least, semua yang rela berlebay-lebay mengantar saya ke bandara, melebihi orang naik haji: Indah, Dedi, Vicki, Indra, Mehdi, Ririn/Hesa, Ratih.
Terimakasih.

3. Jepang: Lihat Isi dari Kulitnya
(14 September 2011)
Kedatanganku kembali ke Jepang rasa-rasanya pas untuk mere-upload tulisanku di tahun 2009 lalu. Beberapa hal aku tambahkan untuk mengaktualisasikannya dengan berbagai perubahan yang terjadi selama 2.5 tahun setelahnya.
Additional comments (or revisions) are easily located by italic characters. Enjoy!
= = =
Jakarta, Januari 2009
Seminggu di Tokyo-Hiroshima sudah pasti tidak mencukupi untuk exercising “ethnography study” kegemaranku. Sangat tidak sahih kalau aku mencoba mempertemukan pembaca dengan ujung kesimpulan etnografis tertentu.
Hemmmhhh…
Aku sengaja menyimpan tulisanku sampai aku beranjak setahun di Mitsubishi. (YAP, 14 Januari 2009 yang lalu, aku tepat berumur setahun di Mitsubishi Jakarta).
Mengapa menunggu setahun untuk menulis? Karena aku merasa, setahun menjadikanku lebih paham atas cara berfikir manusia Jepang, dan kemudian berharap tulisanku tidak terlalu ngawur. Maklumlah, dengan hobi nge-judge orang lain seenak udel (ini kata salah satu temanku), aku harus berperisai logis pikir yang benar.
Tulisan ini dikompilasi dari buah-buah hati dan pikiran selama melakukan ”induction course” di Tokyo dan Hiroshima selama seminggu (24-30 Agustus 2008) lalu.
= = =
A. Public Infrastructure
Ditengah jadwal yang sudah diset ketat sedemikian rupa oleh panitia selama “short course” kemarin, aku harus bersyukur masih bisa menikmati semua moda transportasi Jepang yang sangat terkenal itu. Disana, aku berkesempatan menggunakan angkutan berikut ini:
– taxi
– kereta listrik (monorel)
– kereta cepat (shinkanzen)
– kereta subway
– kapal ferry
Memang bukan isapan jempol semata, jika ada yang mengatakan jadwal public transport sedemikian teratur dan tepat waktu. Memang benar. Aku mengalami sendiri kapal dan kereta benar-benar datang dan pergi tepat waktu.
Menurutku, salah satu hal yang membuat cara berjalan orang Jepang menjadi cepat adalah keinginan mereka untuk sampai ke stasiun (tujuan) tepat waktu sesuai dengan jadwal kereta yang sangat jarang meleset. Ya nggak sih?
Dari penelesuran selanjutnya diketahui bahwa kebiasaan orang berjalan cepat ini hanya dijumpai di Tokyo dan kota-kota besar. Ehmmm… ini masalah tekanan kerja rupanya.
Public Infrastructure – And how the people synergized with it, menurutku adalah cermin budaya suatu bangsa yang tak terbantahkan. Anda akan mudah menemukan pribadi personal Jepang yang “tajam”, ”lempeng” dan “tahu apa yang dia mau”. Ini sangat senada dengan public infrastruktur yang ”tanpa dekorasi” dan ”tepat waktu”.
Mengapa mereka begitu?
Ini pasti berhubungan dengan hal mendasar manusia, yakni: cara bertahan hidup. Manusia Jepang hidup di alam yang ”tidak terlalu menyenangkan”; 4 musim yang berat, topografi kepulauan dan patahan bumi yang rentan bencana alam, dan tanpa sumber daya alam memadai. Cara mereka berfikir-cara mereka bertindak-cara mereka berkembang biak, terpengaruhi oleh hal-hal tadi. Mereka menjadi teratur, mereka menjadi berperhitungan.
Tapi benarkah transportasi publik tidak pernah telat?
Ehm, Waktu aku naik shinkanzen dari Hiroshima ke Tokyo, ada banjir di beberapa daerah bagian perjalanan yang menyebabkan kereta terunda hampir satu jam.
Ohh..banjir juga Pak??? Ohh telat juga Bu??? Hehehehe.
Mengenai infrastruktur-kenyamanan public transport, Menurutku mereka (lagi-lagi) tidak berlebihan. Maksudku, kereta shinkanzen yang mahal saja (26.000 yen) keretanya ternyata nggak mewah2 banget. Yah… mirip kereta eksekutifnya kita kok. Malah lebih dingin kereta kita.
(Dengan kecepatan shinkanzen yang mencapai 260 km/jam, aku membayangkan Jakarta – Jogja akan tertempuh 2 jam saja… Ohhh… nikmatnya…).
Jangan berlebihan juga ah, di tv aku masih melihat berita kecelakaan di salah satu daerah pedesaan di Jepang karena jalan yang berlubang. Cuma yang ini, lubang di jalan, mungkin hanya satu di pelosok Jepang, kalo kita punya puluhan lubang di jalan sebesar Gatot Subroto. Hahahaha.
Ngomong-Ngomong soal jalanan, akan sangat jarang menemukan bak sampah di jalanan utama kota Tokyo. Tapi walaupun begitu, jalanan dan fasilitas umum tetap bersih. Setelah aku tanya, ya rata2 mereka mau menyimpan sampahnya sampai menemukan bak sampah di tempat lainnya.
Di Marunouchi, katakanlah Sudirman-Thamrin di Jakarta, kita masih bisa menemukan burung gagak hitam besar, nangkring dengan pedenya di jalanan. Kaok… Kaok… Kaok…
Air sungai di Tokyo berwarna hijau gelap, aku pikir, wah jorok juga nih orang Jepang. Hehe, ternyata salah. Air kali yang hijau ternyata karena banyak ganggang dan biota tawar yang bisa hidup di sana karena kebersihannya terjaga. Oh ya?
But, actually … Ternyata metropolitan berpola sama juga, ada slump area di belakang kemeriahan perkantoran dan pusat public. Beberapa bagian jalan ternyata berbau pesing juga, terutama sepanjang jalan dimana berderet rumah makan murah. Aku nggak ngerti apakah itu bau daging babi, atau bau orang kencing sembarangan. Nyatanya, deretan warung murah di belakang stasiun memang menyajikan figur yang berbeda dengan deretan gedung megah di sekitarnya: lampu suram, tempat sempit, rame, dan “lebih hidup”.
B. Tekanan Tokyo
Gak ada tuna wisma di Tokyo.
Oh really???
Aku menemukan 6 orang bergelimpangan di jam 9 malam Tokyo Station tanggal 24 Agustus 2008. Semuanya bapak-bapak sepuh dengan jenggot-jenggot putih beralaskan kertas2 koran.
Kata senior Jepangku, banyak dari mereka yang merupakan orang-orang stress (atau gila) yang tersingkirkan dari lingkungan mereka. Dalam banyak kasus, dikarenakan tekanan kerja yang tidak sanggup dihadapi, alias punya bos yang ”gila” juga.
Aku pernah tertawa ketika dalam acara makan malam kantor, ada gosip yang menyebutkan bahwa banyak staff yang mengalami ”gangguan mental” ketika dipimpin salah satu orang Jepang (tertentu). Aku tertawa karena aku nggak percaya, tapi kemudian aku terdiam seketika, karena ternyata cerita itu serius. Beberapa bahkan diistirahatkan di rumah untuk beberapa lama.
Hemmmh bisa dipahami, pekerjaan –dan bekerja dianggap sebagai aktualisasi tertinggi bagi orang Jepang- adalah cara bertahan hidup bukan? Dimana harga diri mereka disandarkan pada pencapaian-pencapaian terukur seperti itu.
Tekanan yang memang berat itu mewajarkan beberapa kasus pengunduran diri (alienasi)– sampai bunuh diri. Wah topik yang berat nih. Inget dong peristiwa teranyar ketika seorang pria membawa pisau dan mengamuk di Akihabara.
(Akihabara adalah pusat elektronik di Jepang, katakanlah semacam Glodok – Mangga Dua di Jakarta)
Sangat mungkin, tekanan yang berat menjadi bertambah dengan biaya hidup Jepang yang mahal.
Aduuuhhhhhh….. Ini memang benar. sebagai salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi sedunia, memang bikin pusing kepala dan pening isi dompet. Mau ngebeliin souvenir gantungan kunci aja pake mikir 25X. sebagai contoh, gantungan kunci rata2 berharga 420 s/d 600 yen. sekitar IDR 35.700 s/d 48.000. Hugh!!! Menyesakkkan jiwa, karena hampir IDR x.xxx.xxx habis untuk beli oleh-oleh saja, itupun masih diprotes banyak orang karena banyak orang nggak kebagian (sengaja nggak kubeliin, lebih tepatnya).
Untung aku makan dibayari kantor…
Makan murah berharga standar 760 yen.Di belakang statiun yang aku sebut slump area tadi, kita bisa dapet 630 yen.Kalo yang lebih bersih biasanya 960 yen (IDR 76’800). Ughhh… ini makanan sehari-hari, jack!!!???
Yang lebih menyesakkan, adalah nasib kita-kita anak kost ini.Berapa perbandingan kost mu dengan gajimu? 1/5? 1/6? 1/7? Di Tokyo, jika menginginkan kost di tengah kota, harga sewa perbulannya bisa mencapai 1/3 dari gaji!
Wow!!! Makanya, anak-anak daerah seusia kita lebih memilih menyewa apartement di sub urb dan kemudian rela berjalan jauh dan naik kereta.
Sebelum aku pergi ke kampus yang terletak di tengah desa di Niigata, aku sengaja tinggal dua malam di Tokyo, di apartemen salah seorang teman Mitsubishi. Ya, kami punya dua kali janji makan siang dan makan malam di Tokyo dengan teman-teman lainnya.
Ada tujuan terselubung selain numpang. Ya, apalagi kalau bukan untuk research etnography (halah jar, alesan. Numpang ya numpang aja kali).
Apartemen temanku terletak di dekat salah satu station di Tokyo. Artinya apa? Artinya harga sewa perbulannya cukup mahal. Ahhh..pastilah. Karena hanya ada dua kamar di apartemen tersebut, aku tidur di ruangan tv slash dapur slash tempat anjingnya tidur.
Ngeluh jar? Sama sekali tidak. From the very beginning, my friend already advised the situation and more of it, bahkan dia mengirim denah lengkap dengan ukurannya.
Jangan dibayangkan kondisi kamar yang kotor. Kamar nyaman dan wangi. Lagipula, lama kelamaan, aku menganggap dunia ini sempit dan aku bisa tidur di mana saja.
Jangan dibayangkan temanku adalah teman jauh yang masih segan-segan kepadaku. Dia dengan enteng menabok kakiku saat menyilangkan kaki di kereta, berteriak jangan lupa matikan lampu kamar mandi dan jangan keras-keras menutup pintu.
Dia benar-benar memberiku kursus singkat yang menakjubkan. Tokyo ini keras, bung! Jakarta is sooooooooo away spoiled. Pake AC dengan seksama, jangan mandi lama-lama. Ingat, Tokyo after fukushima’s tragedy means awayyy more calculative.
C. Kesinambungan Peradaban Jepang
Jepang (tidak) terletak pada peta peradaban kuno di dunia. Karya sastra, agama (Budha), musik dan politik berada di belakang bayang-bayang besar tetangganya, China. Tidak salah bahwa alat musik, arsitektur dan tulisan yang mereka kembangkan terpengaruhi oleh perkembangan Cina daratan.
Bagaimanapun, Jepang tidaklah identik dengan China. Apalagi soal lama kekuasaan kekaisaran. Kekaisaran Jepang adalah kekaisaran tertua yang (masih) mampu bertahan di dunia hingga saat ini. Ya, usia kekaisaran Jepang sudah mencapai 2669 tahun. Tanggal 11 Februari ini diperingati sebagai tanggal negara berdiri (national foundation day).
(Mereka tidak mengenal hari kemerdekaan, karena mereka tidak pernah dijajah bangsa lain kan?)
Ini jelas berbeda dengan China yang seringkali berganti dinasti, dan setiap kali berganti selalu diwarnai oleh perang hebat dan penghancuran atas dinasti sebelumnya.
Kesinambungan peradaban tersebut menggambarkan kurang lebih pentingnya nilai-nilai loyalitas dan senioritas dalam budaya Jepang. Nah ketika anda masuk dan bekerja sama secara langsung dengan orang Jepang, saya yakin anda akan merasakan bahwa mereka tidaklah terlalu berbeda dengan orang Jawa; penuh dengan sopan-santun, tata-krama dan senioritas.
Kembali ke sejarah, setelah sebelumnya hanya melakukan hubungan dagang dengan China, Korea dan Belanda saja, Restorasi Meiji meletakkan fondasi mendasar bagi perubahan Jepang. Kekaisaran mulai membuka diri (kontak ekonomi) dengan berbagai bangsa. Dan kaisar mengadaptasi cara hidup orang Barat. Di titik inilah perkembangan (terutama teknologi) yang mereka serap dan aplikasikan menjadi sangat cepat.
Ternyata perubahan tersebut membuat Jepang jumawa…
Aku belum mempelajari banyak atas hal ini, tapi invasinya ke Taiwan-China-Korea Rusia dan akhirnya Asia Tenggara (termasuk negara kita)-membuatnya masuk ke deretan imperialis di era perang Dunia- adalah bukti jelas keagresivannya.
Jepang sangat membutuhkan pangsa pasar baru dan sumber energi.
Ingat kan dulu Jepang masuk ke Indonesia dengan wording propaganda 3A, apalah itu yang pelindung-pemimpin-cahaya Asia. Seperti itulah cara Jepang modern juga berbisnis. Mereka mengandalkan pendekatan personal terlebih dahulu, sehingga acara-acara seperti perkenalan, golf, makan siang, makan malam, menjadi sangat penting.
Mari juga membahas Hiroshima dan Nagasaki, ini momentum signifikan bagi perkembangan sejarah mereka selain Restorasi Meiji. Mereka terpaksa menyerah -sesuatu hal yang dianggap sangat memalukan- dan Kaisar lah yang menyerukan secara langsung kekalahannya.
Di kesempatan yang sama, dengan secara penuh sadar, sang Kaisar mengatakan bahwa dia bukanlah Dewa yang absolut.
Peristiwa Hiroshima dan Nagasaki juga menjadi titik tolak Jepang untuk menjadi sepenuhnya negara industri dan tidak mengembangkan diri di bidang persenjataan (nuklir). Beneran nih nggak punya senjata canggih? Entahlah, yang pasti Jepang memang menjadi negara perdagangan setelahnya.
D. Peradaban Kontemporer
Nia Dinata pernah mengatakan bahwa apapun pop culture baru yang masuk ke Jepang, akan kemudian terabsorb, dan kemudian bercita rasa Jepang. Ini katanya karena Jepang mempunyai akar budaya alias fondasi yang sangat kuat.
Konsumsi budaya pop internasional (Hollywood) ke Jepang memang meraja: makanan, fashion, olahraga, film/tv-series dan musik. Bahkan Tokyo ada dalam satu level bersama Milan, New York, dan Paris sebagai pusat mode dunia.
Ngomong-ngomong soal ini nih, aku lumayan tertarik dengan gaya berpakaian anak muda (profesional) yang chick disana. PAS! Bukan harajuku ya! Karena harajuku, seperti di Indonesia pun, sebetulnya hanya menjadi sub culture, dan bukan main stream.
Intrusi tersebut sepertinya tidak serta merta meranggus budaya mereka sendiri. Mereka hebat karena bukan hanya impor komoditas pop culture, Jepang juga mampu mengekspor secara massive komoditas seni budaya kontemporernya: makanan, manga, anime, J Rock, dan film.
Tahu dong kalo sushi dan shabu-shabu begitu ngehipsnya sekarang…
Aku kagum dengan manga-animenya yang benar-benar mewabah. Katakanlah di Indonesia, anak-anak seumur kita (yang lahir tahun 80-an) -yang sangat familiar dengan kartun dan komik Jepang- yang suatu saat akan berperan penting di negeri ini, kemudian dikoneksikan bersama dengan manga-anime tadi. Menguntungkan sekali buat Jepang kan?
Aku fikir, kedepan, setelah semua kebutuhan primer terpenuhi dan infrastruktur ekonomi mantap, kita harus memikirkan seni-budaya-olahraga secara super serius untuk menjadi komoditas ekspor dan memperkuat jati diri dan eksistensi bangsa.
Di akhir tulisan aku ingin mengutip tulisan Kompas di rangkaian perayaan Hubungan 50 tahun bilateral Indonesia-Jepang. Kompas menulis: Apa sih yang sudah Indonesia dapatkan (serap) dari hubungan ini? Hayo Jawab! Apakah kita sudah bisa buat mobil 100% dalam negri? Apakah kita sudah bekerja sebagai aktualisasi? Apakah Soto Kudus bisa ditemukan di Milan dan New York? Apakah sinetron/film kita diputar di Jepang? Apakah batik digunakan sebagai material di Paris? Hayo!!!
Are we already at the best effort to get all Japan’s good values?
(Note: Terimakasih untuk Yoneda san dan Nishikawa san)
Mau tahu komentar (salah satu dari) mereka tentang orang Indonesia? Salah satu teman pernah bilang bagaimana dia berpersepsi orang Indonesia memang ramah dan cepat bergaul, tapi mentog di satu titik dimana mereka tidak bisa berhubungan lebih dekat. Like only skin deep, and very cautious inside.
Ah yang bener?
Aku protes karena mungkin aku kebalikannya, very cautious at the beginning, and turns ”nggendoli” afterward. Penerimaan mereka kemarin aku anggap sangat serius dan itu menenangkan. Paling tidak itu terbukti di makan malam pertama kami berkumpul selama 5 jam, dan makan siang hari selanjutnya (dengan orang yang berbeda), kami habiskan sekitar 6.5 jam. Semoga nggak kapok ya Bapak-Ibu???

4. The World is (Not) Enough
(18 September 2011)
Aku datang ke sekolah ini dengan dua koper besar yang lebai. Ya, di saat teman-teman lain kebanyakan mengepak barang seefisien mungkin dan hanya satu-dua kilogram overload, dengan banyak persediaan makanan-, aku datang dengan 20 kg overload. dan sedikit sekali makanan.
Nggowo opo tho le?
Selain properti lenongku, aku membawa dua benda yang mungkin tidak lazim untuk dibawa seseorang pindahan.Aku membawa dua peta. Bukan atlas berukuran kertas A4, tapi (benar-benar) peta.
Peta pertama adalah peta dunia berukuran 60X40 cm warisan dari Pak Maureen –my ex manager-, satu lagi peta lama Indonesia (saat masih terdiri dari 27 propinsi) berukuran 90X130 cm.
Sekarang, dua benda itu sudah menempati posisi barunya masing-masing. Peta dunia yang bercover plastik sudah menjadi alas di meja belajarku, dan peta Indonesia sudah menempel di dinding kamar di atas tempat tidurku.
Tentu saja ada pemaknaan!
Peta dunia akan selalu menyemangatiku untuk mengencani setiap jengkal tanah yang diperkecilnya, sedangkan peta Indonesia akan selalu mengingatkanku atas sesuatu bernama rumah dan jati diri. Dua hal yang penting untuk bisa bertahan dan terus memperbarui niatku bersekolah di tempat ini.
Disini, dunia seperti menyusut. Aku belum kenal semuanya, tapi dari daftar 40 mahasiswa, teman-teman sekelasku nanti berasal dari negara-negara berikut: Jepang, Myanmar, Mongolia, Malaysia, Thailand, China, India, USA, Vietnam, Kazakhstan, Uzbekistan dan Ekuador.
Hanya ada dua yang dari Indonesia; aku dan teman baru dari Bali.
Untuk menambah semarak statistik di atas, mari tambahkan nasionalitas mahasiswa dari program lain: Singapore, Philllipine, Pakistan, Bangladesh, Ghana, Sierra Leonne, UK and so on. Ini terlepas dari lebih dari 60 mahasiswa Indonesia tersebar di program lain. Ya. Negara kita adalah pengekspor mahasiswa terbanyak di universitas ini.
Makanya nggak heran ada becandaan soal akan bertambah fasihnya bahasa Jawa kita disini karena banyak banget mahasiswanya.
Nah peta dunia yang aku bawa tadi sangat membantu menyegarkan memori geografik ku. Aku kemudian mencari tahu Mongolia (yang seringkali ku-salah kaprah-kan dengan Tibet), Ekuador (dia Amerika Tengah apa Latin?), dan Sierra Leonne (Halah… opo maneh kuwi?).
Mari kita observasi. Subhanallah, bagaimana ya proses ribuan tahun bisa mengubah keturunan Adam (yang berarti satu DNA) menjadi bermacam-macam seperti ini. Profil tinggi besar khas Amerika, kulit sehitam Ghana, warna pucat Jepang, Uzbek yang lebih mirip Eropa daripada Asia?
Skip. Aku menunggu jawabannya dari Mbah Google saja.
Berikutnya.
Nyong! Tibet (Mt. Everest) itu jauh banget dari Mongolia tau!
Ulan Bator bukan kota kecil tanpa listrik O’on!
Maaf choy, aku membayangkan orang Mongol berkulit sangat pucat dan belum tahu gadget.Salahkan Tripadvisor yang memberiku gambar-gambar gurun pasir Mongolia.In fact, ada satu geng Mbak-dan Mas Mongol yang sepertinya sadar-fashion.
Gank? Quite Indeed. Sebagian besar (masih) bergerombol dalam ikatan nasionalitasnya.Termasuk aku dalam hal ini.
Dunia memang taman bermainyang sangat luas. Tapi percayalah, tidak seluas itu. Dan aku siap menuliskan episode-episode baru bersamanya.

5. Ayo Sekolah!
(09 Oktober 2011)
Suatu ketika di bulan Ramadan 2003 (?), kost BP di sekitaran Selokan Mataram.
Dalam satu tugas kelompok kuliah, aku harus menginap di kost teman (kami memanggilnya BP) untuk mengkompilasi tulisan semua anggota kelompok dan untuk kemudian diserahkan pagi harinya. Tidak tepat rasanya untuk disebut menginap, karena nyatanya kami bergadang sepanjang malam.
Ada romantika kecil di kisah tersebut di atas.Pagi hari, setelah menyelesaikan tugas, panggilan alam datang menyapa; ya, aku pengen pup.Aku menuju “sharing bathroom” di kompleks kost-kostan BP dan menemukan kamar mandi kosong tanpa air.
“Pe, nyalain air darimana?”Tanya ku ke BP karena aku tidak menemukan keran air.
“Nggak ono Jar. Harus nimba.”
“Heeehh???” kagetku, dan langsung hilanglah napsu pup ku waktu itu. Abad 21 dan masih harus nimba?
Aku memang baru pertama maen ke kost BP dan sama sekali nggak ngeh fitur toiletnya. Membayangkan dinginnya air sumur saat puasa, aku memilih balik kamar dan meneruskan tidur. Aku tidak tahu, apakah pekerjaanku mengkompilasi dan menyusun paper begitu dihargai, tapi yang jelas, beberapa saat kemudian;
“ Jar, tuh gue udah nimba air” kata BP.
Hahahaha. Aku ngakak waktu itu. Thank u BP…
Ngomong-ngomong dimana yah nih anak sekarang, kabar terakhir dari Guruh, BP sudah pulang kandang ke Bekasi.
= = =
Sudah 4 minggu kulewatkan di rumah baruku: IUJ. 3 Minggu awal orientasi, dan seminggu belakangan ini efektif perkuliahan.
Dinamika tugas kelompok sepertinya akan dirasakan kembali. Aku kembali ke bangku sekolah dan menemukan serangkaian case study yang harus diselesaikan secara kelompok. Ya, sudah pasti tidak ada nimba-nimba air lagi, tapi aku berharap atas semangat yang sama: kerjasama dan pertemanan yang baik.
Aku tidak bermasalah dengan lingkungan fisik kampus baru (kecuali suhu yang semakin menyiksa warga negara tropis ini), karena sebenarnya mengingatkanku sedikit banyak atas Boarding; Asrama. Sepi.Sedikit orang.
Yang membuatku kaget dan agak terseok-seok di awal adalah sistem.
Pertama; Taktis.
Ketika aku mendapatkan jadwal 3 minggu orientasi, aku bergumam: weleh-weleh, ini isinya apa saja? Orientasi 3 minggu? Lama bener yak? Dan pertanyaan itu terjawab sudah. Tiga minggu berisi materi-materi orientasi yang memang dibutuhkan mahasiswa baru. We were not talking a shit here.
Seminggu di awal berisi Intensive Japanese Program, yang didesign untuk kita sebelum mengambil test masuk ke Program Bahasa yang tepat. Di level apa kita seharusnya masuk? Basic? Elementary? Intermediate? Advance?
Seminggu kedua berisi serangkaian orientasi karir.Yap.Mereka sudah langsung bicara tentang effective Resume dan Interview skills. What? Baru masuk dan langsung disuruh hunting kerja?Ya begitulah.Tidak ada buang-buang waktu.Dan ingat, Business School dinilai (juga) dari sejauh mana lulusannya terserap pasar dan berapa mereka digaji.Pyuhhhh… aku sudah keringetan di titik ini.
Sekolah juga menyiapkan sepenggal hari di minggu kedua untuk keliling kota kecil kami, agar kami paham tempat-tempat penting: rumah sakit, restoran enak, kantor pos, temple, dll.
Saking uniknya sekolah kami; international university ada di desa kecil, maka petugas imigrasi dan polisi lah yang mendatangi kami untuk mengadakan sosialisasi (dengan penerjemah, tentunya).
Minggu ketiga, berisi orientasi hal-hal akademik.Bagian administrative menerangkan bagaimana memulai perkuliahan dan segala hal yang berhubungan dengannya.Setiap profesor memperkenalkan diri dan menjelaskan area konsentrasi mereka, persiapan untuk thesis kita di tahun kedua. See?
Tak mau ketinggalan, club non akademik juga presentasi di minggu ini.
Apalagi yang membuatmu kepontal-pontal Jar? Selain system yang taktis tadi, yang lainnya adalah; system yang online.
Kami mulai efektif kuliah di minggu keempat. Seingatku dulu di kampus, aku tidak terlalu repot mencari bahan perkuliahan. Ehmmm… gampangnya, nunggu disuapin dosen saja.Tapi sekarang nggak bisa. Kami punya account online dimana kami harus mengunduh materi perkuliahan, dan semacam dituntut untuk sudah siap mendiskusikannya di kelas.
Jadi jangan heran ketika ada teman bertanya ;
“Fajar san, have you read “What is Strategy” ?”
“What?’
“Material for today’s class”
“Hah?”
(Dan kemudian aku lari-lari fotokopi)
Yaaaa, aku belum terbiasa dengan sistem ini. Masih butuh banyak mencermati dan mengubah diri. Ayo sekolah!

6. Antara Astariani dan Harper
(21 Oktober 2011)
Hari ini akad nikah salah satu teman boarding kami; Fitria Masita Astariani.
Tidak enak rasanya melewatkan momen tersebut, terlebih kawinan menjadi media ngumpul paling sahih untuk kami yang sudah terberai di banyak tempat yang berbeda ini. Kami semakin susah berkumpul.
Hemh, berteman dengan beberapa anak lebih muda di kampus baru sedikit banyak mengingatkanku akan (teman-teman) Boarding. Terkadang aku menghardik: ‘Ah, SMA banget sih’ untuk mereferensi becandaan yang berlebihan. nggak jelas. alay.
Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang pernah diupload di laman blog wordpress. Sebuah usaha mengingat Boarding sekali lagi.
= = =
Apakah kalian punya tarian khusus untuk mocking becandaan lawan bicara yang nggak lucu? Kami punya. Bayu dan Indra akan menggeal-geolkan pantatnya seirama, membelakangiku, setiap kali joke yang keluar dari mulutku dianggap basi.
“Garing-Garing-Garing” lagu mereka.
Agak “nggilani” ya membayangkannya?
But in a way,
Bermain dengan teman boarding bermanfaat untuk menjagaku agar tetap ”sehat” dan terjaga hubungan dengan dunia luar. Karena pada dasarnya aku sudah merasa nyaman dengan hanya aku dan dunia kecilku.
Kadang-kadang melenakan memang.
Nah, mereka yang lebih adaptive to trends, gadget, and (pop) current-issues merepresentasikan dunia (baca: Jakarta) dengan baik. They’re my gate to the updated world.
= = =
Salah satu tipikal khas anak boarding adalah: their criticizing level…
Sepertinya punya perbendaharaan komentar untuk setiap hal.Semacam pabrik pendapat.
Gooooooood, di titik tertentu anda memang akan mendapatkan judgement yang orisinal, tapi di titik berikutnya anda mungkin akan mendapat tekanan darah tinggi karena sebegitu royalnya judgement diterima meski tanpa diminta.
Pada level terendah, criticizing muncul dalam bentuk guyonan, sindiran atau ejekan. Pada level lebih tinggi, kritik akan diberikan lewat pemberian statement serius.
Momen terakhir, di Kemang.
Cewek-cewek memberondong pertanyaan ke salah satu teman kami.
Walaupun waktu itu yang dicerca bukan aku, tetap saja bikin aku keringetan.
Nah, untuk menjaga kesehatan mental, kita perlu mempunyai filter rigid di mata, telinga, hati dan otak untuk memproses setiap komentar yang diterima. Mana yang berupa sindiran orisinal -yang mungkin memang benar alias fakta tidak menyenangkan yang dibungkus lebih lembut- dan mana yang becanda ngawur -alias nggak perlu ditanggepin-.
= = =
Balik ke pembahasan cara becanda tadi, seperekamanku, ada beberapa julukan -nick name atau apalah namanya- yang diciptakan untukku oleh anak-anak Boarding; mulai dari Israel/Yahudi, Ronaldo, Donal dan yang terakhir Jablai, dengan background cerita yang berbeda-beda.

– Israel/Yahudi
Indra mulai mempopulerkan panggilan ini di Jaman Jogja. Aku disamakan dengan Israel yang semena-mena ke Palestina. Katanya, aku Israel dan mereka Palestina.
Israel dipersalahkan karena mereka membalas serangan batu-batu kecil Palestina dengan bom-bom besar ke fasilitas publik Palestina.
Begitupun analogi anak-anak, yang mengatakan bahwa tindakan-tindakan (pilihan-pilihan) mereka yang tidak sepaham denganku (yang dianggap mereka hanya sebagai minor actions) dibalas dengan aksi bom besar (alienasi).
-Ronaldo
Ingat waktu Ronaldo meninggalkan Inter Milan untuk Real Madrid? Waktu itu, Ronaldo dianggap tidak tahu diri karena setelah sembuh dari cedera (dan tetap dibayar Inter Milan), dia malah pindah ke Madrid. Mehdi mengambil terminologi “Ronaldo” ini ketika aku mulai ”meninggalkan” anak boarding dan ”membangun” persekutuan baru dengan anak-anak kampus. Semacam habis manis sepah dibuang. Jiahhh…
-Donal
It stand for Komodo Binal. Komodo merefleksikan nafsu makan yang berlebihan. Aku tidak bisa protes, karena di Jogja untuk pertamakalinya lah berat badanku menembus angka 70 kg (SMA hanya 59-60 kg). Binal merefleksikan…. yah… no comment lah.
-Jablai
Ini panggilan termutakhir dari Indra. Kampret memang. Panggilan ini merefleksikan pilihanku (kubahasakan dengan bahasa sendiri) berperhitungan; its all connected to gain/loss. Kritik datang Sampai ke hal detail seperti: harus janjian jauh-jauh hari dulu sebelum ketemuan.
====
Dalam hubungannya dengan julukan-julukan diatas, aku yang pernah mengikuti serial ”Brothers and Sisters” dengan niat mengisi quiz ”Which Walker are you? A personality quiz” yang terdapat di situs resminya.
Dan hasilnya (sebetulnya tidak mengejutkan) >>> I am Holy Harper.
Serial ini bercerita tentang keluarga Walker yang (terlihat) harmonis tapi penuh carut-marut. Salah satu carut terbesar keluarga itu adalah Holy Harper: simpanan sang kepala keluarga. And I turn out to have same character.
What the @!#!$!@$!@$!
“You are Holly. You usually appear cool headed and reserved, in control of the world around you. You find opportunities in what others may perceive as a very hostile environment and manage to succeed against the odds. You’re willing to observe, wait and collect your accolade long after you’ve earned them, even if it takes 20 to 30 years. But, you have past, and its way more interesting than anything you’ve done lately. Don’t be afraid to let your freak flag fly. You’ve so much lovable when you do.”
Penasaran dengan hasilnya, maka aku melakukan tesnya sekali lagi. Dan hasilnya ternyata tetep sama.
What the %*%*%$!
= = =
Sekali lagi selamat menulis lembaran baru, temanku.
Semua harapan terbaik dikirimkan untukmu.
Salam untuk semua teman yang hadir di resepsi besok.
PS: Tulisan ini kontekstual, Boarding exclusively merujuk pada nama-nama yang bertransaksi di cerita ini, not to mention Boarding generally.

7. Menjadi Indonesia
(19 November 2011)
Kakakku pernah berkata; Indonesia adalah konsep buatan bapak-bapak pendiri bangsa; Syahrir, Salim, Soekarno, Hatta.Siapa yang tahu sumpah Palapa adalah propaganda mereka? Apa identititas bersama kita sebagai bangsa?
Aku tidak pernah tahu. Tidak bisa menjawabnya.
Siapa yang bisa menggaransi kebenaran di teks-teks PSPB kita dulu? Siapa kita sebagai bangsa? Mau kemana kita sebagai Negara?
= = =
Pelajaran pertama menjadi Indonesia ada di ruang kelas. Karena Magelang tidak menyediakan banyak ragam manusia didalamnya.
Pelajaranku menjadi Indonesia sebenar-benarnya ada di SMA. Ketika teman sekamarku adalah campuran Makasar-Betawi, dan yang seatap denganku datang dan berbasis etnis beragam; Aceh, Medan, Padang, Riau, Palembang, Lampung, Bengkulu, Sunda, Bali, Banjarmasin, Ambon, Tionghoa, Manado dan Kendari.
Disinilah aku pertama tahu apa makna bahasa nusantara. Disinilah aku tahu Indonesia bukanlah Jawa.
Aku lahir sebagai Indonesia. Aku tidak bisa memilihnya.
Dan persoalan atas setiap hal “taken for granted” adalah; bagaimana kamu bisa mencintainya seikhlasnya. Dan untuk kasus Negara ini, kadang bisa sangat problematik.
Carut-marutnya. ketidak-jelasannya. Membuat beberapa orang tak mudah menyayanginya.
= = =
Aku percaya, pembangunan identitas sebagai sebuah bangsa adalah penting.
Suatu ketika, saat teman Mongol menghadiahiku souvenir lukisan Genghis Khan, aku bercerita dengan bangga tentang berhasilnya Raden Wijaya memperalat Pasukan Mongol yang mencoba menginvasi Singasari, kemudian balik memukul mundur mereka, dan mendirikan kerajaan baru Majapahit.
Ini penting. Bagaimana kita mereferensikan diri ke Sriwijaya, Singosari dan Majapahit sebagai sebuah bangsa. Ini sepertinya yang dipikir bapak-bapak pendiri bangsa tersebut.
Pun kita tidak bisa tutup mata tentang apa yang sebenarnya menjadi batas-batas kita sebagai Negara. Tidak lain adalah garis kesepakatan kolonial atas Asia Tenggara. Sama seperti Spanyol untuk Philipina. Sama seperti Inggris untuk Malaysia. Sama seperti Perancis untuk Kamboja.
Artinya sungguh nyata. Bahwa mungkin ada sebagian saudara kita yang merasa bukan bagian Indonesia.
= = =
Ingatlah, bahwa carut marut negeri ini, bukan salah ibu pertiwi.
Ini adalah salah manusia tak berhati yang memanfaatkan kesempatan yang dimilikinya.
Karena percayalah, Ibu pertiwi tidak pernah menuntut berlebihan.
Mungkin ungkapan sopir kantorku dulu pas untuk mengilustrasikan gambaran tersebut.
Pak Hamzah adalah manusia Jakarta. Putra Betawi yang lahir dan bersinergi dengan ibukota sampai 55 tahun usianya.
“Mas, sebenarnya nggak ada tuntutan apapun dari orang Betawi ke pendatang. Gampang kok. Jaga aja Jakarta, jangan buang sampah sembarangan, jangan bikin rusuh. Bukannya nggak berlebihan? Mereka kan cari rejeki di Jakarta?”
Sepertinya ibu pertiwi berteriak yang sama. Jagalah aku.
= = =
Menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, tentang apa kebersamaan kita sebagai bangsa, saya menghadirkan tulisan singkat Agus Salim di tahun 1930.
Puisi pendek, pun sangat bermakna dalam.
Tanah Air Kita
Apa keikatan kita?
Menyebuahkan usaha.
Menjadi asas utama.
Pada tujuan mulia.
Tujuan kita yang sama.
Meninggikan derajat Indonesia.
(Haji Agus Salim: tentang jihad, perang dan pluralisme – Gramedia)

#Ditulis setelah menyelesaikan pentas seni “Around The World” di kampus. Dimana pelajaran menjadi Indonesia semakin nyata. Berdua di kelas di tengah 13 nasionalitas yang berbeda. Aku masih, masih belajar menjadi Indonesia#

8. Karachi, Autchwich dan Rawagede
(10 Desember 2011)
“Aku mendengar suara tembakan dari dalam rumah,
Aku berubah setelah itu. Fatima sebelum kematian ayahku,
Dan Fatima setelahnya” (Karachi, 1996)
Aku bertemu dengannya di Youtube, saat salah satu teman mengunggah link-nya di group facebook kampus.
Namanya Fatima Bhutto. 29 tahun. Penulis dan aktivis sosial dari Pakistan.
Ya. Dia bermarga Bhutto. Cucu Zulfikar Ali Bhutto. Anak Murtaza Bhutto. Keponakan Benazir Bhutto.
Tidak perlu waktu lama untuk membuatku terpana.
Cukup 10 detik pertama saat aku menangkap matanya yang lebar. Pun sendu. Aku sudah jatuh cinta.
Kompleksitasnya menjawab pertanyaanku. Aku selalu mudah jatuh pada siapa-siapa yang tak biasa.
Lalu kamu menebak tulisan ini akan mengajakmu merayakan cinta?
= = =
Bagaimana kamu menakar harga nyawa manusia?
Apakah ada nyawa manusia yang lebih penting atas manusia lainnya?
Kematian ayah Fatima Bhutto, kematian 400 penduduk Rawagede oleh pasukan Belanda, kematian 150,000 orang di Invasi Irak sejak 2003? Atau 220,000 korban Hiroshima dan Nagasaki?
Bagaimana kamu membedakannya?
Mengapa statistik kadang terasa beda?
Mengapa kematian satu tentara Amerika Serikat lebih terasa menyedihkan daripada kematian satu anak kecil yang terkena bom di Afganistan? Mengapa kematian 5.7 juta Yahudi selama perang dunia kedua lebih meriah daripada kematian 20 juta orang China di perang China-Jepang?
Sepertinya ada yang salah.
= = =
Ketika kita tidak mampu menguasai narasi dunia, masih ada satu hal yang masih bisa kita lakukan. Mengontrol perspektif diri. Menjaga integritas pemikiran kita.
Karena ingatlah, ada satu benang merah antara Karachi-Rawagede-Auschwitz-Hiroshima-Nagasaki-Baghdad.
Sesuatu bernama kekuasaan. Dan kekuasaan akan mencari segala cara. Termasuk menyediakan narasi yang melenakan.

Ketidak-adilan terjadi di mana saja. Ketidakmanusiaan bisa beratas nama apapun; Agama, Negara, atau atas nama kemanusiaan itu sendiri.
Beberapa orang berani, memilih maju menghadapinya.
Dan saya menghormati mereka.
= = =
Fatima. Sampai jumpa di Islamabad.

9. Life is a Broadway Show
(15 Desember 2011)
Perbincangan “panas” dengan Kartika Winta tentang ide bahwa seseorang harus mengejar passionnya muncul setelah dia meng-upload link artikel terkait ke laman facebooknya. Aku menyautnya dengan sinis:
“Winta, di usia yang sudah kepalang tanggung ini, aku menaruh passion ku sebagai selingkuhan saja. Kita sudah nggak punya banyak pilihan.”
“Apa maksudnya?”
“Ehmmm… aku memilih menikah dengan pekerjaanku, dan sesekali berselingkuh dengan passionku untuk cari klimaks. Aku memilih jadi robot kapitalis”
“Nggak Seru!” katanya.
Di pertemuan off-air, kami melanjutkan perbincangan dengan kritikku mengomentari pilihannya sebagai PNS dan meninggalkan “dunia kreatif”, passion yang sepertinya dicintai Winta.
Kamu pun pada akhirnya memilih kan, Winta? Dan bukan memilih passionmu?
Aku berharap Winta paham apa yang aku ucapkan seringkali hanya … hanya bermaksud menyindir diri sendiri. Mengasihini diri sendiri. Karena aku tak sepenuhnya berani. Aku tak sepenuhnya percaya.
= = =
Ikut pementasan tujuh-belasan sejak TK, sepertinya wake up call ku terlambat berdering.
Masih ingat aku meminta waktu ke Pak Bahar, Guru Bahasa Indonesiaku di SMA -untuk maju ke depan kelas membaca puisi atas inisiatif sendiri. I just can’t handle this enthusiasm.
Ada energi tak terkira yang bicara saat kita melakukan sesuatu yang kita suka. Sama seperti beberapa teman yang tidak ada lelahnya main bola, maka sepertinya aku tidak kehabisan tenaga untuk menulis drama.
Ya, kami memproduksi tiga drama di SMA. Menulis, latihan, dan tertawa sampai malam.
Menjadi MC di pernikahan Winta kemarin sekali lagi membuktikan keampuhan energi tak terkira ini.
Aku tetap ngotot ke Winta untuk menggawangi acara resepsinya, terlepas dari sakitku.
Yap. Aku baru saja keluar rumah sakit hari Jumat setelah dirawat empat hari dan tetap tampil Minggu malam. As usual, I did all out. No excuse.
Oke. Walaupun aku tidak cukup tangguh untuk memilihnya, namun paling tidak aku tahu. Aku tahu passionku. Aku tahu apa yang sebetulnya aku mau.
= = =
Indah Agustina memperkenalkan GLEE kepadaku selayak dia memperkenalkan Gaga dan Bieber. She’s just into such thing. Thank you, Indie.
Glee menghentakku simply dengan ide dasarnya. Sekumpulan anak muda obsessive yang sadar passion—dan berani merayakannya-againts all odds.
Mereka sedikit banyak mengkultivasi mimpi lamaku.
No no no. Not all their covered-numbers are amazed me. Lagu-lagu lama, atau lagu-lagu yang tidak popular di Indonesia seringkali nggak menarik. Sounds lame.
Episode yang paling nyantol? Tentu episode perdana, saat serial ini mampu menarikku ke dalam ceritanya. But after that, I would say “New York” is the one I celebrate most.
Episode ini bercerita tentang pasukan Glee yang maju ke final national di New York.
Bukan saja klimak cerita yang dihadirkan –tentang perjuangan mereka memenangkan kompetisi, tapi cerita tambahan tentang impian Broadway para personilnya.
Ya. ini Broadway. Ya. ini Manhattan.
= = =
Tersebutlah satu mata kuliah “Organizational Behaviour” di semester pertama kuliahku.
Ada satu tugas grup presentasi di akhir kuliahnya.
Grup kami sepakat ingin tampil pertama. Bukan. Bukan kami napsu.
Kami hanya melihat bahwa akan ada 8 group yang akan tampil, dan tampil di bagian akhir pasti akan menjemukan, mengingat kelas sudah lelah melihat banyak presentasi sebelumnya.
Saat meeting, Oui, teman baru dari Thailand mengusulkan ada role play di presentasi kami nanti. As soon as group agreed, I took the opportunity to handle the script.
Dan, ya… aku menunggangi kesempatan ini. Organizational Conflict yang akan kami presentasikan bersetting di New York.
Langsung aku yakin “I Love New York”, lagu Madonna yang di cover pasukan Glee di episode “New York” will be the perfect score to accompany.See, I told you so. My lenong properties will be totally utilized. Sudah terbayang aku akan mengeluarkan celana putihku, topi fedoraku.
Hari presentasi tiba. Kami hanya latihan satu kali. Waktu yang mepet dan muatan kuliah lain yang padat, tidak memberi kesempatan banyak.
Auditorium kecil kami -presentation venue- ternyata disiapkan professor sedemikian rupa, jauh dari bayangan kami sebelumnya. Ruang tengah dibiarkan kosong dan meja disusun berkeliling melingkarinya. What? Perutku mulai mual karena gugup.
Kami pikir, kursi akan disusun seperti biasa seperti misa di gereja, jadi entrance ku – berjalan masuk ruangan dengan koper seakan baru mendarat di JFK New York akan tidak terlalu terlihat. Dan ketika penonton sadar, aku sudah menjalankan tugasku “menyanyi tanpa diketahui”.
But the show must go on.
Aku tampil setelah Yasu-san membuka presentasi kami dengan 4 menit company background. Kelas masih belum sadar. 30 detik sebelum aku pasang aksi, Moe –teman baru Myanmar membantuku merapikan topi Justin Timberlake wannabe ku. Its perfect.
Oui menekan tombol PLAY mp3 yang sudah disiapkan.
“I don’t like cities, but I like New York….” Aku masuk dengan koperku ke tengah ruangan.
“Other cities make me feel like a dork”… Aku berjalan ke sebelah kiri dan menatap Mana-san.
Apa yang terjadi? Kelas terasa senyap karena semua orang sepertinya terkaget-kaget. Ya, rumor sudah menyebar bahwa banyak group akan menghadirkan role-play, tapi doing musical –singing and dancing in front of class- sepertinya tidak pernah diduga.
Aku meneruskan tugas. Berjalan ke arah kiri penonton dan menatap Jon.
“Los Angeles is for, people who sleep”.
Yeah… Sahut Jon.
Dan, saat sadar semua mata menatapku dengan pandangan nanar karena kaget, disanalah aku mulai panic.
Hahahaha. Antara lucu melihat mereka kaget dan parno sendiri. Maklum, artis karbitan.
“Paris and London, baby you can keep!!!” Lirik terakhir kunyanyikan dengan tidak jelas.
= = =
It was somehow fulfilling.
Ketika Financial Accounting, Computer Based Decision Modeling, dan kuliah lain serasa menjadi pernikahanku, maka presentasi kemarin adalah selingkuhan yang mengklimakskanku.
Ya. aku klimaks dengan sempurna.
“Fajar san, you were rock star. I thought the whole presentation would be boring. Having 8 presentations in a day? But It was not. You were rock star” – kata Ved (India).
“You were gooooooooood” – kata Heng (Vietnam).
“I like it!!!” kata Mana-san.
“Wheres the idea coming from? You were willing to sacrifice for your group.” Kata Weng (Malaysia).
“We missed it. We should tape it” Kata Lovely (India) yang datang terlambat.
= = =
So, who knows? Who knows about pursuing Broadway career with MBA degree? Screw you Wallstreet!!!

10. Ada Apa Dengan Sinta?
(20 Mei 2012)
“Karena sesungguhnya cinta berada dalam pemahamannya sendiri
Maka aku melangkah dengan pemahamanku atasnya
Yang belum tentu benar
Belum tentu salah
Ini yang kusebut ruang tanya antar waktu…”
= = =
Mari sini kutemani. Kutemani mempertanyakan apa itu cinta.
Mengapa Rama meragukan kesetiaan (baca; cinta) Sinta?
Perintah Rama membakar Sinta untuk menguji kesuciannya terlalu horor untukku.
Apa aku bilang?
Cinta berada dalam pemahamannya sendiri.
Pemahamanku beda dengan pemahaman Sri Rama.
= = =
Ada dua acara besar kampus setiap tahun; “IUJ Around The World” di setiap Oktober, dan “IUJ Open Day” di setiap miladnya di bulan Mei.
Acara besar disini kuartikan dengan dibukanya kampus untuk masyarakat sekitar dan diorganisirnya pertunjukan tertentu.
Setelah Oktober lalu ikut berparade pakaian adat, Mei ini aku dapet real deal.
Dapet? Not necessarily dapet. Setelah pentas Oktober kemarin, perkumpulan mahasiswa Indonesia sudah mensiapkan pentas apa kira-kira yang akan ditampilkan untuk bulan Mei ini.
Dan ketika mereka memilih Kecak, aku dengan sigap bilang ke koordinator waktu itu untuk diplot jadi Anoman.
PD banget minta ke koordinator?
Hahahaha. Karena koordinatornya si Gede, teman baik saya.
Jadi gampang buatku sok-sok-an inisiatif.
Dengan syarat ya Gede! Aku hanya mau tampil dengan properti yang bener. Alias lengkap. Alias asli!
Nggak mau asal-asalan.
= = =
Mengapa Anoman?
Anoman lebih asyik daripada Rama dan Rahwana.
Gerakannya variatif. Plot cerita akan membawanya lari kesana-kemari, termasuk adegan paling dramatik: Anoman Obong.
Jadi ini jelas bukan masalah kontur muka dan jumlah bulu badan yang sama antara saya dan Anoman. Bukan.
= = =
Oktober, November, Desember … Siapa yang mampu mengehentikan laju perpindahan musim disini?
Tumpukan salju yang kemarin menggunung seperti lenyap seketika di tengah April.
Tak terasa kami harus segera memulai latihan tari.Untung level of excitement-ku saingan sama para pelatih.
Jadi para penari inti tidak kesusahan menyatukan ritmenya.
Tidak menemui kesulitan? Nggak juga.
Ada beberapa kali perubahan formasi; baik pemain, gerakan tari, ataupun blocking.
But you know the adrenalin rush I’m talking about lah?
Juggling here and there with excitement.Aku benar-benar menikmati setiap proses latihan, walaupun di seminggu terakhir, kami latihan di sela-sela jadwal dua presentasi dan tugas kelompok di sekolah.
Tidak itu saja.
Harapan saya menjadi Anoman sirna karena keterbatasan kostum.
Saya diminta ganti peran menjadi Rahwana.
Waduh, feel saya bukan Rahwana. Maksudku, aku dengan mudah me-relate diri saya dengan Anoman dengan ke-pecicilan saya. But Rahwana? He’s a King. He’s Big. A Demon in a way. Nggak gue banget.
= = =
Tapi saya tetap excited saudara-saudara! Maklum ya penonton.
Di Jakarta saya bisa bermanuver dengan karaoke dan (sesekali) ngeMC lamaran dan kawinan. Di sini karaoke mahal, bro! Kawinan? Loe pikir gue ngarti bahasa Jepang?
Jadi kesempatan-kesempatan seperti ini yang sebetulnya menghidupi kebutuhan tertinggiku sebagai manusia; aktualisasi.
= = =
Tingkat keniatan saya untung didukung oleh personel lainnya. Nggak lucu juga kalo aku niat dhewe tho? Ada 40 penari pendamping yang setia menge-cak dan mem-pongji kami. Banyak terimakasih untuk teman-teman, terutama para aktivis yang mengatur dan mengkoordinasi jadwal latihan.
Menariknya, kami dibantu teman-teman dari negara serumpun; Myanmar, Thailand, Korea, dan Laos.
Aku sudah seringkali membuktikan ini. Bahwa niat penuh selalu diberi lancar. Bahwa determinasi sudah menyelesaikan 50% masalah.
= = =
Di malam gladi resik, sama seperti sebelum ngeMC, aku selalu evaluasi medan. Jadi ketika mengetahui ada “aisle” lurus antara panggung dengan deretan penonton, aku meminta ke pelatih untuk muncul dari belakang penonton dan mengejutkan mereka dengan teriakanku.
= = =
Hari H.
Aku bangun terlalu pagi hari ini. Mungkin gugup sampai tidur tak nyenyak semalam.Tapi memang selalu begini.
Tante Madonna pernah mengatakan bahwa dia masih saja gugup di setiap pentasnya. Dia mewanti-wanti setiap performer untuk introspeksi bila tidak merasakan cemas sebelum pentas.
Bagi Madonna, gugupnya adalah penanda level excitement dan passionnya.
Saya setuju tante!
= = =
Banyak orang yang menaruh kepercayaan dirinya pada pakaiannya bukan? Itulah mengapa Gucci sampai dengan Prada eksis. Mereka sebetulnya jualan percaya diri.Pun saya hari ini. Percaya diri ngedrop karena kostum hanya seadanya. Pinter-pinternya kita sendiri pilih-pilih barang di gudang.
But the show must go on. Untung aku bawa beberapa material lenong dari Jakarta. Kepake juga beberapa.
Paling tidak, tangisan anak kecil di belakang ku sebelum muncul di pentas menaikkan level percaya diri. Berarti beneran serem nih. Soalnya memang kostum saya lebih dekat ke nggilani daripada serem.
More of it, tepukan penonton saat saya muncul juga menjadi booster terbaik. Jadilah saya menggila siang tadi di pentas dengan lancar.
Indonesia, sekali lagi kubuktikan baktiku!(#boong! Ini lebih buat kebutuhan saya pribadi kale!)
= = =
Menurut penelitian, disebutkan ada ratusan versi Ramayana yang diakulturasi per-suku konsumennya. Ada kisah Ramayana tanpa Anoman dan bahkan ada komunitas yang memuja Rahwana.
Benarkah?
Ramayana versi Srilangka (Jain versión) menaruh Rahwana sebagai Brahma, Raja yang berbudi dan berpengetahuan tinggi.
Nah Lho?
Sama seperti sejarah bukan? Bisa diotak-atik sesuai kepentingan siapa.
Aku menutup tulisan ini dengan pertanyaan kepada Sinta; mengapa engkau tak memilih Rahwana yang jelas-jelas menginginkanmu? Mengapa menyetujui keraguan Rama dengan kepasrahanmu membakar diri?
Sinta, aku pikir engkau lebih baik denganku.

11. Aku, Guru dan SMPku
(01 Oktober 2012)
Kamis, 13 September 2012
Apel pagi harian – 07.00 pagi,
Saya maju ke depan barisan saat Pak Kamto menanyakan apakah ada yang ingin menyampaikan sesuatu. Saya mengacungkan jari.
Berada di depan guru-guru SMP sendiri bukanlah hal mudah. Di usia setua ini, saya masih merasa sebagai anak-didik mereka;
kecil, dan sesekali bandel. Ada perasaan takut, gelisah, dan kehilangan percaya-diri.
“Bapak dan Ibu guru sekalian,
ini hari saya terakhir mengajar. Sekali lagi terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya,
untuk pulang kembali ke rumah. SMP 8 bagi saya adalah rumah saya.”
Dan Ya! Kemudian buyarlah itu semua hal yang sudah kusiapkan. Suara kacau, tersenggak seperti ingin menangis lepas.
“Bapak-Ibu Guru yang saya sayangi,
Saya ingin sekali menyampaikan pelajaran yang baru saya pahami setelah 14 tahun.
InsyaAllah saya bisa bilang, saya dulu bukan anak nakal, cuma terkadang suka ngobrol sendiri saja di kelas.*
Dan sekarang saya baru paham bagaimana rasanya seorang guru jika ditinggal ngomong sendiri sama anaknya.”
= = =
Sudah sejak Maret lalu saya menghubungi Bu Dwi untuk menanyakan kemungkinan apakah saya bisa mengajar di sekolah,
untuk mengisi libur musim panas.
Singkat kata dan cerita, permohonan saya disambut baik karena kebetulan: Ibu Uswatun, guru kelas 8 (Ya! Ingat, sekarang penyebutan
tingkat adalah kelas 7-8-9) akan melahirkan. Malah rencana untuk mengajar dua bulan ditawar : mengapa nggak sekalian tiga bulan. hahaha.
Beberapa teman menanyakan tentang bagaimana permintaanku ini mudah diterima.
Harus saya jelaskan, saya masih menjaga hubungan baik dengan SMP 8, karena selepas lulus,
saya menjadi penghubung SMA Al Azhar dan SMP 8 untuk penerimaan beasiswa di Jakarta.
Jadi saya masih menyimpan rapi nomor Ibu Dwi di hp saya.
= = =
Dengan priviledge mendapat meja guru seperti guru lainnya (saya menduduki bangku Ibu Uswatun),
saya mendapat kesempatan untuk mengalami pengalaman penuh sebagai guru.
Saya mengajar full dari Senin s.d Sabtu, 18 jam pelajaran.
Saya mengikuti apel pagi dan baru pulang setelah selesai mengkoreksi PR anak-anak siang harinya.
Sebentar,
Ini bukan pengalaman pertama saya mengajar.
Dulu di tahun 2003, saya mengajar kelas V, SDN Pelemgede-Paliyan.
Itu juga dulu berlatar belakang cerita yang sama, sang wali kelas saat itu sedang cuti melahirkan.
Sepertinya saya berjodoh dengan ibu-ibu hamil.
Tapi ya tetap berbeda, mengajar kelas V SD dengan VIII SMP.
Seingatku dulu, anak-anak kelas V SD waktu itu mudah diatur, masih nurut dan menyimak pelajaran dengan baik.
But not this time….
Dari pengamatan beberapa lama, saya melihat ada perbedaan antara kelas VII-VIII-dan IX.
Anak-anak kelas VII masih kecil-kecil, masih takut dan berusaha adaptasi dengan lingkungan barunya.
Kelas IX, mereka tampak lebih tenang di kelas, lebih matang, dan sepertinya ketakutan dengan hantu bernama Ujian Nasional.
Nah ini dia, kelas VIII, mereka “nggaya”, karena sudah mengenal lingkungan sekeliling dan merasa masih jauh dari UN.
Disinilah cerita bermula, keberuntunganku mendapatkan kelas VIII.
= = =
Saya mengajar dua mata pelajaran:
Conversation (1 credit) untuk kelas A s.d E, dan Bahasa Inggris (2 credits) untuk kelas F dan G.
Tidak banyak metode mengajar baru yang saya bawa sebetulnya.
Hanya menambahi dengan apa yang selama ini saya pikir dibutuhkan oleh mereka sebagai manusia.
Dan apa yang dibutuhkan manusia untuk hidup? Hal mendasar adalah mengenal diri dan lingkungannya.
Nah tuh… Kan? seharusnya aku mengajar filsafat, dan bukan English.
Sebagai guru dengan tugas beneran, saya paham saya harus mengikuti kurikulum yang sudah ditetapkan.
Saya hanya bermanuver menyelipkan beberapa hal.
Berikut adalah tugas dan materi yang kemudian saya kaitkan dengan mata pelajaran yang saya ampu;
1) Introduction
Saya minta setiap anak untuk menyebutkan cita-citanya,
dan dimana Bahasa Inggris bisa sangat berpengaruh untuk membantu mereka mencapainya.
2) History of My Name
Saya minta anak untuk bertanya kepada orang tua mereka, apa arti nama, latar belakang,
dan harapan orangtua atas diri mereka.
Saya berharap, mereka selalu teringat kewajibannya sebagai anak, sebagai manusia.
3) Enrichment
Saya memberikan materi tambahan seperti perbandingan Indonesia, Jepang, Amerika Serikat dan UK.
Saya memberikan kosakata Islam dan Nasrani dalam bahasa Inggris, dsb.
= = =
Menyimak perdebatan muatan kurikulum kita yang dikata terlalu padat (banyak),
saya belum berani mengomentarinya,
Saya merasa masih belum dibekali waktu dan pengetahuan yang cukup untuk ikut berbincang mengenai ini.
Saya hanya mengenalkan mereka bagaimana bersahabat dengan tabel, karena berdasar pengalaman saya, tabel selalu berhasil menyederhanakan
dan memetakan informasi di otak kita.
= = =
Pertamanya nih, saya berikrar untuk tidak sampai marah-marah di kelas,
apalagi jika alasannya anak-anak ngobrol sendiri di kelas. Saya malu.
Saya merasa merasa digampar sendiri jika sampai terpancing oleh ulah mereka.
Lha wong saya dulu juga begitu.
Tapi… ternyata kesabaran hanya bertahan tiga minggu.
Minggu keempat saya sudah mengusir anak keluar kelas karena bermain sendiri di kelas.
Dan terkadang hari-hari berikutnya terisi dengan tarikan otot, meneriaki mereka.
= = =
Ada pemahaman lain, sebisa mungkin saya mengingat kembali pengalaman saya sebagai anak SMP.
menginginkan saya bertranformasi sebagai sosok guru yang saya inginkan.
Menggunakan bahasa yang bisa dicerna oleh mereka. Bahasa remaja.
Yak, underneath behind, saya tahu (mulainya) kompleksitas pikiran mereka; keluarga, cita-cita, persahabatan dan seks.
Walaupun tentu saja sebagai seorang guru, saya tidak mungkin menjelaskan semua pemahaman tersebut.
“Cah, ingat Pak Fajar pernah duduk di bangku kalian, berdiri di tempat kalian berdiri sekarang, diwulang oleh guru yang sama yang mengajar kalian! Jadi kebangetan kalo nggak percaya apa yang saya katakan!”
Kalimat itu adalah salah satu kalimat ampuh saya.
= = =
Menurut saya, anak-anak tahu bahwa sang guru ini “reachable”,
jadi memang sepengetahuanku tidak ada anak-anak yang takut mendekati saya.
Pengalaman seperti dipanggil-panggil sewaktu jam istirahat sampai dengan dinyanyikan lagu Chibi-chibi
tidak akan mudah terlupakan.
Itulah, keotentitan mereka yang terkadang ajaib.
Bisa kejadian, mood hancur setelah keluar dari satu kelas karena suatu hal, berubah berganti 180 derajat karena di kelas selanjutnya mendapatkan celetukan dan hillarious jokes.
= = =
Lebih dari itu, menjadi sepenuhnya seorang guru, saya menjadi bagian sistem pendidikan di Indonesia.
Kebetulan saya bergabung sewaktu para guru sibuk mempersiapkan Ujian Kompetensi Guru dan Proses Sertifikasi Sekolah empat-tahunan.
Pun saya tahu apa hubungan otonomi daerah dengan politisasi guru.
Jadilah saya menjadi saksi kesibukan dan dinamika mereka.
Pengalaman ini meyakinkan saya untuk terjun ke dunia pendidikan nanti setelah puas,
puas memenuhi ego saya sebagai pengelana kata, pembelajar dunia.
= = =
Saya menutup pamitan saya di depan apel pagi dengan permintaan maaf,
jika ada bapak-ibu guru yang dulu sampai sakit hati karena ulah crigis saya.
Doa mereka, saya yakin adalah salah satu doa terampuh untuk melancarkan perjalanan saya kedepan nanti.
*alasan yang sama mengapa Bu Mahar jewer saya di kelas 1,
Pak Warno keplak kepala saya di kelas 2,
Pak Roso dan Bu Puji marah besar di kelas 3.

12. Balada Sepeda
(08 Oktober 2012)
Aku sedang terkena sindrom mellow karena pengalaman sore tadi.
Tulisan ini lancar terselesaikan berkat adrenalin dan kuatnya resepsi rasa yang aku terima.
Banyak teman paham aku nggak bisa naik motor. Dan sebetulnya juga nih… nggak bisa naik sepeda.
Kata ibuku, waktu kecil, aku nggak pernah minta sepeda. Pun seingatku Bapak dan kedua kakakku nggak ada yang “voluntarily” atau “memaksa” ku belajar naik sepeda mereka.
Jadilah sampai tua aku gagap persepedaan.
Bukan berarti aku nggak pernah mencoba latihan ya. Seingatku aku mencoba sepeda onthel bulikku di Sleman.
Dan pengalaman nabrak-nabrak batu pembatas jalan membuatku malas meneruskannya.
= = =
Butuh sampe musim semi kemarin untukku bilang ke (salah seorang) teman disini bahwa aku nggak bisa naik sepeda. Aku capek ngeles terus kalo mau diajak sepedaan beli es krim di kedai gelato dekat rumah sakit Urasa.
Sampai tadi sore, ajakan mereka untuk latihan naik sepeda tak bisa lagi kuhindari. It just too often.
Lagipula, memang terselip niat untuk belajar lagi, mumpung jauh dari hiruk pikuk kendaraan kota.
Jadilah jam 3.30 pm s/d jam 6.00 pm kami latihan di jalan sepi depan kampus.
Kurang dari satu jam saja untukku, untuk bisa dilepas dan mengayuh sendiri dengan lihai*. Ya, akupun takjub dengan kecepatan belajar tadi.
Mungkin tidak terlalu mengherankan ya, mengingat aku dulu pernah belajar.
*PS; Nggak lihai-lihai banget kali? Aku masih parno kalo belok, lebih parno lagi kalo ketemu orang/lawan di depan.
= = =
Tulisan ini bukan tulisan motivasi khas Mario Teguh atau Tung Desem Waringin yang ingin mengajakmu:
AYO COBA PENGALAMAN BARU! JANGAN TAKUT! KAMU PASTI BISA!
Hoek! Bukan!
Seperti biasa, Fajar akan memaknainya dengan caranya sendiri.
Aku benar-benar trenyuh dengan kesabaran dua orang temanku sore tadi, para instruktur belajar naik sepeda.
Satu berteriak menyemangati, satunya lagi menahan bagian belakang sepeda dengan tangannya dan lari-lari sampai perlahan melepaskanku sendiri.
Aku tahu tingkat kecapekannya dari cepat tarikan nafasnya, dia terengah-engah karena kami bolak balik berlatih di jalan tersebut.
And this is how i see it:
Ketakutanku tidak beralasan. Aku selalu gamang di lingkungan baru. Aku gamang apakah aku bisa mendapat teman baru dengan level tertentu di lingkungan baru.
Dan Alam Semesta tak pernah tak adil kan? Boarding, Jogja, tempat kerja, tempat-tempat hijrahku selalu memberikan manusia-manusia terbaik selanjutnya untukku.Sepanjang aku juga berbuat terbaik.
Seperti dua temanku sore tadi.
Tak perlulah menyebut nama.
Aku yakin hari-hari kami masih panjang dengan perdebatan nggak penting, saling teriak, dan saling sok tahu satu sama lain.
Keromantisanku akan nampak konyol di depan mereka.
This is the way I say thankyou.
Terimakasih.

13. Guru dan Ruang Bermain Bernama Sekolah
(05 Februari 2013)
Pipi Bobo yang sudah kemerahan menandakan sebagian alkohol sudah menguasainya,
Ehhhmmmm… mulai nih…
Perlahan dia mendekati kami: Aku, Thida dan Hamidah yang sedang berbincang di pojok remang CNP.
“Kenalin nih si Fajar” katanya sambil menepuk bahuku.
Ya, ya, ya, tentu saja dia sedang mengeluarkan jurus sarkas-nya.
“Dia suka talk-talk-talk di kelas” katanya sambil membuka-tutup tangannya. “Too much” lanjutnya.
= = =
Di akhir kelas “English for Thesis Writing” kami fall term lalu, Professor Ahmed menutup kelas dengan berujar
“Di Bangladesh ada kelompok fundamentalist (Islam) yang kadang mengintimidasi kelompok lain yang berseberangan dengan pendapat mereka. Fajar, kamu mengingatkan saya atas kelompok tersebut. You asked tough questions to your friends”.
= = =
Ah, Bobo dan Professor Ahmed lebai. Ini adalah aku yang menemukan ruang bermain barunya.
Aku merayakan hidup di kelas. Sama seperti orang lain menemukan lapangan bermainnya di X2 atau Stadium, dan mungkin yang lain yang menemukannya di lapangan futsal.
Nah ini nih, seringkali berbeda, persepsi diri atas diri-sendiri dan persepsi orang lain atas diri kita.
Aku sering ngotot bilang bahwa: “Aku anteng di awal pertemuan, selalu butuh waktu sebelum bisa berteriak”.
Lovely bilang: “Ah, mana antengnya? Ingat kan kamu nyanyi di presentasi OB?”
Grace bilang: “Aku bilang, kamu tipe yang cari perhatian”
“Meskipun di awal pertemuan?” tanyaku
“Iya” jawabnya.
Masak sih?
= = =
Ada dua komponen penting untuk menciptakan ruang diskusi yang menyenangkan: guru dan muridnya.
ijinkan saya membahas professorship kali ini.
Ada professor yang menaruh signifikan nilai partisipasi kelas.
Untuk yang model beginian nih, terutama mata kuliah wajib, maka taktiknya adalah: minimal satu kali nanya, dan jaga kontak mata dengan professornya di setiap pertemuan. Buat saya, satu kali nanya cukup, apalagi mata kuliah macam “Financial Accounting” dan “Corporate Finance”.
Lha yang mau ditanya aja nggak jelas. Gimana dong?
Nih lihat contoh pertanyaan saya di mata kuliah Statistik:
“Professor Li, when you mentioned we permitted to bring 1 sheet of cheat-sheet, you mean we can use both side of it, right?” Pertanyaan cerdas bukan? :))
= = =
Tentu saja saya lebih suka berpartisipasi di kelas mata kuliah pilihan, namanya juga milih sendiri, partisipasi menjadi hal yang lumrah. Lha wong kita seneng materinya kok.
Sama dengan manusia kebanyakan lainnya, pasti juga saya lebih pilih guru yang santai daripada yang uptight, yang membuat anak didiknya rileks tanpa kehilangan fokus.
Bagaimana cara membuat saya fokus? Pertama saya harus hormat kepadanya. Apa alasan saya hormat? Jika saya yakin dia menguasai apa-apa yang diajarkannya. Nah, ini modal besar nih.
Setelahnya barulah kita bicara soal metode mengajar. Seorang guru menurut saya harus bisa membaca emosi siswa, kapan suaranya meninggi, memelan, atau berhenti. Saya selalu setuju dengan Professor Burnside dalam hal ini: jangan pernah memasrahkan diri pada alat bantu presentasi. Suara, tubuhmu, gerak tubuhmu adalah properti dan alat peragamu. Nah kan…
= = =
Di kasus Indonesia,
Sebagai mantan guru magang nih, ada kesulitan yang saya rasakan jika ingin bermanuver di tengah tuntutan kurikulum yang padat.
Bagaimana guru bisa santai jika dibayangi rentetan materi yang banyak?
Semoga kurikulum baru bisa menjawab perhatian saya ini.
Kedua,
Bagi saya, kelas kecil selalu lebih mudah. Pengalaman kemarin, saya merasa lebih mudah menarik perhatian anak kelas IX (yang sekelas 20-an orang), daripada anak kelas VIII (yang sekelas 30 anak).
“Engagement” guru dan siswa lebih terasa di kelas IX. Masuk akal kan ya?
= = =
Mona mungkin benar. Ada yang sama dari panggung resepsi kawinan dan space kecil di depan papan tulis; dua-duanya tempat saya tampil.

14. Kyoto dan Jablay Lanang
(08 Maret 2013)
Suatu hari Bayu (teman SMA) mengejutkanku dengan membuat whasup group khusus buat kami, para laki-laki boarding angkatan 5. Mengejutkan? Mengejutkan karena dianggap laki-laki? Bukan! Sembarangan!
Mengejutkan karena aku pikir yang punya konsep melankolik “gank” ini hanya aku sendiri. Istilahnya nih, ketika aku menulis “aku mengenang jalan ini sendirian” karena aku merasa yang lain dengan sangat enteng sudah move on dan lepas bagasi boardingnya masing-masing, apalagi setelah menikah.
Ternyata tidak juga. Maksudku, yang “kerepotan” bikin group ini toh Bayu kan? Bukan gue? Dia lebih merindu dong?
Dan dia buat nama group ini Jablay Lanang? Nggak ada nama yang lebih nggilani Bay?
Tapi okelah. Point taken. Aku teryakinkan bahwa bukan hanya aku yang sesekali merindu.
Masalahnya nih, ini rindu hangat-hangat tahi ayam.
Mengenang pertemanan kami dulu adalah mengenang paket komplet kebaikan, kekonyolan dan tumpukan kesal. Campuran trenyuh atas perhatian tulus dan salah paham. Begini istilahnya, aku jarang (atau tidak pernah) bermasalah dengan para cewek boarding karena biasanya mereka jadi penenang. Aku memanfaatkan jiwa kembok-mbokan mereka? Sedangkan dengan para teman laki-laki ini, biasanya transaksi ego dijalankan dengan pemahaman level minimum. Alias lebih jujur. Alias lebih tendensius. Alias lebih nggak mau tau?
Jurus victim adalah jurus yang aku temukan selama berinteraksi dengan mereka. Paling aman nih, selalu menempatkan diri menjadi korban dalam setiap situasi tidak menyenangkan, Lha biasanya aku satu lawan gerombolan je kalau berbeda pendapat dengan mereka. Aku nggak yakin ada jurus lain yang lebih ampuh dengan konteks social saya jaman boarding dan jogja dulu.
= = =
Study-trip ku ke Kyoto kemarin paling tidak menyadarkan satu hal: tingkat kepercayaan ku atas mereka.
Begini ceritanya, untuk keperluan research salah satu mata kuliah trimester ini, aku harus pergi ke Kyoto.
Yippee??? Not really.
Untuk menghemat biaya perjalanan nih, kami (aku dan teman satu group) akan naik mobil dan bukan shinkanzen.
Nah masalahnya, ketidak-harmonisanku dan salju itu lumayan komplet ya. Salju membuat jalan licin dan mobil relatif lebih mudah selip. Ya ya ya, aku tahu Jepang mengatur jelas urusan ban khusus untuk musim salju. Tapi tetap, ada kecemasan atas hal ini.
Tambah pula, aku belum pernah disupiri Jun san dan Koji san (teman segroup yang akan nyupir mobil). Aku belum bisa menaruh percaya karena aku nggak tau gaya nyopir mereka. Aku mengenang, susah sekali bisa tidur dalam perjalanan 8 jam dari Urasa ke Kyoto.
Buatku, selalu butuh waktu. Selalu butuh waktu untuk percaya, untuk terbiasa.
Dalam konteks boarding, aku dengan cepat akan memberikan gelar sopir terbaik kepada Indra, dan kemudian Bayu sebagai runner-up, karena aku hapal setiran mereka. Boarding, akan selalu mendapat poin lebih dari “first mover opportunity” nya dan sekian panjang perjalanan kami sampai saat ini.

15. Atur Harapan
(15 Maret 2013)
Satu saat jaman SMP, aku minta duit ibuku untuk beli “obat merah” -istilah jadul untuk merujuk antiseptik pensteril luka-. Kalau tidak salah ingat, aku ingin melengkapi kotak P3K ku untuk kepentingan Pramuka? Ibu, walaupun seperti biasa kemudian memberikan uang yang diminta, bertanya: “Buat apa beli obat merah, ntar salah-salah malah kejadian lho!”. Maksudnya adalah, ntar salah-salah malah kejadian sesuatu yang membutuhkan obat merah.
Ah, jadi sadar ini parno turunan dari siapa!
Pertanyaannya, lha gimana biasanya kalau ada insiden luka yang membutuhkan obat merah dengan segera? Ah gampang. Warung Bu Saryono ada tepat di depan rumah. Lari saja 1 menit beli on the spot. sudah itu buang. obat merah dan tensoplast murah sekali bukan?
Nahhhh lho… bukan pembelajaran yang baik kan…
Mungkin begini pemahaman simbokku. Beliau sudah paham itu “Law of Attraction”. Ide siap-siap obat merah bisa diartikan menarik semesta mengirimkan insiden luka. Mungkin ya, lha wong aku juga nggak pernah nanya alasan philosophik di belakang kepala ibuku.
Yang jelas, pada hari yang sama, jariku kena pisau. Berdarah, dan membuat ibuku seperti menang besar: “Apa aku bilang?”
Entah berhubungan entah tidak, aku tumbuh dengan terbiasa merencanakan best scenario, tanpa contingency plan. Lha iya lah ya, bikin harapan pasti yang sedap-sedap saja. Masalahnya nih, semesta tidak bisa dirumuskan. Positive Thinking (Doa masuk di sini) + Effort = Granted? Nggak selalu. Semesta punya perhitungannya sendiri. Dia punya waktunya sendiri, punya coefficient sendiri.
= = =
Akhirnya, dengan jarang berbekal worst scenario, biasanya aku panik atau malah stress saat rencana tidak berjalan lancar. Wahhhh… puisi baru lancar terselesaikan itu biasanya.
Jadi bagaimana praktek ideal dalam hal ini? Membuat plan B, plan C, plan D? Mengatur harapan? Merendahkan harapan?
Berpengalaman hidup lekat dan dekat dengan para high achievers dan competitors (yet at the same time ignorants), membuat aku paham masalah atur-atur harapan ini sangat tak gampang buat banyak orang. Bagaimana bisa mengatur ekspektasi? Apalagi ekspektasi dari hati?
Semesta pun malah seperti merayakan lemahnya hati ini:
“Dan Kami bolak-balikkan hati mereka dan penglihatan mereka.”(QS Al-An’am: 110)
(Tuh, apa yang kamu rasa dan lihat belum tentu benar, orang dibolak-balik!)
Professor Kalirajan menawarkan solusi: Jangan berekspektasi ke siapapun-ke apapun.
(Yah, ini lebih parah. Dia pikir ane Omar Khayyam, kali yak?)
= = =
#winter term kali ini memang sesuatu. workloadnya weleh-weleh. banyak tugas yang melibatkan orang lain. mengatur harapan mau tak mau harus ditelan.

16. Mari, Aku Temani Selesaikan Thesis Malam Ini
(21 April 2013)
Beberapa orang tergerak mencari kesadaran-diri. Beberapa lainnya tidak peduli. Sebagian kecil malah terobsesi. Bagi golongan yang saya sebutkan terakhir, kepalanya seperti penuh berisi pertanyaan: “Ada apa? Ada apa? Ada apa?” Seakan semua hal harus dicari penjelasannya.
Yang menarik adalah, untuk urusan yang menurut saya sangat personal ini, masih saja dikemas menjadi bisnis penarik uang. Saya mendengar tentang program tiga hari dua malam di Klaten dan Ubud untuk bermeditasi, saya menyaksikan studio yoga yang menjanjikan hal yang sama.
Masalahnya, para tercerahkan, tetap tercerahkan ketika mereka memutus tali dunia seutuhnya: Budha, Rumi, Gandhi, Theresa. Pun, Rasulullah berperiode nyepi ke Gua Hira untuk sementara.
Lalu bagaimana menjaga “kesadaran” di tengah hiruk pikuk dunia. Saat tetangga depan rumah membangun istana, saat anak pertama minta dirayakan ulang tahun disekolahnya, atau saat melihat foto Facebook teman keliling Eropa.
Ah, koplak. Takutmu, Ragumu, Lelahmu memang manifestasi kemanusiaanmu. Tapi pilihanmu untuk bersendau-gurau dengan kapitalisme harusnya dibarengi dengan keberanianmu mengambil dan menerima semua resiko. Termasuk mungkin resiko untuk terkadang (atau lebih sering?) menjadi penonton.
Masih bingung juga? Mari, aku temani selesaikan thesis malam ini.

17. Aku dan Tabrizi
(29 April 2013)
+ Apa yang salah dengan kecewaku?
– Karena disana datang setiap kekufuran.
+ Apa yang salah dengan marahku?
– Karena disana datang setiap ketidak-arifan.
+ Apa yang salah dengan diamku?
– Karena disana datang setiap kesalah-pahaman.
+ Apa yang salah dengan keyakinanku?
– Karena disana datang setiap keegoisan.
Dia lagi-lagi menjawab pertanyaanku dengan setengah senyum. Seperti mudah. Dia datang dengan segala pengetahuannya atas hidup. Dia datang dengan kesederhanaannya mencerna peristiwa.
Aku yang angkuh, lebih rentan diperdaya dunia, terdiam mendengar jawabannya.
Seperti Rumi yang jatuh dan tak sadarkan diri saat berdebat dengan Syamsudin Tabrizi pertama kali.
Mendapati jawaban Syamsudin Tabrizi yang mengena hati.
Bagiku, dia seperti Syamsudin Tabrizi bagi Rumi.
Pun aku tahu, aku tahu seperti Syam pun dia akan pergi tanpa datang kembali.

Lalu aku memanggilmu kembali dengan musik ini,
Menari sendiri,
Allahu Akbar Ya Rahiim Ya Rahmaan.
Ihdina Siratal Mustaqim ya Allah
Ihdina Siratal Mustaqim ya Allah
Allahu Akbar Ya Rahiim Ya Rahmaan.
Lalu aku bermimpi untuk sekali lagi bertemu dengannya setelah ini
Meyakinkanku untuk terus mencari Ilahi

18. Bantu Aku Membacamu
(07 Mei 2013)
“The truth is your self, but not your mere bodily self,
Your real self is higher than “you” and “me”.
This visible “you” which you fancy to be yourself is limited in place,
The real “you” is not limited.
Esteem not yourself mere sugar-cane, but real sugar.
This outward “you” is foreign to your real “you”;
Cling to your self, quit this dual self.
(Rumi in Spiritual Couplet)

Membaca Rumi sama sekali berbeda dengan membaca, katakanlah, Rendra.
Gaya bahasa Rendra yang meledak-ledak dan lugas, apalagi tertulis dalam bahasa ibuku,
membuatku tidak kesulitan mencerna setiap ayat.
Pekerjaan rumah didapatkan ketika aku bertemu Rumi.
Takut salah mencerna makna, aku mencoba mendekati Rumi dengan berbagai cara. Yang utama tentu membaca teksnya secara langsung, menginterpretasikannya secara mandiri.
Kemudian membaca tafsirnya dari beberapa buku. Menyenangkan, kampusku menyediakan cukup buku tentang sufisme dan Rumi.
Yang terakhir, yang menemaniku selama kurang lebih seminggu ini mengerjakan skripsi, adalah kuliah Dr. Omid Safi di Youtube.
Perkenalkan Pak Omid, Professor of Religious Studies di University of North Carolina, berkonsentrasi atas mistiksme dalam hal ini sufisme. Pria berdarah Iran ini lahir dan besar di Amerika, fasih berbahasa Persia dan tentu saja Inggris.
Dia menyatakan tentang betapa para pembaca (aku yakin yang dimaksudkannya adalah “Western Readers”) mencoba mengeluarkan Rumi dari identitas kemuslimannya. Mereka tidak mau tau, bahwa “The Beloved” dalam karyanya adalah Sang Maha Tak Berbatas.
See? Bahkan saya kesulitan menyebut Allah.
Buat beberap orang, mungkin rasa mistikalitas berkurang jika menyebut Tuhan.
Seorang pacifist mungkin akan meminta: ayo dibaca secara universal saja.
Seakan melupakan akar, konteks, dan tujuan Rumi menulis.
Misalnya puisi berikut. Yang pernah dibaca Madonna dengan sempurna:
In my hallucination
I saw my Beloved’s flower garden
In my vertigo
In my dizziness
In my drunken haze
Whirling and dancing like a spinning wheel

I saw myself as the source of existence
I was there in the beginning
And I was the Spirit of Love
Now I am sober
There is only the hangover
And the memory of love
And only the sorrow
I yearn for happiness
I ask for help
I want mercy

And my Love says
“Look at me and hear me
Because I am here just with that”

I am your moon and your moonlight too
I am your flower garden and your water too
I have come all this way eager for you
Without shoes or shawl

I want you to laugh
To kill all your worries
To love you
To nourish you

Oh the sweet bitterness
I will soothe you and heal you
I will bring you roses
I too have been covered with thorns
(voice over-ed by Madonna in “A Gift of Love”, Musical CD produced by Deepak Chopra)

Mari puisi diatas dibaca sekali lagi, dengan pemahaman bahwa yang dimaksudkannya adalah Tuhan.
Bukan pacar, bukan selingkuhan. Berbeda kan rasanya?
Doktor Omid mengatakan bahwa dalam pemahaman Rumi, seseorang tidak akan mengenal Tuhannya sebelum dia mengenal dirinya sendiri. Jadi mungkin, di pemahaman inilah ribuan puisi yang diciptakannya egosentris: banyak aku dan kamu-nya. Rumi tertarik mencari dirinya, berharap menemukan Tuhannya sepanjang jalan.
Di salah satu sesi tanya jawab, Pak Omid mengambil jeda sejenak sebelum menjawab pertanyaan salah seorang peserta kuliahnya:
“Pak, apakah seseorang harus mengambil jalan spiritualitas tertentu untuk menemukan Sang Maha Tak Berbatasnya?”
—-diam—
Aku yakin Pak Omid mencoba berhati-hati menjawab ini.
Cukup lama Pak Omid terdiam sampai-sampai sang penanya menyatakan “Maaf”.
Tak lama kemudian Pak Omid menjawab:
“Ehm, saya akan menjawabnya dengan mengambil perumpamaan. Jika anda ingin menguasai teknik operasi jantung. Anda tidak akan pergi ke toko buku dan membeli “complete idiot’s guide for heart surgery”, tapi anda akan masuk sekolah kedokteran dan belajar dari guru yang pernah melakukan operasi semacam itu, kemudian anda latihan dengan dibimbing sang guru.”
-PS: aku merasa jawaban Pak Omid terkait erat dengan tradisi Sufi untuk selalu berkomunal mengaji dari seorang guru. Wait, saya harus hati-hati, bukan tradisi Sufi, tradisi Islam?-
Sekarang giliran aku yang terdiam.
Aku teringat Pak Rizki, Asmen di kantor lama, mengatakan “Cukuplah mengenal Allah dengan mempelajari Quran dan Hadist”
Aku teringat reply Ika, teman kampusku, di twitter atas pertanyaan:
“Gautama, what is nirvana to you? Muhammad, what is donya to you? Rumi, what is Syam to you?’
dengan: “berat banget tho pertanyaan mu, nek aku malam ini lagi mikir besok masak apa ya buat sarapan anakku :)”
Atau reply Whassup Bu Sita , senior kantor lama, saat mengadu mood sedang jelek.
“Shalat nggak? Shalat dong!”.
Pak Rumi, Pak Omid, Pak Chopra, Madonna, Pak Rizki, Ika, Bu Sita. Satu hal yang yakin, bahwa tidak ada yang kebetulan tentang semua perjumpaan kita. Aku akan terus memaknainya dengan segala cara. Mungkin suatu ketika nanti, sebuah cara.

19. Kalem, 45 Hari Lagi
(15 Mei 2013)
Presentasi “How to Graduate” dari kampus untuk menerangkan persiapan wisuda dan meninggalkan Jepang minggu lalu semakin menyadarkan bahwa hanya dalam kurang lebih 45 hari lagi aku akan segera berkemas kembali ke tanah air.
Aku merasa penting menulis catatan kecil ini untuk mengingatkan diri sendiri agar bersyukur atas setiap hal yang mungkin terlupa. Ini semacam menyeimbangkan halaman “notes” ku di facebook agar tidak terlalu gelap dengan tulisan-tulisan tengah malam yang dianggap depresif oleh sebagian orang.
Depresif? Yah dia nggak tau aku nulis puisi sambil muter “Loca” di telinga. Goyang-goyang kepala sendiri tengah malam di computer lab. Eh, malah jadi tambah depresif kelihatannya yak?
Mereka bilang aku mengais mimpi
Mereka bahkan bilang aku berjalan sendiri
Tapi kuyakinkan: tidak!
Aku menaruh mimpi dalam keniscayaan
Melalui tangga, melalui usaha
(Cempaka Putih, 25 Januari 2005)
20 tahun lalu, Fajar kecil 10 tahun sudah mampu menggambarkan mimpinya saat majalah ‘Hai’ (semoga tidak salah ingat) memuat profil pelajar Indonesia yang berkuliah di Belanda. Aku masih ingat fotonya : anak muda kurus berkacamata berada di kolam air tiup dengan teman-teman bulenya.
Ehmmmm, di ukuran ini aku tidak punya foto yang kurang lebih sama: foto onsen misalnya. Hihihihi.
Tapi maksudku adalah, mimpi yang terus disiram anak kecil ini, menyemangatinya belajar (bahasa Inggris) dengan baik. Terus menerus mengirim aplikasi beasiswa ke banyak tempat sebelum akhirnya AEON membawanya ke tempat ini.
Apakah Urasa semenarik Belanda? Entahlah. Aku belum pernah ke Belanda. Yang jelas, aku bersyukur atas medan belajar dan bermain bernama IUJ ini. Hobi scanning sosialku terklimakskan karena dijadikan satu dengan pelajar lain yang berasal dari puluhan identitas etnis berbeda, bermacam-macam motivasi bersekolah, dan berbagai rupa cara memaknai hidup. Aku akan pulang dengan keyakinan bahwa aku sudah naik kelas: mentally, intelectually.
Bersyukur juga karena pemaknaan bahwa selalu ada kekuatan tak terlihat yang turut campur. Mengapa baru 2011 dapet beasiswanya? Karena nunggu tabungan cukup. Beasiswa mepet cuy. Mengapa 2011? Karena starting 2012 AEON mensyaratkan kemampuan bahasa Jepang untuk mendaftar beasiswanya. Nah lho? Tidak ada yang kebetulan bukan?
Urusannya sekarang adalah mempersiapkan diri kembali ke Jakarta, ke Magelang. Melanjutkan mimpi. Melanjutkan hidup. Mempersiapkan diri atas realitas yang seringkali berbeda dengan apa yang didiskusikan di kelas.
Contoh nyata realitas adalah: aku masih mengingat 20 kali “pesta” perpisahan dengan teman-teman sebelum meninggalkan Indonesia. Aku diarak 7 teman terbaik ke Soekarno-Hatta. Apakah besok ada 20 kali “pesta” kedatangan? Apakah akan ada penyambutan di Soekarno-Hatta?
Ehmmm… Not Really.
Ketika aku setengah bercanda bertanya ke Ririn: “Rin, nanti ada penyambutan di Soekarno-Hatta tidak?”
“NGGAK ADA! Dalam dua tahun sudah banyak yang berubah!!!” jawabnya tegas.
Ah, aku harus menyiapkan banyak hal sebelum pulang. Termasuk menjadi perawan cinta yang mengais kembali kebaikan-kebaikan sang tercinta.
Sebelum aku pulang, aku mau bilang: Terimakasih ya Allah, aku pulang, aku datang, aku bekerja.

20. Fanaa: Logika Memilih
(22 Mei 2013)
“Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah…
Chaand Sifarish Jo Karta Hamari Deta Woh Tumko Bata
Sharm-O-Haya Pe Parde Gira Ke Karni Hain Hamko Khata…”
Lantunan oktaf tinggi “Maha Suci Allah” dengan lanjutan bahasa Hindi yang tidak aku pahami langsung menarik perhatianku. Aamir Khan dengan baju super norak yang bisa dibayangkan berlari-lari menari-nari di depan Kajol. Adegan khas film India.
Then I said to my self: No No No. I know this actor. There is no way he took a non-sense role in a crap movie. Setelah dia punya kuku tajam di perfilman India, tidak mungkin Aamir bermain seasalnya di film tanpa guna. Coba tengok referensi IMDB, top 4 movies rekomendasi mereka semua dibintangi Aamir Khan.
Jadi mulailah aku mencari tahu apa cerita seutuhnya film ini. Berikutnya, kutahu judulnya: Fanaa.
= = =
Lahir dan besar di Magelang membuatku lekat dekat dengan gambus India dan qasidahan. Ini deviasi dari kedua kakakku yang besar cadas dengan Metallica dan aku menari Aladin di acara 17-an kampung. Entahlah, hati ini terasa dekat sekali dengan cerita Abunawas dan Mahabaratha. Sangat menjelaskan ketertarikanku atas Timur Tengah dan sekitarnya sampai dewasa.
Alasan berikutnya untuk mencari tahu Fanaa (dan menontonnya) adalah kenyataan bahwa film ini direkam di lokasi-lokasi magis Delhi: Qutub Minar, Humayun Tomb, Presidential Palace, Chandni Chowk, India Gate, Old Delhi Station, Red Fort dan lain-lain.
Film ini seperti merangkai pigura-pigura perjalananku ke Delhi tiga tahun lalu (please refer to “Petuah India” https://fajararie.wordpress.com/2012/02/16/petuah-india ). Semua kenangan seperti berputar kembali: kedinginan di Qutub Minar, kesasar di Chandni Chwok atau merenung di Humayun Tomb. Ahhhhhhhh… India…
= = =
Fanaa menceritakan Aamir Khan yang berperan sebagai teroris asal daerah konflik Kashmir yang menyamar sebagai tour guide di Delhi untuk menjalankan misinya: meledakkan istana presiden. Kajol, yang memerankan duta seni asal Kashmir, bertemu dengannya saat berkunjung ke Delhi untuk mewakili daerahnya di pementasan tahunan “Republic Day”.
Singkat kata, Aamir ditugaskan mengawal kontingen Kashmir selama kunjungan mereka di Delhi. Dua orang ini saling jatuh cinta, bla bla bla … bla bla bla… bla bla bla… Silahkan deh tuh kemudian nyanyi-nyanyi sambil hujan-hujanan, kemudian lempar-lemparan puisi.
Hahahaha, bagaimana saya tidak terklimakskan saat sendiri menontonnya. Adegan saya menonton sambil senyam-senyum sendiri di komputer lab ternyata menarik teman asal Nepal dan Kyrgiztan untuk bertanya.
See? Who don’t intrigued with those over the top dances in the pouring rain?
Cukup. Mari kita ke bagian serius tulisan ini.
Aku yakin Aamir punya sesuatu yang ingin disampaikan. Dalam wawancaranya dengan Russel Peter dia mengamini pernyataan Peter tentang usahanya “mengubah” sinema India.
Jadi apa alasan dia terima peran ini? Tebakanku adalah dia sedang membagi pemahamannya atas dinamika (sosial politik) India dengan mengangkat konflik Kashmir sebagai latar belakang film ini, dan meyebarluaskan opininya atas baik dan buruk yang seringkali tak berbatas jelas.
Okelah, anda-anda yang risih dengan tarian di bawah hujan yang saya ceritakan tadi harus menahan diri sampai bagian tengah film. Karena intensitas dan keseriusan film baru mulai meninggi di bagian ini.
Buat saya, pertanyaan dari film ini yang beresonansi dengan setiap orang adalah: apa alasanmu memilih sesuatu? Bagaimana engkau memilih sesuatu?
Dalam film ini Kajol dihadapkan atas pilihan sulit: suaminya atau negaranya?
Terdengar fiktif? Tidak juga. Kita punya Aung San Su Kyi. Wanita tegar yang dengan sadar memilih untuk mengabdi pada negara dan terpisah dengan keluarganya.
Dramatisasi film sangat terbantu oleh (mata) Kajol. Aku setuju dengan mas Aamir saat dia bilang dia hanya membayangkan Kajol yang mampu memerankan tokoh utama wanita di film ini. Kajol memang bukan penari terbaik di Bollywood, tapi film ini tidak membutuhkan liukan maut wanita India. Film ini membutuhkan Kajol yang selalu mampu berekspresi alami. Beremosi tinggi.
Ok, kemudian apa yang mengganggu di film ini? Selain special effectnya (seperti ledakan bom di Presidential Palace, adegan ayah Kajol jatuh ke jurang, dan helicopter meledak di Kashmir) aku terganggu dengan kerutan di wajah Aamir Khan. Tanda-tanda penuaan tersebut tidak memngganggu di bagian setengah terakhir dimana diceritakan dia memang kurang lebih seumur dia sekarang. Tapi di setengah awal film, sungguh-sungguh mengganggu. Apalagi dengan kemasan kemeja warna-warni nggilani yang aku sebutkan.
Jadi apa yang disarankan oleh film ini tentang kebijakan memilih?
Petikan dialog ini diutarakan ayah Kajol di awal film dan kemudian diulang di bagian akhir:
“Hidup bukanlah memilih antara yang baik dan buruk. Itu terlalu mudah.
Hidup adalah memilih mana yang tidak lebih buruk antara dua pilihan buruk.
Hidup adalah memilih mana yang lebih baik antara dua pilihan yang baik.”
Selamat Memilih!

21. Little Star on Earth : Sebuah Refleksi
(29 Mei 2013)
Jam lepas sekolah saat film dimulai dengan adegan anak kecil yang berseragam kotor dan sama sekali tidak rapi, bersimpuh di depan kolam mencoba menangkap beberapa ikan kecil yang berenang bebas.
Tet Tet Tet, terdengar suara bus sekolah dan kondektur yang berteriak memanggil anak kecil tadi. Ishaan namanya. Dia masih tampak asyik dengan kesibukannya dan tidak menghiraukan panggilan kondektur yang akhirnya hilang kesabarannya, turun dari bus dan membopongnya paksa naik ke bus.
Penonton akan dengan mudah dibawa ke pemahaman prematur bahwa Ishaan ini anak nakal, apalagi ditambah dengan adegan bandelnya membiarkan kertas hasil ujian semester dirobek-robek anjing apartemen dan kecuekannya yang tidak menghiraukan perintah sang ibu untuk meletakkan tas sekolah di kamar dengan benar.
= = =
Diceritakan semua orang berfikir sama tentang Ishaan: Bapaknya, guru di sekolah lamanya dan juga para tetangga. Mereka semua menghakimi Ishaan sebagai anak kecil yang bodoh dan sering berulah. Hanya guru baru di sekolah anyar (bapak Ishaan akhirnya memindahkan anaknya ke sekolah berasrama) yang akhirnya menemukan sebab muasal kenakalan anak ini. Ishaan ternyata dislexia.
Dislexia menyebabkan seorang anak tidak mampu membaca dan menulis dengan benar. Bukan itu saja, pengidap disleksia akan kesulitan mengukur dan mengira-ngira dimensi. Mereka tidak mampu menangkap bola dengan benar misalnya, karena salah mengira-ngira kecepatan dan arah datangnya bola. Mereka masih santai bermain dengan ikan di depan kolam sekolah misalnya, karena tidak sensitif bahwa bus sekolah sudah mendekat dan bahkan menunggunya.
Lalu apa hubungan nakal dengan ketidak-mampuan sensorik ini? Aamir Khan yang berperan sebagai guru seni di sekolah baru Ishaan mengatakan: anak kecil hanya meniru orang dewasa. Mereka akan merespon “tidak mau” daripada “tidak bisa”. Mereka kesulitan mengatakan kekurangannya. Mereka takut dianggap bodoh. Lebih baik dianggap nakal, daripada dianggap bodoh.
= = =
Ada banyak hal yang tersampaikan dari film indah ini. Tentang pengasuhan, tentang kesabaran, tentang salah-paham. Buatku anak kecil selalu relevan. Aku yakin seyakin-yakinnya soal pentingnya masa ini dilalui dengan “tepat”. Ini tentang pembentukan karakter. Ini tentang mengawali masa depan dengan posisi start yang benar.
Im not trying to say that I have “dad quality” in this term. Saya (mungkin) menganggap anak kecil sebagai partner. Semenjak SMA pindah ke Bekasi dan “terlepas” dengan teman-teman sebaya di Magelang, jadwal pulang ke rumah biasanya dilewatkan dengan adik-adik sepupu yang 10 sampai 20 tahun lebih muda dari saya. Kami bertukar cerita tentang kejadian lucu di sekolah, memasak, makan sampai bermain monopoli bersama. Membahasakan diri dengan bahasa mereka adalah kegiatan yang menyenangkan. Sebuah tantangan agar cerita lucu saya tetap tersampaikan maknanya, tetap dipahami.
= = =
Film anak-anak selalu menarik. Tidak selalu harus film berefek khusus dahsyat semacam Narnia, Jumanji atau Zathura, tapi juga film-film drama seperti Bridge to Terabithia (https://www.facebook.com/notes/fajar-arie/bridge-to-terabhitia/496031238125) dan film yang saya tulis resensi singkatnya ini: Little Stars on Earth.
Baiklah, kesulitan menjelaskan apa itu cinta sangat mungkin dikarenakan memang kita (para dewasa) sedang mencoba menkongkretkan apa-apa yang abstrak. Lebih mudah menerjemahkan kasih-sayang dan perhatian dari kacamata sederhana. Kacamata mereka. Film anak-anak tidak pernah kesulitan menjelaskan “cinta”.
Kacamata yang sama yang saya pakai untuk memahami sepupu cilik saya yang masih tujuh tahun. Beberapa orang beramai-ramai mencap dia nakal. Tapi tidak sepertinya buat saya. Kami CS. Kangmasku surprise saat melihat dia dengan sepedanya sudah nongkrong di depan rumah jam tujuh pagi saat hari keberangkatanku kembali ke Jepang di akhir libur musim panas tahun lalu. Kata Masku : ‘Wah, ampuh dia mau datang mengantar tanpa diminta’, begitu kira-kira.
Kita harus bijak dengan cap nakal dan tidak nakal sepertinya. Apalagi kepada anak-anak.

22. Kerja Kelompok: Hayuk!
(09 Juni 2013)
Aku akan membuka tulisan ini dengan petikan kisah sufi yang disadur Henry Bayman di bukunya “Black Pearl”. Esensinya sangat mengena dengan apa yang akan aku tulis di esai pendekku yang menyertainya.
“A Greek , an Arab, a Turk and a Persian once came together, and when they were hungry, they pooled their money to buy something to eat. At that point a difficulty arose, because the Greek wanted to buy stafil, the Arab wanted t buy inab, the Persian wanted angur while the Turk wanted uzum. They finally began to quarrel, and at the moment a sage passing by interrupted them. “Tell me what you want” he said, and taking the money from them, soon comeback with some grapes. They were amazed to see that they all had wanted the same thing.”
= = =
Memilih MBA sebagai program lanjutan harus siap dengan tumpukan tugas kelompok dan presentasi. Salah satu professor kami pernah menyatakan bahwa ada pemaknaan penting dibalik tugas kelompok yang hampir menyertai semua mata kuliah. MBA adalah program mendidik eksekutif yang pada nantinya akan menghabiskan waktu untuk rapat dan menghadapi banyak orang. Jadi nih, kerja kelompok bukan saja soal menyelesaikan tugas, tetapi proses bertukar pendapat dan bekerja-sama di sepanjang jalannya.
Sebagai gambaran di semester ini misalnya, saya mengambil empat mata kuliah. Sebut saja satu mata kuliah selingkuh ke fakultas lain, jadi ada tiga mata kuliah MBA yang saya ambil. Mata kuliah pertama, Marketing Strategy, mengharuskan kami berdiskusi kelompok di setiap pertemuan dan mempresentasikan hasilnya saat selesai. Mata kuliah kedua, Supply Chain Management, mengharuskan kami tiga kali presentasi kelompok dan mengumpul satu final report kelompok. Mata kuliah ketiga, Customer Relationship Management, mengharuskan kami presentasi individual sekali, presentasi group sekali, dan mengumpul final report kelompok di akhir kuliah. Begitulah.
= = =
Seingatku, aku tidak pernah kesulitan berbagi tugas, baik di tempat kerja maupun sewaktu kuliah S1 dahulu. Bahkan, masih ingat sampai sekarang, sewaktu Rais -teman komunikasi 2000- bilang : “Iya, aku sudah mendengar reputasimu”, merujuk pada referensi teman-teman yang lain tentang “lancarnya” sekelompok dengan saya. Wah, wah, wah… bentar dulu. Apa nih maksudnya? Karena saya terbiasa jadi kompilator tugas? ;P Apapun itu, kerja kelompok, memang selalu jadi (salah satu) “jualan” saya.
Pertanyaannya waktu berangkat ke Jepang adalah, apakah “competitive advantage” saya dalam bidang “kerja kelompok” ini mampu dipertahankan di luar negeri? Ada komponen yang bertambah bobotnya lho! Kan kemarin di kampus Bulaksumur kerjasamanya sama orang Indonesia saja? Di kantor lama hanya dengan orang Jepang saja? Besok bagaimana jika kerja-sama dengan orang-orang dari lebih banyak suku bangsa?
Lagi-lagi pertanyaan (atau kecemasan?) yang sebetulnya tidak beralasan. Karena sama saja. Asalkan komit dan mau kerja-sama, semua akan baik-baik saja.
Aku pernah menulis “Ayo Sekolah!” (https://www.facebook.com/notes/fajar-arie/ayo-sekolah/10150406537813126) tentang betapa tugas kelompok mewarnai dinamika kuliah Jogja dulu. Tentang bekerja sepotong malam di bulan Ramadan.
Rekor tersebut terkalahkan saudara-saudara. Di kuliah “Brand Management” Winter term kemarin, saya dan kelompok saya memulai meeting jam 7 malam, menyelesaikan tugas jam empat pagi dan diteruskan dengan presentasi jam 10.30. Sedep! Presentasi dengan mata sepet karena kurang tidur.
Godaan prejudice memang akan selalu datang. Menggeneralisir tabiat orang dengan asal muasal daerahnya. No argue. Tapi percayalah, harus benar-benar bijak soal ini. Maksudnya apa nih? Seperti nih ya, beberapa teman dari negara X suka telat dan main ganti schedule meeting, teman-teman asal negara Y susah sekali dibantah, teman-teman dari negara Z agresive dan main hajar-kromo.
Beberapa cerita menarik datang dan pergi, seperti sayup-sayup pertengkaran di kelompok kerja yang lain, yang membuat dua orang teman sekelas ini menghabiskan tahun keduanya tanpa bertegur sapa, atau saat ada yang tidak sepaham dan membatalkan diri ikut presentasi. Aku yang super enak-nggak-enak soal beginian (i’m a conformist), suka blingsatan jika menemukan potensi konflik di kelompok kerja dan sebisa mungkin untuk tidak memperburuk keadaan. Suka beneran keringetan.
Percayalah, soalnya ada beberapa orang super serius dengan tugas kelompok. Sedangkan aku, dan rata-rata manusia Asia Tenggara lainnya (tuh kannnnn… saya menggeneralisir), biasanya “paham” bahwa tugas kuliah adalah “hanya” tugas kuliah. Harmoni lebih penting.
Jadi, aku sangat lega ketika Sam, salah seorang teman mengatakan: “Aku kemarin kasih peer evaluation skor mu tinggi, I thought you made the discussion flow”. Ah, semoga dia jujur. Udah bangga banget nih…
= = =
Aku merekam perjalanan kerja kelompokku selama di UGM dulu. Dari catatanku, aku masih ingat 21 kali kerja group selama menempuh empat tahun bangku kuliah. Bagaimana dengan sekarang? Hari ini, kuliah Suply Chain Management merupakan kelas terakhir kuliahku di Jepang. Waktu yang tepat untuk melakukan hal yang sama: merekam semua tugas kelompok selama di IUJ.
Jadi apakah peran “kompilator” masih bisa dipertahankan di sini?
Kadang iya, kadang tidak. Misalnya nih, kalo sekelompok dengan Jon, maka dialah yang biasanya mengambil peran tersebut. Can’t argue more: dia native, dia lebih beratensi pada detail. Dan aku harus bilang bahwa aku banyak menemukan teman yang lebih komit dan berdedikasi.
But yes, sometime I took the same role like I used to be.
Jadi siapa yang paling sering bekerja-sama selama dua tahun belakangan ini? Berikut hasilnya:
1. Thisana Kerdnaimongkol (Thailand) 6X
2. Hamidah Bohri (Malaysia), Jonathon Zink (USA) sama-sama 4X
3. Jamoliddin Qudratov (Uzbekiztan), Yasutoshi Yokochi (Japan), Ngu Thida (Myanmar), Abhay Vats (India) masing-masing 3X
Dengan Negara mana paling sering kerja kelompok?
1. Japan (11X)
2. Thailand (9X)
3. Mongolia, Uzbekistan, Malaysia (5X)
Mengapa perhitungan ini penting buat saya? Maklum, bagi manusia yang tidak pernah menginjak lantai lapangan futsal dan gym, kerja kelompok biasanya biasanya berhubungan erat dengan siapa-siapa saya mengidentifikasikan pertemanan saya. Misalnya nih di Jogja dulu, Wahyu Wijayanto berada di urutan pertama dengan 7X bekerja-sama. Dan terbukti bapak ini sampai sekarang masih berada di Ring 1 kehidupan sosial saya.
= = =
Pada akhirnya, saya ingin bilang bahwa terdapat nilai-nilai universal yang mudah sekali untuk dipahami lintas negara dan menjadi panduan berinteraksi dengan siapa saja. Nilai-nilai universal seperti: perhatian, tulus, adil, kerja keras, dan materi. Wallahualam.

23. Romantika Salon Jepang
(22 Juni 2013)
Saya tidak bisa menghindar dari pertanyaan: “Sudah lancar bahasa Jepang dong sekarang?” setiap kali orang mengetahui saya melanjutkan sekolah ke Jepang. Dan setiap kali pula dengan malu-malu (atau kadang emosi) saya menjawabnya: Nggak. Nggak bisa.
Lho?
Iya. Kampus saya berpengantar bahasa Inggris. Contoh saja nih, dari 40 pelajar sekelas, hanya 7 orang siswa Jepang. Jadilah kami berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
“Lha, terus di luar sekolah gimana?”
Sejauh ini, sampai akhir masa kuliah, kami baik-baik saja. Restoran punya menú berbahasa inggris, ada dokter berbahasa inggris, dan Jepang punya sistem transportasi yang masih bisa dicerna dengan ilmu kira-kira. Nggak susah.
Memang kadang kepentok misalnya seperti cerita teman saya yang kesulitan ingin memutus layanan internet di kamar kontrakannya. Atau ketemu manula di tengah jalan yang bersemangat mengajak ngobrol walaupun kita sudah bilang tidak bisa berbahasa Jepang. Atau ini nih: saat ingin potong rambut.
Sebenarnya nggak perlu bingung soal ini sih, asal nggak kebanyakan gaya, banyak barber shop yang dengan mudah memahami potongan stándar pria.
Nah, soalnya buat saya yang sedang tidak bekerja, bersekolah menjadi kesempatan bereksperimen dengan gaya rambut. Saya memilih gondrong dengan banyak alasan. Pertama, menghemat uang potong rambut (di salon) yang memang mahal di negara ini. Kedua, dengan rambut gondrong, saya bisa mengeksekusi keinginan meluruskan rambut dan menata berbeda.
Hah… Alur: Alay Uzur.
Menarik untuk diceritakan, bahwa aku melakukan empat kali potong rambut selama dua tahun terakhir di empat kota berbeda di Jepang dengan ceritanya masing-masing.
1. Shinjuku, Tokyo (Buffalo Bob)
Harga: 6,000 yen (IDR 720.000)
sebagai first visit customer, kunjungan kedua dan seterusnya akan discharge 8,000 yen (960.000 IDR).
Kapan? Juni 2012
Aku masih ingat sekali saat itu, sangat instingtif untuk potong rambut saat melewati deretan salon di salah satu mall di pusat gaul Jepang ini. Salon-salon tersebut terlihat sangat menarik buat saya. Masuklah saya ke salah satu salon dan bertanya berapa harga potong dan cuci.
Hemmmhhh, harga yang tidak murah sama sekali.
Demi sesuatu bernama pengalaman, saya tetap nekat. Tapi memang beda man!!! Servicenya oke. Tangan hairstylishnya mantab! Hal ini pernah saya perbincangkan dengan teman Thailand yang juga mengamini pendapat saya. Pelayanan mereka superb. Halus banget yak ngelus kepala saat cuci rambut. Dan cara hair-stylist motong rambutnya memang keren man!
Jadilah aku berlibur summer dan mengajar di Magelang dengan gaya rambut Shinjuku.
2. Urasa, Minami Uonuma-shi (Roza Azul)
Harga: 4,000 yen (sekitar 480.000 IDR)
Kapan? Desember 2012
Tidak ada pilihan, aku harus tampak rapi sebelum bertemu dengan Mitsubishi Corporation Tokyo untuk mengurus ijin penelitian thesis. Jadilah saya mencoba tempat potong di dekat stasiun Urasa. Ini juga pengalaman yang menyenangkan. Mas hair stylistnya dengan mudah memahami foto potongan saya terakhir hasil Shinjuku enam bulan sebelumnya.
No complaint
3. Fukuoka City, Fukuoka (lupa nama salonnya)
Harga: 2,000 yen (sekitar 240.000 IDR)
Kapan? Maret 2013
Fukuoka City ternyata kecil Bro, tiga hari menjadi terlalu lama untuk mengelilingi places of interest di kota ini. Jadilah lagi-lagi instingtif, ngeleper nyari salón di sepanjang jalan menuju hotel di hari kedua kedatangan kami di kota ini.
Nah ini nih lucunya. Aku turun ke basement sebuah gedung perkantoran tua dan menemukan ibu-ibu tua menunggu sendirian salón yang aku masuki. Ibu ini tampak sangat terkejut menerima kedatanganku. Entahlah, karena rambut gondrongku, atau karena tidak pernah menerima pelanggan asing. Entahlah.
Ngelap keringat dimulai ketika aku menunjukkan salah satu potongan di katalog majalahnya dan ibu ini masih bertanya. Wassalammualaikum. Jadilah aku hanya melempar senyum, karena sungguh-sungguh tak paham.
Huaaaa…
Jadilah aku pulang kembali ke kampus dan berhasil mendapat panggilan baru dari beberapa teman: Kim Jong Un. Makasih ya Tante!!
4. Nagaoka, Niigata. (Oasis)
Harga: 4,000 yen (sekitar 440.000 IDR)
Kapan? Juni 2013
Potong rambut kali ini jelas untuk tampil berbeda saat wisuda. Hunting potongan rambut sudah dilakukan jauh-jauh sebelumnya. Tersebutlah Luke Edgemon, finalis The Voice US 2013. Mas ini meresonansi citra sleeky dan edgy at the same time. Itulah alasan saya mendownload gambarnya ke HP dan membawanya dengan gagah perkasa ke Nagaoka.
Kalo sudah puas dengan Roza Azul di Urasa ngapain jauh-jauh ke Nagaoka? Hemmmhhh… Rasanya rugi sekali kalo hanya hunting souvenir ke Nagaoka. Jadilah saya mengambil resiko ke salon baru ini.
Aku memilih salon yang terlihat bagus dan mahal dari luar, berharap pada keajaiban Tuhan. Hemmmmhhh… takdir mempertemukanku dengan mbak-mbak hairstylist yang berlaku seperti layaknya orang Jepang: Sopan. Dan dalam kasus kemarin, seperti tampak takut berbuat salah dengan banyak bertanya. Sama sekali berbeda dengan mas-mas di dua salon pertama. The Rest of it, saya hanya berharap pada kebajikan semesta.
Dan beginilah hasil akhirnya. Not that baaaaaaaddd… Cuma kok saya rasa tampak pitak ya?
= = =
Ada satu hal yang dipahami soal ini. Bahwa gaya rambut dan atribut fisik bisa problematik.
Sama seperti saya mencari terus rahasia hidup, mencari tatanan rambut yang pas juga sepertinya pencarian seumur hidup. Karena sebetulnya proses ini dinamis -terus berproses- seirama setiap perubahan.
Kamu apa dan siapa setelah lulus IUJ, Fajar?

24. Catatan Akhir Sekolah
(10 Juli 2013)
Waktu terasa berjalan cepat saat kami memasuki musim terakhir sekolah: Spring 2013. Tugas kuliah yang silih berganti dan thesis yang harus diselesaikan tepat waktu. Trimester ini menuliskan pelajarannya yang paling berat buatku: kehandalanku yang diuji untuk menerima penolakan Mitsubishi Singapore dan ketahananku menyelesaikan periode IUJ ini dengan sebaik-baiknya.
Evaluasiku mengatakan bahwa ada yang tidak sempurna. Ketidakutuhan yang menyadarkanku bahwa lain kali harus lebih hati-hati, lain kali harus lebih bijak, lain kali harus lebih ikhlas.
Tetapi apakah cobaan satu mengaburkan nikmat seribu? Harusnya tidak.
Aku mengapresiasi jalinan silaturahmi yang berakselerasi cepat di trimester ini. Mungkin… mungkin orang-orang sadar tentang sedikit waktu yang tersisa bagi kami di tahun kedua ini. Ini tidak lagi seperti lulusan UGM yang sama sekali tidak menghadirkan airmata, karena sadar bahwa kami akan berkumpul kembali ke Jakarta. Nah sekarang? Apakah mungkin sebulan sekali berkunjung ke Ulan Bataar dan Naypyidaw? Apakah mungkin seminggu sekali terbang ke Bangkok? Denpasar saja belum tentu.
Dan memang inilah yang selalu kusyukuri: nikmat silaturahmi. Aku menganggap penting sebuah pertemanan. Sebuah karakteristik khas (karena mungkin) hasil ditinggal ayah meninggal di usia kanak-kanak, dan jarak usia dengan kakak yang terpaut lumayan jauh. Membiasakan diriku memenuhi kebutuhan emosional dari sahabat-sahabatnya, lebih besar daripada keluarga.
Di tingkat tertingginya, beberapa kejadian dramatik di satu bulan terakhir ini sungguh sayang jika tidak dituliskan.
= = =
26 Juni 2013
Teman-teman hampir mengadakan pesta setiap hari di dua minggu terakhir menjelang kelulusan. Ada kalanya aku ikut. Ada kalanya tidak. Yang jelas, aku memaksimalkan waktuku dengan membuat agenda sendiri seperti makan malam/siang dengan Thida dan Urnaa, atau sesi minum teh tengah malam dengan Moe.
Masalahnya begini, mulut saya lebih enteng bersindir-nyinyir daripada bermanis-madu. Termasuk soal berteman. Agak lebai menurut saya jika harus mendayu-rayu memuji setiap kebaikan dan kehangatan yang diterima. Buat saya, lebih nyaman ditulis daripada diucap.
Seperti misalnya di pesta yang dihosting O chan dan Bobo di malam setelah wisudaan. Jon bertanya padaku:
“Gimana buddy, sebentar lagi kita semua pisah?”
“Aku girang. Nggak sabar buat saya segera pulang” Jawabku sembarangan. Tentu sembarangan, karena yang sebenarnya kurasakan adalah perasaan campur-aduk tentang gamang memulai hidup baru, dan rasa kebas meninggalkan sekolah.
“Really?” tanya Jon mencari tahu arti jawabanku.
Ah, aku berharap dia tahu tentang entengku mengatakannya “pain in the a**” adalah caraku berteman dekat dengan seseorang dan respekku terhadapnya adalah dengan menjadi rekan kerja yang bisa diandalkan.
Dan mungkin Jon dan O tau. Aku yakin mereka tau.
Adalah saat Makiko san pamit pulang membawa anak-anaknya pergi dari pesta yang sudah larut, adalah ketika airmataku jatuh tidak berhenti. Dan bertambah deras setiap kali aku bertatap mata dengan teman lainnya.
Aku memilih ikut pulang, ketika makin tidak bisa mengendalikan tangis. Jon dan istri, dan O keluar lounge dan mencoba menahanku, memintaku tetap disana.
“I know its tough buddy.” Kata Jon menenangkan. Tapi ya itu tadi, setiap kali tangis berhenti, deposito air mata berikutnya akan jatuh setiap kalli aku beradu pandang dengan mereka.
Kemudian aku tetap memutuskan pulang.
= = =
27 Juni 2013
Cerita Gede bahwa keluarganya akan datang untuk merayakan wisudanya dan melewatkan beberapa hari ke Jepang, langsung memutar otakku bagaimana menutup chapter IUJ ini tanpa begitu nelangsa. Dengan sangat yakin aku mengafiliasi jadwalku dengan anak-anak JDS scholarship. Aku akan menginap satu malam di Tokyo dan melewatkan waktu dengan mereka: Thida, Moe, Urnaa, Abdool, Djahangir, Sanjar, Jamol, dll. Done.
Pun sengaja aku memilih jadwal shinkansen yang sama. Bisakah dibayangkan meninggalkan Urasa di shinkansen sendirian? No. No. No. No way.
Ada satu kejadian yang unyu-unyu nggilani di shinkansen. Saat Djahangir menghilang ke belakang kabin beberapa lama. Lovely menepukku : “Fajar san, coba ditengok Djahangir ke belakang. Sepertinya dia sedang bersedih”.
Heh?
Kuikuti saran Lovely, dan menemukan pria ini mengurut rel yang dilalui shinkansen dengan cepat. Melepaskan pandangan keluar jendela dengan kosong.
“Whas up, brother?” tanyaku.
Tanpa menjawab, Djahangir merangkulku, dan menangis.
Haduuuuhhhhh…. Gimana nggak ikutan yak?
Adegan bertambah “konyol” karena gank cewek datang dan ikut-ikutan. Lovely, Hema dan Hamidah ikutan merengut membuat lingkaran kecil saling berpelukan. Apa-apaan ini? AADC???
= = =
28 Juni 2013
Jadwal pesawat jam 12.00 malam membuatku sudah harus keluar dari Washington Hotel paling lambat jam 8 malam. Aku melewatkan jam-jam terakhir di kamar Abdool dan mengobrol pendek-pendek. Tentang ajakannya ke Tashkent, tentang kerealistisanku untuk tidak bisa berjanji atasnya.
Jam merambat lambat. Kegamangan memuncak di setiap detiknya.
Sampai aku mendengar suara Bolor yang khas di lorong hotel. Aku bergegas keluar. Berpelukan lama, karena Bolor tidak segera melepaskan pelukannya. Adegan yang cukup membuat keributan kecil, membuat Jamol keluar kamar, membuat Bolor menghubungi Urnaa dan Tuul, membuat Urnaa tak berhenti mencoba menghubungi Thida.
Jadilah mereka mengarakku keluar hotel, dan tiga orang bertahan mengantarku sampai ke Station. Bergandeng tangan dari keluar hotel sampai ke muka gerbang Shinjuku Eki. Membuat kerumunan pusat gaul Jepang ini tak kuasa menoleh ke rombongan kecil kami.
= = =
Aku mencoba tidak berlebihan soal ini. Tiga cerita tadi adalah ujung-ujung gunung es dari beratus cerita kebaikan dan kehangatan teman selama di kampus. Aku bahkan sebaliknya menyimpan ketakutan, selayak kenangan Boarding dulu membuatku tersedak beberapa waktu di UGM. Akupun takut kenangan MBA membuatku terselak di periode hidupku berikutnya.
Tulisan ini adalah bentuk syukur literal. Tak perlu takut berlebihan. Aku selalu yakin semesta menyiapkan manusia-manusia terbaik selanjutnya. 

Sloka untuk Laras
(03 November 2011)

Cinta tidak pernah menemukan bentuknya.Setelahmu.
Itu yang aku yakini sampai hari ini.
Peluh yang aku bagi dengan yang lain
Bagiku, tidak mengurangi harapku padamu
Aku akan menunggu,
Sampai lelah mengalahkanku
===
Pesawatku mendarat di Denpasar ketika senja hampir merampungkan tugasnya.
Tidak pernah aku menyiapkan agenda setiap pulang, tapi kali ini lain.
Aku pulang untuk Laras.
Bukan untuk menjemputnya.
Bukan untuk memenuhi harapannya.
Aku pulang untuk merayakan kebersamaannya dengan pilihannya.
Dharma yang terasa lebih nyata untuknya.
===
“Gus, kamu yakin antar meme ke kawinan Laras? Kalo masih capek, meme bisa minta Wayan”
“Yakin. Nggak pa-pa Ma”
Mungkin meme mengkhawatirkan ku.
Mungkin dia merasa masih harus menjagaku.
===
Perjalanan hening kami menuju Singaraja dengan mudah memutar kembali ingatan ke tujuh tahun lalu.
Saat aku masih bersemangat motoran puluhan kilo ke rumah Laras.
Saat kenaifan membuat kami percaya kamilah pemilik masa depan.
Saat kami percaya atas karma akan berpihak pada kami berdua.
===
Tidak banyak yang aku ingat dari pertemuanku dan Laras setelah prosesi pernikahan berakhir.
Aku hanya mengingat betapa dia tidak mampu menatapku lama.
===
Apa yang membuat mu masih berfikir?
Apa yang masih harus aku buktikan?
Sudah kubiarkan tanganmu mengurut penuh setiap jengkalku
Rasanya kita tak sejalan lagi memahami waktu
===
Laras,
Ketika seringkali kisah mengalah pada kenyataan,
Aku menyerahkan diri pada murahnya Jakarta mengartikan kebersamaan
Termasuk pilihan cepat untuk melupakanmu
===
Pesan pendek Laras datang tepat pada saat “King of Convenience” terputar di i-pod ku.
“Aku tidak mungkin se-setia Sinta menunggu Rama.
Anggap saja kita menyimpan percaya. Selamanya.”

1.52 Huh!
(17 Maret 2012)
Aku mencari tahu cinta kemana saja, dari ayat-ayat Rumi sampai meninggalnya temanku kemarin pagi.
Satu berkata tentang sinar dan bayangan adalah tarian dua sisinya,
Satu lainnya menamparku dengan cerita tentang habis jatah dunia, meledek kebingunganku.
= = =
“Engkau tidak ingin menerjemahkannya sederhana Jar?” tanya temanku.
Seperti apa? Balikku bertanya. Engkau pun merumitkannya dengan pilihanmu, jawabku.
“Ah. tidak. aku tidak merasa rumit. biasa saja.”
Kamu mau protes Bapakmu dengan pilihanmu ya?
“pilihanku tidak berusaha menyalak apapun. bahasamu itu lho! aku tidak protes apapun! kebetulan saja pilihanku dianggap nggak biasa” lanjutnya.
Kalau tidak rumit, mengapa Rumi berenergi menulis 45,000 ayat-ayat cinta setelah patah hati?
“Aku tidak mengenal Rumi.”
Baiklah. Adele. Puas?
Dia korban patah hati yang beruntung karena kerumitannya memahami cinta.
“Jar… mana ada yang rumit dari Adele?”
“Nevermind, I’ll find someone like youuuuuuu….” itu lirik anak SMA bukan?
Mosok ditinggal pacar, malah mau cari pacar yang mirip. bego nggak sih?
Huh!
= = =

Kenapa Jar? teman lainnya bertanya.
“Kamu cinta siapa Mas?’
cinta apa pleasure nih?
“Cinta, Mas. C-I-N-T-A”
Ohh… aku cinta monitor.
“Hah?”
“Iya, aku cinta tv, laptop, PS Vista”
“nonton ama maen game maksudnya?”
“Iya.”
Itu bukannya pleasure Mas?
“Bukan. pleasure itu ya perkelaminan. cewek. itu pleasure”
“Hah?”
Huh!
= = =
Jam 1.52 saat aku menengok jam dinding di belakang deretan komputer ini.
Aku percaya kata Rumi bahwa penunggu malam adalah pencuri berkah.
kepadanyalah kebijakan berpihak.
1.52 Saat pesan pendek datang.
“I love you too, and I always do”
Huh!

Remedi
(02 April 2012)

“Sa, Fino meninggal…”

“Sa, … Fino meninggal pagi tadi”

“Sa…?”

“Iya. Aku sudah baca beritanya, Nis”
= = =
Jarak ribuan kilometer antara aku dan Fino tidak menyulitkanku mengetahui kabar tentangnya.
Setiap hari media membawa dirinya ke layar komputerku.
Fino, gitaris muda berbakat, begitu disebutkannya.
Aku terakhir bertemu Fino dua tahun yang lalu.
Saat buka puasa bersama teman kampus. Kami bersalam canggung.
Beberapa lama setelah perpisahan kami. Jauh hari sebelum dia terkenal.
= = =
“Fin, aku tidak sanggup menghabiskan rasa ini.
Ketidak-percayaan yang masih terus bersisa.
Ketidakmampuanku memenuhimu selengkapnya.
Pilihanmu untuk selalu kembali ke obat-obatmu
Dan tidak sepenuhnya aku.
Aku tersiksa. Lebih pada kesedihanku bahwa aku tak mampu
Menjadi alasan bagimu untuk meninggalkannya.
Fin, aku memutuskan pergi”
= = =
Kematian Fino yang mendadak seperti tidak menyisakan alasan untuk kebingungan.
Mereka datang dan pergi. Para pecandu. Semudah itu.
Dan aku tak harus menceritakannya kepadamu.
Tentang bagaimana bisa menaruh hati pada pemuda ini.
Bagaimana dia meyakinkanku dengan kata-kata dan gitarnya.
“Bersihnya kasihmu meyakinkanku masih tersisa asa
Kau datang dengan kebahagiaan yang kuperlukan
Hanya dirimu yang memahamiku dengan cara yang kumengerti”
= = =
Fino merajukku saat aku memutuskan untuk pergi.
“Aku tidak menemukan keutuhan di rumahku, Lisa.
Aku belajar utuh darimu.
Tentang bangun di pagi hari. Dan pulang ke rumah malam harinya.
Aku memaknai keteraturan darimu. Aku sudah berusaha, Lisa.”
= = =
“Lis, kamu masih dengar aku? Halo????”

“Iya, Nis. Terimakasih sudah repot-repot menelponku”
“Ya sudah. Kamu doa’in dari sana yah”
“Iya. Makasih Nis”
= = =
Fin, kamu menghabiskan malammu dengan siapa setelahku?
Fin, kepada siapa kauciptakan lagu-lagu resahmu itu?
Fin, apakah aku tidak cukup berusaha untukmu?
Fin, kamu kenapa?

Cara Kamila
(20 Oktober 2012)

“Apa ya yang ada di otaknya ya Bang? Dia kan sudah jadi laki-laki selama 37 tahun? Ditanya selingkuh kok ngaku! Geblek bener dah!”
Pernyataan barusan datang dari Rian, sepupuku yang baru semester lima.
“Jadi maksud loe, Bang Damen sengaja mengaku? Sengaja nyari alasan buat cerai?”
“Gue curiganya sih gitu Bang. Antara sengaja ama beneran goblok!”
Aku mengambil lagi mug didepanku, sekelebat kulihat Rian sebelum menyeruput kopi hitam yang dihidangkan tante; “Menurut loe mana lebih goblok? Orang ngaku selingkuh atau orang yang nanya?”
“Dua-duanya idiot!” Jawab Rian.
Aku mengamini penuh pemahaman Rian. Menjadi laki-laki adalah tentang lebih sedikit bicara, lebih banyak mencerna, lebih cepat bertindak.
= = =
“Mengapa film-film festival harus bermurah adegan porno dan ber-ending sedih? Mengapa tokoh utama seringkali mentally disrupted? Mengapa alurnya lambat?”
Kamila bangun dari tempat tidur, merapikan kembali kancing-kancing bajunya.
“Pertanyaan yang sama untuk film-film Hollywoodmu toh? Mengapa endingnya bahagia, mengapa alurnya tak kenal diam, mengapa tokohnya sempurna?” Jawabku.
Dengan senyum penuh, Kamila mendekatiku, mencium bagian kiri leherku.
“Aku pulang dulu. Simpan itu dvd-dvd mesum! Nggak malu apa ama pembantu!”
Suara sepatunya lirih menghentak lantai menuruni tangga. Selirih dia menutup pintu depan rumah ini.
Senyap kembali menyergap.
= = =
Tak perlu bersusah-payah mencari biang selingkuh di keluarga besar ini. Bapakku mati dengan meninggalkan dua anak jadah di kota sebelah. Aku terkejut sewaktu tahu bahwa mamakku sebenarnya sudah tahu sejak lama.
“Mamak cukup diam. Wanita itu tidak pernah mengganggu. Bapakmu pun masih pulang. Tak perlulah aku meracau. Dan lebih penting kamu -anak-anakku- tak pernah merasa Bapaknya tak utuh.”
Aku tak bergeming. Untuk apa aku berontak saat mamakku –pihak yang seharusnya paling dirugikan- menerimanya.
Kemudian pemahamanku terbentuk oleh pengertian-pengertian mamakku.
= = =
Kamila tak datang malam ini.
Dia merayakan ulang tahun perkawinannya yang ketiga.
Aku tahu dari kartu yang tak sengaja kubaca.
“Sometime we let our-self to get lost, but our mindful commitment brings us back”.
Pun aku percaya. Menjadi laki-laki adalah tentang panca indra. Aku tak perlu tahu apa isi pikir-hati Kamila.
= = =

Autumn 1.0
Cerita Pasta

ini bukan tentangmu.
ini harus kutegaskan.
ini tentang pasta udang saos keju.
tentang rasanya yang mampu mengalihkan keresahanku.
tentang ternyata betapa mudahnya aku dikelabui keinginanku.
ini tentang botol anggur di depanku.
tentang setengah isinya,
yang mengingatkanku pada apa yang sudah aku sia-siakan.
kesadaran memang jengah menjemput setiap penyangkalan.
disinilah aku terdiam.
duduk abu-abu kursi kayu.
menghadap pelayan restoran yang sibuk sendirian.
aku bertanya,
tentang kemana aku setelah ini.
La Grassa, 11 11 11.
= = =
Luangkanlah waktumu untuk bertanya.
Pada dirimu sendiri.
Hasilnya memang kadang tidak melegakan,
karena perbincangan seringkali berujung pada kesadaran bahwa warna dasar dunia adalah hitam,
dan keindahan-keindahan yang ada adalah sejenis bedak yang rentan memudar.
Inilah yang kutakutkan. Bahwa tidak ada ruang kepercayaan atas kegembiraan.
Dan detik-detik terlalui dengan hanya proses pemahaman terus menerus.
Pemakluman terus-menerus.
Pemikiran yang hanya membuatmu terhenti.
Ini bukan rayuan nihilisme. Ini bukan immoral.
Aku percaya atas hakekat kebendaan.
Aku hanya percaya ada yang mengantar pada keteraturan yang berujung kedamaian.
Aku hanya hadir sebagai bentuk ketidaksempurnaan.
= = =
Aku selama ini datang di penghujung senja.
Entah untuk apa.
Karena sebetulnya aku tidak mendapatkan apa-apa.

Kutemukan diriku terdiam di ujung kegelisahan.
Masih melihatmu melakukan hal yang sama.
Melihatmu sibuk merajah angin.

Omong kosong jika kukatakan ini melelahkan,
Karena nyatanya aku datang pada petang-petang berikutnya.
Berkejar-kejaran gelap dengannya.
Apakah kita ada dalam bayang yang sama?
= = =
kepada semua hati yang bercengkerama dengan resah:
benar adalah ketika rasaku tenang
benar adalah ketika aku memahami kesederhanaan
benar adalah ketika kebajikan mengingatkanku
= = =
mencoba menerjemahkan sepenggal waktu kemarin,
ketika detik terasa cepat merambat,
ketika ruang terasa tak pernah cukup.

Harusnya kusampaikan alasanku
Tentang menghantuimu
Tentang mencoba mengikuti tarikan napasmu
= = =
Menaruh rindu pada apa-apa yang dicium dan dirasa, sebelum ini.
Wangimu setiap pagi. Hangatmu ketika senja.
Ketidakhadiranmu adalah bukti. Atas betapa aku melewatkan sesuatu.
= = =
diamku tak mampu mengurai gelisah.
kusampaikan saja jawabnya pada sepertiga malam.
berharap pada akhir yang tenang.
berharap pada semua kebaikan.
= = =
Aku sedang berfikir akan hidup.
Tentang tawarannya atas kebahagiaan.
Transaksi yang tidak jelas jaminannya ini menuntutku untuk terus percaya.
Karena aku beriman atas sesuatu.

Winter 1.0

Kawan,
Terimakasih untuk meluangkan waktumu mengingatkanku
Atas pemahaman yang bisa jadi benar-benar salah
Mencoba mengerti dari arah yang tak kuduga
Aku tidak membelenggumu dengan cerita panjangku bukan?
Cerita-cerita yang seringkali tidak membawa apa-apa untukmu?
Aku masih boleh datang dengan keras kepalaku?
Masuk kamarmu,
Mensebelahimu membaca narasi-narasi duniaku?
Memaksamu mendengar Rumi sampai Bisri
Menjauhkanmu dari istri dan anakmu?
Menghilangkanmu dari urusanmu?

Hidup tidak mudah kupahami, kawan.
Dan kepada siapa aku datang dan berbagi jika tidak denganmu?
Mana aku tahu jika aku berlari terlalu cepat?
Mana aku tahu aku mengelana terlalu jauh?
aku takut sendirian
karena itulah aku selalu mencoba mengekalkanmu, semampuku
meyakinkanku aku tahu jalan pulang
kembali ke rumah
berteman damai keyakinanku

(MLIC, 14 Maret 2012)
= = =
datang dan pergi, ini hanya soal waktu
aku diingatkan Hafez siang ini
Hafez, aku sungguh tak tahu apa kabarmu.
apakah engkau masih suka makanan korea?
apakah engkau masih temani malam dengan gitarmu?
apakah rokok masih setia dipercayaimu?
bayanganmu samar bulan puasa dua tahun yang lalu.
kala kurasa tak senyaman dulu kita bersalam

Hafez,
aku masih ingat piano di lantai bawah rumahmu
aku masih hafal lagu gitaran kita
aku masih suka kimchi, semenjak kau kenalkan untukku

Hafez,
apakah engkau masih takut gelap?
Jangan kawan,
ini hanya cepat atau lambat sebelum terang yang sebenarnya,
tentang gelap sementara yang menutup bagian dunia.
tenanglah engkau sedari sekarang.
doa kami mengantarkanmu.
(In memoriam: Hafez Agung Baskoro 1983-2012)
MLIC,16 Maret 2012
= = =
malamku cukup waktu menunggumu
sepanjang aku ditemani tawamu
sepanjang aku ditemanimu
sepanjang aku yakin keberadaanmu
aku mampu menunggu satu, dua, tiga waktu berselang
= = =
Aku jejalkan kebohongan-kebohongan pada diriku
Tentang imaji-imaji kosong dan semu
Semua mimpi dan ambisiku
Ada apa di balik kemudahan yang kutemui?
Tak bisa aku memahaminya
Aku tetap ling-lung
Memanggil-manggil kenangan
Berharap untuk kembali
Meletakkan kepalaku di ketiakmu
Melumatmu dari sebelah kananmu
Tertidur pulas setelahnya, menertawakan pagi
= = =
Pesanmu datang sore tadi
menginginkanku berbagi ketidak-sempurnaan dengan benar
menginginkanku mengakui kesalahan secara biasa
mengiinginkanku kirimkan kekhawatiran tanpa curiga
andai tidak ada yang menghalangiku untuk melakukannya
maka sudahlah kulakukan sejak lama.
= = =
mengapa harus melukis hati, sehitam sapuan gelap di luar jendela.
apakah aku tidak cukup membuatmu tenang?
katakan, cerita apa yang ingin kau dengar kali ini?
tentang peri pembawa pagi, atau penjelajah bintang-bintang?
apapun yang bisa mengantarmu tidur, meletakkan resah. menanggalkan lelah.
= = =
Ini tentang berpindah hati
betapa aku percaya ketika Rendra berucap:
“Wahai Dik Narti, aku cinta kepadamu”
sepercaya dia jatuh hati pada Sitoresmi dan Zuraida.
Ini tentang manusia,
tentang kealpaannya melawan lupa.
Ini tentang manusia,
dan ketidak kuasaannya melawan rasa.
Ini tentang aku,
bersama lupa dan kelemahannya.
= = =
“Aku ingin memetik buah cemara,
Dimana bersamanya angin bersemilir lirih menyejukkan.
Dimana bersamanya matahari bersinar seperlunya.”

Itu yang dikatakan saat meninggalkanku.
Aku tidak tahu hutan cemara mana yang dimaksudkannya.
Aku tak pernah tahu bukit sebelah mana yang diinginkannya.

Aku hanya tahu, aku kecewa.

“aku adalah lari
aku adalah si pengecut hati
aku adalah masalah yang harus kau jauhi”

dia mengatakannya berulang kali.
Sampai saat aku kemudian mempercayainya.
Dia pantas pergi.
Aku tak perlu mengharapkannya lagi.
===
aku memanggilmu,
saat angin memutar butiran salju di di depan sekolah.
membayangkanmu,
sedang melepas tawa ke awal pagi.
Kekasih,
tunggu aku enam purnama.
aku akan datang membawa cerita.
tentang bagaimana rindu bisa menyiksa.
===
PS: Rendra, aku pertama kali mengenalnya dari Kakak-ku.
Adalah mungkin Kantata Takwa yang memperkenalkannya,
karena kakakku sungguh mencintai musik dan pemberontakan mereka.
Selanjutnya aku mengenal Rendra dari mitosnya, tanpa mencari tahu siapa dia sebenarnya.
Dan ketika aku berkesempatan membaca sajak-sajaknya,
aku yakin Rendra adalah manusia biasa.
Kemanusiaan-lah yang mampu mengartikulasikan hal biasa di sekitarnya.
Kegundahannya atas tetangga.
Kenyamanannya bersama sahabatnya.
Kemarahannya kepada kemiskinan.
Protesnya kepada Tuhan.
Birahinya kepada wanita.
= = =
Beberapa karya Rendra dalam “Sajak-Sajak Sepatu Tua”:

Kami disatukan satu gelora, kesunyian dan duka,
Maka dalam tatapan yang pertama telah diketahui semuanya.
(Sungai Musi)

Aku tak ingin ia meremehkan rumah ini
Dan aku tersinggung pula
caranya minta aku pindah ke Jakarta.
Yang terpenting bukanlah tempat terbaik tetapi tempat tercinta.
(Rumah Nyonya Abraham)

O Allah,
burung gagak menakutkan.
Dan kelaparan adalah burung gagak.
selalu menakutkan.
Kelaparan adalah pemberontakan.
Adalah penggerak gaib.
dari pisau-pisau pembunuhan
yang diayunkan oleh tangan orang-orang miskin.
(Doa Orang Lapar)

= = =
Takut adalah ketika sadar bahwa
akhir kita bisa berbagai rupa
benarkah aku bisa menjagamu,
Sampai ujung perjalanan nanti?

Aku peduli
Aku disini
Aku temani
= = =
Aku berharap terang bulan malam ini
Memihakku , mengijinkanku melihatmu
= = =
Aku merasa
Masa depan sedang menulis dirinya sendiri
Tak menyisakan ruang berkompromi
Apa?
Ini bukan selalu tentangmu!
Aku bertingkah
bukan karena kehilangan anak panah
aku bertingkah
untuk melawan tarikan bumi
aku harus berdiri, atas pilihan sendiri.
= = =
Aku berlindung di balik kekuatanMu
Sang Maha Pemilik Dunia
Aku masih terhenti di titik pengertian ini
Dimana aku tak boleh menafikan segala kebesaranMu
Tuntun aku
MencintaiMu selayaknya, seapa-adanya
Kusebut namaMu di setiap awal dan akhirku

Spring 1.0

Bunda pergi membawa harap
Setiap kali dia melangkah keluar pintu rumah kami
Bahwa hari ini Tuhan bermurah hati memberi rejeki

Bunda datang membawa doa
Setiap kali dia masuk kedalam rumah kami
Bahwa aku dan kakakku tak berkesusahan mencari bahagia

Bunda hapal tabiat alam,
karenanya
Bunda sibuk bekerja
Bunda sibuk berdoa

Bunda berbaring saat ini
Diam berkesulitan
Tapi bukan bibirnya
Bunda tetap sibuk mengharapkan kami- mendoakan kami
Bunda tak lelah menyusui kami

Tidak kemarin
Tidak hari ini
Tidak esok nanti
Bunda tak pernah menghitung hari
= = =
Menjemput pagi tidak pernah semudah ini.
Kopi. Dan sebentuk janji di awal Juli.
Menjemput pagi tidak pernah seindah ini.
Kamu. Dan seluruh duniamu.
= = =
aku ingin menjagamu
menjadi bagian cerita bahagia dan sedihmu
sebab sejak teryakinkan kemarin lusa,
aku siap menerima rapuh dan kuatmu
sampai terlupa puji dan cerca diluar sana.
= = =
Paham bahwa tangis adalah bayang setiap tawa
Maka aku ingin kembali pulang
Perbaiki penggalan waktu belakang
Meyakinkan terang, menghilangkan bayang kesedihan
Untuk membuatku lebih tenang
Untuk tidak mencarimu setiap malam
= = =
Aku mencari tahu cinta kemana saja,
dari ayat-ayat Rumi sampai meninggalnya temanku kemarin pagi.
Satu berkata tentang sinar dan bayang hitam adalah tarian dua sisinya,
Satu lainnya menamparku dengan cerita tentang habis jatah dunia,
menertawakan kebingunganku.
Tetap, aku memaksa cinta menerangkan logikanya.
tentang mengapa datang dan pergi sekehendaknya.
= = =
Pertarunganku satu; menyisihkan semu.
Dan kamu, menawarkan abu-abu rasa.
Tak pernah jelas hitam-putihmu!
Maka aku berikrar tentang menikmati jalan ini.
yang tidak selalu penuh sesak orang.
yang tidak selalu terang-benderang.
= = =
Aku menjanjikanmu riak dan diam dalam batas inginmu.
Mari bermain.
Aku dan manipulasiku.
Aku dan berantakanku.
Mari menyusun pecahan nafsu.
= = =
what do u belong to?
rotten leave at the end of autumn or the thickness of winter night?
let me preserve your silence
push me in a safe distance
= = =
memuja malam,menghamba siang, melantunkan kisahmu,
engkau adalah bagian pencarian atas kemanusiaanku
cerita tentang pergi,kembali dan sesekali terhenti.
pada suatu ketika nanti kita habiskan peluh ragu menemukan ujung harap yang tak henti ini
= = =
Aku
Aku tak lebih membutuhkan
Hantaran sarapan di dua-tiga pagiku setiap minggu

Aku
Aku tak lebih membutuhkan
Kemampuanmu menangkap kesedihanku

Aku
Aku tak lebih membutuhkan
Rajukmu memintaku tinggal satu malam lagi denganmu

= = =
Rindu
Adalah ketika setiap ketidak-sempurnaan dengan mudah
membawa kenangan kembali kepadamu
Karena sepanjang aku mengingat,
Denganmu, malam tak pernah senglangut ini
Denganmu, malam tak pernah sepekat ini,
Denganmu, malam selalu cepat bersahabat.
Apakah aku perlu kembali
ketika aku tak pernah sesungguhnya pergi?

Tokyo, 28 Maret 2012.
= = =
Aku mempertanyakan kemampuan hidupmu
dari caramu meloncati waktu
Nafasmu pendek untuk mencerna,
Nafasmu pendek untuk mendengar,
Nafasmu pendek untuk bekerja.
Aku mempertanyakan kehandalanmu
dari mudahnya larut terbawa nafsu.
Aku bertanya!
Karena malammu masih penuh resah.
Karena matamu tak pernah teduh.

Tokyo, 28 Maret 2012
= = =
When every question leads me to cul-de-sac
When the thickness of the night erode my conviction
I had come as far as this, trying to define you
I had come as far as this, trying to portray you
I drained my self

(08.15 pm, MLIC, April 11, 2012)
= = =
Ketakutan membuatku lebih membutuhkanmu
Seperti saat ini.
Saat dia menjauh.
Saat dia memilih lain.

Aku kosong dengan pendek pikirku.
Aku kosong dengan berlebihan rasaku.
Aku terdiam, saat dia menjauh
Aku terdiam, saat dia memilih lain
Aku membutuhkanmu lebih saat ini.

(09.00 pm, MLIC, April 11, 2012)

Autumn 2.0

Aku susah diam. Tidak juga di tengah malam.
Aku mengeluh. Atas setiap ketidakmampuanku menguasai mulut besarku.
Padahal malam sempurna menjelaskan keheningan.
Aku harus percaya. Bahwa mungkin ada yang bisa terselesaikan dengan diam.
= = =
kekasih setiap pendosa.
pemberi janji yang percaya.

Wahdi fi dhulmati layli
Fi wahshati darbi

Hammi yuthqiluni
Dhanbi yu’limuni*

aku merindu.
menemukan kesederhanaanku.
menemukanmu.
bertanya beda hijrahmu rihlaku.

Wahdi, ad’uka wa arju
Min dhanbi ashku
Mali siwak
Ana fi himak*

tanpa kecewa, tanpa lupa
berserah diri
utuh. tanpa menawar waktu.

*penggalan syair sami yusuf, munajat (2005)
dengan arti yang berbeda.
= = =
bisikku dalam bisu
ucapku dalam kelu

oh semesta,
mengapa terus memanjakanku dengan prasangka
menghitung nikmatmu, tanpa menghamba
mencium meraba merasa dosa

tentu saja aku merindu
atas setiap fitrah sesungguhnya aku
tentu saja aku merindu
berpulang ke surga bersungai madu

diammu sahihkan angkuhku
munajatku tak lebih dari mengingatmu

apakah engkau mencariku
saat aku berlari menjauhimu?
= = =
terang benderang ini tidak selalu membantu
tenangkan aku di setiap bolak-balik hati
ajari aku menggauli sabar dengan benar
temani aku di setiap jalan yang belum penuh diyakini
= = =
Cinta, bisakah engkau menunggu?
Mengapa selalu datang terburu-buru, seperti musim dingin di negeriku?
Beri dia waktu, paling tidak sampai akhir Minggu
untuk menjawab sekehendak Kamaratih memandu
= = =
mendengar sayup cerita tentangmu
aku tahu aku belum memadamkannya sempurna
membaca setiap gerakanmu
mengingatkanku aku belum menyerah sepenuhnya

setiap penggal nyala romansa
dimana kamu ada di dalamnya
aku terlarut hanyut
= = =
jalanan malam penuh dengan induksimu atas film Meksiko yang kita tonton sehari sebelumnya,
pagi serasa lebih cepat datang di kamar kecil pandega duta,
bayang samar sop mamamu masih terasa,
karena pesan cinta dari Jogja tak pernah sesungguhnya sirna.
= = =
dengan sembilan bilangan kata
dia merumuskan pemahamannya kepadaku
tentang bangku tengah kehidupan
tentang bersyukur dalam diam

kembang kempis bahagiaku
pasang surut resah hatiku
riuh rendah setiap pertanyanku
harusnya tak mengaburkan awal-ujung hidupku
begitu dia menjelaskannya
tak perlu lama waktu
untuk membuatku banyak bercerita
karena aku mudah percaya
= = =
aku bertanya kemana malam harus bermuara?
ke riuh rendah alam sadarku?
ke sajadah yg rapi tersimpan di almari?
atau pelukan gelap menunggu pagi.
rasulku, kasih yang tak sampai
adalah sadar bahwa cintaku tak terbuktikan dengan laku setiap wajib dan sunnahmu
ya kekasih, aku mengirim rindu
di balik hitam abu-abu putihku
= = =
engkau membantu menggambar dunia dengan warna-warna pucat
dengan senyum tak sempurnamu, jawaban tak utuhmu
selepas mei tahun ini.
bahkan hanya dengan mengingat
membuatku ingin berputar arah, membakar setiap khianat
aku dan engkau, berlomba memuja hipokrasi

= = =
lorong kamar menyapamu dengan tiada,
hijau daun di seberang jendela perlahan memucat,
dingin berkuasa atas pagi dan petang.
engkau kembali digelayuti sendiri.

Winter 2.0

gadis muda mencoba merasa, meraja dunia
bersolek lengkap dengan pemahaman dirinya
bersiap dengan segala manis-kecewa
ini adalah caraku menjaga keberlangsunganku, katanya
= = =
karena tidak mudah menemukanmu
yang mampu merayakan setiap dangkal dan sakitku

saat tanya hanya merapatkan kecewa
aku menyusun rindu, bertepian tabu

aku mengutuk setiap ketidak-mampuanku menahanmu
= = =
rumah,
adalah keluh kesah telanjang
tempat aku menggambar abu-abu pikiran

rumah,
adalah pasang surut kasih-sayang
dunia kecil pengkhianatan

aku pulang,
demi aku, demi kalian.
= = =
aku takut mati, atas hilang arti
aku inginkan setiap ujung air mata
tanpa sia-sia, tanpa sisa-sisa
aku adalah gambar dunia
dengan banyak tanda tanya
= = =
Aku tidak berputus asa mengenang jalan lalu, sendirian.
Aku menemukanmu bergembira bercerita tentang lusa.
Aku menemui mu kemarin, hari ini, esok.
= = =
tak mungkin aku menunggu prenjak berarak kicau di musim ini
ah, tak masalah.
aku menggantinya dengan gagak hitam yang sendirian di tengah jalan.
tak peduli musim, tak pedulli setan
semua pertanda alam mengarah kepadamu.
= = =
salam mualaik,
aku mengirim doa untukmu
pada setiap rindu yang tertahan
yang perlu kuulang-ulang

salam mualaik,
aku berbisik hangat pada setiap
janji manis masa depan

salam mualaik,
aku mengenang setiap kemenangan
juga kelelahan
yang tertinggal di ujung cikarang
= = =
Aku hanya mampu mengingatkanmu,
Atas bagian perjalanan yang indah
Di atas keluh kesalmu
Di atas lelah kelumu

Aku tidak bisa memaksamu,
Mencerna sempurna,
Menghantui pilihanmu.

Aku adalah ragu,
Yang menempati semenanjung mata,
pikir dan hatimu.
= = =
malam ini membawamu samar,
menawarkan perasaan yang terlanjur keruh.

sungguh aku ingin menawan waktu,
memberhentikan dirimu di kamar ini.
enam jam saja.

karena aku tak tahu esok siang,
apakah engkau masih datang,
menyimpan keajaiban.
= = =
aku segan bertanya, tentang kemana terang setelah senja datang,
aku memilih jatuh pada pemahamanku,
bahwa dia terperangkap hujan.

aku segan bertanya, tentang kemana aku setelah engkau hilang,
aku memilih diam dalam ketidak-tahuan, bahwa aku setengah karam.
Spring 2.0

Di setiap cerita kenaikanmu,
Aku masih mengangguk ragu
Mengapa engkau memilih kembali kepada kami ketika tawaran abadi menghampiri?
Tidakkah bersanding dengan Tuhanmu adalah tujuan pengabdianmu?

Kekasih Hati,
Mengapa engkau menyebut ibunda mu tiga kali sebelum bapakmu?
Rahasia apa di telapak tangan dan kakinya?

Ya Mualim,
Mengapa engkau tidak makan dan tidur lebih layak dengan kesalehanmu
membangun istana megah dari setiap kemenangan
memintaku harus memerangi diriku sepanjang waktu?
Apakah engkau paham setiap serakah dan licikku?

Ya Muhammad, segala rahmat untukmu
Aku mengucap rindu untuk setiap pertanyaan di kepalaku
= = =

I gather all courages,
to fly, to leave this hut
sensing next chances
to change a stranger into a lover.
= = =
Kepada setiap pecinta, sang peragu, sang pemimpi.
Ayat-ayat alam melantun sama untukmu:
Bulan yang bertasbih sendu setiap malam,
Fajar yang setia datang mengganti di awal hari.

Aku tidak akan bertanya mengapa engkau menerjemahkan berbeda.
Akupun berdiri dengan pemahamanku yang rapuh atasnya.
= = =
aku menyimpan seluruh percaya
pada kebajikan yang akan berbalas sama,
meluruhkan semua keterancaman tak beralasan.

aku menaruh harapan
di setiap kalam kalam yang menyembuhkan,
bahwa rasa yang terpelihara ini mengarak malam dengan tenang.

= = =

It was in a humid summer,
When you taught me the misery of an absence
It was in the face of autumn,
When you showed me the grace of faith
It was in an endless winter,
When you echoed the thought
It will be in late spring,
When you finally leave me the lesson learnt.
= = =
in every untold story,
i folded you in the edge of my eye.
in every restless pray,i whisper you in the tip of my lip.
i knit day and night with your sacredness,
mystified in every thought,
keeping me still in the middle of unknown,
reminiscing all the flame.
= = =
In every sorrow gaze I sensed,
I give you my nights,
Ease you to cut grief into thin pieces.
In every unwanted loneliness,
I recite you thousand stories,
Pour you moonlight, bringing you dawn.
I offer you nothing but trust.
I utter you nothing but consciousness.
= = =
lugasku terlena,
tak setiap percaya berbalik sama.
tak apalah, aku terlatih di setiap alpa,
untuk cepat dan ringan
mengganti kecewa dengan miris tertawa
= = =
aku seharusnya bertanya
apakah aku menghamba dunia seutuhnya
kuresahkan esok lusa
dan masih menduga-duga malam sebelumnya
takut ini harusnya menyadarkanku
tentang tak berdayanya ragaku
tentang memalukannya sombongku
= = =
in every fake inclination,
i dream a day or two
when your clear voice comes
guiding me back home:
my lord, my sanity, my universe.

di setiap keterikatan palsu,
aku bermimpi atas sehari dua hari
suaramu jelas terdengar datang,
membawaku pulang:
tuhanku, kesadaranku, semestaku.
= = =
pengalamanmu tentang kehilangan percaya,
kehilangan idealisme adalah urusanmu.
tak perlu memaksaku turut setuju.
kebenaranmu aku tangguhkan.
selayak aku tahu engkaupun masih mempertanyakannya.
= = =
Mengurut kenangan dari utara selatan Jogja
Pesanmu tentang mengulang jalan
Tak pernah menggersang usang
Aku memanggil rindu di setiap putaran lagu Sheila, Padi dan Dewa.
= = =
Ini tentang aku yang membiarkan nafsu di setiap celah yang menganga.
Aku tahu pasti tentang kita yang tidak akan kemana-mana.
Ini tentang kesalahan berdua.
Tentang membiarkan liar yang berjaya.
Kutunggu engkau di tempat biasa.

= = =
alunan cerita abu-abuku
diantara sayup mantra-mantra ibu
bebauan kampung halaman dan siluet merah legam hidupnya,
menjagaku memegang setiap harap dan percaya.
= = =
Kamu harus tahu, ketika kekhawatiranmu membunuhmu.
Tentang selalu bertanya kemana setelah ini,
Bahkan ketika kereta mengarah rumah.
Kamu harus ingat, bersyukur adalah tentang sekarang.
Tentang kesanggupan merayakan apa-apa disebelah kanan kirimu.
(Tokyo-Urasa, 1 April 2013).
= = =
Aku berharap pada manusia seperlunya.
Saat senyummu tak berarti setuju. Saat diammu adalah keluhmu.
Aku memilih pilihanku, dengan semua cerentang tanggung jawab di belakangnya.
(Fukuoka-Tokyo, 30 Maret 2013)
= = =
Di tengah kerumunan orang yang kesulitan menyederhanakan hidup,
aku terbawa artikulasi palsu.
Rihla adalah caraku bertanya apa mauku.
Rihla adalah caraku membaca pertanda dunia.
Untuk kembali berkerumun,
Untuk kembali saling melempar palsu.
(Fukuoka, 28 Maret 2013)
= = =
Digugat logika,
Dibendung norma,
Diteman hampa,
Cinta tak pernah putus asa.
(Nagaoka-Kyoto, 24 Maret 2013)
= = =

Poetry Project
“There are certain things that are fundamental to human fulfillment. The essence of these needs is captured in the phrase “to live, to love, to learn, to leave a legacy”
-Stephen R. Covey-

For me,
digesting the world through any kind of writing activity -occupying me with my own thoughts and emotions- is one of the way to live, to love, to learn, and to leave a legacy.
There is no doubt, Here and Now, with tens of nationalities and perhaps hundreds of ideologies, is the right place and time to learn by asking this diverse community to interpret one of my poetry,
I learn to be less self-absorbed. Enrich and Respect every differences.
Thankyou so much for all contributors.

1)
memuja malam, menghamba siang, melantunkan kisahmu,
engkau adalah bagian pencarian atas kemanusiaanku
cerita tentang pergi, kembali dan sesekali terhenti.
pada suatu ketika nanti kita habiskan peluh ragu
menemukan ujung harap yang tak henti ini

2)
worshiping the night, enslaved by the day, reciting your story
you’re a part in searching my humanity
a narration of leaving , returning and occasionally stalled
later, in certain time, we shall end this sweat of doubt,
found the edge of infinity

with the contribution of Zink, Jonathon Steuart (USA)

3)
Àimù de yèwǎn, nú yì de bái tiān, bèi song zhe nǐ de gù shì
Nǐ de cún zài shì wǒ zhǎo xún dì rén shēng de yī qiè
Líbié, fǎnhuí de pang bái, ǒu’ ěr ting zhì
Zài dìng shí jiān nèi, jié shù zhè yī qiè de yí wèn,
Zhǎo xún dào wú qióng de qián jìn
with the contribution of Xin, Zheng (People’s Republic of China)
– note: rewritten into Roman characters which couldn’t reflect Chinese phonetic-

4)
Din ke pinjare me bandh me raat ko pujata
Meri is maanvata ki khoz ka tum bhi ek hissa ho
Kahani he ye chodhane ki, lautani ki, kabhi kabhi raah me rukane ki
Par ek din aayega jab yeh maayjaal se nikalkar anant ki or badhenge,
anant ki prapati hogi

with the contribution of Hemlata Jaitawat (India)

5)
Boocha rattikarn, sung pai pae tor tiwakarn, yarm bork klao rueng rao kong jao
Jao kue suan nung kong karn kon ha tua ton kong kar
Karn lao khan kong karn la jark, huan kuen lae took yud yang pen bang kra
Jark nee, sak wan, rao ja yud kuam kueb klang nee
Lae kon pob kuam pen ni rand

with the contribution of Thisana Kerdnaimongkol (Thailand)

6)
mathakayan ape, oba ha ma Diwa raa karai
mahada thula sakman namudu
hamuveem, venveem, matha wada pelavee mahada nirathuru sithannemi
uda wana heta dine apa athara paratharaya yavi viyakila
ekvemu edine yalith aparimitha uu… sabama uu… sensehasin…..

with the contribution of Senanayake, Wanni Achchi Chamari Sandeepani (Srilanka)

7)
rati lai prathana din ko dasi timro katha sunaudai
meo manabata khojn ko lagi timi euta vag ho
Bichod ra milan fix nai hunch
anta ma kunai nischit samaya ma hami le yo dubidha lai tyagnu parch
ra ananat ko cheu vetinch

with the contribution of Shrestha, Binti (Nepal)

8)
Udriin bodol, shuniin zuud, chinii tuuhiig uguulne
Chi bol minii zurh setgeliin negen heseg
Ezguirliin huurnel todorhoi agshind hojim ni uye uye sergej mun sarnina
Ene ergelzliin berhsheeliig bid etseslej hyazgaarguin uzuuriig olov
with the contribution of Surenkhor, Uranchimeg (Mongolia)
– note: rewritten into Roman characters which couldn’t reflect Mongolian’s phonetic-

9)
Nya twe ko kha sar yin, nay’ twe mha kyun pyu yin, min a kyaung myarr thar yay yut nay mi khae.
Min har nga’ ba wa ye’ a seit a paing ta khu phyt mhann ma thi phyt lar khae tal.
htwet thwer lite, win lar lite nae, ta kha ta kha lae twel catt nay khae tharr.
Nga toe’ hna yauk kyar ka cho myein tae than tha ya twe har thay char tae ta nae’ hmar tawt a sone thet thwer hmar par.
A sone ma shi tae pyaw shwin mhu ko shar twe thwar tae a hti pot…

with the contribution of Ngu, Thida (Myanmar)
– note: rewritten into Roman characters which couldn’t reflect Myanmar’s phonetic-

10)
Tunge bas iip, kunge kul boly, senin angimendi kaita okyp shyktym
Sen menin adamgershilikti izdenudin bir boligisyn,
Omirdin bayany, kaytip kelip kezde toktap kaldym
Sodan son, bir kezde, kymandanudyn terin toktatyp
Sheksizdiktyn shekarasyn tauyp aldym

with the contribution of Seisen, Adilet Dauletkazyuly (Kazakhstan)

11)
Nhu ngai dai mong dem toi, toi ngam lai cau chuyen oe em
em la mot phan chua trai tim toi
trong cau chuyen chua chung ta, ra di, tro oe oa de roi lai cach tro
nhung toi biet uao ngay nao do, khi ta quen di nhung dang cay nghi ngo
chi con lai thin yeu uo han

with the contribution of Le, Hang Thu (Vietnam)
– note: rewritten into Roman characters which couldn’t reflect Vietnamese phonetic-

12)
Je voue un culte à la nuit, esclave du jour, racontant ton histoire,
Tu fais partie de la recherche de mon humanité
Une histoire de départ, de retour et parfois de retard
Plus tard, à un certain moment, nous allons terminer cette sueur de doute
Trouvant le bord de l’infini

with the contribution of Debeauvais, Charlegne (France)

13)
memuja malam, menghambakan siang, menceritakan ceritamu
kau sebahagian dari pencarian diri ini
penceritaan tentang pergi, kembali dan kekadang terhenti
nanti, suatu masa, kita akan menghentikan peluh keraguan
yang ditemui di sudut tiada batasan

with the contribution of Bohri, Hamidah (Malaysia)

14)
alabando la noche, esclavo del dia, recitando tu historia
eres parte de la busqueda de mi humanidad
una narracion de una partida, de un regreso y de vez en cuando en espera
luego, a su debido tiempo, pondremos fin a este sudor de duda,
encontrado el limite del infinito

with the contribution of Rodriguez, Nelson Miguel (Ecuador)

15,000 km cinta

(prolog)

Musim kini berlalu,

Berbagai cerita merayu.

Berpijak di malam yang bertalu,

Masih ku memikirkan dirimu.

Hari ini sayang, aku akan pulang.

Berlabuh di dekap cintamu…

(Andien: Pulang, 2010)

***

Salju resmi menutupi kampus sejak beberapa hari yang lalu. Ini waktu yang tepat meninggalkannya.

Kumpulan remahan es yang indah secara visual ternyata tidak selalu menyenangkan. Menunggu bus 20 menit di suhu dua derajat, berteman angin dan butiran salju yang kadang mampir misalnya. Atau ketika kamu memilih sepatu kets dan bukan boot, membuatmu merasakan air tembus ke kaus kaki.

Ini sudah waktunya pulang.

***

Aku tidak menyangka akan sedramatik ini. Sereflektif ini. Sekangen ini  pada apa-apa yang ditinggalkan. Aku pikir dengan pengalaman berpindah-pindah hati dan lokasi sejak kecil, aku akan mampu menguasai diri.

Ternyata tidak sepenuhnya benar.

Mungkin ini hanya masalah butuh waktu lebih lama untuk menemukan keseimbangan baru. Walaupun selalu tersisa kecurigaan lain, tentang pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Tentang menerima kesalahan, ketidak-sepahaman.

***

Aku merencanakan “Safari Ramadan dan Lebaran 2011” kemarin semata untuk berpamitan secara monumental kepada orang-orang terkasih sebelum berangkat ke Jepang meneruskan studi S-2, yang tidak aku sadari bahwa pertemuan-pertemuan itu menyimpan nasehatnya.

Pertemuan dengan orang-orang terdekat yang kemudian menyadarkanku atas cukupnya perhatian dan cinta yang aku butuhkan.

Lalu mengapa aku meninggalkannya?

Karir yang “baik-baik” saja, limpahan perhatian yang “baik-baik” saja, aktualisasi yang “baik-baik” saja.

Aku harus pulang, untuk menyelesaikan keresahan ini.

Mencari jawaban sepanjang 15,000 km cinta.

*****

(bagian 1)

Semua resah hati manusiamu
Untuk membagi kisah atas nama cinta
Derai air mata di setiap sujudmu
Seperti tak pernah cukup untuk menjagaku
Kau hembuskan ayat-ayat cinta untukku
Di tengah terik matahari dan dinginnya malam
(Sherina: Jalan Cinta, 2009)
***
Gede mengkonfirmasi lagi jam kepergianku. Kali ini lebih akurat. “Pergi jam berapa?”, tanyanya.
– Jam 6.
“Naik Shinkansen yang jam berapa?”
– Jam 6.22.
“Pesawat jam berapa?”
– Pesawat gue dari Haneda tengah malem, Gede… jawabku dengan intonasi sudah mulai meninggi.
“Ohhh… Jangan lupa beliin pesenan gue kemarin yak? Imboost, ama Tolak Angin juga!”
Nih anak kadang berisiknya lebih-lebih dariku. Mungkin bawaan anak pertama memang begitu. Aku memperhatikan beberapa teman yang lahir paling awal di keluarga punya karakteristik serupa; berisik, banyak nanya, banyak ngatur.
Gede. Nama itulah yang beresonansi paling kuat selama tiga bulan terakhir. Mau tidak mau sepertinya. Hanya kami berdua WNI di tengah puluhan identitas negara yang berbeda di kelas MBA ini. Bersinergi atau merana sendiri, begitulah kira-kiranya.
Aku mengenang bagaimana asrama SMA-ku dulu mengakselerasi proses pertemanan, proses yang biasanya makan waktu lama untukku. Dan di sini, kedua hal di atas –berada di kelas sama, dan tinggal dalam satu asrama- membuat proses saling mengenal menjadi super exspress, untuk standardku.
Tapi aku tidak berhenti di di pemahaman sederhana seperti itu.
Pada akhirnya kualitas pribadilah yang menentukan. Dan aku menemukan anak ini, paling tidak sampai hari ini, berbagi pemahaman yang sama: friendship values, professional soal duit, sama-sama suka menonton film, dan ini yang paling menentukan: melankolis.
Ya, aku menemukan kelembutan Bali di balik ketengilan Trisakti. Melankolis ala Jawa-Bali adalah penting untuk menterjemahkan setiap kata yang tak terucap dan setiap gerak tubuh yang menyimpan arti.
Perjalanan singkat kami berdua tiga hari dua malam di Tokyo akhir November lalu juga menjadi momentum. Kami belajar mengenal satu sama lain secara cepat.
***
“Jar, si Grace masih belanja di supa. Dia nggak bisa ikut ke stasiun kayaknya” Kata Gede.
“Ohhh… nggak papa lah“.
Perkenalkan: Princess Grace Kamilla Noer.
Alay nggak namanya? Hihihihi. MasyaAllah, bukan. Bukan mencela nama pemberian orang tua ya. Cuma agak shock ada nama Princess. Semacam Syahrini.
Gede bilang: nih anak pasti sering di-bully waktu sekolah gara-gara namanya.
Hush!
Menjadi pelajar paling muda di kontingen Indonesia di kampus ini, Grace percaya diri bertransaksi dengan teman lain yang sudah om-om. Lima sampai sepuluh tahun lebih tua darinya.
But it just the way she is.
Dia bercerita tentang kebiasaannya berteman dengan laki-laki dan berbagi standar perilaku yang sama. Buktinya? Aku hitung, dia adalah perempuan kedua setelah Eby yang percaya diri kentut di depanku. Wong edan.
Apa yang kamu bagi dengan anak ini, Fajar?
Ehm, kebiasaannya menulis aku yakin melatih kemampuannya berartikulasi dan peka melihat sekeliling.
Mari tengok perbincangan singkat tentang topik “pacaran pake hati” yang akhirnya menjadi bumerang balik ke mukaku.
Kami berbincang topik panas ini suatu ketika di warung ramen dekat pom bensin sekitar stasiun.
Warung ramen yang dimiliki sepasang suami-istri, hangat karena menyediakan tatami lesehan yang dilengkapi komik dan majalah beraneka rupa.
Suatu waktu seharusnya menjadi giliranku setelah Gede keluar dengan cerita sedihnya dan Grace dengan cerita mirisnya.
“Giliran loe yang cerita dong Jar” kata Gede.
Aku geleng kepala.
“Kenapa sih Jar, susah banget? Loe masih sayang?” pancing Grace.
“Gak, gue nggak ada cerita” Jawabku.
“Dia udah nikah juga? Loe ditinggal kawin?” Gede bertanya lagi.
Aku cukup menggeleng kepala. Tanpa suara.
“Ayo dong…” sambil tangan Grace mencoba meraih bahuku.
Aku menghindar, berkelit ke belakang.
“Udah De. Dia nggak mau ditanya. Dia mundur waktu gue coba sentuh dia. Artinya dia nggak mau cerita, De.” Kata Grace
.
“Jar, if you cannot share, you will never move on!!!” lanjut Grace
Nice observation, kiddo!
***
Petang itu Gede berbaik hati mengantarku sampai stasiun. Sekalian makan malam, katanya. Apapun itu, he impressed me. Thank, brother.
“Jar, si Grace ketinggalan bus jemputan. Jadi dia nyusul kita ke stasiun dari supaa”
“Heh?”
Gede mengejutkanku dengan informasi barusan. Nggak terlalu mengejutkan sih. Grace memang kadang careless. Perceiving kind of girl. Grusak-grusuk.
Rejeki memang tak kemana. Aku berangkat pulang ke tanah air komplet diantar dua wajah baru ini.
***
20 Desember 2011
06.15 pm, dingin dan sepi di Urasa.
Pelukku ke mereka adalah sebuah terima kasih yang tak terucap, rasa percaya yang mulai tertanam dan cinta yang seringkali tertahan.
Ya. aku mungkin sudah menemukan separuh jawaban perjalanan ini bahkan sebelum dimulai.
See you soon guys!

(bagian 2)

21 Desember 2011
Jakarta menyambutku dengan hangat. Literally hangat. 25 derajat celcius berbeda dari Urasa.
Langsung kutekan angka yang sudah kuhafal di luar kepala. Alasan besar mengapa aku pulang: Ibuku.
Lalu kemudian apakah muncul bahasa halus dan tertata?
Tidak juga.
“Bu, Fajar wes mendarat”
“Mendarat dimana?”
“Yo Jakarta lah”
“Lho katane Beijing dulu?”
“Jakarta dulu, Ma… urus visa China. Baru pulang Tokyo via Beijing”
“Ooooo….”
“Kapan sampe rumah?”
“Sabtu jam 1 siang”
“Jam berapa?”
“Satu”
“Iya. Sabtu, jam piro?”
“Satu Mammmmmmmmm…. Siji!!!!” geregetan aku menjawab pertanyaan yang berulang.
“Ohhhhh….”
Dan begitulah. Aku tak pernah kuasa tidak berintonasi tinggi ke ibuku. Hobi sepertinya.
Oh, Jakarta… I’m coming.
And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two “I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that
I just wanna go home
(Michael Buble: Home, 2005)
***
Mbak Rini di seberang telepon dengan gaya bilang:
“Jar, pesan tempat di Union ya. jam 4.30. Gue yang bayar!”
Aku pernah bercerita di tentang betapa Mitsubishi bersenyawa baik denganku.
Aku sayang perusahaan ini. Mungkin bukan perusahaannya. Aku terhanyut orang-orang di dalamnya.
Dan memasukkan agenda Mitsubishi ke kepulanganku sebetulnya ingin mengklimakskan apa-apa yang pernah aku punya.
Aku ingin mencari tahu.
Mencari tahu mengapa aku takut berpisah dengan perusahaan ini. Mencari tahu ada apa dengan termangu sendiri di depan kantor pusat Mitsubidhi di Marunouchi, Tokyo.
Mencari tahu mengapa dengan bodohnya aku mengangkat telepon kamar dan menyapa “Halo, Mitsubishi” di awal-awal masuk kampus.
Kami berkumpul tepat jam 4.30 di café baru ini. Café yang konon menjadi langganan Luna Maya nongkrong.
Ahhh, belum beruntung, aku tidak bertemu dengannya hari ini.
Aku hanya bertemu pemain sinetron yang tak kukenal namanya itu ada di sebelah meja kami.
Baiklah, apa yang didapat dari rendevouz kali ini?
Ada Pak Sammy, Mbak Rini, Bu Sita dan Bu Har berkumpul.
Masih, kami bergosip tokoh yang sama. Topik yang sama. Hal-hal yang selalu menyenangkan kami sebagai penonton, bukan pemain.
Siapa yang mau menjadi pemain episode panjang dan dramatis? Lebih enak memperbincangkannya daripada memainkannya.
Perlahan, ketika cerita beranjak ke peristiwa dimana aku tidak terlibat di dalamnya, perlahan pula aku sadar bahwa aku bukan bagian Mitsubishi lagi. Kesadaran yang sangat terlambat bukan? Harusnya aku tahu aku bukan Mitsubishi lagi sejak 19 Agustus 2011 lalu. Tanggal pengunduran diriku.
Begitulah. Kesadaran selalu butuh waktu.
***
Malam ini aku menginap di rumah Bu Sita di Kampung Melayu.
Mona akan menyusul malam harinya. Tanpa mengecilkan arti yang lain, sinergi ku dengan Bu Sita dan Mona layak dicatat.
Pertemanan kami lebih aman, karena walaupun pekerjaan kami sambung-menyambung di Mitsubishi Group, sejatinya kami terpisah secara institusional.
Kami berada di tiga perusahaan yang berbeda, sehingga tidak ada garis formal yang menghubungkan kami dalam hal pekerjaan.
Seringkali, dulu, ketika sedang bosan dengan pekerjaanku, aku akan lari (benar-benar lari gedubrak-dubruk) ke meja Bu Sita -15 meter dari tempatku- dan cekikikan nggak penting.
Ini bahkan dilakukan ketika formasi lengkap ada bos ku di mejanya. Begitulah bentuk kenyamananku di kantor. Teman kantor lama pernah bertanya: “Loe nggak takut diomongin orang? Deket sama Bu Sita?”
Hahahaha. Apa maksudnya? Jadi brondong Bu Sita? Jiah… Bu Sita bakal nyari yang lebih putih, lebih tinggi kale?
But seriously. Bu Sita (dan Mona) menjadi cocok karena kami sama-sama santai kaya’ di pantai.
Tidak banyak hal yang “merisaukan” kami. Kami seperti sekawanan anak SMA yang tahu mau main apa dan dimana, tanpa harus bingung dengan banyak hal di luar sana.
Santai… kayak di pantai…
***
Aku hanya punya tiga hari di Jakarta dengan serangkaian agenda.
Aku tidak meng-incognitokan kepulanganku. Aku hanya tidak berbagi detail dengan banyak orang. Aku takut mengecewakan. Pun seorang Mona sempat protes, ketika mau tidak mau dia harus ke Kampung Melayu, tanpa agenda terpisah dan khusus di lain hari.
Mona akhirnya datang sekitar jam delapan malam dengan mengorbankan kelas keduanya hari itu.
Iya, dia masih ambil kuliah malam setelah ngantor. Hebat kan?
Apa hikmah pertemuan malam ini? Telepon Mona berdering jam 11 malam, saat suaminya menge-check dia ada dimana. Sang suami dengan jelas meminta Mona pulang karena sudah malam. Suaminya melakukan hal yang benar dan selayaknya. Aku tidak protes.
Karena jika diteruskan maka mungkin kami baru berpisah jam 2 pagi. Tamparan manis untukku sekali lagi. Tentang sadar bahwa Mona sudah bersuami. Sudah bertambah peran.
Tamparan serupa dari Rais, sahabat lainnya, yang suatu ketika pernah menjawab Whas Up ku dengan kalimat:
“Aku juga sudah berutinitas yang menyibukkan, Jar”.
Sebuah penolakan realistis. Aku tidak mungkin selalu menganggu mereka.
22 Desember 2011
Ada Kristin dan Medi di makan malam kali ini. Dua cewek tercantik yang pernah aku kenal. Weittttt! Bukan cantik saja. Lebih-lebih. Dua sosok ini mandiri dengan caranya masing-masing.
Kami bertiga bertemu di Nichols Edwards, perusahaan sebelumnya, tahun 2005.
Ya, perusahaan yang sudah tutup bahkan sebelum grand opening. Masalah buat founder, tapi tidak buat kami.
Paling tidak perusahaan ini menyisakan dua makhluk ini.
Pemahamanku atas dua gadis ini tidak berubah. Mereka berdua masih sama. Kami masih sama. Dan sepertinya akan begitu selanjutnya.
Pertemuan 3 jam kami ditutup dengan manis. Saat kami turun melalui eskalator, Medi mendapat telepon dari orang rumah mengatakan, anaknya Rafi –tiga tahun- sudah menyiapkan kartu ucapan hari Ibu di rumah.
Ahhhhhhhhhhhhhh…. Manisnya….
Kemudian Jar? Tertarik menelepon ibumu dan mengucapkan ucapan serupa?
23 Desember 2011

Aku sudah berkomitmen ke diri sendiri tentang Cempaka Putih.

Ya. Cempaka Putih. Adalah kediaman omku, adik almarhum Bapak tempat dimana aku pernah ngenger selama magang di Pelita Air dan beberapa bulan mencari pekerjaan di Jakarta sebelum kost sendiri di Bendungan Hilir. Om Naryo menjadi refleksiku atas figur ayah, sepeninggal Bapakku. Maksudku selama aku di Jakarta. Aku mengira-ngira tugas seorang ayah dari apa yang beliau lakukan ke anak-anaknya.
Aku mendapatkan pelajaran “menjadi realistis” dari om ku yang satu ini.
Beliau praktikal, terukur, dan terencana khas tentara. Kualitas yang kurang lebih sama denganku.
Apa yang beliau katakan waktu aku beberapa bulan belum juga menemukan pekerjaan?
“Jar, om tidak meragukan kemampuan intelektualmu. Kamu pasti lolos kalau tes psikologi, bahasa inggris dan semacamnya.
Tapi kalau sudah interview, belum tentu. Penampilan menjadi penting. Olahraga, kuruskan badan. Atur makanan!” Kata beliau.
See? Sangat realistis.
Serealistis beliau menceritakan perjalanan spiritualnya kemarin ke tanah suci.
Ada banyak hal tidak (lagi) benar alias mitos. Tahukah antara Safa dan Marwa sudah bermarmer dan bukan lagi tanah gurun?
Tak perlu menyiapkan sandal gunung kuat untuk prosesi ini.
Kehebohan orang naik haji, tanpa mengecilkan maknanya, kemungkinan besar karena perjalanan ini sebetulnya perjalanan panjang pertama banyak bapak-bapak dan ibu-ibu tua itu. Jadilah mereka panik dan sangat “clueless”.
Apa pesan Om dan Bulik? Beliau berdua menyarankan selagi muda, selagi mampu, jalankan ibadah ini. Karena Haji kemudian berkorelasi sangat kuat dengan ketahanan fisik seseorang. Sangat melelahkan. Tak ayal, badan om kurus sekali setibanya kembali ke tanah air.
Keluarga Cempaka Putih juga dengan jelas mengajarkan kesederhanaan.
Sesuatu yang sepertinya, untuk yang satu ini, gagal terserap dengan baik olehku.
Bulik Ris menegaskan hal ini. Tidak lelah beliau mengingatkan hari depan. Berhemat. Berkalkulasi. Satu hal lagi: kerja keras. Tidak boleh malas.
Kejadian terakhir, sepulang kami berlelah-lelah di prosesi resepsi Mbak Dhani di Zeni Matraman, Om sampai rumah dengan sigap berganti pakaian dan langsung berberes taman depan rumah. Aku terbengong-bengong dan malu sendiri melihatnya.
Seperti yang aku tulis di “thank you note” skripsiku, om dan bulik mengajarkan cara bertahan hidup di Jakarta. Jakarta 101. Keluarga tidak mengenal titik koma. Itu yang aku yakini.
Itu yang aku tangisi di taksi menuju dan meninggalkan Cempaka Putih.
***
Aku meluncur ke Setiabudi One selepas menyelesaikan urusan Visa China ku.
Bersiap-sesiap-siapnya untuk sesi berikutnya. Sesi paling demanding: Ring I.
Jika SBY merefer Ring I sebagai istilah pengamanan terdalam, begitu pula diriku.
Ring I adalah lingkaran terintim berisi manusia-manusia yang terbukti tahan banting bersamaku selama ini.
Rasuna Said menjadi pilihan karena posisi kantor baru Indah –dan Dedi, yang relatif lebih dekat ke kawasan ini dibandingkan Senayan.
Aku memutuskan menonton film selagi menunggu jam kantor mereka usai. “Hafalan Surat Delisa”, film tentang tsunami Aceh, berhasil membirukan suasana hatiku sebelum ketemuan ini.
Mbak Vicki memperhatikan merah mataku ternyata.
“Kenapa Jar?”
“Habis nonton film Mbak. Tsunami Aceh. Anaknya kehilangan satu kaki. Semua kakaknya dan ibunya hanyut. Yo marai nangis tho yo. Jadi kelingan ibuku”
“I know the feeling Jar. Mamaku juga lagi sakit”. Kata Mbak Vicki.
***
Tiga setengah bulan ini memberi perubahan. Masing-masing membawa ceritanya sendiri.
Aku bilang ke Mbak Vicky, konstelasi kita yang lebih-lebih daripada script film “Arisan 2”.
Sayang, aku tidak bisa menggali masing-masing cerita dalam-dalam. Ada yang mengganjal. Pertemuan berbanyak orang biasanya kemudian habis waktu untuk bercanda.
Tanpa aku tahu apa yang sebenarnya sedang dirisaukan mereka. Atau apakah sudah selayaknya aku tak lagi merisaukan mereka? Siapa yang butuh dirisaukan?
Need You Now, Linger, Love you Like a Love Song, I Will Survive, Rumour Has It, Pacar Lima Langkah, I am the Best sampai Move Like Jagger menghentak di meja karaoke.
Apa yang butuh dirisaukan, Jar?
***
Dalam perjalanan pulang menuju rumah Indra, teman sekamarku di boarding ini, menyentakku dengan pernyataannya:
“Gue sebenernya kaget loe jadi berangkat kuliah, waktu nyokap loe lagi sakit. Kalo denger cerita loe, mau kerjaan loe berantem mulu sama mbok mu, sepertinya dia ngarep loe Jar. Dia paling sayang ama loe. Loe nggak kepikiran nyicil rumah di Jakarta saja dan bawa dia kesini?”
Dan aku terdiam. Kaget seorang Indra bisa menanyakan hal ini. Dan aku butuh waktu untuk menjawabnya.
***

 

(bagian 3)

Ini tentang ketakutan terbesarku
Ketakutan akan kehilangan cinta yang bergaransi paling jelas.
Cinta sederhana seorang bunda
***
24 Desember 2011
Aku bersyukur semesta hari ini berpihak padaku. Lion Air tidak delay. Tidak juga hujan. Lebak Bulus-Soekarno Hatta pun tidaklah macet.
Pesawat mendarat turun ke Bandara Adisucipto dengan mulus. Membuatku bernyanyi-nyanyi atas jadwal yang berjalan sesuai rencana sampai saat ini. Jakarta… Lion Air… Agendaku… semua berkonspirasi memihakku. Aku suka.
TET TOT!!! Anda lupa Anda di Indonesia, saudara!
Dari bandara, aku langsung meneruskan perjalanan menuju Stasiun Tugu. Aku harus langsung membeli tiket Jogja-Bandung untuk tanggal 27 Desember malam agar bisa mengejar pesawat Bandung-Kuala Lumpur keesokan harinya.
Pulang via Bandung? Bukan Jakarta? Ahhh… yang sudah tahu tabiatku pasti tahu jawabannya.
Tiket Air Asia Bandung-Kuala Lumpur kudapatkan hanya dengan 180.000 rupiah saja. Jadi, ya Bandung it is.
***
Aku sampai ke pusat pemesanan tiket Stasiun Tugu jam 12 siang dan terbengong-bengong melihat antriannya. Mendapatkan nomor antrian 600-an, aku tahu aku harus sabar karena sadar saat itu yang dilayani baru calon penumpang dengan antrian bernomor 400-an.
Ohhh KAI kapan engkau melayani online reservation yang sesungguhnya?
Aku lupa ini peak-season Natal dan Tahun Baru. Jadi ketikapun giliranku tiba untuk dilayani –setelah dua jam total menunggu diselingi makan siang dan sempat terpulas ngorok- aku harus menerima kenyataan kehabisan tiket kereta malam, dan harus puas naik kereta siang menuju Bandung.
Artinya? Artinya aku akan sampe Bandung 27 Desember malam hari. Dan terpaksa menginap di kota tersebut.
Artinya? Artinya aku harus memangkas waktu tinggalku di rumah Magelang. Artinya aku harus menganggarkan budget baru untuk hotel di Bandung.
Sigh…
***
Di seberang telepon Ibu sudah menelepon berkali-kali; “Sudah sampai mana?”, “Wes tekan endi?” Oalah Bu… nggak ngerti anakmu keloro-loro. Tidak hanya tertahan di stasiun, proses mendapatkan bus ke Magelang pun menjadi masalah sendiri.
Trans Jogja (busway versi lokal) hari tersebut penuh sesak. Lama sekali menunggu bus transfer menuju Terminal Jombor, sampai akhirnya aku menyerah ganti moda naik ojek. Sampai Terminal Jombor pun masih harus menunggu bus Jogja-Semarang beberapa lama.
Kesel sekesel-keselnya, aku berandai-andai Indonesia punya shinkansen, MRT, dan subway yang saling terkoneksi.
Sebuah impian katro seorang yang baru pulang dari luar negeri.
Ndeso kowe Jar!
Manjanya. Dulu juga gimana Jar? Bukannya pelanggan setia transportasi publik?
Sekarang, disuruh “rekoso” sedikit saja rewel.
Jepang, terhubung dengan baik oleh sistem transportasi yang handal. Nyaman buat kita-kita penikmat transportasi murah.
Nah ada yang bisa dicatat di sini. Nggak, aku nggak akan ngomongin sistem transportasi negara kita tercinta.
Aku ingin bertanya: “Apa yang kamu lakukan saat kesal?” Aku gampangan. Aku biasanya langsung menghubungi teman terdekat. Apapun medianya: sms, BBM, atau telepon.
Nah, ngomel deh tuh.
Menurutku hal ini bisa mengurangi resiko stroke dan darah tinggi. Petang ini, yang cukup sial menerima transfer kegundahanku adalah Wahyu dan Lisa. Dua sahabat kampus yang beresonansi dengan Jogja. Makasih ya, agan-agan!
Rumah Magelang menjelang Magrib.
Akhirnya aku sampe rumah hampir jam enam. Lima jam terlambat dari ekspektasiku sebelumnya.
“Mammmm……. “ teriak-ku semacam “Tadaima” kalo orang Jepang saat masuk rumah.
Masuk kamar kecil ibuku, aku mencium pipi dan tangannya. Ibu tampak lebih cantik dan kurus dengan rambut pendeknya. Kurus in a good way, ibuku gemuk sekali waktu terakhir kutinggalkan September lalu.
Kucium juga tangan dan pipi bulik Kanthi. Ya, Ada bulik Kanthi di rumah, datang ke Magelang siang tadi, diterbangkan atas permintaan ibuku dari Sleman.
***
Mau tahu darimana kesulitan memverbalkan kata sayang ini datang darimana? Siapa lagi kalo bukan “kesalahan genetis” dari ibuku.
Bulik Kanthi bercerita tentang proses kedatangannya ke rumah ini.
Singkat cerita ibuku meneleponnya:
“Thi, tolong buatin peyek kacang dan bawain salak pondoh ke sini ya? Kamu sekalian kesini!”
“Iya, nanti aku minta dek Untung untuk bawa ke Magelang” Jawab bulikku.
Dek Untung adalah putra semata wayang bulikku, alias sepupuku.
“Oalah, kalau cuma peyeknya, aku bisa beli disini sebagor penuh. Aku pengen kamu juga kesini.” Jawab ibuku.
See? Ibuku kesusahan untuk bilang terus terang: “Datanglah ke sini adekku, aku kangen, butuh teman cerita, butuh ditemani”
Keterbatasan ibu yang sepertinya kuwarisi.
Maka sebetulnya, lunak setiap tulisanku tak jelas menggambarkan betapa kadang mulut ini keras dan bebal.
Di pemahaman ini, mungkin ada hati yang pernah terkelabui atau tersakiti. Ibuku mungkin?
***
Cinta Sederhana. Itu yang selalu terasakan dari keluarga Slemanku. Tanpa berlebihan, aku selalu dilingkupi cinta yang mencukupi di sana.
Aku merasa bulik-bulikku simply are the best. Pemahaman yang ternyata tidak sama dengan anak-anaknya.
Sama seperti aku menganggap ibuku tak sempurna, begitu pula para sepupuku menganggap indungnya berkalang salah.
Ibuku adalah anak pertama dari tiga perempuan bersaudara. Kami menyebut mereka AB Three. Cerewet semuanya.
Lahir dari keluarga petani berkekurangan, tidak memungkinkan ibu dan adik-adiknya mengartikulasikan cinta dengan kata.
Hidup adalah tentang bertahan hidup, tanpa ada sisa waktu untuk saling bermanja. Kenihilan paparan cinta itulah yang membuat mereka merasa sudah mentransfer kewajiban mereka ke anak-anaknya, tanpa paham anak-anaknya meminta lebih dari sekedar makan, minum dan sekolah.
Kenakalan kami, pemberontakan kami -aku dan sepupuku- mungkin adalah protes kami atas pilihan cara mereka membesarkan kami. Dan protes atas ketidak-berdayaan kami secara finansial.
Kesadaran dan pemahaman baru datang akhir-akhir ini. Tentang orang tua kami yang sudah berusaha di titik penghabisan mereka.
Sesadar Mas Andi, kakakku nomor dua yang sekarang rajin menelpon ibuku setiap pagi untuk bertukar cerita.
Kami mungkin baru bangun dari tidur panjang.
***
Betapa aku ingin mengilustrasikan kesederhaan cinta seorang Bunda.
Aku bertanya ke Bulikku.
“Bulik, dek Untung sudah punya pacar lagi belum?” tanyaku ke Bulik Kanthi.
“Lha kuwi. Kemarin sempat ada perempuan yang beberapa kali sudah datang ke rumah. Sopan dan sepertinya baik. Nggak sungkan bantu bulik masak berkotor-kotor di dapur”
“Terus?”
“Lha kemarin Bulik sampe beli lap dapur baru, karena lap dapur yang biasa dia pake dan sampirkan di pundaknya itu sudah kotor dan lama”
“Maksud’e?”
Dek Untung tanya buat apa bulik beli lap baru. “Ya, buat pacarmu agar nggak kotor-kotor banget kalau masuk dapur” jawab Bulik.
Lhadalah Dek Untung bilang: Gak perlu repot-repot lagi Bu. Dia nggak akan datang lagi.” …
Begitulah. Insting setiap Bunda sangat terlatih untuk ini. Terlatih untuk memberi anaknya yang terbaik. Terlatih untuk melindungi anaknya. Terlatih untuk membantu memilih. Lap dapur bulik Kanthi adalah contohnya.
***
“Apakah sebenarnya terbuku di kalbumu?
Apakah arti linang air mata di pipimu?
Ungkapkanlah padaku, Tak bisa kurangkainya.
Rahasia yang kaupendam itu. Aku hanya menduga.
Tidak mampu merasa sebenar-benar perasaanmu.
Pengorbanan yang kau lakukan Hanya bisa ditanggung hati ibu”
(Siti Nurhaliza: Air Mata Ibu, 2008)
25 Desember 2011
Beraneka ragam kue kering dan minuman terhidang di meja ruang tamu dan ruang tengah kami. Ibuku merayakan Natal hari ini. Rombongan tetangga dan sanak saudara akan datang dan mengucap selamat ke rumah kami.
Kami, tiga anak laki-laki Ibu, memilih kepercayaan Bapak yang berbeda dengan ibuku. Tidak terlalu masalah, karena sepertinya kepercayaan kemudian bukan juga menjadi perhatian utama keluarga.
Perjalanan spiritual kami seperti tidak dikendali. Kami memahami aturan Tuhan dengan cara masing-masing. Satu dua kali gesekan antara aku dan Ibu lazim pernah terjadi.
Di titik ini aku sebenarnya tidak percaya ketika satu keluarga dengan keyakinan berbeda tidak pernah berdinamika.
Dinamika yang mewarnai hubunganku dan ibuku sepanjang 29 tahun ini.
Tidak. Ibuku tidak pernah memaksakan pemahamannya akan Kristus. Pun pula aku tak bernyali meyakinkan ibuku atas pemahaman Rasulku. Ini sulit dan tak terjelaskan. Mungkin aku tak mau menjelaskan.
Aku sudah menemui masa dimana aku lebih lebar hati untuk memahami.
Aku mencoba memahami jalan berliku yang membawa ibu dari Sleman ke Magelang.
Pertemuannya dengan Bapakku. Proses ibuku membesarkan kami. Kompleksitasnya.
Proses yang kemudian meyakinkanku bahwa perbedaan kami adalah bagian pembelajaran.
Atau sebenarnya sederhana saja, mungkin kami menyerah satu sama lain.
***
26 Desember 2011
Ibuku berbagi kebiasaan yang sama denganku. Senang bercerita. Senang mengobrol. Kadang aku menyimpan percaya, warung kecil kami lebih dari tempat ibu mencari nafkah, tapi juga aktualisasi terbaiknya. Teman-teman ibu betah berlama-lama di warung sore hari untuk berbagi cerita.
Dengan alasan itulah, dengan sengaja aku meminta beberapa teman baikku untuk datang ke rumah. Karena aku yakin, ibuku akan senang jika ada temanku datang menengok beliau. Aku teramat yakin.
Tidak semuanya bisa datang. Aku berterimakasih ke Rahmat dan Ika untuk ini.
Rahmat adalah adek angkatan SMP yang sama-sama mendapat beasiswa ke Al Azhar. Aku selalu senang berbagi semangat dengannya. Semangat anak daerah yang bertarung nasib di Jakarta.
Sedangkan Ika, teman SMP ku yang masih awet bertransaksi sampai sekarang, datang bersama suaminya, tak berapa lama setelah Rahmat.
Ya, tinggal segelintir nama teman-teman lama yang masih bertahan.
Aku kehilangan teman-teman baik SMP ku karena aku sudah pindahan ke Jakarta sejak SMA. Tidak mudah menjaga silaturahmi dari jarak sejauh itu. Dan apalagi, terkadang kami kehilangan topik yang bisa menghubungkan kami.
Tidak buat Ika. Keterikatanku dengan Ika relatif kuat karena aku juga menjalin hubungan yang baik dengan keluarganya. Ini sangat bisa dipahami. Dulu, seringkali aku bermain di rumah Ika dari sepulang sekolah sampai magrib menjelang. Seringkali lebih malam sampai makan malam di tempatnya. Kebiasaan yang sebetulnya dibenci ibuku. Begitulah, bahkan aku memanggil mama Ika dengan sebutan Mama. Sampai sekarang.
Jarak usia yang lebar dengan kakakku, membuat kami tiga bersaudara punya lingkaran pertemanan sendiri-sendiri. Kesibukan Ibu dan Bapakku membuat kami semua tumbuh di luar rumah. Itulah sebabnya aku dan kakak-kakaku sangat mengidentifikasi diri dengan pertemanannya masing-masing.
Kedua kakakku paham soal kedekatanku dengan teman-temanku.
***
27 Desember 2011
Aku bangun pagi-pagi dan langsung turun ke kamar ibu. Menyisir rambut pendeknya. Memintanya untuk cepat sembuh agar tak menjadi pikiranku selama di Jepang.
Aku sudah berusaha menyimpan tangisku tiga hari ini. Tapi. Kali ini aku tak bisa menahannya. Aku terisak di belakangnya. Ibu menjawab: “Nggak usah khawatir le, ibu akan segera sembuh”
Ibu dan aku sudah berbagi cerita selama tiga hari ini. Aku mantap.
Aku sudah menemukan jawabannya.
Mungkin.
Semoga.
***
A Companion asked the Prophet (PBUH),
“Who deserves my good treatment most?”
“Your mother”, said the Prophet.
“Who’s next?” “Your mother”.
“Who’s next?” “Your mother”.
“Who’s after that?” “Your father”.
(Hadits Bukhari Muslim)

 

(bagian 4)

Pergantian rencana, dengan keharusan untuk menginap di Bandung, sungguh menambah pekerjaan rumah.
Aku men-check agoda.com dan menemukan hotel dengan harga terjangkau di sekitar stasiun Bandung sudah penuh dipesan.
Semua orang (Jakarta?) sepertinya ingin menghabiskan libur akhir tahun di kota ini.
Aku langsung menghubungi Indra dan Mehdi. Indra, untuk mencari tahu apakah masih ada anak boarding yang tinggal di Bandung dan bisa ditumpangi?
Mehdi untuk mencari tahu apakah Nazer –adiknya yang kuliah dan kost di Bandung- sedang ada di disana. Nihil.
Indra menyisakan pilihan yang sungkan aku ambil, dan Nazer, kata Mehdi, sedang ada di Palembang menemani om mengerjakan sesuatu di kota tersebut. Sejurus kemudian aku teringat Mbak Poppy.
Teman kost Indah semasa di Bandung, yang sempat berkenalan sekali semasa kami kondangan ke kawinan Wahyu-Nissa beberapa tahun yang lalu.
Ya. ini agak kurang ajar. Kami baru bertemu sekali -dan kemudian jarang berkomunikasi setelahnya- tapi aku akan merepotkannya. Aku meneleponnya… tanpa penjelasan panjang lebar, Mbak Poppy langsung menangkap maksudku dan dengan sigap mencarikan penginapan. Alhamdulillah. Dia menemukan satu yang pas untukku plus plus.
Plus plus karena Mbak Poppy akan menunggu kedatanganku di stasiun dan mengantar langsung ke penginapan tersebut.
Hugh… trenyuh dan lega. Ingat tulisanku “Hati Serupa Malaikat”? Sungguh, ternyata Tuhan menyisakan manusia-manusia baik untuk menolong sesamanya.
***
27 Desember 2011
Lisa datang bersama gadis kecil sepupunya. Kami janjian hari ini.
Janjian singkat sebelum aku naik kereta jam 12.05 nanti. Pertemuan pertama setelah Lisa pulang dari Perancis.
Ya, temanku satu ini akhirnya mewujudkan impiannya terbang ke sebagian Eropa itu, tak tanggung-tanggung: 2 bulan lebih.
Aku memintanya bercerita tentang Louvre, tentang berapa hari aku bisa menyelesaikan salah satu museum impianku tersebut. Cerita tidak berhenti di sana. Lisa bercerita tentang cerita di balik layar, ketidaksepakatannya dengan orang tua mengenai perjalanan Eropa kemarin. Dia tampak biasa saja. Tapi tidak buatku, si pendengarnya.
Lalu kemudian aku sadar. Setiap manusia membawa risaunya.
Teringat kembali kata Rais saat kami bertukar pendapat, ketika dia selesai mengartikulasi pikirannya: “Nah tho… .” Merujuk pada reaksiku setelah dia selesai bicara. Ya. Aku sering terdiam ketika lawan bicara datang dengan cerita yang lebih berat. Lebih dramatis. Lebih problematik.
Pikirku soal ini: Aku suka nyesel kalo kayak gini.
Ketika selesai bercerita dan kemudian lawan bicara ternyata punya cerita yang lebih berat. Seperti membuatku ingin menarik cerita recehku. Dan lari.
Terkadang aku tidak bisa berbesar hati untuk cerita-cerita seperti ini, dan ingin tutup mata saja,
berpura-pura kita makhluk sempurna dengan cerita tanpa cela.
Tapi ternyata tidak bisa. Hidup adalah paket komplet cerah redupnya cerita manusia.
***
Aku senang sekali saat kereta hanya telat 5 menit.
Aku duduk di sebelah anak muda –kuliahan sepertinya- berpilihan pakaian sama denganku; sweater, jeans and sepatu ket.
Bocah ini juga mengingatkanku akan masa-masa 10 tahun lalu di Jogja.
Ada banyak tokoh disana. Tapi ijinkan aku menyalutkan Mehdi disini. Aku dan Mehdi menjadi bertransaksi lebih sering di Jogja daripada di Boarding.
Tapi sama dengan tipikal anak boarding lain, maka sebetulnya transaksi kami sering diwarnai beda pendapat dan salah paham.
Panas semacam kompor dengan tabung gas subsidi.
Ketika menyebut anak-anak, mohon digarisbawahi bahwa kemudian yang dimaksudkan adalah Indra, Bayu, Mehdi dan Ewink, dan tidak semua orang.
Saking seringnya bercanda dengan anak Boarding, aku kesusahan membedakan mana serius dan mana yang tidak.
Asrama, dan masa-masa setelahnya, dipenuhi kejadian konyol.
Akibatnya yang paling fundamental atas itu, dari panjangnya garis tawa yang kami buat, aku melihat seperti tidak ada kesungguhan di setiap pilihan mereka.
Kemudian yang aku pertanyakan sampai saat ini adalah: “Apakah aku, yang mengaku teman baik, sudah berbuat terbaik?”
“Apakah mereka tahu aku khawatir?”
Aku takut pesanku kabur. Karena seingatku dulu, aku lebih sering protes dengan diam.
Aku protes dengan lari. Tak mau bertransaksi.
Ada kemungkinan bahwa aku dianggap tak peduli. Tidak mengerti.
Apakah mereka paham kekhawatiranku?
Diatas pertanyaan yang tidak kuketahui jawabnya itu, aku yakin kami berfondasi kuat: saling percaya.
Kami percaya tidak akan menjerumuskan satu sama lainnya.
Fondasi yang membuat kami lagi-lagi balik bertransaksi.
Tragedi Cianjur akan menjelaskan bagaimana konsepsiku atas anak-anak ini. Suatu ketika kami pernah menginap di villa keluarga Indra di Cianjur. Seperti biasa, aku masuk kamar paling awal untuk tidur saat anak-anak lain masih terus mengobrol di teras rumah. Tengah malam, aku terbangun karena hembusan angin dingin yang cukup terasa. Aku melihat bayangan hitam masuk dari jendela. Dan sengaja kubiarkan saja. Dari posturnya aku yakin itu Bayu. Kurus. Bersarung. Mencoba menakutiku. Dulu aku masih berkacamata minus 7.5, penglihatanku beneran kabur tidak bisa menebak siapa dibalik sarung kotak-kotak hitam tersebut. Toh si lutung kasarung itu kemudian keluar lagi dan menutup jendela dengan sopan.
Oalah Bay… kurang kerjaan banget sih loe?
Subuh, saat aku pindah ke ruang tengah, karena ternyata anak-anak tidur di kasur yang digelar di luar kamar. Aku ndusel Bayu dan geplak badannya: “Apaan sih Bay? Nyoba nakutin gue?” Aku geplak badan Indra juga: “Apa loe Ndra?” Dua anak itu masih terpulas dan ngomong: “Apaan sih loe?” meneruskan tidur dan tak menghiraukanku.
Pagi menjelang siang saat kami semua bangun dan sadar bahwa HP di atas kulkas hilang semua. Ya. Ternyata yang masuk kamar semalam adalah maling. “Udah bener loe nggak bangun Jar. Bisa digorok kalo loe bangun dan teriak” kata mereka.
HPku tentu saja aman, karena ada di kamar bersamaku. But come on… bukan itu masalahnya. Ada pemahaman yang harus dibetulkan disini. Tentang suudzon tingkat tinggi ke anak-anak.
Salah siapa dong?
***
Tahukah istilah “Brotherhood Romance”?
Ini sudah rumus. Tidak mungkin bagi kami, pertemanan sesama laki-laki, untuk kemudian bilang: “Loe jangan lakuin ini, gue takut loe kenapa-napa. Gue care sama loe” Agak nggilani ya. Agak nggak mungkin.
Yang ada adalah; “Menurut gue jangan. Karena kalo loe gini… ntar akibatnya bisa begini”
Itulah laki-laki. Rumus yang harus dipahami wanita yang menuntut empati pasangannya.
Dari puluhan tahun transaksi bersama mereka, aku percaya kami berbagi perhatian yang sama.
Kepercayaan yang sama. Dibalik semua diam -serapah – teriakan – dan salah.
“Kami pernah muter-muter malem-malem nyari SIM card buat loe. Mau beliin buat loe. Biar loe gampang dihubungi”.
Konon begitulah cerita Indra tentang Mehdi saat aku belum punya hp dulu di Jogja.
Diwariskannya HP Nokia Pisang, dan dicarikannya aku kartu perdana saat masih sangat mahal harganya di awal tahun 2000-an.
Atau saat Mehdi langsung pergi ke ATM, menarik uang, menaruhnya di atas meja belajar dengan catatan kecil di atas kertas.
Kampus meminta uang KKN dibayarkan jauh sebelum pelaksanaan program. Hal ini tidak kuantisipasi. Aku terpaksa meminjam uang ke Mehdi. Bukan uangnya, karena mungkin jumlahnya tidak masalah buatnya, tapi respon cepatnya adalah sesuatu yang langka.
“Mehdi itu perhatian banget sama loe Jar. Loe nya aja nggak tau” begitu kata Indra.
Nggak kok Med, Ndra. Aku tau.
***
Kereta tiba terlambat di Bandung 45 menit.
Aku keluar stasiun dan dengan mudah menemukan Mbak Poppy. Tentu aku masih mengingat wajahnya, walau sudah 2 tahun lebih tak bertemu. Mbak Poppy masih dengan sapaan wajibnya: “Apa kabar say?” katanya. Ahhhh… mbak Poppy masih seperti yang kukenal.
Aku minta Mbak Poppy berbelok ke Indomart dulu, membeli roti dan minuman untuk mengganjal perutku sementara.
Tak kusangka kereta api cepat sekali kehabisan jualannya. Oh ya!!! Tolak angin pesanan Gede. Aku membeli 20 bungkus.
“Mbak Poppy apa kabarnya? Kata Indah resign?” sambil mengambil pesanan Gede. “Iya. Sudah nggak tahan” Jawabnya.
Lagi. Terbukti. Siapa yang tidak risau?
Pun ketika cerita beranjak. Ketika aku selesai bercerita tentang maksud kepulanganku.
Mbak Poppy ganti bercerita tentang kepergian ibunya sejak kecil. Lagi. Terbukti. Siapa yang tidak risau?
Indah tidak salah ketika bercerita tentang kebaikan temannya satu ini.
Perbincangan kami di taksi dari stasiun ke penginapan membuatku tak begitu memperhatikan jalan.
Dan apalagi memang aku tak paham Bandung. Cerita ini penting karena ada hubungannya dengan kejadian konyol di akhir malam nanti.
***
Aku meminta Mbak Poppy ikut aku makan malam bareng Mehdi dan keluarganya di Punclut; Puncak Ciumbuleuit Utara. Mehdi ke Bandung?
Iya. Dia dan Rani –sang istri- rela datang ke Bandung untuk menebus pertemuan yang gagal kemarin di Rasuna Said. Sekalian rekreasi ke Bandung sama anak-anak, kata Rani. Aku dan mbak Poppy sampai di lobby hotel tempat Mehdi menginap
sekitar jam 08.30 malam.
Tak berapa lama saat ada suara-suara kecil memanggil: “Om Fajar!” Oh Hai!!! Balasku. Aku menemukan Chacha, Solah dan Daryl berdatangan.
“Kamu kenal semua, Jar” Tanya Mbak Poppy. “Ayo, salaman sama Kak Poppy.” Kataku ke anak-anak itu.
“Iya Mbak. Ini ponakan-ponakannya istri Mehdi. Kami beberapa kali jalan bareng”. Menjawab pertanyaan Mbak Poppy.
Mehdi dan Rani datang setelahnya, masing-masing menggendong satu anaknya. Dengan Rara di samping mereka.
Yes. It was family trip. Jawa, Batak, Betawi menyimpan kultur sama. It’s a family oriented culture.
“Pantesan loe ngotot nginep di tempat dia ya? Gak mau sama gue” Kata Mehdi berbisik di dekatku merefer Mbak Poppy. “Kotor Pikiran Loe! Gue nginep di tempat beda!”
Kemudian begitulah. Perjalanan di mobil dan makan malam berjalan menyenangkan. Aku dan anak-anak tertawa nggak jelas. Tapi bukan Boarding kalau tidak ber-ending konyol.
Setelah makan selesai, kami mengantar Mbak Poppy pulang ke tempatnya. Ini karena kami percaya Chacha –keponakan Rani- yang bersekolah di Bandung tahu jalan menuju penginapanku. Ternyata eh ternyata, kami kesulitan menemukan jalan kembali.
Mbak Poppy bilang nama jalannya Jalan Slamet, saat petunjuk yang disampaikannya membawa kami ke nama Jalan Soleh.
Kami sempat berhenti beberapa saat di depan gapura Jalan Soleh. “Loe inget jalannya ini gak Jar?” Tanya Mehdi “Kayaknya bukan deh Med. Gue nggak inget ada gapura jaman Belanda
seperti ini” jawabku.
Gapura sudah diportal and there is no way we can check inside. Bandung hujan rintik-rintik tengah malam. Rani dan anak-anak lain sudah tertidur pulas di sandarannya masing-masing. “Om Fajar itu apa?” Kata Chacha mengagetkan. “Apaan?’ “Itu di atas selokan?”
Petunjuk Chacha mengarah pada sosok tak jelas berambut panjang.
Saat aku membuka jendela untuk mencari tahu lebih seksama. Sosok itu berpaling balik menatap kami.
“Astagfirullah. Apaan tuh… jalan Med” kataku ketakutan. Kami cekikikan sambil berputar putar lagi mencari jalan. “Manusia apa
setan Med?” “Orang Gila kali Jar?” “Ngeri banget”
Setelah dua kali berputar-putar di bawah Pasopati, kami yakin bahwa memang gapura tadi memang jalan masuk yang dimaksudkan Mbak Poppy. Jalan keluarnya, aku memanggil penunggu rumah untuk menjemputku di depan gapura dan menemaniku melewati “manusia istimewa” yang kami perbincangkan tadi. Ada-ada aja…
***
28 Desember 2011
Datang YM Nazer saat aku berada di taksi menuju Husein Sastranegara Airport. “Mas dimana?” “Di Bandung, ini di taksi menuju bandara” “Jadi ketemu Bang Mehdi?” “Udah. Semalam. Harusnya gue nginep tempat loe tuh Zer” “Hehehehe. Ini kemana lagi” “Balik Tokyo lah.” “Lho katanya ke Beijing dulu?” “Kok tahu? Iya. KL – Beijing, baru Tokyo” “Ohhhh…”
Bandara kecil Bandung menjadi pemberhentian terakhirku. Kutelepon Mehdi, Indah, Ibu dan mbak Rini sebelum aku masuk pesawat. Mbak Rini dengan sigap mengangkat telepon, bahkan sebelum aku mulai bicara:
“Apa? Mau pamitan? Iye. Gue doain. Selamet” Sindirnya, seakan tahu maksudku.
Dan aku tertawa ngakak. Memang kadang lebay dan alay diri ini.
“No need dramatization, Jar” mungkin itu maksud Mbak Rini.
Chao Indonesia!
Car is parked, bags are packed,
but what kind of heart doesn’t look back
At the comfortable glow from the porch,
the one I will still call yours?
All those words came undone and now
I’m not the only one facing the ghosts that decide if the fire inside still burns
(Sara Berreiles: Breathe Again, 2010)

(bagian 5)

Sujudku pun takkan memuaskan inginku

‘tuk haturkan sembah sedalam kalbu

Adapun kusembahkan syukur padamu ya Allah

Untuk nama, harta dan keluarga yang mencinta

Dan perjalanan yang sejauh ini tertempa

Alhamdulillah pilihan dan kesempatan

Yang membuat hamba mengerti lebih baik makna diri

Semua lebih berarti, akan mudah dihayati

(Dian Sastro/Too Phat/Yassin; Alhamdulillah, 2004)

Aku lega sampai juga ke bagian ini. Bagian tanpa memintaku mengelus-elus emosi.

Memoar ini ditulis sebenar-benar. Tentu ada pembagian sequence. Ada pemilihan kata. Dan sangat mungkin dramatisasi.

Akibatnya, menceritakan kisah manusia-manusia terdekatku sama dengan menguras energi.

Karena ada keterikatan, kekhawatiran, ada aturan.

Dan masuk bagian ini, dimana aku bebas berkeliaran bercerita,

seperti memberiku roti melon 105 yen dengan jus jeruk 100 yen yang sering dibeli dari school shop.

Cukup untuk memberiku energi mengawali hari.

Aku sadar. Perjalananku berkeliling beberapa titik timur dunia ini mengundang diskusi orang-orang terdekatku. Paling tidak keluargaku.

Tentang pemborosan. Tentang pilihan yang menurut mereka salah.

Suatu saat ketika pulang Magelang, Lia -adik sepupuku- sambil berlari-lari kecil masuk ke rumah.

“Mas, tahu nggak siapa yang lagi diomongin orang-orang sama om Aris?”

“Siapa?”

“Mas Fajar! Hahahaha.” Katanya.

“Ngomongin apa?”

“Kenapa gaji mas Fajar dibuang-buang buat plesiran. Nggak buat beli rumah dan mobil”

“Hahahaha” dan kami tertawa bersama.

Ya. Aku mendengar protes ibuku. Aku mendengar kritik kakakku.

Aku bahkan mendengar samar-samar orang-orang yang sepertinya tidak berkepentingan atasku.

Jadi apa bedanya ketika aku bilang aku menikmati cerita episode panjang dan dramatis orang lain sebagai hiburan?

Anggap saja, aku sekarang jadi bagian hiburan mereka.

Tentang kenikmatan menyalahkan pilihan orang.

Liburan buatku sebetulnya sama saja. Selalu menjadi “pekerjaan”. Ada target didalamnya.

Ada rencana detail. Ada hasil yang ingin diperoleh.

 

Bepergian sendiri menyimpan nalarnya.

Tentang mencari asal-usul saya sebagai manusia Asia.

Tentang kebanggaan saya sebagai bagian ras kaya budaya ini.

Tentang bertahan hidup sendiri.

Tentang bertanggung jawab atas setiap pilihan.

Tentang waktu melimpah untuk berkaca dan merefleksikan diri.

Seperti saat melempar pandangan mata keluar jendela mobil -nanar melihat jalanan penuh kabut di Rajasthan,

saat jalan melenggang santai padahal hampir tertinggal kapal di Phuket, saat tergencet penuh sesak orang di MRT Manila.

Kusebut pekerjaan karena sebetulnya liburan seringkali adalah rangkaian peristiwa yang memaksaku berfikir lebih keras.

Mengapa aku tak sadar dari awal? Bahwa selalu ada keinginan untuk pulang. Di setiap titik yang menjauh dari rumah.

***

Pesawatku mendarat dengan sempurna di LCCT. Bandara yang insyaAllah akan segera diganti tahun 2104 nanti.

Katanya, Pemerintah Malaysia mempersiapkan bandara pengganti untuk mengakomodasi pertumbuhan penumpang yang pesat–dedesign sesuai permintaan kebutuhan Air Asia.

Dengan pengalamanku bersama maskapai ini, aku sungguh bingung beberapa teman masih ada yang kesel dan nggak jatuh cinta sama airline ini.

Mempunyai dua teman baru yang berasal dari Malaysia, membuat rasa kebermilikanku atas negara ini membesar. Dan apalagi sesungguh-sungguhnya, (sebagian) Malaysia pun jatuh hati pada kita. Aku mendengar Koes Ploes diputar di bus yang mengantarku dari bandara ke KL Sentral. Aku mendengar Gombloh di warung makan malamku.  Aku melihat sinetron Indonesia diputar di Food Court di KL Sentral.

KL sentral adalah semacam interchange terminal dimana bus, LRT, dan MRT bertemu. Aku membayangkan suatu ketika Blok M akan menyerupainya. Sungguh gemas melihat Jakarta. Menunggu MRT jadi dan mensejajarkan diri dengan Bangkok, Kuala Lumpur, Singapore, dan Manila. Bukan. Bukan gaya-gayaan. Ini soal mati gaya karena macet dua jam di sekitaran Semanggi setiap hari.

Aku menginap di hotel kecil nan bersih di daerah Brickfield. My Hotel namanya.

Hanya 150 meter-an di belakang KL Sentral. Daerahnya aman, banyak pilihan makanan, ada seven eleven di dekatnya.

Perfect for me.

***

Aku berlindung di balik kekuatanMu

Sang Maha Pemilik Dunia

Aku masih terhenti di titik pengertian ini

Dimana aku tak boleh menafikan segala kebesaranMu

Tuntun aku

Mencintaimu selayaknya, seapa-adanya

Kusebut namaMu di setiap awal dan akhirku

***

Dominasi barat seakan mensubordinasi kita lahir batin.

Tak hanya merasa kalah ganteng, lebih parah kita merasa kalah pintar.

Ilmu pengetahuan dirasa baru lahir setelah Renaissance. Ilmu pengetahuan milik mereka. Mereka penulis sejarah bumi.

“It is a sad fact that even educated Muslims are generally unaware of the dynamic role played by Islam in the evolution of science. Muslim scientists made significant contribution toward the development of science, which ultimately had a great impact in Renaissance of Europe”

-Dr. Muhammad Saud/Islam and the Evolution of Science/1986-

Siapa pemilik dunia di abad ke 7? Asia, saudara-saudara.

Tahukah anda bahwa jalur sutra, yang mengirimkan aroma rempah dan licinnya sutra ke Eropa, sudah menghubungkan Dinasti Tang di China, dengan Sriwijaya penguasa selat Malaka, dan Bani Umayyah di Asia barat?

Merekalah penguasa teknologi saat itu. Saat Eropa berkecamuk dalam perang dan dinamika penguasaan gereja.

Aroma rempah dan halus sutra yang akhirnya mengundang mereka datang beramai-ramai ke timur.

Ya ya ya. Dunia Islam pun tercerahkan setelah membaca-mempelajari-menterjemahkan warisan Yunani.

Artinya apa?

Pemilik ilmu pengetahuan lah yang akan selalu menang. Orang-orang yang mau belajar.

Kalo kata anak komunikasi nih; pemilik informasi lah yang akan berjaya.

Yang ingin aku tekankan adalah betapa kita mempunyai kapasitas yang sama untuk menang.

Ini waktunya China kembali memegang dunia. Ini waktunya Asia.

***

29 December 2011

Tak kusangka Kuala Lumpur punya area ini.

Aku sedang membicarakan Jalan Perdana, dimana old railway station berada.

Bangunan bangunan lama (termasuk stasiun) peninggalan kolonial Inggris megah berdiri dan masih terawat masih serta masih digunakan.

Bukan itu saja, banyak point of interest dengan lokasi berdekatan; Masjid Negara, Planetarium, Islamic Art Museum, Bird Park dan Butterfly Park.

Jalan pun besar dan teduh. Aku menyukainya.

Kemana kakiku membawaku pada akhirnya? Aku memilih Islamic Art Museum sesuai rekomendasi Tripadvisor.

Ini masalah referensi. Ini masalah kemana hati mencari.

Pengalaman dibuka dengan manis saat tahu bahwa kartu mahasiswaku memberiku priviledge diskon 50 persen.

Alhamdulillah. Sesuatu! Pak Penjual tiket sempat bertanya; “Jauh sekali datang kemari?”

Dari museum ini aku mengenal Islam, dengan aturan tertentu atas ekpresi seni umatnya, telah mewariskan dunia kota dan bangunannya, ilmu pengetahuan dan sistem kepercayaannya.

Inilah masa saat Islam menjadi penguasa wacana, dari 630 M hingga 1600 M. Jadi sudahkah aku menemukan diri?

Sort of. Saya adalah keturunan Mataram-Singosari -ras Melayu Austronesia –Muslim yang sedang mencari tempatnya di dunia.

Dengan Belajar dan Mengelana.
***

(bagian 6)

Tuhanku, ku ingin bercerita Ku tunduk, bersujud, ku mulai berdoa,
Lelahnya jiwaku, beratnya langkahku
Tuhanku, ku rindu tawaku yang dulu
Kejujuran kebenaran yang dulu kutahu Kemana semua, sejauh itukah kusesal sudah.
Peluklah semua tanyaku. Jawablah dengan caraMu
Tuhanku, kuingin berkelana
Kembali mencari jalan kerumah
Bukan disini tempatku, usai semua sandiwara Cukup ku berpura-pura.
Sejujurnya, hanya dia yang kucinta Kehatinya, aku ingin pulang.
(Dewi Lestari: Pulang, 2008)
***
Aku relatif sering pulang ke Magelang dua tahun terakhir ini. Katakanlah setahun 6 kali. Dengan frekuensi yang menurutku berlebih tersebut, aku merasa boleh-boleh saja melewatkan rumah.
Maksudku hanya menginap di Sleman, dan tidak Magelang.
Apalagi jika hanya pulang Sabtu-Minggu tanpa punya banyak waktu. Menurutku adil.
Sesekali ke Sleman dan bertemu banyak cinta di Dusun Keceme.
Jadi suatu ketika, ketika aku memutuskan pulang Sleman dan tidak ke Magelang, ibuku bertanya: “Kok nggak pulang ke rumah?” “Lha kemarin kan udah. Ganti-ganti giliran tho yo Mam”
Ibuku tidak protes berkepanjangan. In fact, pada hari aku pulang ke Sleman, ibu yang mengalah datang ke Sleman bersama Mas Dedy dan istrinya. Saat turun dari mobil sewaan di depan rumah Sleman itulah saat aku mulai paham kekhawatiran Bulikku.
Bulikku bilang ibu mulai kesulitan jalan kaki karena sakit tulang belakangnya.
Aku masih bertanya-tanya, karena ibu sama sekali tidak pernah mengeluh sakit kepadaku.
Jadi, saat ibu turun dan harus dituntun oleh kakakku, saat itulah aku paham bahwa ini bukan sakit biasa.
Bahwa ini sakit yang terakumulasi dari ketidakpedulian ibuku atas dirinya, memaksa diri untuk terus bekerja. Ibuku merapuh dan menua.
***
30 Desember 2011
Pesawat mendarat di Tianjin sekitar pukul tiga sore. Kulihat kabut tipis menutupi bandara kecil ini. Suram. Dan aku merasa dingin. Benar saja. Dingin menyergap di luar bandara. Kulihat sungai membeku tanpa salju. Pohon-pohon meranggas. Jalanan sepi. Gedung-gedung apartemen dan perkantoran tinggi berderetan sepanjang jalan. Membuatku percaya 1,3 milyar manusia menghuni China. Ini bahkan belum Beijing.
Bus umum yang mengantarku dari Bandara ke stasiun Tianjin memutar acara komedi di video playernya. Tentu aku tidak paham mereka ngomong apa. Aku hanya bertanya-tanya, sejauh mana mereka boleh menertawakan pemerintahnya. Tidak banyak yang bisa kuceritakan sepanjang perjalanan. Semua diam dalam kesendirian.
Tianjin dan Beijing dihubungkan oleh kereta super cepat. Jarak 100 km hanya ditempuh kurang lebih setengah jam. Ketidakmampuanku berbahasa Mandarin tertolong oleh mahasiswa bule yang kutemui di bus. Kutanya dia apakah akan ke Beijing? Dan ketika jawabannya iya, kuikuti saja dia mengantri di loket, dan the rest of it, aku berbahasa tubuh saja ke petugas tiket.
Belum genap sehari aku menghabiskan waktu disini, dan aku sudah jatuh ke pemahaman bahwa orang-orang daratan ini tidak suka tersenyum. Mungkin, mungkin memang benar, orang-orang Indonesia dan Thailand saja yang kebanyakan energi bertukar tawa ke orang asing. Atau ini semata hawa dingin yang mengkerutkan syaraf ramah mereka.
China dengan panjang sejarah 4,000 tahun mustahil terjelaskan sempurna hanya dengan tiga hari perjalananku. Beijing menurutku paling tepat untuk merepresentasikan perjalanan budaya negara ini. Berbeda dengan Shanghai yang tumbuh sebagai pusat bisnis, Beijing tumbuh sebagai pusat pemerintahan ratusan tahun. Pusat pendidikan ratusan tahun. Status yang memberikan keyakinan kepada orang Beijing bahwa mereka lebih beretika dan berkapabilitas daripada manusia bagian China yang lain. Disana museum nasional berada. Disana tembok besar China -satu-satunya hal yang menghubungkan semua dinasti China- bisa ditempuh hanya dengan satu jam perjalanan.
Beijing sebetulnya “kota metropolis baru” bagi China,
baru berumur 600 tahun jika dihitung dari pertama kali Yung Le membangun Forbidden City,
memindahkan ibukota kekaisaran dari Nanjing di selatan ke utara. Berpindah ibukota, berganti dinasti, berselimut intrik, bersimbah darah. Itulah sejarah dinasti China. Sepertinya mudah dipahami, daratan China seluas ini, puluhan kerajaan berbeda berlomba-lomba menyatukan China, mencoba menguasai seluas mungkin teritori dan sumber daya.
***
Beijing berhasil memukauku sejak awal pertemuan. Aku sampai di Southtern Beijing Terminal pukul 18.00 dan langsung ternganga dengan besarnya stasiun ini, tingginya ceiling di atas kepalaku, dan kenyataan bahwa track keretaku bernomor 24.
Hah? Track stasiun Tugu berakhir di angka 8 bukan?
Aku tak mampu berlama-lama menganga. Semua orang serasa bergerak cepat. Aku berjalan keluar bersama ratusan orang berpindah ke track subway. Benar-benar ratusan, saat aku bersamping-sampingan dengan wajah-wajah tak dikenal tanpa suara. Aku melebur. Aku tak merasa takut. Aku tak merasa asing.
Aku hanya merasa sedang berada di bagian lain Jakarta. Semacam Kelapa Gading. Ya, Cina. Jika kata itu terucap di Jakarta, maka pemahaman pertama yang muncul bukanlah konsep sebuah negara adidaya. Ini adalah kata yang merujuk pada satu etnis dengan sebuah problematika.
Bukan salah kita sepertinya. Bahkan sejak jaman Belanda, etnis yang sudah hadir ratusan tahun sebelumnya di tanah air kita (ribuan tahun jika kita percaya bahwa kita adalah keturunan Austronesia yang berawal dari Taiwan), diatur sedemikian rupa oleh setiap penguasa.
Belanda, Orde Lama, Orde Baru semacam butuh tidak butuh etnis ini. Semacam tidak mengayomi, tapi berkolusi. Aku masih harus banyak mencari tahu soal ini. Aku tidak bisa berpanjang lebar. Lihatlah, bahwa akupun masih menganggap ini sensitif.
Tentang kehidupan bernegara, ada perbedaan signifikan antara Malaysia dan Indonesia. Sejak awal berdiri, Malaysia dengan sadar lahir dari mayoritas tiga etnis; Bumiputera, Chinese, dan Indian. Disepakati sejak awal bahwa masing-masing etnis boleh menjaga adatnya masing-masing. Boleh berkumpul dan bersekolah dengan caranya masing-masing. Bukan tidak bermasalah. Karena aku pernah membaca artikel soalan protes kaum India di Malaysia. Soalan beberapa produk pemerintahan yang dianggap hanya menguntungkan bumiputera.
***
Berteman peta yang aku print-out dari labkom kampus, aku turun di stasiun Wungfujing dan mencoba menyelesaikan tugas “Dora the Explorer” mencari hotel. Kedua telapak tangan sudah perih karena kedinginan. Sarung tangan yang dipersiapkan seperti tidak membantu sama sekali. Terbengong-bengong melihat jalanan super lebar dengan 12 lajur total kanan kiri membuatku harus berhati-hati.
Sekali salah arah, maka akan membuatku bertambah menderita karena artinya harus berbalik dengan mengulang jarak tempuh yang tidak pendek.
Kanan atau Kiri? Pilihanmu disaat-saat seperti ini seperti lebih menentukan daripada pertanyaan: Putus atau Lanjut pacaran? Putus atau Lanjut pacaran di Jakarta akan tertolong dengan banyaknya rumah makan Padang dan murahnya ongkos taksi.
Sedangkan sekarang, salah mengambil pilihan, aku bisa merana kedinginan sendiri di sudut Beijing.
Jadi aku memilih kanan. Dan terimakasih, aku salah. Papan nama tidak menunjukkan barisan bangunan yang tertera di peta. Aku salah. Berhenti, aku berdiri termangu di depan halte bus dengan angin dingin yang tak berperikemanusiaan. Teringatku akan Hongkong dimana aku bolak-balik lima kali di sebuah jalan dan tak berhasil menemukan apartemen yang aku tuju.
Ternyata, aku hanya kurang hati-hati, terlewat membaca tulisan kecil di depan bangunan yang aku maksud. Dengan keyakinan yang sama itulah, bahwa aku mampu menemukan hotelku, aku berbalik arah.
Sepertinya cerita aku pingsan kedinginan kelaparan di sudut Beijing akan terlalu dramatis. Aku yakin tidak akan terjadi. Aku menyusuri trotoar yang ramah pejalan kaki karena berlebar 10 meter lebih tanpa pedagang kaki lima.
Ya iyalah, mana mungkin pedagang kaki lima jualan di hawa sedingin ini. Koplak!
In fact, ada. Ada beberapa pedagang kaki lima berjualan jagung rebus di sudut terowongan penyeberangan. Aku mulai lega saat deretan hotel-hotel besar dengan hiasan natal di depannya mulai terlihat. Mereka tampak anggun nan kekar menghadap jalanan Beijing.
Hotelku ada di deretan avenue ini? Bukan, hotelku ada di belakangnya!
Tak mungkinlah saat ini aku menginap di Beijing Grand Hotel. Tanpa kesulitan, aku menemukan “Forbidden Inn” berdiri nylempit di Nanheyan Street. Aku merasa cukup puas.
Kamarku besar dan bersih. Ada wifi di lobby hotel.
Setelah mandi dan unpacking, aku keluar hotel berniat mencari makan malam. Aku berjalan 100 meter ke arah kiri depan hotel dan menemukan restoran besar bertuliskan halal di billboardnya. Aku terintimidasi. Restoran ini tampak mewah dengan billboard warna-warni terangnya dan pintu masuk berlapis.
Aku menyerah sebelum mencoba, dan lebih memilih restoran
Cina di depan hotel. Awalnya aku makan nasi goreng saja. Tapi melihat menu yang belum pernah aku coba… keluarlah napsu lahiriah itu. Aku ingin mencoba tumis kodok.
Ada yang salah? Apa hal yang terburuk yang bisa aku dapatkan jika makan makanan ini? Aku semacam menantang.
***
31 Desember 2011
Aku bangun dengan malas. Aku ingin tidur saja. Aku tidak menyetel weker. Dingin sekali di luar. Katanya Museum Nasional Jar? “Lalu apa nasib sekian rupiah yang dikeluarkan untuk perjalanan ini?” Suara lirih seakan terdengar.
Malas-malasan aku bangun dan mengambil handuk.
Berlama-lama dengan air hangat di kamar mandi. Mengulur waktu senyaman mungkin. Pun, aku tetap harus keluar hotel. Wushhhh…. Angin menyapa sekeluarnya aku di depan gerbang.
Tak ada rumus langkah mundur. Hotelku hanya berjarak 200 meter dari Tiananmen Square. Tidak terasa pendek juga dengan hawa seperti ini. Anyway. Beijing terus memukauku. Aku melihat sepeda butut diparkir di seberang butik Salvatore Feragamo.
Pemandangan indah komunisme. Trotoar super lebar ini masih menyisakan lapangan parkir sepeda, bahkan di depan deretan butik ternama.
Ingat Senayan City? Ada parkir Harley Davidson di depannya. Kemenangan indah kapitalisme. Hari libur membawa ribuan orang ke Tiananmen Square. Apalagi matahari pagi ini bersahabat dengan bersinar cukup terang. Beberapa kelompok tour berbahasa China tampak bergerombol dengan guide dan bendera yang dibawanya. Berseliweran juga, turis-turis berbahasa Rusia. Hemh, China mungkin destinasi menarik buat orang ini. Dekat; lokasi dan ideologi. Hebatnya, aku tidak menemukan orang Indonesia. Ajaib. Jarang-Jarang.
Ada pemandangan lain yang menarik buatku; manusia-manusia berseragam hijau di beberapa titik. Aku seperti shooting film-film perang dunia kedua. Pengamanan cukup ketat karena ini daerah strategis. Semacam Kompleks Monas dan Istana Negara. Di sekitar Tiananmen Square adalah Museum Nasional China, People Hall, dan Forbidden City. Tidak perlu cemas. Mereka punya metal detector gate, dan pengechekan berlangsung cepat tanpa basa-basi.
Tentu jika anda tidak membawa barang mencurigakan.
Apakah ini komunisme? Museum Nasional digratiskan hari ini. Aku hanya perlu mengantri tiket tanpa membayar. Seperti Museum Gajah yang megah berdiri di pinggir Monas, Museum Nasional kekar berdiri menghadap Tiananmen.
Benar-benar kekar karena museum berukuran dan berbentuk sama dengan People Hall.
Aku pikir sudah seharusnya. China perlu rumah sebesar ini untuk menyimpan perjalanan hidupnya.
Dengan puluhan galeri di dalamnya, benar-benar butuh sepanjang hari untuk menyelesaikan semua koleksi museum.
Apalagi kebetulan pada saat yang sama Museum Nasional China sedang kedatangan tamu museum dari Jerman yang meminjamkan artifaknya. Dari compactnya galeri, satu yang pasti nggak boleh dilewatkan adalah galeri “Ancient China”, kumpulan galeri bersambung-sambung yang mengantar pengunjung kembali ke China purba sampai runtuhnya imperialisme di tahun 1915.
Ya. galeri ini ditata sesuai periode sejarah. Jadi pengunjung diajak bercengkerama dengan setiap relik secara runut. Aku punya bayangan ini. Tentang Indonesia merangkum perjalanan ribuan tahunnya di suatu tempat. Dengan dibuat lebih menarik.
Tidak hanya meletakkan koleksi begitu saja, tapi dengan membuat miniatur yang boleh disentuh dan digunakan oleh pengunjung. Bayangkan anda masuk ke periode Medang Jawa dan melihat pembangunan Borobudur. Bayangkan anda masuk ke periode Sriwijaya dan masuk ke kapalnya. Bayangkan anda masuk ke priode Majapahit dan berfoto dengan Gadjah Mada.
Aku keluar dari museum pukul 4.30. setengah jam sebelum museum tutup. Aku berjalan seperti biasa. Dan sama sekali tidak menyangka akan mendapat pengalaman serupa ini. Dua orang gadis belia menyapaku dari belakang.
“Hi? Hallo” kata salah satu dari mereka. Aku seperti biasa melempar senyum balik tapi tanpa berusaha melayani lebih lanjut. “I’m sorry I cant speak English” jawabku terbata-bata, merasa acting sudah sempurna.
“Oh. We are sorry. But we are arguing here. My sister insistly said that youre not a Chinese. But Im pretty sure you are. So Where are you come from?” Tanyanya.
What, are you kidding me? Thinking me as a Chinese descent? “Oh. Im not. Im Indonesian” Jawabku dengan English sempurna. Loh? Nggak konsisten nih si Fajar.
“See?” Kulihat mereka berargue sendiri. “Hi. Im May. And this is Linda, my cousin. And you are?”
“Fajar”
Dan begitulah, kami mengobrol sambil jalan, sampai satu saat dia mengajak ku minum teh. Kuterima ajakannya. Bukan tanpa curiga. Aku menyimpannya sedikit saja. Karena aku percaya dua gadis ini tampak baik-baik. Dengan kemampuan bahasa Inggris diatas rata-rata, harusnya sudah cukup untuk curiga. Tapi entahlah. Mungkin saya naïf. Mungkin ingin tahu. Mungkin gatel.
Kami mengobrol panjang tentang Indonesia, dan selebihnya tentang sejarah China dan Jepang.
Linda tampak membalas topik ini dengan baik. Aku mungkin tersedot ke dalamnya. Dan saat teh datang, aku meminumnya saja tanpa takut.
What the worst could be happened?
Aku sekali lagi menantang. Dan aku harus membayar mahal. Kenapa? Apakah aku akan dibuat pingsan dan barang-barangku ludes semua?
Atau kemungkinan besar dibunuh? Sepertinya tidak mungkin. Café ini ada di lompetan jalan besar. Sepertinya nggak akan seperti itu.
Aku teringat salah satu episode Greys Anatomy saat Meredith Grey tenggelam ke sungai, ada saat dimana dia tidak berusaha berenang ke atas. Ada momen saat dia bertanya: apakah mati itu? Aku salah satu orang yang bertanya-tanya tentang apa itu mati.
Satu yang mencurigakan memang tidak ada keterangan harga di menunya. Aku tidak menaruh curiga sama sekali. Aku pikir ini biasa. Mungkin adatnya.
Kami mengobrol hampir 1,5 jam. Kami melaluinya dnegan banyak tertawa.
Ditengahnya, aku dengan naif bertanya: “How could you pick me around other people? How can you know when people harmless?” “We have maximum security here, there is no way a man will bring for example gun, freely!” jawab Linda. “And Im a tough girl. I can fight.” Katanya lagi.
Linda memang tampak sangat menarik. Dia mengingatkanku sedikit atas Lynn -salah satu manager di PDS Singapore-. Sampai saat itu aku belum merasa ada yang aneh. Aku baru merasa kaget saat bill tagihan datang.
Tagihannya luar biasa untuk teh dan wine seperti itu. Aku berusaha tenang. Sok kalem. Dan sok kaya.
“I will pay this” Kataku.
Entahlah. Harusnya mukaku terlihat pias saat itu.
Fajar? Bagaimana? Masih percaya kemampuanmu mengukur orang baik tak baik dari sorot matanya? Masih percaya ada kebaikan? Aku rasa masih. Aku beri tahu satu hal. Linda berusaha mencegah May saat dia memesan wine. Dia bilang: “Fajar’s not drink wine, May!”.
Memberiku percaya bahwa dia berusaha menjagaku. See? Complete naïve Am I?
Ini mudah. Setiap orang di alam bawah sadarnya mengharapkan keajaiban dan kebaikan dunia. Terlepas seberapa besar dia tidak percaya di alam sadarnya, alam bawah sadar ini selalu mengetuk-ngetuk kesadaran kita, bermimpi atas roda dunia yang sempurna. Aku pulang berpamitan, walaupun mereka masih mengajak karaoke dan makan malam. Aku bilang, aku harus minum obat rutin setiap jam 8 malam. Good Bye Linda,
Selamat tinggal kebodohan.
Sampai di hotel dan aku segera mencari tahu. Kubrowsing Google dan menemukan ‘Beijing Tea Scam” di sana.
Silahkan di cari tahu sendiri. Aku sudah tidak tertarik membahasnya. Aku hanya ingin segera bertukar cerita. Ada Mehdi dan Mona di seberang BBMku. Aku mengadu.
Nama Gede juga melintas kepalaku, mengajakku untuk bercerita kepadanya. Tiga bulan ini membuktikan dia teman yang enak diajak bertukar cerita. Bahkan hal sangat remeh-temeh seperti kepeleset di kamar saat mencoba mengangkat telepon.
But wait, mungkin dia akan tertawa puas di atas kelalaianku kali ini.
Cerita ini akan membuktikan postulatnya soal “being an easy target”. Postulatnya yang menjelaskan mengapa aku yang dipilih oleh Germo Shinjuku untuk ditawari perempuan –dan bukan dia-, tentang copet memilihku sebagai korban -bukannya Wahyu- di jembatan Bendungan Hilir, tentang Ibu-Ibu berjilbab manis yang memilih bantuanku -daripada Dedi- di Senayan City.
Ada apa dengan mukaku?
1 January 2012
Sepertinya ada yang salah dengan referensiku mengenai Forbidden City.
Ya, aku mengenalnya pertama dari film esek-esek China yang diputar di Bioskop Tidar Magelang.
Aku lupa judulnya. Aku menonton bersama Wawan, Rahma, Ika dan beberapa teman lain tahun 1997-an saat masih kelas tiga SMP. Namanya juga anak kecil. Film tentang Kaisar dan ratusan simpanannya itu membekas dalam.
Membekas dalam, tentang bagaimana seorang diberi kuasa memilih ratusan wanita sebagai istrinya. Membekas dalam adegan intimnya. Membekas dalam adegan para kasim yang dikastrasi untuk menjadi pengawal dan penjaga simpanan-simpanan raja ini. Sangat menakutkan. Bagaimana menghilangkan kelaki-lakian seseorang semena-mena.
Sumprit Rahma, aku masih inget adegannya. Dan kita beramai-ramai tertawa di kursi belakang bioskop.
Mari kita dengar apa kata sejarah. Kaisar Yung Le (1400 CE) memindahkan ibukota Kekaisaran China dari Nanjing ke Beijing setelah dia menggulingkan Kaisar sebelumnya. Keponakannya sendiri.
Sudahlah. Anda akan terbiasa mendengar cerita Bapak membunuh anaknya. Anak membunuh Ibunya. Ibu suri membunuh simpanan Raja. Calon raja membunuh adiknya.
Hemmmmhhh… Sejarah China mencatatnya. Sejarah yang sama mewarnai banyak peradaban lainnya.
Kaisar Yung Le, menandai Beijing sebagai ibukota dunia baru dengan membangun Forbidden City. Semacam legitimasi kekuasaannya. Semacam penanda kebesarannya. Dan tidak main-main. Membentang dari utara ke selatan. Pemilihan lokasi dilakukan sesuai dengan kepercayaan astronomi sang Raja. Dan lokasi tempat saya berdiri ini dipercaya sebagai pusat dunia, dimana bintang utara diatasnya tidak pernah bergerak.
Semua bintang berotasi mengelilinginya. Efek psikologis sudah dimulai dari mulai masuk istana. Kita harus melewati tiga gerbang sebesar gaban dengan total jarak lebih dari 500 meter sebelum sampai ke Supreme Hall. Tempat Kaisar duduk di atas kita.
Aku mencoba berdiri di lapangan menghadap Supreme Hall, membayangkan diriku sebagai tentara yang debriefing sebelum perang. Bo’ jauh banget jaraknya. Gue rasa dia kagak bisa ngliat Kaisarnya dah. Kan belum ada proyektor?
Gue curiga juga nih, prajuritnya pada maen gaple di bawah. Lha Kaisarnya pidato dia kagak bisa denger juga. Kan belum ada speaker? Suka lebai nih Kaisar.
Aku menyewa fasilitas audio headphone guide berbahasa Indonesia.
Hanya 80.000 rupiah. Secara otomatis alat ini menjelaskan setiap tempat yang kita lewati. Semacam ada GPS didalamnya.
Baiklah. Mari kita menuju tempat yang paling menarik perhatian saya. Perhatian seorang Fajar kelas tiga SMP. Apa lagi kalo bukan istana belakang tempat Raja menginapkan para simpanannya. Saya ternyata salah. Kaisar Yungle dikabarkan memiliki 20,000 wanita simpanan. Bukan ratusan. (PS: Xin, teman saya asli Beijing bahkan mengatakan: unlimited numbers)
Dipercaya, Kaisar harus menyeimbangkan kekuasaanya yang super besar (YIN) dengan menggauli sebanyak mungkin perempuan (YANG).
Bagian belakang istana pada jaman itu dijaga sangat ketat. Hanya orang-orang tertentu saja yang diperbolehkan masuk.
Katakanlah ini keputren istana. Hanya bedanya dengan keputren Jogja, Forbidden City terdiri dari 9,000 kamar. Can you imagine? 9,000 kamar!!! Sebuah istana yang dibangun 200 tahun sebelum Versailles.
I mean, if you really into that kind of interest to Western civilization… China, even hundreds years before it, has more magnificent trail.
Bagaimana kaisar memilih pasangannya? Ada seleksinya. Perempuan berusia 12-19 tahun di seluruh China dilarang menikah. Kontingen dari tiga etnis besar; Manchu, Han dan Mongol diboyong datang ke istana. Mereka diseleksi awal dari bentuk tubuh, rambut, gigi dan bau badan. Yang lolos ke putaran akhir barulah diseleksi oleh Ibu Suri dan komitenya. Nah, yang nggak lolos seleksi itu ntuh yang boleh pulang kampoeng dan menikah.
Disentuh semua entuh 20,000 orang yang terpilih?
Kagak lah nyong. Gue rasa kagak. Masak sih? Kalo iya, kebanyakan waktu banget nih Kaisar.
Rumor has it. Karena kehidupan yang terpencil di istana inilah (bahkan Kaisar dilarang keluar istana) yang dikabarkan membuat para simpanan kesepian dan berselingkuh dengan para kasimnya. That’s make sense isn’t?
Pernah dalam satu periode, setelah mendengar rumor ini, Kaisar meracun dan membunuh 2,500 simpanan dan kasim serentak. Wallahu alam bishawab. Sejarah kadang tidak berarah.
Istana ini terlalu luas dan melelahkan jika ingin dikunjungi semuanya. Yang bisa aku bilang, jangan lupa masuk ke “Bagian Perbendaharaan Istana/Treasury Room”, bagian pojok kanan istana yang menyimpan sebagian koleksi harta berharga kerajaan. Aku bilang sebagian, karena sebagian lainnya sudah diangkut ke Museum Nasional Taiwan saat China pecah idealisme dengan kepulauan kecilnya tersebut.
Terus terang, aku tidak terlalu terngangah kali ini. Ya. istana ini mencengangkan dengan luasnya. Tapi beberapa bagian dimana kayu seudah mulai menua dan logam sudah mengkusam, tidak mampu membawa angan saya berlari-lari. Ini mungkin masalah minat saja. Aku teringat Red Fort di Agra. Dimana auranya bisa membuatku lupa diri. Tersenyum-senyum membayangkan diri berpakaian Kaisar Mughal dan menari-nari ala India berlarian di taman istananya.
Jadi film apa yang sebaiknya ditonton oleh anak tiga SMP dan bisa memberikan pemahaman yang lebih benar atas Forbidden City dan sejarah China? Aku merekomendasikan “The Last Emperor”. Kabarnya, film ini adalah satu-satunya film drama yang diperbolehkan syuting di Forbidden City. Dan apalagi
muatan ceritanya yang mencerahkan. A must see!
***
Seperti yang sudah aku tulis sebelumnya, Forbidden City terletak di sekitaran Tiananmen Square. Artinya aku akan melewati daerah yang sama dimana aku bertemu dengan dua gadis kemarin. Ada curiosity, ada kekhawatiran, ada keingintahuan bagaimana jika aku bertemu mereka lagi.
mencoba melongok ke café tea kemarin dan tidak melihat siapa-siapa. Pun aku bertemu lagi dengan satu orang wanita dan satu Bapak-Bapak yang menyapa “hi” serupa.
Aku melempar senyum ke mereka. Dan tetap melenggang pulang. Hari kuakhiri di Wungfujing. Bercengkerama dengan Kolonel Sanders untuk menghilangkan laparku. Dan kemudian tidur.
Malas sudah membayangi tentang perlu tidaknya ke Tembok Besar China besok.
2 Januari 2012
Aku malas. Di luar dingin. Aku segera ingin kembali ke Tokyo. Bertemu Gede dan Grace. Baiklah Tokyo. Engkau memang lebih egois. Tapi lebih jujur daripada Beijing. Aku kemudian merasa tidak aman.
“Darah muda, darahnya para remaja
Yang selalu merasa gagah tak pernah mau menyerah
Masa muda, masa yang berapi-api
Yang maunya menang sendiri. Walau salah tak peduli”
(Rhoma Irama; Darah Muda, 1975)
Ya. Lagu Bang Haji yang ada di kepalaku. Aku tak mungkin memalukan diri, menyerah pada angin musim dingin ini.
Bergegas ku mandi dan ganti baju.
Sereret… buka pintu hotel. KAMPRET! Ini lebih dingin dari kemarin.
Aku belok kiri dan masuk lobby hotel kembali. Bermalas-malasan dulu dengan Blackberry. Jadi, naik gunung apa nonton HBO nih?
***
Tembok Besar yang kita lihat sekarang adalah hasil karya pembangunan ribuan tahun. Shih Huang Di (200 BC) pertama kali memerintahkan pembangunannya sebagai benteng pertahanan melawan kaum nomaden sebelah utara China; kaum Mongol. Kata History Channel, tembok besar adalah penanda; “tempatmu disana, you’re not belong here”.
Seperti kita ketahui, China terdiri dari puluhan etnis yang berbeda dengan bahasa dan adatnya masing-masing. Jadi, Kekaisaran China adalah konsep dimana China awal terbentuk dari puluhan etnis yang kemudian bersatu. Bukan bersatu suka rela. Tapi bersatu karena pedang dan ketakutan.
Dengan petunjuk dari Tripadvisor, aku memutuskan jalan ke Tembok Besar tanpa tour-guide. Sepertinya akan baik-baik saja. Apalagi setelah Gusti Allah menimpakan musibah kemarin.
Tidak mungkin rasanya Dia menimpakan lagi ujian yang tak mampu kutanggung.
Dan InsyaAllah benar.
Walaupun sempat kesasar (lagi) menemukan terminal bus yang akan membawaku ke Badaling –salah satu entry point Great Wall-, tapi aku menemukan mas-mas yang bersedia mengantarku menemukan bus yang tepat.
Tripadvisor bilang bus no.915. Tapi Masnya bilang 852. Baiklah. Aku percaya saja.
Tapi jangan percaya ketika ada yang bilang anak muda Beijing sudah pintar bahasa Inggris semuanya. Nah buktinya ini masnya susah banget ngomongnya!
Pun ibu-ibu muda di bangku sebelahku lebih paranoid. Dia langsung memanggil suaminya untuk bertukar tempat saat aku bertanya berapa ongkos bisnya? Arrrrrgggghhhhh…. Takut banget sih mbak?
***
Perlu satu jam untuk mencapai Beijing dari terminal bus Beijing. SHIT!!! Aku keluar bus dan langsung mengumpat! Angin gunung bertiup bolak balik kencang sekali. Menampar pipi kanan kiri tidak berhenti. Aku yang sempat keluar dan jalan naik 20 meter, memutuskan balik ke rest area dan makan mi rebus dulu. Makan siang jam 11 pagi. Kuletakkan tas… dan bernapas dengan benar. Aku sudah berniat balik ke kota. Toh aku sudah melihat tembok berderet sepanjang perjalanan tadi. Sudahlah. Aku sudah pernah ke Tembok Besar. Lalu kemudian Rhoma Irama datang dan bersenandung lagi.
“Darah muda, darahnya para remaja Yang selalu merasa gagah tak pernah mau menyerah Masa muda, masa yang berapi-api Yang maunya menang sendiri. Walau salah tak peduli”
Ohhhhh.. SHIT!!!
Memalukan engkau Fajar! Kutenteng kembali tasku dan keluar menuju track nya lagi.
Aku naik bersama ratusan pendaki lainnya ber-range usia lebar. Ada kakek nenek – ada anak muda yang pacaran – ada orangtua membawa anak 2 tahunnya. Hadeuhhhhh… Kurang kerjaan ya Bu? Kasihan anaknya!
Angin di atas bukit ternyata lebih kejam.
Mbak-mbak di sebelah kiriku terhuyung-huyung karena berat badannya yang sepertinya hanya setengahku. Ahh, berguna juga akhirnya ini lemak perut.
Aku hanya kuat mendaki sekitar 500 meter. Ini cukup buatku. Cukup merasakan penderitaan buruh-buruh yang membangun monumen ini. History Channel mengatakan Tembok Besar adalah juga kuburan terpanjang di dunia.
Para pekerja yang mati dikuburkan seperlunya di sepanjang tembok ini.
China. Zai Jian. Selamat menguasai dunia lagi!
***

(bagian 7)

3 Januari 2012

Jam 4 dinihari.

Saat aku meninggalkan hotel dengan sedan sewaan.

Menempus jalanan Beijing yang lebar, lengang.

Bersenyawa dengan rasa.

Perjalanan 40 menit yang cukup untuk meyakinkan bahwa ada pertarungan hati yang sama yang akan aku dapatkan saat menembus Abu Dhabi, St. Petersburg, dan Washington D.C.

Jadi mengapa masih ingin kesana jika perasaan yang didapatkan sama saja?

***

Untuk pertama kalinya, aku menggunakan jasa maskapai Amerika.

Delta Airline namanya. Full service airline yang pernah didiskusikan di kelas “Strategic Management” kami semester lalu.

Ada hal yang menarik dicatat. Pesawat kami telat meluncur 30 menit karena masalah bagasi dan over-traffic di bandara. Pilot dengan tenang meyakinkan bahwa dia akan berusaha sebisa mungkin jam kedatangan di Tokyo takkan terganggu. Gimana bisa Om? Ngebut?

Aku sudah blingsatan karena keterlambatan ini, tapi kok masih melihat penumpang lain tenang-tenang saja? Tidak ada yang protes.

Blingsatan karena ekspektasiku tidak menjadi nyata. Pesawat sudah cukup tua. Tidak ada personal in-flight entertaintment. Pramugarinya berumur dan tidak cantik. Eh ditambah delay. Ternyata benar. Pesawat tiba di Narita tepat waktu. Malah, mendarat lebih cepat 10 menit dari jadwal. Hah? Kok bisa?

***

Pesawat mendarat dengan selamat di Narita.

Aku menemukan pesan dari Gede di laman depan facebook.

“Cong jadwal loe tanggal 4 kemana?”

Pertanyaan bodoh.

Jelas-jelas kita sudah sepakat bertiga jalan bareng. Aku, Grace dan Gede.

Ternyata mungkin aku yang bodoh. Aku tiba-tiba ingat belum mengonfirmasi lagi ke Gede soal rencana semula;

soal makan siangku dan Kei san-teman Mitsubishi Tokyo-,

pun aku juga belum mengonfirmasi lagi ke Grace soal jadwal kita untuk tiga hari mendatang.

Mungkin Gede ingin memastikan hal tersebut.

My bad.

Yang belum kuceritakan pada Gede dan Grace: aku tidak jadi mengajak Kei san makan siang di Marunouchi.

Menurutku jelas. Setelah Gede dan Grace tampak berkomitmen pada rencana jalan-jalan kita, mengapa juga aku masih merefleksikan diri pada orang lain?

Aku kemudian menjawab pertanyaan Gede via sms, sepanjang perjalananku dari Narita ke Tokyo Eki.

“De, gue nggak jadi ngubungin temen gue. Sengaja mau jalan ama loe dan Grace. Besok ke Sea World yuk.”

Jawaban pendek dan aman dari versi panjang yang sebetulnya seperti ini:

“Gede… gue nggak jadi janjian sama temen Mitsubishi itu. Gue rasa ini bagian dari jawaban perjalanan 15,000 km gue. Bahwa sudah semestinyalah tidak lagi memproyeksikan diri ke semua kenangan lama yang tidak relevan. Loe dan Grace adalah kekinian. Adalah relevan. Mau kemana saja buat gue nggak terlalu penting. Asal bareng aja kita bertiga jalannya. Okeh?”

***

Setelah membeli makan siang di Lawson, check in di hotel, dan unpacking, aku keluar lagi menjemput Gede yang datang dari stasiun Kondemacho.

“Ngapain dijemput?” saat bertemu dengannya di jalan dari hotel menuju stasiun.

“Kan takut loe nyasar.”

“Kan gue punya GPS cong!” jawabnya.

Apa gue bilang? Trisakti tengil kan? Grrrrrrrrrrr!!!!

Tengil yang bikin aku jadi mikir kalau mau cerita kejadian Beijing kemarin. Tengsin lah.

Nih anak pasti tambah “berisik bin seneng banget” kalau mendengar cerita kebodohanku kemarin.

“Nih jar, gue bawain lucky charm dari Osaka buat loe. Biar nyokap loe cepet sembuh” Kata Gede sesampainya kami masuk kamar.

Ahhh… loe manis banget sih De.

Jadi cerita soal Beijing nggak ya? batinku.

Nggak ah. Tetep aja mukenye tengil kayak buntil!

“Kita jadi makan malam sama Grace kan De?” tanyaku kemudian.

“Nggak tau gue. Dia kan lagi sama cowoknya”

“Iye gue tau. Kenapa? Loe nggak enak kita bakal ganggu? Kan ada temannya juga.

Artinya dia nggak pacaran berduaan kok. Nggak papalah menurut gue”

“Ya loe coba aja telpon. Gue janjian makan malam sama Weng dan anak Indonesia lain” jawabnya enteng.

Heh? I put my commitment to you both dan ternyata bubar?

Not a good start, I think. Kenapa misah-misah?

Oalah Jar. Mau kejadian Beijing. Mau Jogja. Mau India. Naïf ya naïf aja!

Resolusi 2012: Less Naïve!!! Destroy Adorableness!!! Get Rid Irresistible!!!

***

Entah naïf entah tidak sensitif,

Yang jelas malam itu aku dan Grace batal bertemu karena jadwal yang tidak singkron.

“Grace sedang bersama pacarnya, pertemuan kami menjadi tak terlalu penting. Accept that!” Kataku sendirian.

Gede kemana? Noh, di sebelah ane.

Dia bernasib sama. Weng batal. Anak-anak Indonesia lain pun tak bisa dihubungi, katanya.

Jadilah kami terdampar berdua di Shinjuku. Berkeliaran mencari “Jembatan Merah”, jaringan restoran Indonesia di Tokyo, karena Gede kebelet masakan Padang.

Pun masih juga belum rejeki kami; setelah Grace batal, Weng batal, dan sekarang Jembatan Merah tutup. Restoran masih libur tahun baru.

Tapi hal tersebut tak mengurangi keriangan kami.

Ini penting sebagai partner travelling. Kami tidak bermasalah dengan presisi rencana yang tidak tepat.

Selayak ketika aku dan Rais berdua saja. Aku dan Indra saja. Aku dan Dedi saja. Aku dan Mehdi saja. Aku dan Wahyu saja.

Kami bisa berdua seharian dan tetap baik-baik saja.

Selamat Gede. Anda masuk level 6.

“Jadi loe kapan kawin Jar?

Kan loe udah tua.

Nyokap loe juga pasti seneng kalo loe kawin.

Udah ada calon belum? Siapa?

Kok diem aja? Marah ya?

Kan gue nanya doang Jar” Tanya Gede beruntun.

Apa aku bilang? Berisik kan? Gede, loe turun ke level 5!

***

4 Januari 2012

Kami memutuskan ke Tokyo Edo Museum hari ini, karena Sea Park tutup setiap hari Rabu.

Museum yang tampak luar berwarna dominan putih ini paling mendekati bayanganku soal museum ideal: lighting, display, dan yang paling penting… experience.

 

Bicara soal koleksi, museum ini tidak mencengangkan. Menurutku, dari jumlah dan “nilai” relik, Museum Nasional China 10 kali lipat lebih berisi.

Tapi… Tokyo Edo Museum ini mempunyai banyak sekali alat peraga yang bisa dicoba oleh pengunjung. Belum lagi panggung di tengah hall yang menggelar acara regular dengan artis yang tampil secara live.

Periode Edo adalah Tokyo era 1600-1800 M di bawah Shogun Tokugawa sebelum Restorasi Meiji. Sebuah periode saat Jepang mulai berinteraksi secara intensif dengan dunia luar melalui perdagangan. Pengaruh Barat perlahan masuk : Architecture, Wine, Christianity, Clothing.

Periode yang berstandar ganda karena disaat yang sama, Shogun Tokugawa juga mengaturnya rapat-rapat.

Konservatisme yang akhirnya mendorong restorasi Meiji di era setelahnya.

***

Petang saat aku menghubungi Grace sekali lagi.

Grace kecapekan. Seharian penuh di Disneyland katanya.

Kami kembali gagal makan bersama malam ini.

Sungguh, aku terdiam, mood turun.

Grace, Mengapa?

It was no fun. Kami akhirnya muter-muter nggak jelas di Atre Akihabara. Berujung pada Uniqlo lainnya.

Belanja, memang di level tertentu, meringankan kecewa.

Puluhan tahun sesekali berhadapan dengan kecewa, aku sepertinya tahu cara mengorganisirnya.

Kecewa –atau di tingkat lebih parah disebut luka- bisa dikonversi menjadi “pengingat realita”.

Di kasus Grace, gampang saja. Turunkan “expectation level” mu ke Grace.

Done.

Kami balik hotel, mandi dan langsung kupakai Uniqlo baru buat tidur.

Setelan serasi warna putih.

“Kayak gay loe Jar” Kata Gede melihat setelan baruku.

“You sleep with gay. That makes you gay!”

Hahaha.

Tertawa kami menutup hari.

***

5 Januari 2012

Aku sudah jalan dengan Gede beberapa kali. Nafsu belanjanya terbilang besar.

Satu yang aku lihat, dia selalu menghabiskan waktu yang signifikan untuk memilih, mencari barang-barang untuk keluarga dan temannya.

Sepertinya dia punya kedekatan yang baik dengan mereka.

Sepertinya. Karena aku butuh studi etnografi ke rumahnya untuk membuktikan postulatku yang satu ini.

Sea Park was beyond our expectation. Terletak di pinggir Teluk Tokyo, di tengah taman besar, prisma kokohnya menjulang cantik seperti terapung di atas permukaan air laut.

Koleksinya pun tidak mengecewakan. Walaupun tidak begitu luas, pengelola berhasil menata isinya dengan baik. Menghadirkan ikan dari perairan Amerika Latin sampai Laut China Selatan. Dari laut dalam sampai burung laut di atasnya.

Kami menghabiskan waktu paling lama di wahana penguin. Burung yang tampak bego ini selalu menarik perhatianku.

They are cool. Cool-cool bego.

Begitu juga live theater, akuarium 360 derajat berisi ikan tuna raksasa “berlarian” mengelilingi kami, membuat nafas tertahan. It was awesome!

Kami menjadi pengunjung terakhir. Benar-benar terakhir sampai digiring petugas untuk segera keluar kompleks, karena kami masih mencuri-curi waktu untuk foto twilight yang jatuh di teluk seberang wahana ini.

Puas. Aku puas.

***

Grace dimana? Udah bisa nyusul?

Belum.

Ya. I have to say. This girl’s perceiving-ness quite “bother-some”. Nggateli kalo kata orang Jawa Timuran.

“Aku hidup dalam masa kini” ujarnya suatu ketika. Grrrrrr… ingin garuk-garuk tembok rasanya.

Berencana adalah terminologi yang tidak masuk dalam ensiklopedinya.

Aku dan Grace adalah dinamika biasa antara orang tipe Judging dan Perceiving.

Aku nggak bisa marah. Nggak perlu marah. Nggak berhak marah.

Mungkin ini bagian menjadi tua.

Yang di satu sisi sebetulnya mencemaskanku.

Karena artinya banyak manusia lain yang sebetulnya tidak menampakkan emosinya demi alasan “transaksi yang beradab”.

Setengah menyerah, aku bilang ke Gede:

“Gede, gue nggak telpon Grace bukan berarti gue nggak berusaha ya. She supposed to call us, kalo dia memang mau gabung sama kita” kataku ke Gede, 150 meter diatas permukaan bumi, saat kami sampai di Tokyo Tower.

“Ya iyalah. Kalo dia butuh, ntar juga telpon” jawabnya enteng.

 

Baiklah. Kemudian aku menyiram hati dengan penampilan solo biola di sebuah café di menara ini.

Aku ingin seperti Grace. Aku ingin hidup dalam kekinian. Lebih bebas. Lebih tak peduli.

***

“Guys, gue nginep tempat kalian ya?” tiba-tiba sebuah pesan datang dari Grace.

Permintaan yang sulit dijawab. Karena kamar hotel Tokyo sempit-sempit. Aku harus menanyakannya ke Gede.

“Gede, nanti Grace tidur di atas ama loe ya? Gue dibawah aja. Gue udah nyoba, cukup kok.”

“Gak Mau Gue! Loe aja” Kata Gede.

“Gue Juga Gak Mau!” kataku.

Ehmmm… ya udah. Ini solusi. Grace tidur di lantai saja.

“Loe lah Jar di atas ama dia, gue yang di lantai”. Kata Gede. Mungkin dia kasihan ke Grace.

“Gak Mau Gedeeee!”

Aku menelepon Grace dan menjelaskan solusi yang kami sepakati.

“Gue cewek sendiri, bukannya direbutin malah disingkirin” Kata Grace.

Dengan bercanda pastinya.

Aku yakin dia sangat paham. Kami punya aturan main tidak tertulis.

Kami setuju pengaturan tidur kami. Aku pindah di bagian di atas Grace. Not on her top!!! Aku di bagian di pinggir kasur di atas Grace.

Mensterilkan tangan Gede ke pojokan tembok.

***

06 Januari 2012

Kami tidak boleh malas bangun. Karena check out maksimal jam 10 pagi.

Tidak ada masalah. Anak-anak ini cukup dewasa untuk bekerja-sama.

Kami sarapan Yoshinoya di sebelah hotel dan menuju Stasiun Ueno untuk mengambil barang-barang Grace.

Oh Gosh. No kidding? Grace belanja banyak barang di Tokyo!!!

Now we know why we are so important, rite Gede? In her last day?

Hahaha. Aku nggak tahu sejauh mana Gede ikhlas terima pembagian tugas, karena aku memang membawa barang paling ringkas.

Kan paling tua? Nggak boleh sengsara?

Yang jelas muka Grace dan Gede tidak seceria “Shaun The Sheep” saat membawa masing-masing dua tas besarnya.

Apalagi saat aku salah jalan. Membuat kami mengambil jalan lebih jauh menuju track Yamanote Line.

“Apa gue bilang? Dia orangnya sok tau sih” Begitu kata Grace ke Gede.

***

Alhamdulillah kami menemukan tempat penjualan tiket bus ke Muikamachi dengan mudah.

Hampir tidak ada masalah saat bus datang dan berangkat sesuai jadwal.

Aku duduk disebelah Grace dan bertukar pendapat tentang beberapa hal. Dari Selena Gomez sampai poligami.

“Jadi loe setuju poligami Jar?”

“Im not saying that. Gue cuman bilang, pikiran loe dibuka. Bahwa sangat wajar, manusia pengen banyak pasangan. Manusia  punya banyak dimensi, dan kadang butuh lebih dari satu untuk mencukupi kebutuhan itu. Dimensi itu”

“Im not buying that idea!” Jawabnya.

“I fiend for love, I want it, I crave it. I just can’t get enough.

I wear my heart on my sleeve, Always let love to take the lead. Maybe I little naïve.

Nothing can sober me up”

“Drunk on Love – Rihanna – 2011”

Pemandangan Tokyo yang kering dengan dingin yang menampar perlahan berganti.

Apalagi saat kami memasuki Yuzawa. Hamparan putih salju sudah menyapa. Hampir tidak menyisakan warna lainnya.

Selamat datang di Narnia!

Tidak ada meriah kembang api, atau centang cerentang karpet merah menyambut kami.

Yang ada adalah kebingungan saat kami turun bus, dan salju dua meter menutupi pandangan kami, membuat kami bingung harus berjalan kearah mana.

I hate this white, super cold, wet thing.

***

“Jar, mau air minum gue dong” pinta Grace saat kami menunggu bus lanjutan.

Bus lanjutan bagian dari perjalanan balik menuju kampus kami.

“Kan gue nggak bawa punya loe”

“Tadi gue nitip ke loe cong…”

“Nggak ahh!’

“Iyah!”

Aku kemudian melihat isi tas dan memang menemukan botol minum Grace ada di sana.

“Hehehehehe” cengirku.

“Dia sih gitu. Sok tau. Salah. Ngototan!” kata Grace.

“Gue nggak gitu kan ya De?” rajukku.

“Yah, ntar gue jawab, loe ngotot lagi. Percuma” Jawab Gede.

Hahahaha.

Ini penting, kami bertahan dengan tertawa.

***

Setibanya di kampus, makan malam kami adalah rendang enak buatan calon mertua Grace.

Kami makan lahap sekali. Seakan menjadi penutup perjalanan yang cukup melelahkan sepanjang hari ini.

Pengganti Jembatan Merah.

Aku masuk kamar setelah selesai makan.

Meletakkan tas.

Dan langsung mengangkat telepon kamar. Menekan angka yang aku kenal. Di luar kepala.

“Mam…. Aku udah sampe kamar ya!”

“Baru sampai? Ibu wes ngarep telepon dari tadi” suara ibuku dari rumah Magelang.

“Iya. Baru sampai. Kan naik bus biar hemat. Jadi lama. Kalau naik kereta satu jam, kalo bus empat jam.

Ibu lagi ngapain? pun dhahar?”

“Udah. Nilai kemarin sudah keluar belum? Sinau sing tenan!”

“Belum. Ntar kalo udah ada, langsung dikabari. Yo wes yo mam, cepet sembuh yo!

7.40 pm saat aku menutup resmi episode kali ini di wall facebook ku;

“Selamat sentosa sampai asrama. Menyelesaikan perjalanan 15,000 km tanpa terasa.

Kutemukan, masih ada cinta disana. Sudah ada cinta disini. Yang kubutuhkan hanya percaya”.

***SELESAI***

Saya, Israel, Palestina, Indra

Perbincangan Israel-Palestina terpersonalisasi di tingkat saya.
Saya mengenal konflik berkepanjangan ini dengan cara yang unik. Sebagai mantan murid pondokan –pondokan elite, maksud saya- terminologi Yahudi menjadi intense terdengar karena Pak Udin (pembina asrama) seringkali menyebutnya di sesi kultum kami.
Yang terbentuk dalam logika pikir saya –anak muda berusia 17 tahun saat itu- bahwa Yahudi adalah musuh Islam. Titik. Pemahaman tidak pernah mengarahkan saya untuk mencerna bahwa Yahudi adalah agama samawi yang dibawa Musa sebelum Isa datang dengan kekristenan dan Muhammad hadir dengan keislaman. Saya cemas. Jangan-jangan masih banyak yang berpikir seperti Fajar 13 tahun yang lalu.
Kemudian seiring waktu, mungkin saya lebih banyak terpapar informasi baru dari lebih banyak sumber. Memang seharusnya proses belajar harus seperti itu bukan?
Nah, soal ini, teman-teman SMA saya mempunyai cara yang unik melukiskannya.
Jaman kuliah di Jogja, teman-teman dekat SMA mempopulerkan panggilan ”Yahudi” kepada saya. Saya yakin Indra yang buat ini pertama kali. Tenang… tidak ada yang serius soal ini. In fact, waktu itu malah membantu saya mengkonfigurasi konflik di Timur Tengah.
Dengan seringnya perbedaan pendapat saya dengan teman-teman dekat waktu itu (Indra, Mehdi, Bayu, Ewink), saya disamakan dengan Israel yang semena-mena terhadap Palestina. Saya Israel dan mereka Palestina.
Indra, Bayu dan Ewink adalah Hamas yang tidak mau membuka ruang dialog dengan Israel, dan menekankan hancurnya Israel sebagai tujuan akhir mereka. Sedangkan Mehdi adalah Fatah, yang masih bernegosiasi dan berdiskusi.
Israel dipersalahkan karena mereka membalas serangan kecil Palestina dengan bom-bom besar ke fasilitas publik dan menewaskan orang-orang tidak berdosa. Begitupun logika analogi teman-teman saya yang mengatakan bahwa tindakan-tindakan mereka yang tidak sepaham dengan saya (yang mereka anggap sebagai minor actions) dibalas dengan serangan besar.
Indra mungkin berhak marah. Saya pun tidak menyadari keteledoran saya waktu itu.
Begini. Saya paling tidak bisa menasehati. Sebagai anak yang kehilangan figur ayah sejak kecil, saya terbiasa mengambil keputusan sendiri dan tidak biasa mendapat petuah dan perintah. Menjadikan saya sebagai figur yang menuntut bahwa setiap orang harusnya bisa bertanggung-jawab atas dirinya sendiri, dan tidak perlu lah orang lain repot mengawasi. Sulit buat saya untuk menerjemahkan kekecewaan lewat diskusi –paling tidak saat itu-.
Nah yang terjadi di Jogja adalah, saya kecewa dengan pilihan-pilihan Indra saat itu. Dan hanya bisa menarasikannya lewat surat. Bodohnya memang… bahwa surat itu ada di dalam kartu lebaran yang saya kirim untuk Om Tahrim, ayahnya. Dimana beliau bisa membaca isi surat yang –menurut Indra- semacam laporan kelakuan buruknya di Jogja. Jelaslah dia mendapat bonus bokap marah-marah. Hahahahah. Oke… Oke… saya mungkin beneran goblok saat itu.
Tapi, seperti saya selalu jelaskan ke Indra, bahwa harus ada perspektif lain melihat kegoblokan itu. Bahwa saya benar-benar perhatian, dan di tingkat tertentu, ketakutan melihat teman-teman menuju arah yang salah. Pledoi yang sepertinya tidak pernah diterima oleh Indra. 
Balik ke terminologi Israel-Palestina yang tadi, lalu dimana posisi teman-teman cewek waktu itu? Detty –yang saat itu ada di Australia- disemacamkan Amerika Serikat yang selalu membela kepentingan Israel. Ratih dan Ririn adalah semacam Uni Eropa yang lebih netral.
Sama dengan perbedaan pendapat kami di banyak hal, dalam setiap diskusi kami tentang Israel-Palestina, saya dianggap lebih membela kepentingan Israel daripada Palestina. Apakah pendekatan historis saya salah?
(Perebutan) Jerusalem (yang hanya sebagian dari konflik mereka) memang penting bagi tiga agama. Di sana ada kuil Solomon, ada tempat Isa disalib, adalah kiblat Muslim sebelum dipindah ke Ka’bah. Kepemilikan mereka bertiga atas tempat ini begitu besar.
Perspektif perang atas kemanusiaan memang okelah, tapi janganlah menutup mata soal background kuat agama dibalik ini. Sepanjang masih berputar di kisaran siapa (agama) yang benar dan siapa yang harus musnah, maka saya ragu konflik ini bisa terselesaikan.
Mbok ya sama kayak saya dan Indra dong. Kami berdamai cepat setelahnya. 

Ditinggal Kawin

Hidup adalah tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan cinta.
Itu kata Melly Goeslaw yak, bukan gue.
Mbak Mel, perspektifmu ireng banget. Sampeyan ditinggal sopo sih mbak? Ninggalke sopo?
= = =
Jakarta 2005-2006
Ini Indonesia Bung, dimana lapangan kerja seperti terkonsentrasi di Jakarta. Tidak mengherankan banyak lulusan perguruan tinggi menyemut berebut kerja di sini.
Kemafhumanku tersebut bukan berarti aku tidak bersyukur saat empat teman dekat kampusku berkumpul kembali di kota dengan polaritas sosial tinggi ini.
Dengan mereka, agenda kami seringkali sederhana; saling berkunjung di kost masing-masing, menjemput dini hari dengan berbagi pandangan yang tak sama memaknai dunia.
Di titik tertingginya, kami pernah berlima unteg-untegan menginap bersama di kost Bendhil.
Saat itu, dengan kombinasi teman boarding, teman kerja dan teman kampus, akhir pekanku penuh dengan rencana. Full Booked.
Tapi, seperti tak kuasanya Pemda DKI menanggulangi banjir, pun tak ada yang mampu mencegah saat musim bercinta itu tiba. Rais pindah ke Tangerang. Wahyu absen Sabtu-Minggu untuk proyek yang disebutnya proyek pribadi.
Di bawah beringin Plaza Sentral Senayan, aku dan Kartika Winta pernah memperbincangkannya, tentang shock pasca mereka kawin. Iya lah Win, ketika aku mengidentifikasi diri lekat dengan sosok-sosok itu, aku kebingungan bagaimana mensetel-ulang proporsi diri setelahnya.
Tak terlalu masalah.
Alam menyediakan keseimbangannya. Indah dan Dedi menyusul pindah ke Jakarta dari tempat kerja sebelumnya. Formasi baru terbentuk, katakanlah sempurna mengganti keterbiasaan lama.
= = =
Urasa 2012
If this is about who left and who being left out, then it just doesn’t matter. I’ve been there on both sides. Based on my experience, it does have the same level of pain.
Dua teman terdekat saya bergerak sangat cepat sepeninggal saya ke Urasa September lalu. Bet, Bet, Bet… Jadian, lamaran.
“Aku segera menikah Jar…” Kata masing-masing mereka.

Kali ini aku sedang mencari tahu bagaimana alam menyeimbangkan dirinya kembali.

Sang MC (Trilogi)

SATU

Kalo bener-bener ditanya sebetulnya mau jadi apa… regardless my professional experience and educational background, It would be: talkshow presenter. Merasa punya kemampuan (dan hobi ngulik-ulik orang), membuatku percaya aku bisa nyaingi Oprah Winfrey (kalo topik diskusinya humanity) dan ngalahi Rosiana Silalahi (kalo topiknya politik). But actually, my biggest idol di hal-hal seperti ini (presenting) tetaplah Sarah Sechan. Ganas…

Di SD,SMP dan SMA, aku lumayan sering tampil. Entah itu buat pidato, pembawa acara, atau main sandiwara sekolah. Di kampus, karna tidak terlalu aktif di luar kuliah, (haha kalah moncer nih ye sama yang lain) frekuensi tampil menjadi jauh berkurang, kecuali untuk presentasi-presentasi tugas kuliah. Tapi aku masih “jualan” di luar kampus lho; 17-an kampoeng, reuni SMA, reuni SMP dll.

Nah, mangkanya lumayan kaget waktu Ika Krismantari, temen kampusku, memintaku (dan Winta, salah satu teman kita yang lain), tuk jadi pasangan MC kawinannya. Ika menghubungiku kurang lebih 1,5 bulan sebelum acara.

Aku kaget karena di kampus, nggak banyak yang tahu aku memang bisa ngeMC. Ika percaya ke aku hanya semata-mata karna dia suka lihat gayaku presentasi di depan kelas. Presentasiku selalu hidup katanya. Hiks… jadi terharu mendengarnya.

Terus terang sih aku nggak tahu di urutan keberapa dalam skala prioritas Ika. Karena di komunikasi 2000 ada nama-nama “besar” penyiar jogja: Eka, Emma, Zaky, Tyas, dan Prima.

Tapi Ika meyakiniku dan Wintalah yang paling cocok dengan untuk konsep acaranya.

Aku sih memahaminya gampang, Ika dan Mas Kelik ingin dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya untuk acara tersakral itu. Acara itu akan bener-bener dibuat “Ika-Kelik banget”. Fajar dan Winta bukan orang asing buat mereka berdua. Fajar dan Winta menjadi pas untuk konsep tak resminya. Jadi klop lah.

Aku langsung mengiyakan permintaan Ika di telepon. di suatu pagi 06.30 am waktu itu.

Pekerjaan pertama adalah meyakinkan Winta. Winta nggak PD katanya. Memang terlihat sekali aku yang lebih excited. Daripada nganten-ne malah. Hihihi.

Aku langsung buat corat-coret daftar acara. Menghubungi Winta tuk merayunya dan meyakinkannya. Membuat jadwal dengannya, intensif seminggu sekali sebelum tampil.

Winta pada akhirnya setuju. Kita berdua membuktikan bahwa memang ingin memberikan yang terbaik (demi aktualisasi diri sih ya hihihi). Walopun sejujurnya, pertemuan kita pada akhirnya lebih banyak ngobrolin yang lain daripada beneran rehearsal. Maap ya Ka.

Winta dengan tanggap mengkonsep wardrobe. Pasar Baru dan Kota Lama menjadi saksi keseriusan kita. Eighties dipilih ibu itu tuk jadi tema besar kita. Jadilah kita dengan top polkadot, bottomku cut-bray warna gading, jas vintage coklat. Sepatu kimpling hak 3 cm.

Saking seriusnya… aku bilang ke Winta, nggak masalah kalopun MC harus ganti kostum tuk acara pemberkatan dan acara non formalnya. Tuh, gimana nggak ngalahin manten nya???

Masalah muncul saat sepulang dari final rehearsal, Winta kecapekan, dan nggak tahu gimana ceritanya, jadi sakit campak. 1-2 hari menuju hari H keadaannya bertambah memburuk. Muka Winta bentol-bentol dang nggak mungkin katanya buat tampil. Polkadot really In to her, not only In her outfit but also In her face. Hihihi.

Ika menghubungiku masih dengan suara datarnya. Busyet nih anak gak ada panik-paniknya. Mengabarkan Winta kemungkinan besar nggak bisa tampil. Aku langsung sms balik waktu itu. Aku bilang: At the worst case, aku nggak masalah tampil sendirian. Pede nggak gue. Hihihi. Ika pun nggak masalah katanya.

Kesibukan kantor dan Jakarta nggak memungkinkan aku beneran latihan. Maksudku bergaya sendirian di depan cermin (Wah mesti wis kecapekan kalo habis pulang kantor), jadi aku ke Jogja bermodal setengah kenekatan.

Latihanku hanya berupa ngomong sendirian di kamar hotel 6 jam sebelum acara.

Saat tampil hampir tiba, aku melihat Ika dan Mas Kelik begitu dalemnya saling memandang. Dua-duanya terlihat tenang (sebenernya emang dasar Ika yang nggak punya udel, dia terlihat nyante sekali, kalo Mas Kelik sesekali ribet ngurus ini dan itu.)

Kesiapan mereka berdua yang membuat aku yakin. Aku yakin semuanya akan berjalan lancar.

Lokasi pernikahan mereka diadakan di mini coliseum Ratu Boko. Dari tempat standby terakhir di Kompleks Adisucipto, butuh sekitar 20 menit kesana. Itu teorinya… karna mobil paman Mas Kelik yang membawaku malah mampir-mampir ora karuan. Mampir beli oleh2, mampir beli lem besi karena kacamatanya putus, bla bla bla…

Aku yang semula tenang menjadi deg-deg an juga. takut kalo terlambat…

Tapi kok ya HP ku nggak dibel Ika? Apa dia nggak sadar MC nya belum datang???
(di lain waktu ketahuan kalo ika malah telpon Winta, sang MC lainnya… hihihi kebangetan tenan ho temanku ini)

Akhirnya setelah melewati perjalanan panjang, aku sampai juga di lokasi. Prosesi menikah secara hukum Negara ternyata sudah beberapa saat dimulai. Dengan cekatan aku langsung minta Mic dan pasang posisi.

Acara relatif berjalan lancar. Satu dua kesalahan pastilah kubuat, seperti misalnya aku nylonongi Pak Pendeta tuk ambil alih acara padahal masih ada satu lagu gereja lagi. Hihi, maaf pak.

Acara yang sudah dikonsep matang mempermudahku menyelesaikan tugas. Intermezzo berupa surprise party Mas Kelik untuk ulang tahun Ika menurutku jadi klimaks acara. Anak-anak diminta menyalakan kembang api, video diputar, dan aku melatar belakanginya dengan kisah perjalanan cinta mereka. Ahh, romantisnya…

Alhamdulillah, acara selesai tepat jam 9 malam tanpa ada gangguan berarti.

Sebagai MC, momen paling bahagia adalah ketika mempelai dan apalagi Ayah Ika menyalamiku erat dan cukup lama, sambil berucap: “terimakasih banyak!”

DUA

Ngemci lagi? Siapa yang minta? Dimana tempatnya? Kapan? Apa yang menarik kali ini?

Aku yang dulu sempat kaget ketika Ika-teman kampusku- memintaku menjadi MC di kawinannya, kembali terhenyak dengan permintaan teman lainnya. Mari kuperkenalkan Ebi, dia temen SMA ku.

Sebentar, sebelum aku menceritakan lika-liku MC nya, kuceritakan tentang cewek mungil manis ini. Aku adalah teman seangkatan Detty –adik perempuan Ebi-. Yap. Ebi adalah kakak angkatanku di SMA. Jadi, sangat wajar kalau dulunya aku lebih akrab dengan Detty compare to Ebi.

Singkat kata, kami berdua (aku dan Ebi) lulus bersama dan memilih UGM sebagai tempat labuhan kami selanjutnya. Ebi di Ekonomi dan aku FISIPOL. Detty sendiri lebih memilih pergi ke Australia. Jadi, setelahnya –di Jogja- aku dan Ebi menjadi lebih sering bertransaksi.

Mengapa Ebi memilihku, adalah lebih mudah kupahami daripada mengapa Ika memilihku. Ya, karena Ebi tahu aku ngemci di SMA dulu. While Ika, menemukanku dengan bakat “talent-scoutingnya” (please refer to Sang MC/Bagian Pertama).

Ebi menghubungiku kali pertama mengabarkan tentang rencana pernikahannya via BBM. Aku lega. Lega karena teman “sableng” ini akhirnya nyantol juga. Dengan proses yang tidak berbelit. Dengan proses yang lancar. Adalah Budi Rahman, rekan kerjanya di Jasa Rahardja yang menjadi pilihannya.

Aku juga lega karena Ebi memilih tanggal 02 Oktober i/o 09 Oktober. Hihihi. Ini karena aku sudah punya tiket murah ke Singapore tanggal 09 Oktober. Aku pasti akan merasa sangat tidak enak ketika tidak mampu menghadiri kawinan Ebi.

Mungkin sekitar akhir Juli (???) ketika Ebi menyampaikan niatnya memintaku menjadi MC di kawinannya. Aku langsung mengiyakan. Aku bilang, kalaupun Ebi memintaku ngemci dengan cara Jawa, aku akan belajar dengan cepat. Seperti biasa, akulah yang napsu dalam hal ini. Ebi waktu itu bilang aku akan dipartnerkan dengan Indri, sohib ceweknya.

Nah, sekarang aku perkenalkan Indri. Dia adalah temen kantor lama Ebi yang masih berteman baik dengan Ebi. Sangat baik sampai aku menyebutnya ‘her forever partner’. Ihhhhhh Indriiiii…. Sebelumnya aku sempat bertemu beberapa kali dengan Indri. Pertama di tempat lahiran bayinya Detty. Dan kedua, di Ambassador menemani mereka belanja. Maksudku, kami sudah saling mengenal. Ini menguntungkan buatku.

Dengan penampakan Indri yang menariik, pasangan Fajar-Indri akan menjadi the next Helmi Yahya and Alya Rohali. Please deh Bi!!! Gue kan lebih mirip Nico Siahaan??? Cuih!!!

Nah disinilah letak kesamaan Ika dan Ebi (selain sama2 sableng): Ika memilih Fajar-Winta, dan Ebi memilih Fajar-Indri. Ya, selain karena budget conscious, mereka memilih sahabat-sahabat mereka sendiri tentu dengan keinginan untuk menjadikan acara resepsi mereka menjadi acara yang lebih personal.

Tapi Ebi ya tetep Ebi…

Tik tok tik tok… kok nggak ada kabar lagi? Tik tok tik tok… Si Ebi jadi ngga sih make aku?

Sampai pertemuan kita terahir dimana Ebi menitipkan undangannya untuk temen-temen angkatanku, tidak ada satupun kalimat appointment kepadaku. Oh ya wes, aku berfikir si Ebi mungkin sudah menemuan MC lain. Kecewa? Pasti.

Tiba-tiba, H-10, sekitar jam 6 sore, Ebi meneleponku: “Fajar, I need your help”.

“What kind of help?” I replied.

“Would you please to be the MC?” katanya.

Bener kan… Ebi gila? Kenapa baru sekarang?

“Indri nggak berani sendiri katanya”. Ahhhhhh… Ebi!!!!

“OK. No problem” kataku.

Nah bedanya dengan kasus Ika dulu dimana aku dan Winta sempet meeting dan bersiap-siap, persiapanku dengan Indri bisa dibilang 0 besar. Ya, kami hanya BBM masalah remeh temeh dan berjanji akan gladi resik di H-1.

Tapi aku bisa yakinkan, entah mengapa tidak ada kecemasan atas acara ini. Aku yakin acaranya lancar, aku yakin bisa mengatasinya. I just do.

H-1

Ini hari Jumat, aku sengaja mengambil cuti setengah hari untuk gladi resik ini. Indri yang katanya akan datang jam 11 siang belum nongol juga sampai jam 2. Huaaaa…. Buanyak sekali anggota keluarga besar Madiun dan Solo.
Karena aku punya “sejarah kecil” dengan mereka, jadi tidak ada masalah untuk segera menyesuaikan diri. Ibu menyambutku, Detty pun sudah ada disana.

Tak lupa, keluarga Budhe dan Pakdhe Jogja adalah entry pointnya. Ingat, aku beberapa kali bermain di rumah beliau di Jogja, jadi kami sudah saling mengenal. Lagi, ini menguntungkanku.

Nah, kebetulan Pakdhe Jogja adalah kepala suku rangkaian pernikahan ini. Jadi aku langsung dibawa Pakdhe untuk meeting. Konsep acara resepsi sangat sederhana, Pak Wahyu (Bapak Ebi) meminta acara tepat waktu, jangan bertele-tele, dan ini yang aku suka – tidak perlu ada penyetopan tamu undangan untuk mendahulukan VIP. Hanya Pak Menteri thok. OK ini memang Pak Wahyu yang aku kenal.

Bentar… ada komentar pakdhe yang sederhana tapi cukup membantu: “Fajar saiki lumayan”. Maksudnya beliau merefer penampakanku. Hahahaha. Nggak se-kucel dulu ya Dhe? Itu building confidence for the MC lho dhe. Suwun.

Singkatnya, rapat tidak memakan waktu lama. Sempet shock minor ketika Ebi kesulitan menjawab beberapa pertanyaanku. Seperti: list fotonya mana Bi? Ngga ada katanya. Ebiiiiiiii!!!! Sido kawin ora….

Indri punya masalahnya sendiri. Fitting baju yang kurang memuaskan dan (sepertinya) radang tenggorokan. Indriiiiiiii … jangan sampe kejadian Winta keulang lagi…. Ya, di acara kawinan Ika dulu, Winta mundur karena tiba-tiba terkena campak.

D-Day

Aku sudah sampai ke lokasi: Balai Kartini di Gatot Subroto jam 07.10.

Akad dimulai tepat jam 8. awal yang bagus. semuanya on time.

Ini yang keren menurutku. Ebi (dan panitia) memilih MC yang berbeda-beda untuk tiap acara. Pengajian, Siraman, Akad, Panggih Manten, dan resepsi semuanya menggunaan MC yang berbeda. Dan semuanya relasi Ebi. Coooool.

Seperti biasa, akad menghanyutkanku. Ada sesuatu yang magis atas hal ini. Tapi ada satu hal yang harus diperhatikan para calon manten kalo mau akad nikah dan resepsi di tempat yang sama. Karena sesaat, para teknisi dan karyawan masih sibuk meempersiapkan ini-itu dan membuat ruangan tampak “sibuk”. Untunglah, mereka tahu diri dan menghentikannya selama akad berlangsung.

Setelah akad selesai, then it was my show time.

Aku dan Indri naik ke ruang ganti di lantai dua. Mbak-mbak salon dengan sigap membantuku memasang kain dan beskap. Yap untung aku disediakan beskap, jadi nggak usah bingung cari baju show. Karena Bi, sebetulnya aku dulu sudah berfikiran tuk buat setelan jas kuning gading buat acara ini.

Setelah kain dan beskap selesai. Aku mengeluarkan alat make up ku. Indri dari seberang tertawa; loe bawa blush on sendiri Jar? Katanya. Hahahaha. Ini namanya professional Ndri…

Wait, wait, let me explain. No decorative make up actually, only toner and freshener. OK. OK. A nude nivea lip gloss is counted.

Setelah selesai, mulailah aku orientasi lapangan secara lebih detail. Aku mengelilingi gedung, melihat panggung, koordinasi dengan pihak gedung dan band.

Jam 10.00 Aku dan Indri sudah siap di atas panggung. Acara tepat dimulai 10.45. Semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana. Pukul 11.00 para tamu undangan datang dan langsung bisa menyalami pengantin.

Tidak ada kendala berarti, karena setelah membuka, kemudian mengantarkan acara ke bagian sambutan dan doa, praktis setelahnya kami hanya beberapa kali mengambil alih microphone dari band dan berbicara seperlunya. Ini lumayan berbeda dengan acara Ika yang menempatkanku one-man show dan berbicara banyak.

Ya, itu sangat bisa dipahami. Di Ika aku menggawangi acara selama 4 jam. Di Ebi hanya 2.5 jam. Ika Outdoor. Ebi Indoor. Ika Malam, Ebi Siang. Ika di Jogja dan Ebi di Jakarta. Crowdnya jelas beda.

Jam 12.55 kami mengingatkan tamu undangan bahwa acara akan ditutup dengan rangkaian foto bersama yang akan dimulai jam 13.00. Dan yap. Alhamdulillah semuanya sangat lancar sampai acara benar-benar kami tutup jam 13.30.

Highly Effective.

At the end, apalah yang lebih indah daripada ucapan terimakasih dari yang punya hajat? Welcome Back Ebi, at least this is a significant thing we could made. Yang Rukun ya!!! Im watching you!

TIGA

Lakon yang akan aku tulis berikut ini bernama Kartika Winta. Dia dan pernikahannya, dimana kali ini aku berperan lebih dengan turut menyaksikan banyak dinamika sang calon pengantin. I was embracing her wedding preparation. MC plus-plus kataku.

Sebelum Winta (dan setelah Eby), sebetulnya aku menggawangi tiga acara sejenis; Jadi MC tamu di kawinan Rindu di Manado, jadi MC dadakan di lamaran Mbak Dhani di Cempaka Putih dan MC lamaran Ajeng-Aryo di Duren Sawit.

Hemmmmhhh… tanpa mengecilkan chronicle tiga acara di atas, aku benar-benar larut di acara Winta dan menjadi begitu tergerak untuk menuliskan memoarnya.

Mari, kuperkenalkan dirimu dengannya.

Kartika Winta Apriliany adalah teman dekatku di kampus Bulaksumur. Has her own signature-style, menjalin pertemanan lintas-gank, dan cerdas, membuatku tidak punya alasan untuk tidak berteman dengannya.

Perpisahan kami setelah 2004 dicover dengan sesekali berkirim email dan sms. dan terus berlanjut sampai dia pindah ke Jakarta, bergabung dengan kantornya sekarang – tempat dimana dia menemukan Bakti-nya.

Dalam konteks acara ini, Winta termasuk “sopan” dengan meminta bantuanku jauh-jauh hari. Mungkin dua bulan lebih sebelum hari-H. Sangat “sopan” kan?

Winta datang dengan konsep garden-party di siang hari – dengan hanya undangan terbatas. Dia sudah research tempat, dan mendapatkannya. Aku berfikir cepat dengan memikirkan warna jas apa yang akan kupakai. Kuning gading. That would be fit, right! Ehmmm… nggak cukup satu. Aku harus pake baju muslim putih-putih untuk akadnya. Tancep, Gan!!!

Tapi, ternyata tidak semulus itu. Grand Design acara Winta sepertinya kandas di meja pertemuan keluarga. Jadilah konsep diubah menjadi “lebih konvensional”: resepsi malam hari dengan jumlah undangan yang lebih banyak. Aku tidak tahu seberapa besar hal ini mengecewakan Winta, tapi dia cukup baik-baik saja sepertinya.

Masalah buatku? Nggak lah. Jas kuning gading tetap jalan. Toh warna ini juga menyala di dalam gedung di malam hari. No problem. Agak sedikit masalah karena karib dekat SMA ku, Bayu, juga resepsi di malam yang sama. Apa mau dikata… solusi agar bisa hadir di acara keduanya adalah dengan menghadiri akad nikah Bayu pagi hari di Cijantung -dan berlari-larian setelahnya ke Winta di Depok dengan semua peralatanku. Bismillah semoga lancar.

= = =

Suatu ketika, Winta meneleponku. Mengabarkan jika dia membeli paket pernikahan. Artinya apa? Artinya paket itu sudah termasuk gedung-catering-Entertaintment-dan MC. Jadi nggak jadi make nih Win? Nggak. Nggak, katanya. Aku sudah bilang sama pengelola gedungnya bahwa untuk MC aku mau pake sendiri.

Ahhhhh…. Winta was fighting for me. Menurutku ini layak dicatat. Yah, aku membayangkan, dibalik segala kemengalahannya ke keluarga, paling tidak dia mempertahankan MC miliknya, I don’t know… mungkin untuk menunjukkan bahwa at the end ini adalah acaranya? (Atau kamu nggak enak mecat aku Ta? :P)

Aku mengikuti perjalanan Winta mempersiapkan pernikahannya dari (katakanlah) nol. Ini yang aku bilang: embracing her process. Beberapa pertemuan informal kami dilakukan dari Plaza Senayan sampai Pasaraya. Dari Plaza Semanggi sampai F/X.

Tapi, mencocokkan waktu kami menjadi masalah tersendiri.

Winta memang PNS aneh. PNS aneh karena terlalu sibuk. Kesana-kemari , lembar-lembur melulu. Kesibukannya (dan calon suaminya) membuat beberapa cerita terjadi. Sungguh terlalu, H lamaran-2, belum mengkompletkan seserahan. Lebih terlalu, disaat baju MC sudah hampir jadi, sang calon pengantin ganti penjahit.

Winta, kamu belum punya penjahit langganan??? Kan aku nggak pernah bikin kebaya di Jakarta, Jar, katanya.

Waduuuuhhhh… Kalah telak sama MC!

Drama berlanjut. Di pertemuan terakhir kami (hari Kamis bersama beberapa teman lainnya), kami membahas run-down yang aku sudah aku susun. Beberapa PR masih tersisa, but its OK.

Malam ditutup dengan karaoke bersama. Bukan sembarang karaoke karena sesi ini termasuk pemilihan lagu dan latihan terakhir kami untuk mengisi acara resepsi nanti. See? We’re in serious business.

Siapa sangka acara jingkrak-jingkrak sampai jam 12 malam itu berpengaruh ke ke kesehatan sang MC. Sang MC yang baru bisa tidur jam dua setelahnya, dan hari Jumat yang panjang karena pekerjaan yang bertumpuk, plus Sabtu dihajar jalan sampai jam 1 lagi… membawa sang MC ke rumah sakit hari Minggu malamnya.

Kali ini penyakitnya bukan mencret seperti laiknya, Nggak main-main. Penyakit yang harus membuatnya diopname sampai Kamis minggu berikutnya. Hahaha. Nggak lucu sama sekali.

Aku menyimpan cerita sakit ini dari sang calon pengantin. Alasannya, pertama, aku yakin bisa sembuh cepat dan tetap bisa perform di Minggu malam, dan kedua, aku tidak mau membuat calon pengantin stress di sela jadwalnya yang depresif.

Tapi sang MC sadar, mungkin dia egois jika tidak mengabarkan soal sakit ini. Jadilah aku Selasa malam menghubungi Winta dan mengabarkan penyakitku. Suara Winta pelan menjawabku: ya udah, nggak usah dipikir Jar, kesehatanmu lebih penting. Waduh… tambah ra enak iki aku…

Alhamdulillah… beruntung drama tidak berlanjut lama. Hasil test laboratku bagus, aku dibolehkan pulang hari Kamis siang. Langsung aku menghubungi Winta kembali: Winta. I’m super ready!!!

= = =

Hari H

Hari sudah dimulai sejak pukul 06 pagi karena aku harus bersiap ke Cijantung tempat akad Bayu. Hoammhhh… nguantuk berat. Untuk mengurangi kerepotan, aku sudah mempersiapkan satu koper besar berisi sepatu-jas-make/up yang akan langsung bisa ditenteng ke tempat Winta. Semuanya tampak sudah siap. Bismillah.

Akad Bayu berlangsung lancar…. Selancar aku nambah makan siang di masjid tempat prosesi akad tersebut. hehehe.

Maaf, teman-teman Boarding, aku tidak bisa berlama-lama, aku harus segera terbang ke Pesona Khayangan untuk akad

Winta tercinta. Wushhhh….

Sebenarnya ada nggak sih penganten yang nurutin MC nya? Winta sama saja, pesananku untuknya mempersiapkan list foto keluarga tak sempat dikerjakan. Jadilah aku sibuk sendiri menulis tangan semua yang di-sms-kan Winta, bersamaan pada waktu Bakti mengucap akad. Yap. Tidak ada momen haru saat itu buatku. MC parno sendiri.

Secara konsep, kamii matang. Aku bilang ke Winta, untuk menghargai “konvensionalitasan” acara, maka aku akan membawakan awal acara dengan sopan. Intonasi acara akan menjadi imeninggi (nformal) setelah satu jam pertama, yakni dimulai ketika aku dan Indah berduet. Yap, MC menyanyi bersama Indah, teman lainnya yang memang ratu karaoke.

Profesionalitas memang dimatangkan dari pengalaman ya. Itu aku akui. Artinya sekarang aku sudah bisa mengira-ngira jumlah undangan versus dinamika acara. Jumlah undangan 1000 tentu berbeda dengan 500. Kurang lebih begitu.

Acara Winta relatif berlangsung lancar, yang ngganjel cuma dikit. Aku sempet “beneran” marah ke fotografer karena tidak segera melepaskan pengantin turun panggung. Jadinya acara informal yang berisi Winta-Bakti perform hanya ditonton oleh teman-teman yang masih tersisa dan keluarga besar Winta. Masih ada satu-dua tamu disana, tapi ehmmm… harusnya bisa lebih banyak kalo fotografernya nggak nahan-nahan penganten.

But, anyway. We had a lot of fun last Sunday evening.

Pengantin (sepertinya) senang, keluarga tidak ada yang complaint, dan MC juga puas.

Winta, anak baik akan mendapatkan jodoh yang baik. Itu dijanjikan Tuhan. Aku semakin percaya itu dari jodoh yang kautemukan.

Selamat berbahagia ahead!!!

= = =SELESAI= = =